MALAM PERTAMA BERUBAH MENJADI PETAKA SAAT AKU MENEMUKAN IBU MERTUAKU TERKAPAR DI LANTAI.

Nadia menatap layar ponselnya begitu lama hingga tulisan PROYEK NADIA terasa seperti bergerak di depan matanya.

Jarinya dingin.

Ia membuka lampiran berikutnya yang baru saja dikirim Dion.

Kali ini bukan tangkapan layar, melainkan daftar transaksi.

Ada tujuh belas pembayaran yang dilakukan selama hampir tiga tahun. Nominalnya berbeda-beda, tetapi semuanya berasal dari beberapa perusahaan yang berada di bawah kendali Baskoro Mahendra.

Tujuannya sama.

PT Cakrawala Konsultan Utama.

Nadia mengenal nama perusahaan itu.

Perusahaan tersebut pernah menjadi konsultan pengadaan dalam salah satu proyek milik ayahnya.

Namun yang membuat napas Nadia tertahan adalah catatan kecil di samping beberapa transaksi.

Biaya pendekatan keluarga.

Pengamanan pernikahan.

Tahap final setelah akad.

Nadia menekan tombol panggilan.

Dion menjawab hampir seketika.

“Mas, apa sebenarnya ini?”

Suara Dion terdengar berat.

“Aku juga baru menemukannya malam ini setelah Om Hendra menyuruh tim membuka kembali audit kerja sama dengan perusahaan Baskoro.”

“Kenapa namanya Proyek Nadia?”

Dion terdiam.

“Nad, aku belum mau menyimpulkan sebelum semua dokumennya lengkap.”

“Jangan lindungi aku dari kenyataan.”

“Aku tidak melindungimu. Aku sedang memastikan kita tidak menuduh orang tanpa bukti.”

Nadia memejamkan mata.

Dari balik pintu IGD terdengar suara roda ranjang pasien bergerak melewati koridor.

Dion melanjutkan.

“Yang bisa kupastikan, perusahaan Baskoro sedang punya masalah besar. Utangnya jauh lebih banyak daripada yang mereka laporkan kepada mitra bisnis. Beberapa proyek mereka juga menggunakan jaminan yang nilainya diduga dimanipulasi.”

“Lalu hubungannya denganku?”

“Keluarga kita punya akses ke pemasok, bank, dan beberapa proyek besar. Kalau Rendy menikah denganmu, posisi mereka berubah.”

Nadia merasa mual.

Selama dua tahun mengenal Rendy, pria itu selalu mengatakan bahwa ia mencintainya karena Nadia berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ditemuinya.

Rendy tidak pernah terlihat terlalu tertarik pada bisnis keluarga Nadia.

Setidaknya itulah yang Nadia percaya.

“Masih ada satu hal lagi,” kata Dion.

“Apa?”

“Ada draft perjanjian yang belum ditandatangani. Mereka berencana meminta Om Hendra menjadi penjamin fasilitas kredit setelah pernikahan kalian.”

Nadia menatap kosong ke dinding.

Kini ia mengerti.

Pernikahannya bukan sekadar hubungan antara dua orang.

Bagi seseorang, pernikahan itu adalah transaksi.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka sebelum Nadia sempat mengatakan apa pun lagi.

Seorang dokter keluar.

“Ibu Ratna sadar dan kondisinya stabil. Lukanya perlu beberapa jahitan. Kami juga akan melakukan observasi karena ada benturan di kepala.”

“Apakah saya boleh menemuinya?”

“Sebentar saja.”

Nadia mengakhiri telepon dan masuk.

Ratna berbaring dengan perban di pelipis. Wajah perempuan berusia 55 tahun itu tampak jauh lebih tua dibandingkan beberapa jam sebelumnya ketika ia tersenyum menyambut tamu pernikahan.

Begitu melihat Nadia, mata Ratna langsung berkaca-kaca.

“Kamu seharusnya tidak menolong Ibu.”

Nadia berhenti.

“Kenapa Ibu bilang begitu?”

“Karena sekarang mereka akan mengejarmu.”

Nadia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Sudah berapa lama?”

Ratna memalingkan wajah.

“Bu.”

“Bertahun-tahun.”

Jawaban itu hampir tidak terdengar.

Nadia menggenggam tangannya.

“Kenapa tidak pernah melapor?”

Ratna tertawa kecil, tetapi tawanya penuh kepahitan.

“Melapor kepada siapa? Setiap kali Ibu mencoba pergi, Baskoro bilang dia akan menghancurkan hidup Ibu. Rekening Ibu dikontrol. Rumah atas nama perusahaan. Bahkan beberapa saudara Ibu menerima uang darinya.”

Nadia teringat delapan belas orang di vila.

Kini keheningan mereka terasa lebih mengerikan.

Mereka bukan tidak tahu.

Mereka sudah terbiasa.

“Nadia,” bisik Ratna, “ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang pernikahanmu.”

Jantung Nadia berdetak lebih cepat.

Ratna menatap pintu sebelum melanjutkan.

“Rendy tidak menikahimu hanya karena cinta.”

Nadia tidak menunjukkan keterkejutan.

“Aku sudah mulai mengetahuinya.”

Ratna tampak bingung.

Nadia memperlihatkan layar ponselnya.

Begitu melihat tulisan PROYEK NADIA, wajah Ratna langsung kehilangan warna.

“Darimana kamu mendapatkan ini?”

“Tim audit perusahaan Papa.”

Ratna memejamkan mata.

Air mata mengalir perlahan di pipinya.

“Ibu terlambat.”

“Terlambat apa?”

“Mencegah semuanya.”

Ratna kemudian menceritakan sesuatu yang membuat Nadia memahami mengapa pertengkaran malam itu terjadi.

Tiga bulan sebelum pernikahan, Ratna tidak sengaja mendengar percakapan Baskoro dan Rendy di ruang kerja.

Perusahaan keluarga Mahendra sedang berada di ambang gagal bayar.

Mereka membutuhkan jaminan baru untuk mempertahankan beberapa proyek.

Baskoro mengetahui bahwa Hendra Permata sangat menyayangi putri tunggalnya.

Jika Nadia menjadi bagian keluarga Mahendra, mereka berharap hubungan tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan dukungan finansial.

Ratna mencoba membujuk Rendy membatalkan rencana itu.

Namun Rendy justru mengatakan bahwa setelah menikah, Nadia pasti akan mengikuti suaminya.

“Rendy bilang kamu terlalu percaya kepadanya,” ujar Ratna.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Rendy.

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”

“Ibu takut.”

Ratna menangis.

“Tapi malam ini Ibu memutuskan akan mengatakan semuanya setelah pesta selesai. Baskoro mendengar Ibu berbicara dengan pengacara lewat telepon. Dia marah. Dia pikir Ibu akan membawa dokumen keluar dari rumah.”

Nadia membeku.

“Dokumen apa?”

Ratna menatapnya.

“Ada flashdisk di dalam kotak perhiasan Ibu.”

Pada saat yang sama, suara langkah kaki terdengar di koridor.

Pintu terbuka.

Dua polisi masuk bersama seorang perawat.

Di belakang mereka berdiri Rendy.

Wajahnya pucat, tetapi ekspresinya tenang.

Terlalu tenang.

“Nadia,” katanya, “kita perlu bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Aku suamimu.”

“Tadi kamu sudah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana kamu memperlakukan istrimu.”

Rahang Rendy mengeras.

Ia melirik Ratna.

“Ibu juga sebaiknya berhenti membuat keadaan semakin rumit.”

Ratna langsung menggenggam tangan Nadia.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Rendy.

“Apa yang Ibu katakan kepadamu?”

Nadia berdiri.

“Keluar.”

“Nadia.”

“Keluar.”

Salah satu petugas kemudian meminta Rendy meninggalkan ruang pasien.

Sebelum berbalik, Rendy menatap Nadia.

“Ayahmu tidak akan berani menghancurkan perusahaan kami.”

Nadia tidak menjawab.

Rendy tersenyum tipis.

“Karena kalau perusahaan kami jatuh, perusahaan ayahmu juga ikut terseret.”

Pintu tertutup.

Ucapan itu terus terngiang di kepala Nadia.

Pukul 07.15 pagi, Hendra tiba di rumah sakit bersama Dion dan seorang pengacara bernama Maya Santoso.

Ayah Nadia tidak memeluk putrinya sambil membuat keributan.

Ia hanya menyentuh pipi Nadia yang masih sedikit bengkak.

Tatapannya berubah.

“Dia melakukan ini?”

Nadia mengangguk.

Hendra menarik napas panjang.

“Baik.”

Hanya satu kata.

Namun Nadia mengenal ayahnya.

Semakin tenang Hendra berbicara, semakin serius situasinya.

Mereka berkumpul di sebuah ruang konsultasi kecil.

Dion membuka laptop.

Di layar muncul puluhan dokumen.

Kontrak.

Invoice.

Surat jaminan.

Laporan pembayaran.

Kemudian sebuah dokumen membuat semua orang diam.

Surat jaminan perusahaan senilai Rp68 miliar.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Hendra Permata.

Hendra menatapnya selama beberapa detik.

“Itu bukan tanda tangan saya.”

Maya langsung mendekat.

“Yakin?”

“Seratus persen.”

Dion membuka dokumen lain.

Ada tiga surat serupa.

Semuanya menggunakan tanda tangan Hendra.

Semuanya diterbitkan tanpa sepengetahuannya.

Nadia akhirnya memahami ancaman Rendy.

Keluarga Mahendra tidak hanya berencana menggunakan pernikahan untuk mendapatkan jaminan di masa depan.

Mereka sudah menggunakan nama Hendra sebelumnya.

Pernikahan Nadia tampaknya dirancang untuk membuat hubungan bisnis kedua keluarga terlihat semakin dekat sehingga dokumen-dokumen tersebut tidak mudah dicurigai.

“Kalau ini terbukti palsu,” ujar Maya, “masalahnya bukan lagi sekadar sengketa bisnis.”

Dion mengangguk.

“Kami juga menemukan invoice proyek yang nilainya dinaikkan. Selisihnya dialihkan ke tiga perusahaan.”

“Salah satunya PT Cakrawala?” tanya Nadia.

“Ya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Kemudian Ratna, yang dibawa menggunakan kursi roda setelah mendapat izin dokter, mengatakan sesuatu.

“Saya tahu siapa pemilik sebenarnya PT Cakrawala.”

Semua kepala menoleh.

Ratna menatap Nadia.

“Rendy.”

Nadia merasa dadanya kosong.

Ratna menjelaskan bahwa perusahaan tersebut terdaftar atas nama orang lain, tetapi Rendy mengendalikan rekening dan transaksi melalui beberapa perjanjian pribadi.

Baskoro menggunakan perusahaan itu untuk memindahkan dana.

Rendy mengurus dokumennya.

Mereka bekerja bersama.

“Flashdisk itu berisi salinan percakapan, kontrak, dan beberapa rekaman rapat,” kata Ratna.

“Di mana sekarang?” tanya Maya.

Ratna menunduk.

“Masih di vila.”

Semua orang langsung memahami risikonya.

Jika Baskoro menemukan flashdisk itu lebih dahulu, bukti tersebut bisa hilang.

Namun Dion tiba-tiba tersenyum tipis.

“Kalau mereka cukup panik, mereka justru akan membuat kesalahan.”

Dion memutar laptopnya.

Sebuah notifikasi keamanan muncul.

Seseorang sedang mencoba menghapus folder PROYEK NADIA dari server perusahaan Mahendra yang selama ini terhubung dengan sistem kolaborasi proyek perusahaan Hendra.

“Mereka sedang menghapus data,” katanya.

Maya segera mengangkat telepon.

“Bagus. Jangan hentikan mereka. Dokumentasikan semuanya.”

Nadia menatap layar.

Satu per satu file menghilang dari folder.

Namun Dion sudah membuat salinan forensik sebelum mereka menyadarinya.

Setiap upaya penghapusan justru tercatat.

Pukul 10.20 pagi, Baskoro menelepon Hendra.

Telepon itu disambungkan ke pengeras suara dengan persetujuan pengacara.

“Hendra, kita selesaikan seperti keluarga.”

Hendra duduk tenang.

“Keluarga?”

“Anak-anak baru menikah. Mereka bertengkar. Jangan jadikan masalah kecil sebagai perang bisnis.”

Hendra menatap Nadia.

“Pukulan kepada istri dan ibumu sendiri bukan masalah kecil.”

Suara Baskoro berubah dingin.

“Kalau kamu tarik kerja sama, kamu kehilangan ratusan miliar.”

“Kalau saya mempertahankan kerja sama dengan orang yang memalsukan tanda tangan saya, saya kehilangan harga diri.”

Hening.

Untuk pertama kalinya Baskoro tidak langsung menjawab.

“Jangan menuduh sembarangan.”

Hendra mengangguk kepada Dion.

Dion membuka salah satu dokumen.

“Surat jaminan Rp68 miliar,” kata Hendra. “Mau saya lanjutkan?”

Sambungan langsung terputus.

Tiga puluh menit kemudian, Maya menerima kabar bahwa kuasa hukum Baskoro meminta pertemuan darurat.

Namun pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Siang harinya, penyelidikan resmi mulai berkembang berdasarkan laporan Ratna, Nadia, dokumentasi rumah sakit, rekaman panggilan darurat, dan bukti bisnis yang diserahkan tim hukum.

Yang paling mengejutkan justru datang dari vila.

Ketika petugas kembali ke sana bersama Ratna untuk mengambil barang-barang pribadinya, kotak perhiasan sudah terbuka.

Flashdisk hilang.

Baskoro menyangkal mengambilnya.

Rendy juga menyangkal.

Nadia sempat merasa semua bukti penting telah lenyap.

Sampai Ratna tersenyum.

“Itu memang flashdisk kosong.”

Nadia menatap ibu mertuanya.

“Apa?”

“Yang asli sudah Ibu berikan kepada seseorang tiga hari lalu.”

“Kepada siapa?”

Ratna menoleh kepada Hendra.

Ayah Nadia memasukkan tangan ke saku jasnya.

Kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam.

Nadia benar-benar terdiam.

“Papa sudah tahu?”

Hendra menggeleng.

“Ibu Ratna datang menemui Papa tiga hari sebelum pernikahan. Dia tidak menceritakan semuanya. Dia hanya bilang kalau sesuatu terjadi setelah pernikahanmu, Papa harus membuka ini.”

Ratna menatap Nadia dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu ingin membatalkan semuanya. Tapi Ibu takut kalau langsung bicara, mereka akan menyembunyikan bukti dan memaksamu percaya bahwa Ibu hanya ingin menghancurkan pernikahan kalian.”

Nadia menggenggam tangan Ratna.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, air matanya jatuh.

Bukan karena Rendy.

Bukan karena pernikahannya yang hanya bertahan beberapa jam.

Melainkan karena perempuan yang selama puluhan tahun hidup dalam ketakutan ternyata masih berusaha menyelamatkannya.

Beberapa minggu kemudian, rumah besar keluarga Mahendra tidak lagi dipenuhi pesta.

Sejumlah transaksi perusahaan diperiksa. Dokumen-dokumen yang diduga palsu masuk ke proses penyelidikan. Kerja sama bisnis dengan perusahaan Hendra dibekukan sampai persoalan hukum selesai.

Ratna mengajukan proses hukum untuk keluar dari pernikahannya dan memberikan kesaksian mengenai kekerasan yang dialaminya.

Nadia juga mengurus pembatalan dan proses hukum terkait pernikahannya dengan Rendy melalui pengacara.

Rendy mencoba menghubunginya berkali-kali.

Nadia tidak pernah menjawab.

Sampai suatu sore sebuah pesan masuk.

Aku memang salah menamparmu. Tapi aku benar-benar mencintaimu.

Nadia membaca kalimat itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Sebab akhirnya ia memahami sesuatu.

Cinta yang meminta seseorang menutup mata terhadap kekerasan bukan cinta.

Cinta yang membutuhkan ketakutan agar seseorang tetap tinggal bukan cinta.

Dan keluarga yang mempertahankan kehormatan dengan mengorbankan keselamatan perempuan di dalamnya tidak sedang menjaga nama baik.

Mereka hanya menjaga rahasia.

Enam bulan kemudian, Nadia menemani Ratna memasuki sebuah rumah kecil yang baru disewanya di kawasan Bintaro.

Tidak ada lantai marmer.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada belasan kerabat yang duduk mengawasi.

Hanya ada ruang tamu sederhana, beberapa kardus, dua cangkir kopi, dan sinar matahari sore yang masuk dari jendela.

Ratna berdiri di tengah ruangan.

“Sepanjang hidup, Ibu selalu punya rumah besar,” katanya pelan. “Tapi baru sekarang Ibu merasa punya tempat tinggal.”

Nadia tersenyum.

Ratna kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat cincin platinum yang Nadia tinggalkan di meja pada malam pernikahannya.

“Polisi menemukan ini di antara barang-barang yang diperiksa. Ibu minta dikembalikan.”

Nadia mengambil cincin itu.

Ia memandang ukiran nama Rendy di bagian dalamnya.

Dulu benda itu melambangkan masa depan yang ia bayangkan.

Sekarang hanya sepotong logam.

“Apa kamu mau menyimpannya?” tanya Ratna.

Nadia berjalan menuju jendela.

“Tidak.”

Namun ia juga tidak membuangnya.

Beberapa hari kemudian, Nadia menjual cincin itu.

Seluruh uangnya ia sumbangkan melalui lembaga pendamping korban kekerasan dalam rumah tangga.

Ketika Ratna mengetahui hal tersebut, perempuan itu menangis sambil tertawa.

“Jadi akhirnya cincin pernikahanmu tetap berguna.”

Nadia ikut tertawa.

“Setidaknya kali ini dia membantu seseorang keluar, bukan mengikat seseorang untuk tetap tinggal.”

Mereka saling menatap.

Dan untuk pertama kalinya, kenangan tentang malam pernikahan itu tidak terasa seperti akhir kehidupan Nadia.

Malam itu memang menghancurkan sebuah pernikahan.

Tetapi pada saat yang sama, malam itu menyelamatkan dua perempuan.

Satu perempuan yang berani mengatakan cukup setelah beberapa jam menjadi istri.

Dan satu perempuan yang akhirnya berani mengatakan cukup setelah dua puluh delapan tahun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang