Pukul 23.38 pada Jumat malam, Laras Prameswari akhirnya memahami bahwa selembar surat perlindungan hukum tidak akan pernah cukup untuk menghentikan seseorang yang merasa dirinya tidak punya apa pun lagi untuk kehilangan.
Jari-jari Raka Mahendra mencengkeram lengannya begitu keras hingga rasa sakitnya menjalar sampai bahu.
“Aku cuma butuh username dan token akses proyek Cikarang,” bisik Raka.

“Aku tidak akan memberikannya.”
“Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali.”
Laras menatap pria yang pernah hampir menjadi suaminya. Selama berbulan-bulan ia mengira obsesi Raka lahir karena cinta yang berubah menjadi penyakit. Kini semuanya terasa jauh lebih mengerikan.
Raka mungkin tidak pernah mengejarnya karena cinta.
Mungkin sejak awal ia mengejar pekerjaannya.
Lalu suara Surya Adinata terdengar dari belakang mereka.
“Perusahaan yang sedang diaudit Laras, salah satunya milik adik saya.”
Keheningan mendadak memenuhi lantai B4.
Raka perlahan melepaskan cengkeramannya.
“Apa maksud Anda?”
Surya berdiri beberapa meter di depan mereka. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya tidak meninggalkan Raka.
“PT Daya Lintas Nusantara,” katanya. “Pemegang saham pengendalinya adalah adik saya, Bram Adinata.”
Laras mengenal nama perusahaan itu.
Justru perusahaan itulah yang muncul paling sering dalam transaksi mencurigakan.
Daya Lintas Nusantara membayar belasan vendor logistik dengan nilai fantastis. Sebagian vendor tidak memiliki armada. Dua alamat kantor ternyata ruko kosong. Satu perusahaan bahkan terdaftar atas nama seorang penjaga kos di Bekasi yang mengaku tidak pernah mendirikan perusahaan.
Raka mundur setengah langkah.
“Ini tidak ada hubungannya dengan saya.”
Surya mengangguk.
“Bagus. Kalau begitu Anda pasti tidak keberatan menjelaskan semuanya kepada polisi.”
Raka langsung menoleh ke ramp keluar.
Gerbang besi sudah tertutup.
Ia berlari menuju mobilnya.
“Pak Surya!” teriak Laras.
Surya tidak mengejar.
Ia hanya mengangkat ponsel.
Lampu sedan Raka berkedip ketika kunci elektronik ditekan, tetapi sebelum Raka mencapai pintunya, terdengar langkah kaki dari lorong servis.
Empat petugas keamanan muncul.
Raka berhenti.
“Jangan sentuh saya!”
Salah seorang petugas menunjukkan tangannya yang kosong.
“Pak, mohon tetap di tempat.”
“Saya tidak melakukan apa-apa!”
Laras mengangkat lengan bajunya.
Bekas merah berbentuk jari mulai terlihat pada kulitnya.
Surya menatap bekas itu.
“CCTV merekam semuanya.”
Wajah Raka kehilangan warna.
Namun kemudian ia tertawa kecil.
“Kalian pikir masalahnya selesai kalau saya ditahan?”
Laras menatapnya.
Raka menunjuk kepadanya.
“Laporanmu sudah bocor.”
Jantung Laras seperti berhenti.
“Apa?”
“Orang-orang yang kamu periksa tahu semuanya.”
“Siapa yang membocorkannya?”
Raka tersenyum.
“Kamu masih mengira masalahnya ada di luar Astera?”
Kalimat itu menghantam Laras lebih keras daripada cengkeraman sebelumnya.
Hanya lima orang yang memiliki akses penuh.
Dirinya.
Dua anggota tim senior.
Direktur forensic services, Hendra Wijaya.
Dan managing partner Astera Indonesia, Adrian Santoso.
Raka tiba-tiba merogoh saku jaket.
Petugas keamanan langsung bergerak.
“Jangan!”
Namun yang dikeluarkan Raka hanya sebuah ponsel.
Ia melemparkannya ke lantai di depan Laras.
“Buka pesan terakhir.”
Laras tidak bergerak.
“Buka!”
Surya mengambil ponsel itu menggunakan saputangan dari sakunya, lalu meletakkannya di kap mobil.
Layarnya belum terkunci.
Pesan terakhir berasal dari kontak bernama A.
Isinya singkat.
Dapatkan token sebelum tengah malam. Kalau gagal, hapus semua komunikasi dan tinggalkan Jakarta.
Di bawahnya terdapat foto Laras meninggalkan kantor sore tadi.
Foto itu diambil dari dalam Menara Arunika.
Seseorang di gedung ini mengawasinya.
Sirene pendek terdengar dari kejauhan.
Polisi telah tiba.
Raka tidak melawan ketika dibawa pergi, tetapi sebelum masuk lift servis ia menoleh kepada Laras.
“Kamu seharusnya berhenti waktu masih bisa.”
Laras membalas tatapannya.
“Seharusnya kamu juga.”
Pintu lift tertutup.
Barulah lutut Laras terasa lemas.
Ia bersandar pada mobil terdekat.
Surya mengambil tas Laras yang jatuh dan mengumpulkan barang-barangnya satu per satu.
“Semprotan Anda ada di bawah mobil.”
Dalam situasi lain, Laras mungkin tertawa.
Malam itu ia hanya menatap pria tersebut.
“Kenapa Bapak ada di sini?”
Surya diam beberapa detik.
“Saya sedang menunggu Anda.”
Jawaban itu membuat Laras kembali tegang.
“Menunggu saya?”
“Saya tahu audit Anda mendekati keluarga saya.”
“Dari siapa?”
“Adik saya.”
Laras berdiri tegak.
“Bram tahu?”
“Dia tahu ada audit. Dia belum tahu seberapa banyak yang Anda temukan.”
“Dan Bapak?”
Surya memandang kamera CCTV di atas mereka.
“Saya tahu cukup banyak untuk menyadari bahwa seseorang mungkin mencoba menghentikan Anda.”
Laras merasa dingin meskipun udara parkiran lembap.
“Kenapa tidak menghubungi saya?”
“Karena saya belum tahu apakah Anda bisa dipercaya.”
Laras menatapnya tajam.
“Jadi Bapak mengawasi saya?”
“Gedung ini milik saya. Saya memeriksa akses orang-orang yang beberapa minggu terakhir datang pada jam tidak wajar. Nama Raka muncul tiga kali.”
Laras terdiam.
Raka ternyata pernah masuk gedung sebelumnya.
“Bagaimana dia bisa masuk?”
“Itulah pertanyaan yang lebih penting.”
Surya mengeluarkan kartu akses dari kantong transparan yang dibawa kepala keamanan.
Kartu itu ditemukan di mobil Raka.
Logo Astera tercetak di permukaannya.
Nama pemiliknya membuat Laras kehilangan kata-kata.
Hendra Wijaya.
Atasannya sendiri.
Pukul 01.20 dini hari, Laras duduk di ruang kontrol keamanan Menara Arunika bersama polisi dan Surya.
Rekaman CCTV membuka potongan-potongan yang selama ini tidak terlihat.
Tiga minggu sebelumnya, Raka masuk menggunakan kartu Hendra.
Dua minggu sebelumnya, ia bertemu seseorang di tangga darurat lantai dua puluh satu.
Kamera tidak menangkap wajah orang itu dengan jelas.
Namun Laras mengenali jam tangan peraknya.
Ia melihat jam itu hampir setiap hari selama empat tahun.
Hendra.
Pria yang merekrutnya.
Mentor yang mengajarinya bahwa auditor tidak boleh takut menemukan sesuatu yang membuat klien marah.
Orang yang dua hari lalu berkata, “Ikuti angka, Ras. Jangan percaya siapa pun.”
Ternyata nasihat terakhirnya benar.
Termasuk untuk tidak mempercayai dirinya sendiri.
Pagi harinya, polisi menggeledah apartemen Raka berdasarkan bukti awal dan laporan Laras.
Yang ditemukan jauh melampaui kasus penguntitan.
Ada salinan jadwal rapat Laras.
Foto layar laptop.
Daftar nama anggota tim audit.
Catatan transaksi.
Dan sebuah spreadsheet berisi pembayaran kepada Raka dari perusahaan konsultan kecil bernama Meridian Talenta.
Laras mengenal nama itu.
Meridian adalah salah satu vendor yang muncul dalam audit.
Pemilik resminya seorang perempuan bernama Ratna Kurniasih.
Ketika penyidik memeriksa lebih jauh, Ratna ternyata mantan sekretaris pribadi Bram Adinata.
Siang itu Hendra tidak datang ke kantor.
Teleponnya mati.
Apartemennya kosong.
Namun sebelum polisi sempat mengeluarkan pencegahan perjalanan, sebuah kabar datang dari Bandara Soekarno-Hatta.
Hendra ditahan saat mencoba terbang ke Singapura.
Di dalam tasnya ditemukan dua ponsel, uang tunai dalam beberapa mata uang, serta flash drive terenkripsi.
Kasus itu kemudian berkembang cepat.
Hendra akhirnya mengaku.
Selama hampir tiga tahun, ia membantu jaringan internal memanipulasi hasil audit perusahaan-perusahaan tertentu. Ia memberikan informasi mengenai prosedur pemeriksaan, dokumen yang akan diminta, bahkan nama auditor yang ditugaskan.
Raka direkrut karena pekerjaannya memberinya akses sosial kepada banyak eksekutif.
Ketika Laras ditunjuk memimpin proyek Cikarang, Raka mendekatinya.
Awalnya memang sebagai pekerjaan.
Namun sesuatu berubah.
Raka menjadi benar-benar terobsesi.
Ia ingin menguasai Laras sekaligus memanfaatkannya.
Ketika Laras memutuskan hubungan, obsesinya membuat rencana mereka semakin berantakan.
Tetapi satu pertanyaan masih belum terjawab.
Siapa yang sebenarnya mengendalikan jaringan itu?
Semua bukti mengarah kepada Bram Adinata.
Setidaknya sampai polisi membuka flash drive milik Hendra.
Di dalamnya terdapat rekaman percakapan.
Suara Hendra terdengar jelas.
Lalu suara lain.
Bukan Bram.
Laras mendengarkan rekaman itu di ruang pemeriksaan bersama penyidik.
“Kalau auditor perempuan itu menemukan hubungan Daya Lintas dengan Meridian, hentikan sebelum laporan final.”
Hendra bertanya, “Kalau dia tidak mau?”
Suara itu menjawab tanpa ragu.
“Gunakan Raka.”
Laras memandang Surya yang duduk di seberangnya.
Wajah pria itu berubah.
Ia mengenali suara tersebut.
“Siapa?” tanya penyidik.
Surya tidak langsung menjawab.
Tangannya mengepal di atas meja.
“Itu bukan adik saya.”
“Lalu siapa?”
Surya mengangkat wajah.
“Direktur keuangan grup saya.”
Nama pria itu adalah Reza Gunawan.
Ia telah bekerja bersama keluarga Adinata selama dua puluh dua tahun.
Lebih mengejutkan lagi, Bram ternyata bukan dalang.
Ia memang mengetahui adanya pembayaran mencurigakan, tetapi selama bertahun-tahun Reza meyakinkannya bahwa transaksi tersebut merupakan biaya tidak resmi untuk mempercepat distribusi dan perizinan.
Bram bersalah karena menutup mata.
Namun Reza-lah yang membangun jaringan perusahaan cangkang dan mengalirkan uang keluar.
Total kerugiannya bukan dua ratus miliar.
Setelah seluruh perusahaan diperiksa, nilainya mendekati enam ratus delapan puluh miliar rupiah.
Reza ditangkap tiga hari kemudian di sebuah vila di Puncak.
Kasus tersebut menjadi salah satu skandal korporasi terbesar yang pernah ditangani Astera.
Namun bagi Laras, bagian tersulit bukanlah memberikan kesaksian.
Bukan pula menghadapi Raka di pengadilan.
Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa selama hampir dua tahun, hubungan yang ia anggap sebagai bagian penting hidupnya dimulai dari kebohongan.
Beberapa bulan kemudian, Laras berdiri kembali di parkiran B4.
Bekas cengkeraman di lengannya sudah lama hilang.
Tetapi beberapa luka membutuhkan waktu lebih lama.
Surya muncul dari lift.
“Kali ini saya tidak mengunci pintu apa pun,” katanya.
Laras tersenyum untuk pertama kalinya setiap kali mengingat malam itu.
“Bagus. Saya masih trauma dengan suara gerbang besi.”
Surya tertawa kecil.
Kasus telah selesai di tahap penyidikan utama. Bram mengundurkan diri dari seluruh jabatan perusahaan dan bekerja sama dengan aparat. Hendra dan Raka menghadapi dakwaan masing-masing. Reza menunggu persidangan.
Surya menyerahkan sebuah amplop kepada Laras.
“Apa ini?”
“Surat.”
Laras membukanya.
Bukan cek.
Bukan tawaran pekerjaan.
Melainkan salinan sebuah dokumen internal bertanggal delapan bulan sebelum Laras mulai berpacaran dengan Raka.
Isinya laporan anonim mengenai transaksi mencurigakan di Daya Lintas Nusantara.
Di bagian bawah terdapat nama orang yang pertama kali meminta penyelidikan independen.
Surya Adinata.
Laras menatapnya.
“Bapak sudah tahu sejak lama?”
“Saya curiga.”
“Kenapa auditnya baru dilakukan kemudian?”
“Karena laporan saya dihentikan di internal grup.”
“Reza?”
Surya mengangguk.
Laras membaca dokumen itu sekali lagi.
Ada sesuatu yang terasa ironis.
Selama ini ia mengira Surya menyelamatkannya karena kebetulan berada di parkiran malam itu.
Ternyata tidak sepenuhnya kebetulan.
“Jadi Bapak memang menunggu saya malam itu.”
“Saya ingin memperingatkan Anda.”
“Lalu Raka datang lebih dulu.”
Surya mengangguk.
Laras memasukkan surat itu kembali ke amplop.
“Kenapa sekarang Bapak memberikan ini?”
“Supaya Anda tahu satu hal.”
“Apa?”
Surya menatapnya.
“Laporan Anda tidak menghancurkan keluarga saya. Kebohongan kami sendiri yang hampir menghancurkannya.”
Laras terdiam.
Surya melanjutkan, “Banyak orang kaya membayar mahal agar rahasia mereka tetap terkunci. Saya baru belajar bahwa kadang-kadang yang seharusnya dikunci bukan kebenarannya.”
Ia menunjuk gerbang parkir di kejauhan.
“Melainkan orang yang mencoba menghentikannya.”
Laras tertawa kecil.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari penyidik masuk.
Pengadilan baru saja mengabulkan perpanjangan perlindungan terhadapnya.
Dulu Laras mungkin akan merasa lega karena ada dokumen yang menjaganya.
Sekarang perasaannya berbeda.
Ia memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju mobil.
Sebelum membuka pintu, ia berhenti.
“Pak Surya.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah menekan tombol itu.”
Surya tersenyum tipis.
“Saya hanya mengunci pintu.”
Laras menggeleng.
“Tidak.”
Ia memandang lantai parkir tempat beberapa bulan sebelumnya ia merasa tidak memiliki jalan keluar.
“Malam itu Bapak memberi saya waktu untuk berhenti takut.”
Laras masuk ke mobil.
Gerbang B4 terbuka otomatis ketika kendaraannya mendekat.
Di luar, Jakarta baru saja diguyur hujan. Aspal memantulkan cahaya gedung dan lampu kendaraan seperti ribuan pecahan kaca.
Laras mengemudi keluar menuju jalan raya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memeriksa kaca spion karena takut seseorang mengikutinya.
Ia melihat ke belakang hanya sekali.
Bukan untuk mencari Raka.
Melainkan untuk memastikan gedung itu semakin jauh.
Lalu ia menghadap ke depan.
Karena akhirnya Laras memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal ia pahami.
Cinta tidak pernah meminta kata sandi untuk menguasai hidup seseorang.
Perhatian tidak membuat seseorang hidup dalam ketakutan.
Dan orang yang benar-benar ingin melindungimu tidak akan memaksamu menyerahkan kendali.
Kadang-kadang satu-satunya cara membuka jalan menuju kehidupan baru adalah berani mengunci pintu bagi orang yang seharusnya tidak pernah kita izinkan masuk kembali.
