Suamiku Menghancurkan Karierku, Mengosongkan Rekeningku, Lalu Membawa Foto Seragam Lusuh Putra Kami ke Pengadilan untuk Merebut Hak Asuh—Ia Tersenyum Sampai Anak Delapan Tahun Itu Berdiri, Mengangkat Bajunya, dan Membuat Seluruh Ruang Sidang Mendadak Sunyi

Suara kursi Bima yang bergeser kasar masih menggantung di ruang sidang ketika Raka memasukkan dua jari ke kantong kecil di balik kausnya.

Aku bisa mendengar napasku sendiri.

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Hendra, pengacara Bima yang sejak tadi begitu percaya diri, kini berdiri kaku dengan wajah yang kehilangan warna.

Raka menarik benda hitam itu perlahan.

Sebuah perekam suara mini.

Benda itu hanya sepanjang dua ruas jari.

Ada goresan kecil di bagian samping, seolah sering disimpan dan dikeluarkan dari tempat sempit.

Tanganku langsung dingin.

Aku tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.

Bu Maya menoleh kepadaku.

Aku menggeleng pelan.

Aku benar-benar tidak tahu.

Hakim memandang Raka dengan serius.

“Itu apa, Nak?”

Raka menggenggam perekam itu erat-erat.

“Alat rekam.”

Bima langsung melangkah maju.

“Yang Mulia, anak saya tidak mengerti apa yang dia bawa. Itu barang milik saya. Saya minta dikembalikan.”

“Pak Bima.”

Nada hakim berubah tajam.

“Silakan duduk.”

Bima membeku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya lebih dari sebelas tahun, aku melihat sesuatu yang jarang sekali muncul di wajahnya.

Takut.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Takut.

Raka menatapku sebentar.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ayah kasih ini waktu aku nginep di rumahnya.”

Aku menelan ludah.

“Kapan?”

“Empat bulan lalu.”

Empat bulan.

Persis sekitar waktu kaus biru itu kubelikan.

Raka menunduk sambil mengusap pinggir perekam dengan ibu jarinya.

“Ayah bilang kalau aku takut sama Ibu, aku harus pencet tombol ini.”

Dadaku terasa seperti ditikam.

Aku bahkan tidak langsung memahami kalimat itu.

“Takut sama Ibu?”

Raka mengangguk pelan.

“Ayah bilang Ibu bisa marah karena nggak punya uang. Ayah bilang kalau Ibu bentak aku, kalau Ibu ngomong jelek tentang Ayah, atau kalau Ibu bilang aku nggak boleh ketemu Ayah, aku harus rekam.”

Bima berdiri lagi.

“Ini manipulasi. Anak itu dibimbing.”

“Ayah juga bilang aku nggak boleh kasih tahu Ibu,” lanjut Raka cepat, seolah takut keberaniannya akan hilang kalau berhenti bicara. “Tapi aku lupa matiin beberapa kali.”

Ruang sidang benar-benar hening.

Hakim memandang perekam di tangan Raka.

“Lupa mematikan?”

Raka mengangguk.

“Waktu di rumah Ayah.”

Wajah Bima berubah.

Aku melihat rahangnya mengeras.

Tangannya mengepal.

Hendra bergerak mendekatinya dan membisikkan sesuatu, tetapi Bima tidak menjawab.

Bu Maya berdiri.

“Yang Mulia, kami memohon agar perangkat itu diamankan sebagai barang bukti.”

“Tidak!”

Bima memotong terlalu cepat.

Semua mata mengarah kepadanya.

Ia mencoba memperbaiki nada suaranya.

“Maksud saya, perangkat itu milik pribadi. Tidak ada dasar untuk menganggap isinya relevan.”

Bu Maya menatapnya.

“Kalau tidak relevan, kenapa Bapak begitu khawatir?”

Bima tidak menjawab.

Hakim memanggil petugas.

Perekam itu akhirnya diletakkan di atas meja.

Aku meraih tangan Raka.

Dingin.

Sangat dingin.

Aku ingin memeluknya, tetapi aku tahu ia sedang berusaha keras terlihat berani.

Sidang tidak langsung memperdengarkan rekaman itu.

Hakim meminta pemeriksaan terlebih dahulu karena harus dipastikan perangkat tidak dimanipulasi.

Sidang ditunda.

Namun sebelum kami keluar, Raka berbisik kepadaku.

“Ada suara Ayah.”

Aku menatapnya.

“Suara apa?”

Raka menunduk.

“Ayah telepon seseorang.”

Aku merasa tengkukku merinding.

“Tentang apa?”

“Tentang kerjaan Ibu.”

Dunia seperti berhenti.

Aku tidak sempat bertanya lebih jauh karena Bu Maya langsung menggiring kami keluar dari ruang sidang.

Di lorong, Bima mengejar kami.

“Nadira!”

Aku berbalik.

Ia datang dengan wajah merah.

Hendra mencoba menahannya, tetapi Bima menepis tangan pengacaranya.

“Kamu ngajarin Raka, ya?”

Aku berdiri di depan anakku.

“Jangan dekat-dekat.”

“Kamu pikir rekaman itu bakal menyelamatkan kamu?”

“Aku bahkan baru tahu benda itu ada.”

“Bohong!”

Raka langsung memegang lenganku lebih erat.

Bima melihat gerakan itu.

Entah kenapa, ekspresinya berubah.

Ia menunjuk Raka.

“Kamu pikir Ayah ngasih kamu itu buat main-main?”

Raka mulai gemetar.

Aku maju satu langkah.

“Jangan ancam anakku.”

“Anakku juga.”

“Kalau benar kamu menganggap dia anakmu, kamu tidak akan menjadikannya alat untuk menjebak ibunya.”

Bima terdiam.

Hendra akhirnya berhasil menariknya pergi.

Namun sebelum berbalik, Bima berkata sangat pelan.

“Kamu belum tahu apa-apa.”

Kalimat itu seharusnya membuatku takut.

Anehnya, justru saat itu untuk pertama kalinya aku merasa mungkin kebenaran mulai berpihak kepada kami.

Dua minggu kemudian, kami kembali ke pengadilan.

Hasil pemeriksaan awal menyatakan rekaman di perangkat tersebut asli dan tidak menunjukkan tanda penyuntingan.

Ada puluhan file.

Sebagian besar hanya suara sehari-hari.

Raka bermain gim.

Televisi.

Suara pintu.

Percakapan biasa.

Lalu petugas memutar salah satu file.

Tanggalnya dua bulan setelah aku kehilangan pekerjaan di klinik.

Suara Bima terdengar jelas.

“Iya, saya udah bilang, telepon HR-nya. Bilang dia pernah manipulasi invoice. Nggak usah pakai nama asli.”

Aku berhenti bernapas.

Suara lelaki lain terdengar samar.

“Kalau dicek?”

“Siapa yang bisa buktiin? Yang penting bikin mereka ragu. Orang HR paling takut masalah reputasi.”

Bu Maya menoleh kepadaku.

Tanganku mulai bergetar.

Rekaman berikutnya diputar.

Kali ini Bima tertawa.

“Dia sekarang cuma dapat kerjaan kecil. Bagus. Makin susah hidupnya, makin gampang nanti gue ambil Raka.”

Aku memejamkan mata.

Semua yang selama ini hanya menjadi kecurigaanku terdengar jelas di dalam ruangan itu.

Aku tidak kehilangan pekerjaan karena nasib buruk.

Aku tidak terus gagal mencari pekerjaan karena kebetulan.

Bima memang menghancurkan hidupku sedikit demi sedikit.

Suara lain muncul.

“Kalau dia tetap bisa bayar sekolah?”

Bima menjawab santai.

“Ya tinggal tahan transfer buat anak. Dua tiga bulan aja cukup. Biar dia jual barang.”

Aku menutup mulut.

Air mata akhirnya jatuh.

Aku teringat gelang ibuku.

Laptop.

Cincin nenek.

Semua benda yang kujual sambil meyakinkan diri bahwa aku harus kuat.

Di meja seberang, Bima menunduk.

Hendra tidak lagi tersenyum.

Namun rekaman paling mengejutkan belum diputar.

File terakhir berasal dari malam ketika Raka menginap di rumah Bima.

Suara musik terdengar samar.

Lalu suara Bima berbicara kepada seseorang.

“Foto bajunya yang jelek. Cari yang ada nodanya.”

Suara orang lain menjawab.

“Kalau anaknya selalu bersih gimana?”

“Bikin kelihatan nggak terurus. Ambil dari jauh. Cari sudut yang jelek.”

Ada jeda.

Kemudian Bima berkata, “Kalau perlu kasih lumpur ke sepatunya pas dia keluar sekolah. Yang penting fotonya bagus buat sidang.”

Aku merasa mual.

Foto yang tadi mereka jadikan bukti ternyata bukan sekadar dipilih untuk mempermalukanku.

Sebagiannya direkayasa.

Hakim meminta rekaman dihentikan.

Wajahnya keras.

“Pak Bima, apakah Saudara ingin memberikan penjelasan?”

Bima berdiri.

Untuk sesaat aku berharap ia akan mengaku.

Mungkin meminta maaf.

Mungkin melihat anaknya dan sadar sudah terlalu jauh.

Namun orang seperti Bima tidak terbiasa kehilangan kendali.

“Itu konteksnya berbeda.”

“Konteks apa?” tanya hakim.

“Saya cuma ingin melindungi anak saya.”

Bu Maya berdiri.

“Dengan menghancurkan sumber penghasilan ibunya?”

“Saya tidak menghancurkan siapa pun.”

“Suara dalam rekaman adalah suara Bapak.”

“Saya sedang marah waktu itu.”

“Dan investigator yang mengambil foto?”

Bima menatap meja.

“Dia bekerja untuk saya.”

Aku melihat Raka.

Anakku tidak menangis.

Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan yang jauh lebih tua daripada usia delapan tahun.

Hakim lalu meminta Raka keluar bersama petugas pendamping anak sebelum sidang dilanjutkan.

Tetapi Raka mengangkat tangan.

“Bu Hakim.”

Hakim berhenti.

“Saya mau ngomong satu lagi.”

Semua orang menunggu.

Raka berdiri perlahan.

Kemudian, tanpa kuduga, ia mengangkat kausnya lebih tinggi.

Aku langsung ingin menurunkannya.

“Raka.”

Namun ia menggeleng.

Di sisi perutnya, sedikit di bawah tulang rusuk, terlihat bekas memar yang sudah menguning.

Bukan satu.

Ada tiga.

Satu berbentuk lonjong.

Dua lainnya lebih kecil.

Aku merasa seluruh darah di tubuhku turun ke kaki.

“Ini apa?”

Suaraku pecah.

Raka tidak melihatku.

Ia melihat hakim.

“Ayah marah waktu aku bilang aku mau tinggal sama Ibu.”

Bima langsung berdiri.

“Itu bukan dari saya!”

“Ayah dorong aku ke meja.”

“Bohong!”

Suara Bima menggema.

Raka tersentak.

Refleks.

Gerakan kecil itu dilihat semua orang.

Hakim mengetuk meja keras.

“Pak Bima!”

Aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi.

Aku memeluk Raka.

Tanganku gemetar ketika menyentuh rambutnya.

“Kenapa kamu nggak bilang ke Ibu?”

Ia menangis untuk pertama kalinya.

“Ayah bilang kalau aku cerita, Ibu bakal kehilangan rumah.”

Aku menutup mata.

Bima tidak hanya mengincarku.

Ia menggunakan rasa takut seorang anak untuk menjaga rahasianya.

Sidang hari itu berubah total.

Hakim memerintahkan evaluasi psikologis terhadap Raka dan pemeriksaan medis atas bekas luka yang ditemukan.

Kasus dugaan kekerasan dan intimidasi kemudian diteruskan ke pihak berwenang.

Rekaman yang menunjukkan sabotase pekerjaan juga membuka perkara baru.

Perusahaan tempatku dulu bekerja memanggilku beberapa minggu kemudian.

Mereka menemukan bahwa beberapa surel anonim berasal dari akun yang berkaitan dengan orang suruhan Bima.

Mereka meminta maaf.

Menawarkan kompensasi.

Bahkan menawarkan pekerjaanku kembali.

Aku menolak.

Bukan karena ingin membalas dendam.

Aku hanya tidak ingin kembali ke tempat yang dulu begitu cepat mencurigai seseorang tanpa bukti.

Dengan uang kompensasi yang kuterima, aku menyewa rumah kecil yang lebih dekat dengan sekolah Raka dan mulai membuka jasa administrasi serta pembukuan sendiri.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Tetapi milikku.

Tiga bulan kemudian, putusan hak asuh dibacakan.

Hak pengasuhan utama tetap berada padaku.

Bima hanya diperbolehkan bertemu Raka dengan pendamping sampai evaluasi lebih lanjut selesai.

Ketika kami keluar dari pengadilan hari itu, hujan Bandung baru saja berhenti.

Udara dingin.

Jalanan basah.

Raka berjalan di sampingku mengenakan kaus biru yang sama.

Aku pernah ingin membuang kaus itu.

Terlalu banyak kenangan buruk melekat padanya.

Namun Raka menolak.

“Kenapa masih dipakai?” tanyaku.

Ia memandang noda cokelat di bagian bawah.

Lalu tersenyum kecil.

“Karena Ibu beli ini waktu Ibu lagi susah.”

Aku tercekat.

“Kamu tahu?”

Raka mengangguk.

“Aku dengar Ibu telepon Tante Sari waktu malam ulang tahunku. Ibu bilang habis jual bros Nenek.”

Aku tidak pernah sadar ia mendengarnya.

Raka menyentuh kantong kecil di balik kaus yang sekarang sudah kosong.

“Aku jahit sendiri kantongnya.”

“Kamu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia terdiam sebentar.

“Ayah bilang alat rekam itu buat buktiin Ibu jahat.”

Aku menunggu.

“Tapi aku tahu Ibu nggak jahat.”

Mataku panas.

“Terus?”

Raka tersenyum tipis.

“Jadi aku simpan buat buktiin siapa yang bohong.”

Aku menariknya ke dalam pelukan.

Untuk beberapa detik kami berdiri di trotoar basah di depan pengadilan.

Orang-orang berlalu lalang.

Motor melintas.

Klakson berbunyi.

Dunia berjalan seperti biasa.

Namun bagiku, sesuatu telah berubah selamanya.

Selama berbulan-bulan aku mengira tugasku adalah melindungi Raka dari dunia.

Ternyata, tanpa kusadari, anak kecil itu juga berusaha melindungiku.

Bukan dengan uang.

Bukan dengan pengacara mahal.

Bukan dengan koneksi.

Hanya dengan sebuah kaus pudar, kantong kecil yang dijahit tangan, dan keberanian untuk mengatakan kebenaran ketika semua orang dewasa di ruangan itu sibuk membangun kebohongan.

Aku mencium kepalanya.

“Mulai sekarang, kalau takut, bilang Ibu.”

Raka mengangguk.

“Kalau Ibu takut?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Kita bilang satu sama lain.”

Ia memegang tanganku.

Lalu kami berjalan meninggalkan gedung pengadilan.

Aku tidak lagi memiliki gelang emas milik ibuku.

Cincin nenek sudah lama terjual.

Tabunganku hampir habis.

Karier lamaku hancur.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kehilangan.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu.

Ada orang yang mengira kekuasaan berarti mampu membeli pengacara terbaik, menyewa investigator, mengendalikan rekening, menghancurkan pekerjaan orang lain, dan menciptakan cerita yang dipercaya semua orang.

Bima memiliki semua itu.

Namun ia lupa satu hal.

Kebohongan sebesar apa pun selalu memiliki celah kecil.

Dan kadang-kadang, celah itu hanya selebar sebuah kantong jahitan di balik kaus anak delapan tahun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang