LIMA MENIT SEBELUM AKU BERJALAN MENUJU ALTAR, AKU MENANGIS DI DALAM TOILET — TAPI SAAT MENDENGAR RENCANA GELAP CALON IBU MERTUAKU, SEMUANYA BERUBAH.

“Paman Adrian.”

Telepon itu diangkat bahkan sebelum nada dering kedua selesai.

“Elena?”

Suara berat itu terdengar tenang seperti biasa.

“Paman…” suaraku bergetar. “Mereka tahu soal Surat Kuasa Khusus.”

Beberapa detik hening.

Lalu pria itu hanya berkata pelan,

“Jangan panik. Jalankan Rencana Delta.”

Mataku membelalak.

Rencana Delta.

Kode itu hanya diketahui oleh tiga orang.

Aku.

Paman Adrian.

Dan ayahku… sebelum beliau meninggal dua tahun lalu.


Semua orang mengira ayahku meninggal karena serangan jantung.

Yang tidak diketahui siapa pun adalah beliau adalah pendiri asli TechNova Industries.

Perusahaan teknologi terbesar yang kini nilainya mencapai miliaran rupiah.

Sebelum meninggal, ayah pernah berkata kepadaku,

“Kalau suatu hari ada orang yang terlalu tertarik menikahimu dibanding mengenalmu… jangan pernah percaya.”

Saat itu aku tertawa.

Aku pikir ayah terlalu curiga kepada semua orang.

Ternyata beliau benar.


“Apa mereka sudah mendengar semua rencananya?” tanya Paman Adrian.

“Ya.”

“Bagus.”

Aku mengernyit.

“Bagus?”

“Karena sekarang kita punya alasan.”

“Apa maksud Paman?”

“Elena… kau pikir kenapa ayahmu memaksamu mempelajari hukum perusahaan selama bertahun-tahun?”

Aku terdiam.

“Tidak ada satu dokumen pun yang bisa mengambil alih TechNova tanpa lapisan pengamanan yang dibuat ayahmu.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Lalu Surat Kuasa itu?”

“Itu asli.”

Dadaku langsung sesak.

“Tapi…”

“Penerimanya memang Rafael.”

Aku hampir kehilangan napas.

“Namun ada satu klausul yang tidak pernah dia baca.”


Tiga tahun lalu…

Saat Rafael mulai mendekatiku…

Ayah ternyata sudah menyelidikinya.

Beliau menemukan sesuatu.

Rafael bukan pria miskin sederhana seperti pengakuannya.

Ia adalah anak dari keluarga konglomerat yang diam-diam bangkrut karena perjudian ayahnya.

Seluruh keluarga mereka terlilit utang.

Saat itu ayah memintaku mengakhiri hubungan.

Aku menolak.

Karena aku yakin Rafael mencintaiku.

Akhirnya ayah hanya berkata,

“Kalau begitu biarkan waktu yang membuktikan.”

Sejak hari itu…

Semua aset perusahaan dipindahkan ke struktur kepemilikan baru.

Sangat rumit.

Bahkan pengacara terbaik pun membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memahaminya.


Surat Kuasa yang kutandatangani memang memberi Rafael hak mengelola perusahaan.

Tetapi…

Hanya jika tiga syarat terpenuhi.

Pemegang saham utama masih hidup.

Pemilik memberikan persetujuan ulang di depan notaris.

Dan…

Penerima kuasa terbukti bertindak demi kepentingan perusahaan.

Jika salah satu syarat gagal…

Seluruh hak otomatis hangus.

Bahkan…

Semua percobaan pengambilalihan akan langsung dilaporkan ke Dewan Komisaris.

Rafael bahkan tidak sadar ia baru saja menjerat dirinya sendiri.


“Paman…”

“Ya?”

“Kalau begitu kenapa kita tidak langsung membatalkan semuanya?”

“Karena kita membutuhkan bukti.”

“Bukti?”

“Bukti percobaan pembunuhan.”

Aku membeku.


Saat itu…

Seseorang mengetuk pintu toilet.

“Nona Elena?”

Itu suara wedding organizer.

“Waktunya.”

Aku menghapus sisa air mata.

Lalu tersenyum.

Untuk pertama kalinya hari itu…

Aku benar-benar tersenyum.

“Bilang kepada semua orang…”

“Aku siap.”


Begitu pintu gereja terbuka…

Semua tamu berdiri.

Musik mulai dimainkan.

Ratusan pasang mata memandangku.

Lampu kristal berkilauan.

Karpet putih membentang panjang menuju altar.

Di ujung sana…

Rafael berdiri dengan senyum paling sempurna yang pernah kulihat.

Kalau aku tidak mendengar percakapannya tadi…

Aku mungkin akan menganggap pria itu benar-benar mencintaiku.

Ia bahkan tampak menahan air mata haru.

Betapa hebatnya kemampuan aktingnya.


Aku berjalan perlahan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Semakin dekat.

Semakin jelas kulihat Dona Victoria.

Wanita itu tersenyum penuh kemenangan.

Tatapan matanya seolah berkata,

“Sebentar lagi semuanya menjadi milik kami.”

Kalau saja ia tahu…

Permainan ini baru dimulai.


Pendeta mulai berbicara.

“Apakah kedua mempelai datang ke sini tanpa paksaan?”

“Ya.”

Kami menjawab bersamaan.

“Apakah kalian bersedia…”

Belum selesai kalimatnya…

Aku mengangkat tangan.

“Maaf.”

Semua orang menoleh.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

Rafael tampak terkejut.

“Tentu,” kata pendeta.

Aku mengambil mikrofon.

Suasana langsung sunyi.


“Aku ingin berterima kasih kepada semua tamu yang datang hari ini.”

Semua tersenyum.

“Tapi sebelum pernikahan ini dilanjutkan…”

“Aku ingin memutar sebuah rekaman.”

Wajah Rafael langsung berubah.

“Apa?”

Aku mengeluarkan remote kecil.

Layar LED raksasa di belakang altar menyala.

Rafael mulai pucat.

“Elena…”

Video itu diputar.

Suara pertama yang terdengar…

Adalah Dona Victoria.

“Jangan sampai ada perjanjian pranikah.”

Seluruh gereja membeku.

Lalu suara Rafael.

“Elena benar-benar buta karena cintanya.”

Terdengar jelas.

Sangat jelas.

Tak ada yang bisa menyangkal.

Setiap kalimat…

Setiap tawa…

Setiap rencana untuk meracuni dan menghancurkan kewarasanku…

Menggema di seluruh ruangan.


Beberapa tamu langsung berdiri.

Ada yang menutup mulut.

Ada yang menangis.

Ada pula yang mulai merekam.

Rafael berusaha merebut mikrofon.

“Itu palsu!”

Aku mundur satu langkah.

“Benarkah?”

Aku menatap ke arah pintu gereja.

“Tolong masuk.”

Lima orang masuk bersamaan.

Dua polisi.

Seorang jaksa.

Seorang notaris.

Dan…

Seorang pria berjas abu-abu.

CEO Global Trust Bank.


Rafael tampak kebingungan.

Pria dari bank itu berjalan ke depan.

“Lima menit yang lalu…”

“Kami menerima notifikasi bahwa Saudara Rafael mencoba mengakses seluruh rekening perusahaan menggunakan Surat Kuasa.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Karena transaksi itu melanggar klausul keamanan…”

“Sistem otomatis mengirim laporan kepada kami.”

Jaksa mengangguk.

“Beserta salinan percakapan yang direkam secara legal sebagai bagian dari penyelidikan sebelumnya.”

Rafael langsung menoleh ke arahku.

“Penyelidikan?”

Aku mengangguk pelan.

“Ya.”


Wajah Dona Victoria berubah putih.

“Kalian sudah menyelidiki kami?”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan.”

“Orang lain yang lebih dulu.”

“Apa?”

Paman Adrian maju ke depan.

“Selama delapan bulan terakhir.”

“Kami mengikuti setiap transaksi keuangan keluarga kalian.”

“Setiap hutang.”

“Setiap pembelian racun.”

“Setiap transfer uang.”

“Dan setiap percakapan.”

Suasana berubah mencekam.


Polisi mengeluarkan sebuah kantong plastik bening.

Di dalamnya…

Sebotol kecil cairan tak berwarna.

“Apakah ini yang Anda maksud dengan obat pasar gelap?”

Dona Victoria langsung gemetar.

“Itu…”

“Kami menemukannya di mobil Anda.”


Rafael mendadak berlutut di depanku.

“Elena… aku dipaksa Mama…”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya…

Aku tidak merasa sakit.

Aku hanya merasa kasihan.

“Kau tahu, Rafael.”

“Aku benar-benar mencintaimu.”

Air mata mulai mengalir dari wajahnya.

“Aku bisa berubah.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Yang berubah hanyalah topengmu.”


Polisi memasang borgol di kedua tangan Rafael.

Ia berteriak histeris.

“Elena!”

“Aku mencintaimu!”

Aku menatapnya datar.

“Tidak.”

“Yang kau cintai…”

“Hanya saldo rekeningku.”


Semua tamu mulai meninggalkan kursi.

Media yang entah bagaimana sudah berada di luar gereja langsung menyerbu.

Berita itu meledak hari itu juga.

“Pengantin Bongkar Rencana Pembunuhan di Altar.”

“Calon Suami Ditangkap Saat Pernikahan.”

“CEO TechNova Gagalkan Penipuan Miliaran.”

Video tersebut ditonton puluhan juta kali hanya dalam dua hari.


Aku mengira semuanya sudah selesai.

Ternyata…

Belum.

Seminggu kemudian…

Paman Adrian mengajakku ke kantor pusat TechNova.

Di ruang rapat utama…

Seluruh dewan direksi berdiri saat aku masuk.

Aku bingung.

“Paman?”

Beliau mendorong sebuah map ke hadapanku.

“Ayahmu meninggalkan satu surat lagi.”

Tanganku gemetar saat membukanya.

Tulisan tangan ayah masih sangat rapi.

“Elena.

Jika kau membaca surat ini, berarti akhirnya kau berhasil melihat wajah asli orang-orang di sekitarmu.

Aku minta maaf karena membiarkanmu terluka.

Tapi ada pelajaran yang tidak bisa diajarkan dengan kata-kata.

Hanya kehidupan yang bisa mengajarkannya.

Mulai hari ini, seluruh saham pengendali TechNova resmi menjadi milikmu.

Tapi ada satu rahasia terakhir yang belum pernah kuberitahukan.

Perusahaan ini bukanlah warisan terbesar yang kutinggalkan.”

Aku berhenti membaca.

Di halaman berikutnya terdapat sebuah foto.

Foto seorang bayi.

Dan seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun yang sedang menggendong bayi itu.

Di belakang foto tertulis,

“Suatu hari nanti, carilah kakakmu.”

Aku membeku.

Kakak?

Aku anak tunggal.

Setidaknya…

Itulah yang selalu kupercaya sepanjang hidupku.

Paman Adrian menarik napas panjang.

“Lima belas tahun lalu…”

“Ayahmu mengadopsi seorang anak.”

“Dan demi melindunginya dari musuh bisnis keluarga…”

“Keberadaannya disembunyikan dari semua orang.”

Aku menatap foto itu tanpa berkedip.

Seluruh hidupku kembali berubah.

Ternyata pengkhianatan Rafael bukanlah akhir dari kisah ini.

Itu hanyalah pintu yang membawaku menuju rahasia keluarga yang jauh lebih besar—sebuah rahasia yang bahkan ayahku simpan hingga akhir hayatnya, dan yang akan mengubah bukan hanya masa depanku, tetapi juga seluruh kerajaan TechNova Industries.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang