Kepala dokter masuk dan dengan sedih mengumumkan

Saya bangkit berdiri, mata saya merah karena air mata dan kemarahan. “Siapa anak ini? Seret dia keluar sekarang juga!” teriak saya. Namun, sebelum penjaga sempat bertindak, anak itu melepaskan diri dengan gerakan yang sangat gesit, hampir seperti tidak menyentuh lantai. Dia berlari menerjang kerumunan dokter dan melompat ke atas tempat tidur Bella.

“Berhenti! Apa yang kau lakukan?!” dokter kepala berteriak, mencoba menarik anak itu, tapi anak gelandangan itu menepis tangan dokter dengan tatapan yang tajam, dingin, dan penuh otoritas yang tidak wajar untuk ukuran anak seusianya.

“Jika kalian ingin dia hidup, diamlah atau kalian akan membunuhnya sepenuhnya!” bentak anak itu. Suaranya bergema, membuat seisi ruangan membeku.

Anak itu tidak melakukan prosedur medis apa pun. Dia tidak menekan dada Bella, tidak mencari alat bantu napas. Dia meletakkan telapak tangan kecilnya yang kotor tepat di atas dada Bella yang sudah berhenti bergerak. Dia menutup matanya, memiringkan kepalanya seolah sedang mendengarkan detak jantung yang sudah hilang.

“Waktunya belum tiba,” gumamnya pelan.

Keajaiban pun terjadi.

Tangan anak itu mulai memancarkan sensasi panas yang nyata. Udara di dalam ruang ICU yang dingin tiba-tiba berubah menjadi hangat, bahkan terasa bergetar. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, kulit Bella yang pucat pasi mulai menunjukkan semburat merah muda.

Satu detik… dua detik… sepuluh detik berlalu. Monitor yang tadi menunjukkan garis lurus yang memekakkan telinga mendadak bergetar hebat.

Tuut… tuut… tuut…

Suara itu pelan, lemah, namun ritmis. Sebuah tarikan napas panjang dan berat keluar dari paru-paru Bella, seolah-olah dia baru saja terbangun dari mimpi yang sangat dalam. Tubuhnya sedikit terlonjak di atas ranjang.

Seluruh dokter di ruangan itu ternganga, menjatuhkan peralatan mereka. Kepala dokter yang tadi menyatakan kematian hampir terjatuh ke lantai karena syok. “Mustahil… ini secara medis tidak mungkin…” bisiknya bergetar.

Anak gelandangan itu terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi, dan dia jatuh pingsan ke pelukan saya. Saya menangkapnya, bingung antara rasa syukur yang luar biasa karena Bella kembali bernapas dan kebingungan total atas apa yang baru saja terjadi.

Bella perlahan membuka matanya. “Ayah?” bisiknya dengan suara parau.

Saya memeluk Bella dengan isak tangis, namun mata saya tertuju pada anak laki-laki di lengan saya. Siapa dia? Bagaimana mungkin seorang anak jalanan bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh sepuluh spesialis terbaik dunia? Dan yang lebih membingungkan, saat saya menatap wajah anak itu dengan lebih saksama, saya melihat sebuah tanda lahir berbentuk bintang di pergelangan tangannya—sebuah tanda yang hanya dimiliki oleh garis keturunan keluarga saya yang telah hilang puluhan tahun lalu.

Malam itu, di ruang ICU yang dingin, bukan hanya putri saya yang hidup kembali, tetapi rahasia besar tentang masa lalu keluarga Valdemor baru saja dimulai.

Apakah Anda ingin melanjutkan cerita ini dengan mengungkap identitas sebenarnya dari anak gelandangan tersebut dan bagaimana hubungannya dengan masa lalu keluarga Ricardo?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang