Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar, tetapi tidak mampu menghangatkan hati Amora yang sudah membeku. Ia membuka matanya lebih awal daripada biasanya. Di sampingnya, Farrel masih tertidur dengan wajah yang tampak begitu damai, seolah tidak pernah menyimpan kebohongan sedikit pun.
Amora menatap pria itu beberapa detik.
“Dulu aku rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kita,” batinnya. “Sekarang, aku hanya ingin mengetahui seluruh kebenaran.”

Ia bangkit perlahan agar tidak membangunkan Farrel. Di depan cermin, ia memaksakan senyum yang tampak sempurna. Hari itu bukan hari untuk menangis. Hari itu adalah hari untuk mulai memainkan perannya.
Saat Farrel turun ke ruang makan, Amora sudah menyiapkan sarapan seperti biasa.
“Wah, pagi-pagi sudah semangat banget,” ujar Farrel sambil tersenyum.
“Kan besok ulang tahunku. Aku lagi suasana hati bagus.”
Farrel tampak lega mendengarnya.
“Baguslah. Aku juga sudah mengajukan cuti besok. Kita rayakan berdua.”
Amora mengangguk sambil menuangkan kopi.
“Berdua?” tanyanya santai.
“Iya.”
“Kirain kamu ada operasi mendadak.”
Farrel tertawa kecil.
“Tenang saja. Besok aku khusus buat kamu.”
Amora hanya tersenyum. Ia tahu pria itu sedang berbohong lagi.
Begitu Farrel berangkat bekerja, Amora langsung menuju kantor pengacara yang direkomendasikan kakaknya.
“Apa Ibu sudah yakin ingin bercerai?” tanya sang pengacara.
Amora menghela napas panjang.
“Belum. Tapi saya yakin ingin mengetahui semua fakta sebelum mengambil keputusan.”
“Kalau begitu, kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Jangan bertindak gegabah.”
Amora mengangguk.
“Saya juga ingin melindungi aset saya.”
Pengacara itu tersenyum tipis.
“Itu keputusan yang bijaksana.”
Hari itu juga, Amora menyewa seorang penyelidik profesional bernama Dimas.
“Saya tidak hanya ingin tahu apakah suami saya selingkuh,” kata Amora.
“Dengan siapa?”
“Perempuan bernama Naya.”
“Apa lagi?”
“Saya ingin tahu hubungan mereka sebenarnya.”
Dimas mengangguk.
“Dalam beberapa hari, saya akan memberikan laporan lengkap.”
Selama menunggu hasil penyelidikan, Amora menjalani hidup seperti biasa. Ia tetap tersenyum di depan Farrel, tetap memasak, bahkan sesekali memeluk suaminya.
Farrel mulai lengah.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya sedang diawasi.
Dua hari kemudian, pesta ulang tahun Amora digelar sederhana di rumah.
Keluarga besar hadir.
Teman-teman dekat datang membawa hadiah.
Naya juga datang bersama Kenzo.
Begitu melihat mereka masuk, jantung Amora berdegup kencang.
Kenzo langsung berlari menghampiri Farrel.
“Om Farrel!”
Farrel spontan mengangkat bocah itu ke pelukannya.
Seketika suasana menjadi sunyi beberapa detik.
Farrel buru-buru menurunkan Kenzo.
“Anak ini memang dekat sama semua orang,” katanya sambil tertawa canggung.
Naya segera menarik tangan putranya.
“Maaf ya. Kenzo memang aktif.”
Amora memperhatikan semuanya.
Cara Farrel mengusap rambut Kenzo.
Cara Kenzo memeluk leher Farrel.
Tatapan mata mereka.
Tidak seperti hubungan seorang anak dengan teman ibunya.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Dimas menghubungi Amora.
“Bu, saya sudah mendapatkan sesuatu.”
“Besok pagi kita bertemu.”
Keesokan harinya, sebuah map cokelat diletakkan di atas meja.
Amora membuka halaman pertama.
Puluhan foto memenuhi isi map.
Farrel mengantar Naya ke rumah.
Farrel menemani Kenzo sekolah.
Farrel menghadiri pentas seni Kenzo.
Farrel membawa Kenzo ke rumah sakit saat bocah itu demam.
Semua dilakukan diam-diam selama bertahun-tahun.
Namun yang membuat tangan Amora gemetar bukanlah foto-foto itu.
Melainkan selembar hasil tes DNA.
Ayah biologis Kenzo: Farrel Pradipta.
Amora membeku.
Air matanya jatuh begitu saja.
“Tidak mungkin…”
Dimas menghela napas.
“Saya juga menemukan sesuatu yang lain.”
Ia menyerahkan dokumen berikutnya.
Tanggal lahir Kenzo.
Amora menghitung pelan.
Lalu wajahnya memucat.
Kenzo dikandung ketika dirinya baru enam bulan menikah dengan Farrel.
Artinya…
Selama Amora percaya bahwa suaminya sedang membangun rumah tangga yang bahagia, Farrel justru menjalani kehidupan ganda.
Amora menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa suara.
Setelah beberapa menit, ia mengangkat kepala.
“Waktunya selesai.”
“Maksud Ibu?”
“Saya tidak akan menangis lagi.”
Malam itu, Amora menghubungi seluruh keluarga besar.
Ia mengundang mereka makan malam akhir pekan dengan alasan syukuran ulang tahun.
Farrel tidak curiga sedikit pun.
Hari yang ditunggu tiba.
Semua orang berkumpul.
Orang tua Farrel.
Orang tua Amora.
Naya datang karena diundang sebagai sahabat.
Farrel tersenyum sepanjang malam.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hidupnya akan berubah dalam hitungan menit.
Setelah makan malam selesai, Amora berdiri sambil membawa sebuah proyektor.
“Aku mau memperlihatkan video kecil.”
Semua tersenyum.
Lampu dipadamkan.
Layar menyala.
Awalnya muncul foto-foto pernikahan Amora dan Farrel.
Semua tersenyum haru.
Lalu berganti menjadi foto Farrel memasuki rumah Naya.
Disusul foto-foto mereka berjalan bersama.
Lalu foto Farrel memeluk Kenzo.
Ruangan langsung sunyi.
Farrel berdiri.
“Amora…”
Belum sempat ia berbicara, hasil tes DNA muncul di layar.
Suara isak terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Naya langsung pucat.
Ibunda Farrel gemetar.
“Farrel… apa ini?”
Farrel tidak mampu menjawab.
Amora menatap suaminya dengan tenang.
“Tujuh tahun aku menjadi istri yang setia.”
Ia menarik napas.
“Dan selama tujuh tahun itu pula, kamu menjadi suami untuk dua perempuan.”
Naya akhirnya menangis.
“Aku minta maaf…”
Amora menggeleng.
“Jangan minta maaf kepadaku.”
Ia menoleh ke arah Kenzo yang sedang duduk kebingungan.
“Mintalah maaf kepada anakmu. Karena kalian berdua telah membuatnya tumbuh dalam kebohongan.”
Farrel berlutut.
“Sayang… aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Farrel menangis.
“Dulu sebelum menikah denganmu, aku dan Naya pernah berpacaran.”
Semua terdiam.
“Waktu itu kami putus karena orang tua Naya menolak hubungan kami.”
Naya melanjutkan dengan suara bergetar.
“Aku baru tahu kalau aku hamil setelah kami berpisah.”
“Aku tidak bilang kepada Farrel.”
Farrel mengangguk.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Empat tahun kemudian aku bertemu Naya lagi.”
“Aku baru tahu Kenzo anakku.”
Ruangan kembali sunyi.
Farrel menatap Amora.
“Aku ingin bertanggung jawab kepada Kenzo tanpa kehilangan kamu.”
“Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Amora tersenyum tipis.
“Kesalahanmu bukan karena mencintai anakmu.”
Farrel mengangkat kepala.
“Kesalahanmu adalah membangun tanggung jawab di atas kebohongan.”
Semua orang terdiam.
Air mata mengalir di wajah Farrel.
“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
Amora mengeluarkan sebuah map.
“Aku juga punya sesuatu.”
Ia menyerahkan surat gugatan cerai.
Farrel langsung gemetar.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Farrel menatap penuh harapan.
“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus tetap tinggal.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membisu.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian selesai secara damai.
Farrel memenuhi seluruh hak Amora tanpa sedikit pun perdebatan.
Studio lukis Amora berkembang pesat.
Pameran pertamanya setelah perceraian diberi judul “Retak”.
Tidak ada satu pun lukisan yang menampilkan wajah Farrel.
Yang ada hanyalah perempuan-perempuan yang berdiri kembali setelah kehilangan.
Pada hari pembukaan pameran, seorang bocah kecil datang membawa setangkai bunga.
Kenzo.
Di belakangnya berdiri Farrel dan Naya.
Kenzo menyerahkan bunga itu kepada Amora.
“Tante Amora, selamat ya.”
Amora berjongkok dan tersenyum hangat.
“Terima kasih.”
“Ayah bilang Tante orang baik.”
Amora mengusap kepala bocah itu.
“Jadilah anak yang lebih jujur daripada orang-orang dewasa di sekitarmu.”
Farrel menundukkan kepala.
“Itu kalimat yang pantas kuterima.”
Amora tersenyum tipis.
“Bukan untuk menghukummu.”
“Lalu?”
“Supaya kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Farrel memandang Amora untuk terakhir kalinya.
Ia sadar telah kehilangan perempuan yang selama ini mencintainya tanpa syarat.
Bukan karena takdir mengambilnya.
Melainkan karena kebohongan yang ia pilih sendiri.
Sementara itu, Amora melangkah memasuki ruang pameran dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi melukis bayangan seorang pria. Ia akhirnya melukis dirinya sendiri—seorang perempuan yang pernah hancur, tetapi memilih bangkit, karena cinta sejati tidak pernah dimulai dari mempertahankan seseorang yang terus berbohong, melainkan dari keberanian menghargai diri sendiri.
