Keheningan yang dingin menyelimuti seluruh vila.
Di seberang sambungan telepon, terdengar suara ketikan keyboard yang bertubi-tubi, disusul instruksi yang langsung dijalankan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keraguan. Mereka tahu persis siapa aku.
Marco tertawa pelan, seolah masih tidak percaya.
“Selena, sudahlah. Sandiwara apa lagi ini?”
Aku tersenyum.
Namun kali ini berbeda.

Bukan lagi senyum yang masih menyimpan harapan.
Melainkan senyum seseorang yang telah benar-benar selesai.
“Sandiwara?”
Aku melangkah perlahan keluar dari bathtub. Air mengalir dari tubuhku, menetes ke lantai marmer yang dingin dan sunyi.
“Marco…”
“Apakah kamu benar-benar tahu siapa orang yang selama ini kamu remehkan?”
Suasana mendadak hening.
Bianca menggenggam lengan Marco semakin erat.
“Marco… sebenarnya ada apa ini?”
Aku bahkan tidak melirik ke arah mereka.
Dari telepon, suara tim operasional terdengar jelas.
“Ma’am, pembekuan seluruh aset sudah berhasil dieksekusi. Semua rekening keluarga Dela Cruz telah dinonaktifkan.”
Sunyi.
Sesaat kemudian, satu per satu notifikasi ponsel di sekitar mereka berhenti berbunyi.
Tak ada lagi dering.
Tak ada lagi getaran.
Seolah seluruh dunia mereka mendadak kehilangan nyawa.
Senyum di wajah Marco perlahan menghilang.
“Apa… yang sudah kamu lakukan?”
Aku mengambil handuk dengan tenang lalu membungkus tubuhku.
“Aku tidak melakukan apa pun.”
“Aku hanya mengaktifkan sesuatu yang sudah lama menunggu waktunya.”
Dari luar vila terdengar keributan.
Suara kendaraan.
Langkah kaki.
Sorot lampu yang memenuhi halaman.
Melalui layar CCTV di ruang tamu, terlihat jelas iring-iringan SUV hitam memasuki gerbang kediaman keluarga Dela Cruz.
Tertata rapi.
Tenang.
Namun begitu mengintimidasi.
Bianca mundur beberapa langkah.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
“Marco, lakukan sesuatu!”
Namun Marco tetap membeku.
Seolah seluruh kendali yang selama ini dimilikinya lenyap hanya dalam sekejap.
Aku berjalan ke depan cermin dan merapikan rambutku.
Lalu menatap mereka berdua.
“Benarkah kalian mengira bahwa seorang perempuan yang menurut kalian tidak punya keluarga tidak punya kekuatan apa pun?”
Aku melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan setiap langkahku membuat mereka mundur semakin jauh.
“Selama tiga tahun kalian menyebutku hanya sebagai pengganti sementara.”
“Kalian memperlakukanku seolah aku tidak berharga.”
“Tapi tidak sekali pun kalian bertanya mengapa seluruh kalangan elite Makati selalu memberiku tempat di meja yang sama dengan mereka.”
Keheningan terasa semakin berat.
Interkom berbunyi.
“Ma’am Selena, tim penegak hukum sudah tiba di gerbang.”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, senyum itu bukan lahir dari rasa sakit, melainkan dari kebebasan.
“Silakan masuk.”
Marco menatapku dengan mata yang mulai dipenuhi ketakutan.
“Selena… sebenarnya siapa kamu?”
Aku berhenti tepat di hadapannya.
“Aku adalah orang yang kalian pilih untuk diremehkan, padahal sejak awal kalian tahu kalian seharusnya tidak pernah melakukannya.”
Aku berbalik.
Pintu utama vila perlahan terbuka.
Puluhan orang memasuki ruangan dengan langkah tenang. Di depan mereka berjalan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan setelan abu-abu gelap. Tidak ada ekspresi di wajahnya.
“Selamat malam, Nona Selena,” ucapnya sambil sedikit menundukkan kepala.
Marco langsung mengenali pria itu.
“Pak Adrian?”
Suara Marco bergetar.
Pak Adrian bukan sekadar pengacara. Selama dua puluh tahun terakhir, namanya dikenal sebagai penasihat hukum berbagai konglomerat terbesar di Asia Tenggara. Orang seperti dia tidak mungkin datang hanya untuk mengurus sengketa keluarga biasa.
Pak Adrian menatap Marco sebentar.
“Kami datang berdasarkan keputusan dewan direksi.”
Marco mengernyit.
“Dewan direksi apa?”
Pak Adrian mengeluarkan sebuah map hitam.
“Seluruh saham yang selama ini menjadi jaminan pinjaman keluarga Dela Cruz telah resmi diambil alih setelah terjadi pelanggaran perjanjian.”
Bianca memucat.
“Mustahil. Perusahaan kami sehat.”
Pak Adrian tersenyum tipis.
“Sehat?”
Ia mengeluarkan beberapa dokumen lagi.
“Selama dua tahun terakhir, perusahaan kalian menyembunyikan kerugian melalui anak perusahaan fiktif. Semua transaksi itu baru saja dibuka kepada regulator.”
Tubuh Marco langsung lemas.
Ia tahu.
Semua itu benar.
Hanya ada empat orang yang mengetahui rahasia tersebut.
Dan salah satunya adalah dirinya.
“Tapi… siapa yang membocorkannya?”
Tatapannya perlahan beralih kepadaku.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memandangnya dengan tenang.
Baru saat itu Marco benar-benar mengingat sesuatu.
Tiga tahun lalu, ketika mereka mulai hidup bersama, ia sering membawa pulang pekerjaan ke rumah. Berkali-kali Selena membantunya menyusun laporan, mengecek kontrak, bahkan memberi saran mengenai investasi.
Selama ini ia mengira Selena hanyalah wanita pintar.
Ia tidak pernah sadar bahwa setiap angka yang pernah ia tunjukkan sedang dipelajari oleh seseorang yang jauh lebih ahli darinya.
“Aku bodoh…” gumam Marco lirih.
Aku tersenyum tipis.
“Ya. Tapi bukan karena kamu percaya kepadaku.”
Ia mengangkat kepala.
“Kamu bodoh karena mengira semua orang bisa dibeli.”
Ruangan kembali sunyi.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki lain terdengar dari luar.
Seorang wanita tua memasuki vila dengan pakaian sederhana.
Melihatnya, wajahku langsung melembut.
“Ibu…”
Wanita itu tersenyum sambil menggenggam tanganku.
Marco membelalakkan mata.
“Bukankah beliau sudah meninggal?”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Ibuku masih hidup.”
“Tiga tahun lalu kalian sengaja menyebarkan berita bahwa beliau meninggal agar aku kehilangan seluruh dukungan emosional dan menyerahkan seluruh hidupku kepadamu.”
Bianca mundur beberapa langkah.
“Bagaimana mungkin…”
Ibuku memandang Marco dengan mata berkaca-kaca.
“Aku pernah menganggapmu seperti anak sendiri.”
Marco menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, ia tidak mampu berkata apa-apa.
Aku memegang tangan ibuku.
“Selama ini beliau tinggal di luar negeri dengan perlindungan khusus.”
Marco perlahan memahami semuanya.
“Jadi… sejak awal semua ini sudah direncanakan?”
Aku mengangguk.
“Tidak.”
“Awalnya aku hanya ingin hidup tenang.”
“Tapi ketika kalian memalsukan tanda tanganku, mengambil perusahaan kecil peninggalan ayahku, lalu mempermalukan ibuku, aku sadar satu hal.”
“Orang seperti kalian tidak akan pernah berhenti sebelum menghancurkan orang lain.”
Bianca tiba-tiba berteriak.
“Kalau begitu kenapa tidak langsung melawan sejak dulu?”
Aku menatapnya.
“Karena pohon yang akarnya masih dangkal bisa tumbang hanya karena angin.”
“Aku menunggu sampai akarku cukup kuat.”
Beberapa menit kemudian, seluruh vila dipenuhi petugas.
Lukisan-lukisan mahal diberi segel.
Brankas dibuka.
Dokumen diamankan.
Sementara Marco hanya duduk diam di sofa.
Tak ada lagi kesombongan di wajahnya.
Tak ada lagi pria yang dulu selalu berkata bahwa uang bisa membeli segalanya.
Saat hendak keluar dari vila, ia memanggilku.
“Selena.”
Aku berhenti.
“Kalau waktu bisa diputar kembali… apakah kamu akan tetap mencintaiku?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku mengingat hari pertama kami bertemu.
Hari ketika aku percaya bahwa cinta bisa mengubah seseorang.
Hari ketika aku rela meninggalkan mimpiku demi membangun masa depan bersamanya.
Semua kenangan itu datang sekejap.
Lalu menghilang.
Aku menoleh.
“Tidak.”
“Sebab sekarang aku tahu.”
“Aku tidak pernah jatuh cinta pada dirimu.”
“Aku jatuh cinta pada sosok yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku.”
Marco memejamkan mata.
Air mata akhirnya jatuh.
Namun semuanya sudah terlambat.
Aku meninggalkan vila tanpa menoleh lagi.
Tiga bulan kemudian.
Media Indonesia ramai memberitakan runtuhnya jaringan bisnis keluarga Dela Cruz yang selama bertahun-tahun melakukan pencucian uang dan manipulasi laporan keuangan.
Marco dijatuhi hukuman penjara.
Bianca memilih melarikan diri ke luar negeri, tetapi akhirnya ditangkap beberapa minggu kemudian.
Sementara aku kembali menjalankan perusahaan investasi milik keluargaku.
Tidak ada pesta kemenangan.
Tidak ada balas dendam yang dirayakan.
Hanya pekerjaan, keluarga, dan hidup yang akhirnya kembali tenang.
Suatu sore aku menerima sebuah amplop tanpa nama.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto lama.
Foto pertama ketika aku dan Marco masih menjadi mahasiswa.
Di balik foto itu tertulis satu kalimat.
“Maaf karena aku baru mengerti saat semuanya telah hilang.”
Aku tersenyum pelan.
Lalu memasukkan foto itu ke dalam mesin penghancur kertas.
Sebagian orang mengira balas dendam terbaik adalah membuat orang lain menderita.
Mereka salah.
Balas dendam terbaik adalah ketika kita berhasil membangun kehidupan yang begitu damai hingga orang yang pernah menghancurkan kita tidak lagi memiliki tempat sedikit pun di dalam hati kita.
Aku melangkah keluar dari kantor.
Matahari senja menyinari langit Jakarta.
Ibuku menunggu di mobil sambil melambaikan tangan.
Aku membalas lambaian itu dengan senyum tulus.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku benar-benar merasa bebas.
Dan di saat itulah aku menyadari bahwa yang benar-benar runtuh malam itu bukanlah kerajaan keluarga Dela Cruz.
Melainkan kesombongan yang selama ini membuat mereka percaya bahwa mereka tidak akan pernah kalah oleh seorang perempuan yang mereka anggap tidak berarti.
