Pintu belakang Rolls-Royce tersebut terbuka secara perlahan. Seorang pria berjas rapi, yang dikenali oleh beberapa pengusaha di sana sebagai kepala pengawal pribadi dari keluarga terkaya di Asia, melangkah keluar hanya untuk membukakan pintu bagi sang penumpang.
Dari dalam mobil, sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah menyala dengan kristal Swarovski menginjak karpet merah. Detik berikutnya, aku melangkah keluar.
Aku mengenakan gaun malam adibusana berwarna emerald green sutra yang menjuntai indah, dipadukan dengan kalung berlian senilai jutaan dolar yang berkilau di bawah sinar matahari Tagaytay. Rambutku yang dulu kusam kini tertata sempurna, memancarkan aura keanggunan seorang wanita kelas atas.

Di kedua sisiku, dua anak kembar berusia empat tahun—seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sangat mirip dengan Marco, namun dengan tatapan mata yang jauh lebih cerdas—menggandeng tanganku. Mereka mengenakan pakaian desainer mini yang membuat mereka tampak seperti pangeran dan putri kecil.
Suasana resor seketika hening. Suara bisik-bisik kekaguman mulai terdengar, menggantikan tawa ejekan beberapa menit yang lalu.
“Siapa wanita itu? Apakah dia anggota keluarga kerajaan?” bisik salah satu investor utama Montenegro Group.
Marco membeku di altar. Matanya terbelalak, hampir keluar dari rongganya. Wajahnya yang tadinya dipenuhi kesombongan kini memucat pasi. Ia mengenali wajahku, namun otaknya menolak untuk mempercayai apa yang dilihatnya. Clara yang dulu kusam, kurus, dan mengenakan pakaian murah, kini berdiri di hadapannya bagai seorang ratu.
“Clara…? Ti-tidak mungkin…” gumam Marco, suaranya bergetar hebat.
Valerie pun tak kalah syok. Wajahnya memerah karena marah dan malu. “Marco! Siapa dia?! Kenapa pengemis itu bisa datang dengan mobil seperti itu?!” tuntut Valerie dengan nada melengking, meski hatinya menciut melihat kemewahan yang kupamerkan.
Aku berjalan dengan langkah anggun, membiarkan bunyi ketukan sepatu hak tinggiku memecah keheningan. Alih-alih duduk di barisan belakang seperti yang diperintahkan Marco, aku terus berjalan lurus menyusuri aisle (lorong tengah), tepat menuju ke arah altar.
Tepat di tengah jalan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap bergegas menghampiriku. Pria itu adalah Sebastian Montenegro, pemilik Montenegro Group—ayah kandung Valerie.
Marco dan Valerie tersenyum sinis, mengira Sebastian akan mengusirku. “Habis kau, Clara. Ayahku akan menjebloskanmu ke penjara karena merusak acara ini!” batin Valerie berteriak senang.
Namun, pemandangan berikutnya membuat seluruh hadirin terengah kaget.
Sebastian Montenegro justru membungkuk hormat, hampir sembilan puluh derajat, di hadapanku.
“Selamat datang, Madam Clara. Sebuah kehormatan yang luar biasa Anda sudi menghadiri pernikahan putri saya,” ucap Sebastian dengan suara yang bergetar penuh rasa hormat dan takut.
“Tunggu… Ayah?! Apa yang Ayah lakukan? Dia hanya mantan istri Marco yang miskin!” teriak Valerie, kehilangan kendali atas tata kramanya.
Sebastian berbalik dan menampar wajah Valerie dengan keras. PLAK!
“Diam kamu, anak bodoh!” bentak Sebastian, napasnya memburu. Ia kemudian berbalik ke arah Marco dengan tatapan membunuh. “Dan kamu, Marco! Kamu bilang mantan istrimu adalah wanita rendahan?”
Sebastian menunjuk ke arahku dengan tangan gemetar. “Dia adalah CEO dari Vesperia Internasional! Investor misterius yang kemarin malam baru saja membeli 51% saham Montenegro Group untuk menyelamatkan perusahaan kita dari kebangkrutan! Tanpa suntikan dananya, besok kita semua akan menjadi gelandangan!”
Mendengar hal itu, lutut Marco langsung lemas. Ia terjatuh berlutut di atas altar. Kenyataan menghantamnya seperti godam raksasa. Wanita yang dicampakkannya, yang diusirnya dari rumah kontrakan kecil, kini adalah pemilik sah dari perusahaan tempat ia menggantungkan impian hidup mewahnya.
Aku berdiri di depan Marco yang bersimpuh, menatapnya dari atas dengan pandangan dingin dan penuh penghinaan.
“Halo, Marco. Terima kasih atas undangannya,” ucapku lembut, namun setiap kata yang keluar seperti pisau yang menyayat harga dirinya. “Aku datang untuk memenuhi janjiku. Dan oh… perkenalkan, ini Leo dan Luna. Anak kembar yang kukandung di hari kau melemparkan pakaianku ke lumpur lima tahun lalu.”
Marco menatap kedua anak itu, air mata penyesalan mulai mengalir di pipinya. “Clara… maafkan aku… aku tidak tahu… tolong beri aku kesempatan kedua…” ratapnya, mencoba meraih ujung gaunku.
Aku melangkah mundur, menghindari tangannya yang kotor.
“Kursi di barisan belakang yang kau sediakan sangat bagus, Marco. Tapi sepertinya, mulai besok, kamulah yang akan berada di barisan paling belakang dalam kehidupan,” bisikku, cukup keras untuk didengar oleh semua orang.
Aku berbalik ke arah Sebastian Montenegro. “Tuan Montenegro, pernikahan ini sangat menghibur. Namun, karena saham mayoritas kini ada di tanganku, aku memutuskan untuk membatalkan semua kontrak kerja dan posisi Marco di perusahaan Anda. Efektif mulai detik ini.”
“Baik, Madam Clara. Segera dilaksanakan!” jawab Sebastian tanpa ragu, mencoret menantu tidak bergunanya itu demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Valerie berteriak histeris, sementara Marco menangis tersedu-sedu di lantai altar, menyadari bahwa ambisinya untuk hidup mewah telah hancur berkeping-keping oleh keserakahannya sendiri. Ia telah menukar berlian sejati dengan kerikil tak berharga.
Aku memegang tangan kedua anakku, tersenyum bangga, dan berjalan kembali menuju Rolls-Royce-ku dengan kepala tegak. Pembalasan dendam terbaik bukanlah dengan kemarahan, melainkan dengan kesuksesan yang tak terjangkau oleh mereka yang pernah meremehkanmu.
