KARENA IBUKU SAKIT-SAKITAN, AKU LANGSUNG DICERAIKAN OLEH SUAMIKU. DIA TIDAK MAU KELUAR BIAYA MERAWAT IBUKU, SIAPA SANGKA TERNYATA WARISAN DARI IBUKU JUMLAHNYA TRILIUNAN….

“Iya, Mas Darma. Ini rumah Ibu,” jawab Faya lirih sambil menyeka sudut matanya yang basah.

Darma, tetangga sekaligus pemuda baik hati yang tadi sengaja mengantar Faya dan Bu Siti pulang dari rumah sakit, hanya bisa menghela napas panjang. Ia meletakkan bungkusan makanan di atas meja kayu yang sudah lapuk. Tatapannya penuh rasa iba melihat kondisi Bu Siti yang tampak sangat lelah, dan Faya yang hancur berkeping-keping setelah dihina habis-habisan oleh Tama.

“Sabar ya, Mbak Faya. Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur). Orang sombong seperti Mas Tama itu pasti ada balasannya,” ucap Darma menenangkan, sebelum akhirnya pamit pulang untuk memberikan waktu bagi Faya dan ibunya.

Setelah Darma pergi, suasana rumah menjadi hening. Faya menuntun ibunya duduk di ranjang kamar yang sederhana. Air mata Faya luruh tak terbendung. Bukan karena ia menyesal bercerai dari Tama, melainkan karena ia sakit hati melihat ibunya yang sedang sakit-sakitan harus menyaksikan drama serendah ini.

“Maafkan Faya ya, Bu… Faya gagal mempertahankan rumah tangga. Faya malah bikin Ibu ikut dihina,” tangis Faya pecah di pangkuan ibunya.

Bu Siti tersenyum lembut. Tangannya yang gemetar dan keriput mengelus rambut Faya dengan penuh kasih sayang.

“Nduk… Ibu yang harusnya minta maaf. Selama ini Ibu diam bukan karena Ibu lemah. Ibu hanya ingin melihat, sampai di mana batas kesetiaan dan ketulusan suamimu itu saat kita berada di bawah,” ucap Bu Siti. Suaranya tidak lagi terdengar lemah, melainkan menyiratkan ketegasan yang belum pernah Faya dengar sebelumnya.

Faya mendongak, bingung dengan ucapan ibunya. “Maksud Ibu?”

Bu Siti menghela napas panjang, lalu meminta Faya mengambil sebuah kotak besi tua yang berkarat dari bawah tempat tidur. Kotak itu dikunci rapat dengan gembok kuno.

“Buka ini, Nduk. Kuncinya ada di dalam kalung yang selalu Ibu pakai ini.” Bu Siti melepas kalung perak tipis dari lehernya dan menyerahkannya kepada Faya.

Dengan tangan gemetar, Faya membuka gembok tersebut. Ia mengira isinya hanyalah foto-foto lama atau surat-surat usang peninggalan almarhum ayahnya yang seorang petani biasa. Namun, saat penutup kotak dibuka, mata Faya terbelalak sempurna.

Di dalam kotak itu terdapat tumpukan sertifikat tanah bertuliskan Hak Milik, beberapa buku tabungan prioritas dari bank luar negeri, serta dokumen kepemilikan saham atas nama Siti Rahayu.

“I-ibu… ini apa?” Faya terbata-bata. Ia membaca salah satu dokumen. Surat kepemilikan lahan kelapa sawit ratusan hektar, saham mayoritas di sebuah perusahaan tambang, dan aset properti di ibu kota.

Total nilainya… tidak salah lagi, mencapai angka triliunan rupiah.

“Dulu, sebelum menikah dengan ayahmu, Ibu adalah putri tunggal dari seorang pengusaha besar di Sumatra. Ibu meninggalkan kemewahan itu karena memilih hidup sederhana bersama ayahmu yang tulus. Setelah kakekmu meninggal, seluruh warisan itu jatuh ke tangan Ibu. Ibu sengaja menyembunyikannya, bahkan dari kamu, karena Ibu ingin kamu tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan tidak gila harta,” jelas Bu Siti tenang.

“Lalu… kenapa Ibu membiarkan kita hidup susah? Kenapa Ibu diam saja saat Tama menghina kita?” tanya Faya, masih syok.

“Karena Ibu ingin menguji Tama. Ibu tahu dia mendekatimu karena mengira kamu punya masa depan cerah. Begitu Ibu berpura-pura sakit parah dan membutuhkan biaya besar, topengnya langsung terbuka, kan? Dia menceraikanmu karena takut miskin akibat merawat Ibu.” Bu Siti tersenyum penuh arti. “Sekarang, masanya berpura-pura sudah selesai. Mari kita urus pengobatan Ibu ke Jerman, dan setelah itu, mari kita tunjukkan pada mantan suamimu, siapa yang sebenarnya menjadi beban.”

Tiga Bulan Kemudian…

Tama berjalan dengan dada membusung di koridor kantor pemerintahan. Hari ini adalah hari pertamanya resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia merasa berada di puncak dunia.

“Untung aku cepat-cepat cerai dari Faya. Kalau tidak, gajiku sebagai PNS habis hanya untuk bayar cuci darah ibunya yang rongsokan itu,” gumam Tama sinis sambil menyesap kopinya.

Namun, langkah Tama terhenti saat melihat kehebohan di aula utama. Seluruh pejabat daerah, termasuk bupati, sedang membungkuk hormat menyambut kedatangan seorang investor besar yang baru saja menyuntikkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan infrastruktur provinsi mereka.

Tama penasaran dan ikut berdesakan di belakang untuk melihat sang konglomerat.

Sebuah mobil mewah Rolls-Royce hitam berhenti di depan lobby. Pintu dibuka oleh pengawal berbadan tegap. Seorang wanita paruh baya turun dengan anggun, mengenakan pakaian batik sutra berkelas. Wajahnya segar, sehat, dan memancarkan aura karisma yang luar biasa. Itu Bu Siti!

Di sampingnya, menuntun dengan anggun, adalah seorang wanita muda yang sangat cantik, mengenakan pakaian desainer ternama dan perhiasan berlian yang berkilau.

Tama mengucek matanya berkali-kali. Jantungnya serasa copot ke aspal.

“Fa… Faya? Ibu Siti?!” teriak Tama histeris, reflex memecah keheningan.

Suara Tama membuat Faya dan Bu Siti menghentikan langkah. Faya menoleh, menatap Tama yang berdiri di antara kerumunan dengan seragam PNS-nya yang mendadak terlihat sangat murah.

Faya berjalan mendekati Tama, diikuti oleh dua pengawal berbadan besar.

“M-Mbak Faya… Ibu… kok bisa ada di sini? Ini pasti mimpi, kan? Kalian kan miskin!” Tama berucap gagap, wajahnya pucat pasi bak mayat.

Faya tersenyum sinis, menatap mantan suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Oh, halo mantan suami sukses,” ucap Faya penuh penekanan. “Terima kasih ya, karena sudah menceraikanku. Kalau kamu tidak minta cerai, aku tidak akan pernah tahu kalau harta warisan Ibuku jumlahnya triliunan. Dan oh ya… perkenalkan, Ibuku adalah pemilik baru dari perusahaan sponsor utama pembiayaan daerah tempatmu bekerja sekarang.”

Tama lemas. Lututnya gemetar hebat hingga ia jatuh berlutut di lantai marmer.

“Faya… maafkan aku, Faya! Aku khilaf! Aku masih cinta sama kamu. Tolong kembalilah padaku, kita bangun rumah tangga lagi!” ratap Tama tanpa urat malu, mencoba menggapai kaki Faya.

Sebelum tangan Tama menyentuh sepatu Faya, seorang pengawal langsung mendorongnya hingga terjungkal.

“Jaga mulutmu, PNS baru,” bisik Faya dingin, membungkuk sedikit agar suaranya terdengar jelas di telinga Tama yang sedang menangis penyesalan. “Kamu bilang tidak ada laki-laki yang mau sama perempuan pembawa beban seperti aku, kan? Sayangnya, minggu depan aku akan bertunangan dengan seorang pengusaha muda yang jauh lebih terhormat dibanding kamu.”

Faya berdiri tegak, berbalik arah tanpa menoleh lagi, mendampingi ibunya yang berjalan masuk ke ruang VIP disambut bupati.

Tama berteriak memanggil nama Faya, namun suaranya tenggelam oleh perintah tegas dari kepala instansinya: “Amankan orang gila ini! Berani-beraninya dia membuat keonaran di depan Investor Agung kita! Pecat dia hari ini juga!”

Hari itu, di tempat yang sama, Tama tidak hanya kehilangan pekerjaan yang baru diimpikannya, tetapi juga menyadari bahwa ia telah membuang berlian demi mendapatkan sebongkah batu kerikil. Penyesalannya kini tiada guna, terkunci rapat dalam kemiskinan yang ia ciptakan sendiri karena keserakahannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang