Aku menarik napas panjang sebelum berbicara. Suara obrolan di ruang tamu langsung mereda ketika aku memanggil nama ketiga kakak perempuanku.
“Mbak Maria, Mbak Elena, Mbak Grace… tolong berdiri sebentar.”
Mereka saling berpandangan.
“Ada apa?” tanya Maria sambil tersenyum heran.
Aku menatap mereka satu per satu, lalu menunjuk ke arah dapur.
“Masuklah ke dapur. Sekarang.”
Nada suaraku membuat mereka akhirnya bangkit. Bahkan ibu yang sudah hampir tertidur keluar dari kamarnya karena mendengar suaraku.

Begitu mereka melihat Liza masih berdiri di depan wastafel dengan perut delapan bulan yang hampir menyentuh meja dapur, ekspresi mereka hanya berubah sedikit.
Elena malah tersenyum tipis.
“Kasihan memang, tapi tinggal sedikit lagi, kan?”
Aku menoleh kepadanya.
“Tinggal sedikit?”
Aku berjalan mendekati wastafel, mengambil spons dari tangan Liza, lalu mematikan keran.
“Lihat wajah istriku.”
Semua terdiam.
“Lihat tangannya yang gemetar.”
Tidak ada yang menjawab.
“Lihat bagaimana dia berdiri sambil menahan pinggangnya karena kesakitan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Liza mencoba tersenyum.
“Sudahlah, Sayang. Aku hampir selesai.”
Aku menggenggam kedua tangannya.
“Tidak. Kamu sudah selesai.”
Lalu aku menoleh kepada keluargaku.
“Mulai malam ini, tidak akan ada lagi satu pun pekerjaan rumah keluarga yang dibebankan kepada istriku.”
Grace menghela napas.
“Kamu terlalu berlebihan. Kami juga dulu hamil sambil mengurus rumah.”
Aku mengangguk.
“Mungkin benar.”
“Tapi kalian bukan istriku.”
Mereka saling berpandangan.
Aku melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang.
“Selama tiga tahun menikah, aku terlalu sibuk menjadi adik yang baik sampai lupa menjadi suami yang baik.”
Maria mulai terlihat tidak nyaman.
“Kami tidak pernah menyuruh Liza melakukan semuanya.”
Aku langsung menjawab.
“Itulah masalahnya.”
Mereka mengerutkan dahi.
“Kalian memang tidak pernah menyuruh secara langsung. Tapi kalian juga tidak pernah menghentikannya. Kalian melihat seorang wanita hamil delapan bulan mencuci ratusan piring sendirian sementara kalian duduk bermain ponsel.”
Tidak ada yang bisa membantah.
Aku melanjutkan.
“Dan aku lebih bersalah daripada kalian. Karena aku melihat semuanya… tetapi memilih diam.”
Suasana menjadi sangat berat.
Ibu memandangku dengan mata berkaca-kaca.
Aku menatap beliau.
“Bu… aku sangat menghormati Ibu.”
Beliau mengangguk perlahan.
“Tapi mulai hari ini, aku akan lebih menghormati keluargaku sendiri.”
Liza langsung menarik lenganku pelan.
“Sudahlah, Sayang…”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Tidak. Selama ini kamu yang terus mengalah.”
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku berkata dengan tegas kepada keluargaku.
“Kalau kami datang ke rumah ini lagi, kami datang sebagai tamu keluarga, bukan sebagai pekerja dapur.”
Tidak ada yang berbicara.
Aku mengambil tas Liza.
“Kami pulang.”
Kami meninggalkan rumah malam itu dalam keheningan.
Di dalam mobil, Liza hanya menangis tanpa suara.
Aku tidak mencoba menghentikannya.
Aku tahu itu bukan tangisan karena dimarahi keluargaku.
Itu adalah tangisan seseorang yang akhirnya merasa ada orang yang berdiri di sisinya.
Sesampainya di rumah, aku membantu melepas sandalnya.
Aku memijat kedua kakinya yang bengkak.
Beberapa menit kemudian, aku berkata lirih.
“Maaf.”
Dia menggeleng.
“Bukan salahmu.”
Aku menatapnya.
“Justru ini salahku.”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku takut membuat hubunganmu dengan keluargamu rusak.”
Aku mengusap rambutnya.
“Kalau hubungan itu hanya bisa bertahan karena pengorbananmu, berarti memang sudah rusak sejak awal.”
Malam itu kami berbicara sampai hampir subuh.
Untuk pertama kalinya, Liza bercerita.
Ternyata selama ini bukan hanya pekerjaan dapur.
Beberapa kali ketika aku sedang berbincang dengan saudara laki-laki iparku, kakak-kakakku meminta Liza menyapu halaman, mencuci gelas tambahan, bahkan membersihkan kamar mandi setelah acara keluarga selesai.
Setiap kali Liza mencoba duduk sebentar, selalu ada komentar.
“Menantu harus rajin.”
“Perempuan hamil jangan manja.”
“Nanti setelah punya anak malah lebih capek.”
Dia tidak pernah menceritakannya karena takut aku berada di posisi sulit.
Aku hanya bisa memejamkan mata.
Dadaku terasa sesak.
Aku benar-benar gagal melihat semua itu.
Keesokan paginya, Maria meneleponku.
“Nanti sore datang ke rumah Ibu.”
“Ada apa?”
“Kita bicara baik-baik.”
Aku datang sendiri.
Liza kubiarkan beristirahat di rumah.
Begitu masuk, suasananya berbeda.
Ketiga kakakku sudah duduk bersama ibu.
Maria langsung membuka pembicaraan.
“Kamu membuat Ibu menangis semalaman.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
Elena berkata dengan nada kecewa.
“Kami cuma ingin mengajarkan Liza supaya bisa menyatu dengan keluarga.”
Aku tersenyum pahit.
“Dengan membuatnya bekerja sendirian?”
Grace menyela.
“Dia tidak pernah menolak.”
“Karena dia menghormatiku.”
Aku berhenti sejenak.
“Dan dia menghormati kalian.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku mengeluarkan ponselku.
“Aku mau menunjukkan sesuatu.”
Aku memutar rekaman CCTV rumah.
Beberapa minggu sebelumnya, setelah dokter meminta Liza banyak beristirahat, aku memasang kamera kecil di ruang tamu untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu saat aku bekerja.
Ternyata kamera itu merekam sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Video memperlihatkan saat aku sedang membeli minuman di luar.
Di ruang makan, Maria berkata kepada Liza.
“Kalau nanti Arman menawarkan bantuan, jangan diterima. Biar dia tetap fokus jadi laki-laki. Kerjaan dapur memang tugas perempuan.”
Video berikutnya memperlihatkan Elena berkata sambil tertawa.
“Kalau kamu terlalu dimanja suami, nanti kami yang malu punya menantu pemalas.”
Lalu Grace menambahkan.
“Kalau kamu capek, jangan bilang ke Arman. Nanti dia malah membela kamu.”
Tidak ada satu kata pun yang kasar.
Tetapi semuanya menjelaskan mengapa Liza selalu diam.
Ketiga kakakku langsung pucat.
Mereka lupa bahwa kamera itu juga merekam suara.
Ibu memandang mereka bergantian.
“Waktu kalian bilang semalam kalian tidak pernah menyuruh Liza…”
Tidak ada yang menjawab.
Air mata ibu perlahan jatuh.
“Aku membesarkan kalian bukan supaya memperlakukan orang seperti ini.”
Maria mulai menangis.
“Aku… aku tidak sadar.”
Aku menggeleng.
“Kalian sadar.”
“Tapi kalian menganggap itu wajar.”
Hari itu tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada teriakan.
Yang ada hanya rasa malu.
Seminggu kemudian, Liza melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Aku hampir kehilangan napas ketika dokter mengatakan tekanan darahnya sempat naik karena kelelahan.
Untungnya, bayi kami lahir dengan selamat.
Seorang anak perempuan.
Saat pertama kali menggendongnya, aku berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun membuat ibu dari anakku menangis sendirian lagi.
Yang mengejutkanku adalah siapa orang pertama yang datang ke rumah sakit.
Maria.
Dia datang sendirian.
Di tangannya ada sebuah kotak.
Tanpa banyak bicara, dia berdiri di depan Liza lalu membungkukkan badan.
“Aku minta maaf.”
Liza langsung berdiri hendak mencegahnya.
Maria menggeleng.
“Biarkan aku menyelesaikannya.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku baru sadar kalau selama ini aku memperlakukanmu seperti pembantu keluarga, bukan sebagai adik.”
Kotak yang dibawanya ternyata berisi sebuah buku tua.
Itu adalah buku harian ibu kami.
Maria menemukannya saat membersihkan lemari.
Di salah satu halaman tertulis kalimat yang membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
“Jika suatu hari anak-anakku sudah menikah, jangan pernah perlakukan menantu seperti orang luar. Mereka meninggalkan keluarganya untuk mempercayai keluarga kita. Hormatilah mereka seperti kalian ingin orang lain menghormati pasangan kalian.”
Tulisan itu dibuat hampir dua puluh tahun sebelumnya.
Tidak seorang pun di antara kami pernah membacanya.
Ibu yang duduk di samping tempat tidur langsung menangis tersedu-sedu.
Maria memeluk Liza.
Tak lama kemudian Elena dan Grace juga datang.
Mereka tidak membawa hadiah mewah.
Mereka membawa makanan yang sudah dimasak sendiri dan berkata kepada Liza, “Mulai sekarang, kalau ada acara keluarga, kamu datang hanya untuk makan, bercanda, dan menikmati waktu bersama kami. Dapur adalah tanggung jawab kami semua.”
Liza tersenyum untuk pertama kalinya tanpa ada rasa canggung.
Kini, tiga tahun telah berlalu.
Putri kami sering bermain di rumah neneknya.
Yang paling sering mencuci piring setelah acara keluarga justru kami semua bersama-sama.
Kadang aku, ketiga kakakku, para ipar, bahkan keponakan-keponakanku bergantian mencuci, mengeringkan, dan menyimpan peralatan makan sambil tertawa.
Setiap kali melihat pemandangan itu, aku selalu teringat malam ketika istriku berdiri sendirian di depan wastafel dengan perut delapan bulan.
Malam itu aku mengira aku sedang menyelamatkan istriku.
Baru kemudian aku menyadari bahwa sebenarnya, malam itulah yang menyelamatkan seluruh keluargaku.
