Kiko mulai membersihkan ruangan, Don Enrico diam-diam menyiapkan jebakannya.

Tidak ada seorang pun di Jakarta yang tidak mengenal nama Don Enrico Wijaya. Media menyebutnya raja properti, para pesaing menyebutnya manusia baja, sementara orang-orang yang bekerja di rumah megahnya di kawasan elit Menteng mengenalnya sebagai pria yang sulit ditebak. Di usianya yang hampir enam puluh tahun, Don Enrico memiliki segalanya: perusahaan konstruksi terbesar, puluhan gedung pencakar langit, koleksi mobil mewah, dan rekening yang tidak akan habis bahkan untuk tujuh turunan.

Namun, ada satu hal yang perlahan hilang dari hidupnya sejak lama: kepercayaan terhadap sesama manusia.

Dua puluh tahun sebelumnya, ia pernah ditipu oleh rekan bisnis yang dianggap saudara sendiri. Adiknya melarikan sebagian aset keluarga. Bahkan, setelah istrinya meninggal karena sakit, anak semata wayangnya memilih menetap di luar negeri dan jarang pulang. Sejak saat itu, Don Enrico mulai memandang semua orang dengan curiga. Baginya, setiap senyuman menyimpan maksud, dan setiap kebaikan pasti memiliki harga.

Di rumah sebesar itu, hanya sedikit orang yang bertahan bekerja lebih dari beberapa bulan. Banyak yang pergi karena tidak tahan dengan sifat kerasnya. Namun, ada satu orang yang tetap setia selama bertahun-tahun: Rosa.

Rosa bekerja sebagai pencuci pakaian dan petugas kebersihan. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran Jakarta bersama putranya, Kiko, yang baru berusia sepuluh tahun, dan suaminya, Arman, yang sudah lama terbaring sakit akibat gagal ginjal.

Karena tidak memiliki siapa pun untuk menjaga anaknya, Rosa sering membawa Kiko ke rumah Don Enrico sepulang sekolah. Bocah itu tidak pernah mengeluh. Ia membantu menyapu halaman, mencuci mobil, atau sekadar menyiram tanaman demi mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku dan membayar biaya pengobatan ayahnya.

Suatu sore, ketika Rosa sedang menyetrika pakaian, dua pelayan lain membicarakan kondisi keluarganya.

“Dokter bilang Pak Arman harus segera dioperasi,” bisik salah seorang.

“Biayanya ratusan juta. Dari mana Rosa bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”

Mereka tidak menyadari bahwa Don Enrico mendengar percakapan tersebut dari balik pintu.

Malam itu, saat duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, Don Enrico memandangi lampu-lampu kota dari jendela besar. Entah mengapa, pikirannya tertuju pada Kiko.

Anak itu selalu terlihat sopan, tetapi Don Enrico tidak percaya pada kepolosan. Menurut pengalamannya, keadaan sulit mampu mengubah siapa pun menjadi pencuri.

“Orang yang terdesak akan melakukan apa saja,” gumamnya sambil memutar gelas kristal di tangannya.

Sebuah ide muncul di benaknya.

Keesokan harinya, ia meminta asistennya mengambil beberapa gepok uang tunai dan kotak kecil berisi emas batangan dari brankas. Semua itu sengaja ia letakkan di atas meja ruang kerjanya.

Menjelang sore, Rosa dipanggil oleh kepala pelayan.

“Bu Rosa, Pak Enrico meminta Kiko membersihkan ruang kerjanya.”

Rosa langsung menoleh ke arah anaknya.

“Jangan macam-macam, ya.”

Kiko tersenyum kecil. “Iya, Bu.”

Saat memasuki ruangan, Kiko mendapati Don Enrico sudah berbaring di sofa kulit sambil memejamkan mata.

“Kiko, bersihkan ruangan ini. Saya mau istirahat,” kata Don Enrico dengan nada datar.

“Baik, Pak.”

Bocah itu mulai menyapu lantai dan mengelap rak buku. Tak lama kemudian, matanya menangkap kilauan emas dan tumpukan uang yang tergeletak begitu saja di atas meja.

Jantung Don Enrico berdegup kencang.

Dari balik matanya yang setengah tertutup, ia mengamati setiap gerakan Kiko.

Bocah itu mendekat. Tangannya terangkat. Untuk sesaat, Don Enrico merasa tebakannya akan terbukti.

Namun, Kiko justru mengambil kain bersih dan menutupi uang serta emas itu.

“Kalau ada orang masuk, nanti bisa hilang,” gumamnya pelan.

Ia lalu berjalan ke pintu, menguncinya dari dalam, dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Don Enrico masih diam. Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian, Kiko melihat bingkai foto seorang perempuan di meja kecil. Foto itu adalah foto mendiang istri Don Enrico.

Anak itu memandangi senyum perempuan dalam foto tersebut.

“Pasti Ibu kangen sama Pak Enrico,” bisiknya lirih.

Kalimat sederhana itu membuat dada Don Enrico terasa aneh.

Tak lama kemudian, Kiko pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dan meletakkannya di samping sofa.

“Biar nanti Bapak tidak haus.”

Saat itulah Don Enrico membuka mata.

“Kiko.”

Bocah itu terkejut.

“Iya, Pak?”

“Kamu melihat uang di meja?”

“Iya.”

“Kenapa tidak kamu ambil?”

Kiko menunduk beberapa saat.

“Ayah saya sakit, Pak. Kami memang butuh uang. Tapi Ibu bilang, kalau saya mengambil milik orang lain, saya mungkin bisa membantu keluarga hari ini, tetapi saya akan mengecewakan mereka seumur hidup.”

Ruangan mendadak sunyi.

Don Enrico memandangi wajah kecil di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seseorang membuatnya merasa malu terhadap pikirannya sendiri.

Tanpa berkata apa-apa, ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop.

“Bawa ini untuk pengobatan ayahmu.”

Kiko menggeleng.

“Saya tidak bekerja sebanyak itu, Pak.”

“Kamu tidak menerima uang ini karena pekerjaanmu. Kamu menerimanya karena kejujuranmu.”

Mata Kiko berkaca-kaca.

Hari itu, Rosa pulang sambil menangis karena tidak percaya bahwa majikannya membayar seluruh biaya operasi suaminya.

Namun, kisah mereka ternyata tidak berhenti di sana.

Operasi Arman berjalan lancar. Kesehatannya perlahan membaik. Don Enrico bahkan mulai memperhatikan pendidikan Kiko. Ia memasukkan anak itu ke sekolah terbaik dan menyediakan beasiswa hingga perguruan tinggi.

Bagi banyak orang, perubahan Don Enrico terasa mengejutkan.

Ia yang dahulu dingin mulai tersenyum kepada para pegawai. Ia yang biasanya makan sendirian kini sesekali mengundang Rosa dan keluarganya untuk makan bersama.

Meski demikian, tidak semua orang senang melihat perubahan itu.

Di perusahaan Wijaya Group, ada seorang direktur keuangan bernama Bastian. Selama bertahun-tahun, Bastian diam-diam memanfaatkan ketidakpedulian Don Enrico untuk menggelapkan dana perusahaan. Ia mengira bosnya terlalu sibuk dan terlalu curiga pada orang lain untuk memperhatikan apa yang terjadi di balik layar.

Tetapi setelah mengenal Kiko, Don Enrico mulai berubah. Ia kembali turun langsung memeriksa laporan dan aktivitas perusahaan.

Suatu malam, Don Enrico memanggil Kiko yang saat itu sudah berusia lima belas tahun.

“Kamu tahu kenapa saya dulu menjebakmu?”

Kiko tersenyum kecil.

“Karena Bapak tidak percaya pada siapa pun.”

Don Enrico mengangguk.

“Dan sekarang saya takut terlambat menyadari siapa orang-orang yang benar-benar jujur.”

Beberapa minggu kemudian, Don Enrico menemukan kejanggalan besar dalam laporan keuangan. Ratusan miliar rupiah menghilang tanpa jejak.

Bastian panik.

Ia tahu bahwa jika penyelidikan berlanjut, semuanya akan terbongkar.

Malam itu, seseorang membobol rumah kontrakan Rosa. Untungnya, Kiko memergoki pelaku dan berhasil memotretnya sebelum pria itu kabur.

Keesokan paginya, Kiko menunjukkan foto tersebut kepada Don Enrico.

Wajah Don Enrico langsung berubah pucat.

Pria dalam foto itu adalah sopir pribadi Bastian.

Penyelidikan internal pun dilakukan secara diam-diam. Sedikit demi sedikit, kebusukan Bastian terungkap. Ia telah mencuri uang perusahaan selama hampir delapan tahun dan berusaha mengintimidasi siapa pun yang dianggap mengancam posisinya.

Saat polisi akhirnya menangkap Bastian, banyak pegawai yang terkejut.

Don Enrico duduk sendirian di ruang kerjanya malam itu, memandangi kota Jakarta yang dipenuhi cahaya.

“Kau menyelamatkanku lagi, Kiko,” katanya.

Kiko yang duduk di seberangnya tersenyum.

“Saya tidak melakukan apa-apa, Pak.”

“Tidak.” Don Enrico menggeleng pelan. “Kamu mengingatkan saya bahwa saya salah selama ini.”

Waktu berlalu.

Tahun demi tahun berganti. Kiko tumbuh menjadi pemuda cerdas. Dengan bantuan beasiswa dari Don Enrico, ia berhasil masuk fakultas hukum di universitas ternama.

Namun, tepat ketika hidup mereka tampak sempurna, sebuah kenyataan mengejutkan muncul.

Suatu sore, Don Enrico mengalami serangan jantung ringan dan harus dirawat di rumah sakit. Di tengah masa pemulihan, anak kandungnya, Richard, tiba-tiba pulang dari Amerika setelah hampir lima belas tahun menghilang.

Kedatangannya disambut dingin.

“Aku dengar Ayah sakit,” katanya singkat.

Don Enrico menatap putranya lama.

“Kamu pulang karena khawatir atau karena mendengar kabar tentang warisan?”

Richard tidak menjawab.

Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Richard merasa tersinggung melihat kedekatan ayahnya dengan keluarga Rosa.

“Jangan-jangan Ayah lebih menganggap anak pembantu itu sebagai keluarga,” sindirnya.

Don Enrico tidak membantah.

Beberapa minggu kemudian, seluruh keluarga dan jajaran direksi berkumpul di ruang utama rumah besar itu. Seorang notaris datang membawa dokumen penting.

Semua orang mengira Don Enrico akan membagikan warisannya kepada Richard.

Namun, isi surat itu membuat seluruh ruangan terdiam.

Don Enrico tidak mewariskan perusahaannya kepada Kiko maupun Richard.

Sebagian besar saham perusahaan akan dialihkan menjadi yayasan pendidikan dan rumah sakit gratis untuk keluarga kurang mampu.

Richard berdiri dengan marah.

“Jadi Ayah memberikan semuanya kepada orang asing?”

Don Enrico menatap putranya dengan tenang.

“Saya tidak memberikan perusahaan ini kepada orang asing. Saya mengembalikannya kepada masyarakat yang membantu saya membangunnya.”

Ruangan sunyi.

Kemudian, Don Enrico mengeluarkan sebuah surat kecil yang sudah lusuh dari dompetnya.

“Itu surat dari ibumu, ditulis sebelum dia meninggal.”

Tangannya gemetar saat membacanya.

“Jika suatu hari kekayaan membuatmu lupa pada kebaikan manusia, carilah orang yang tetap jujur ketika mereka tidak memiliki apa pun.”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Don Enrico memandang Kiko yang kini berdiri di sudut ruangan bersama ibunya.

“Bertahun-tahun lalu, saya sengaja meninggalkan uang dan emas untuk menjebak seorang anak miskin. Saya pikir saya sedang menguji dia.”

Ia berhenti sejenak.

“Ternyata, hari itu justru saya yang diuji.”

Tak seorang pun berkata-kata.

Di antara gedung-gedung tinggi dan gemerlap Jakarta, seorang miliarder akhirnya memahami sesuatu yang gagal dibeli oleh seluruh hartanya: kejujuran, kasih sayang, dan ketulusan adalah kekayaan terbesar yang dimiliki manusia.

Dan semua pelajaran itu datang dari seorang anak kecil yang, ketika diberi kesempatan untuk mencuri, memilih menutupi uang dan emas dengan selembar kain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang