Malam pertama setelah kami resmi menjadi suami istri seharusnya menjadi malam paling indah dalam hidup kami. Namun justru pada malam itulah aku menemukan sebuah kenyataan yang membuatku terpaku selama beberapa menit, seolah seluruh dunia berhenti berputar.
Kamar hotel tempat kami menginap hanya diterangi lampu tidur berwarna kuning hangat. Di luar jendela, lampu-lampu kota Surabaya masih berkelap-kelip. Kami baru saja pulang dari resepsi yang melelahkan. Aku sedang duduk di tepi ranjang sambil melepas perhiasan ketika suamiku keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya.
Saat ia membungkuk mengambil celana tidur, handuk itu tiba-tiba melorot.

Aku tidak bermaksud melihatnya.
Namun pandanganku langsung jatuh ke kedua kakinya.
Aku membeku.
Dari lutut hingga telapak kaki, kulitnya dipenuhi bekas jahitan panjang yang saling bersilangan seperti jaring laba-laba. Sebagian berwarna lebih gelap, sebagian lebih pucat. Ada bagian yang tampak seperti kulit hasil cangkok. Seluruh permukaannya terlihat seperti telah berkali-kali disusun kembali setelah hancur.
Tanpa sadar aku mundur satu langkah.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakimu?”
Ia langsung membeku. Tatapannya berubah panik.
Untuk pertama kalinya selama empat tahun kami bersama, aku melihat rasa takut yang begitu nyata di wajah laki-laki yang selama ini selalu terlihat tenang.
Ia buru-buru mengenakan celana panjang.
“Maafkan aku,” katanya lirih. “Aku benar-benar ingin menceritakannya. Berkali-kali. Tapi aku tidak pernah sanggup.”
Keheningan memenuhi kamar.
Aku baru menyadari begitu banyak hal yang selama ini kuanggap kebetulan.
Ia tidak pernah memakai celana pendek.
Tidak pernah berenang.
Tidak pernah mengajakku ke pemandian air panas.
Saat kami berlibur ke Bali, ia selalu menolak turun ke pantai meski sangat menyukai laut.
Dulu aku mengira ia hanya tidak nyaman dengan sinar matahari.
Ternyata alasannya jauh lebih dalam.
Ia duduk di ujung ranjang dan mulai bercerita.
Tiga belas tahun lalu, saat usianya baru delapan belas tahun, mobil yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya mengalami kecelakaan di jalur Puncak Bogor.
Mobil itu terbalik, lalu terbakar.
Ayah dan ibunya meninggal di tempat.
Dirinya terjepit di bawah badan mobil.
Selama hampir dua jam tim penyelamat berusaha mengeluarkannya.
Dokter mengatakan kedua kakinya hampir harus diamputasi.
Ia menjalani lebih dari tiga puluh kali operasi.
Cangkok kulit.
Penyambungan otot.
Perbaikan saraf.
Pengobatan infeksi.
Rehabilitasi selama bertahun-tahun.
“Aku belajar berjalan lagi seperti balita,” katanya sambil tersenyum pahit.
Ia menunduk.
“Tapi ternyata belajar berjalan lebih mudah daripada belajar menerima tubuh sendiri.”
Setelah sembuh, ia sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
Suatu hari perempuan itu melihat bekas luka di kedua kakinya.
Ia tidak marah.
Tidak menghina.
Namun kalimat yang diucapkannya justru jauh lebih menyakitkan.
“Aku minta maaf… aku tidak bisa membayangkan hidup dengan seseorang yang tubuhnya seperti ini.”
Hubungan mereka berakhir malam itu.
Sejak saat itu ia memutuskan menyembunyikan semuanya.
Ia membangun karier.
Menjadi seorang arsitek yang sukses.
Semua orang mengenalnya sebagai pria yang percaya diri.
Padahal setiap pagi ia membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia pantas keluar rumah.
“Aku takut,” katanya sambil menggenggam kedua tangannya sendiri.
“Aku takut kamu akan pergi setelah melihat semua ini.”
Aku berjalan mendekatinya.
Aku berlutut di hadapannya.
Perlahan kugulung ujung celananya.
Untuk pertama kalinya aku melihat bekas luka itu dengan sungguh-sungguh.
Yang kulihat bukan sesuatu yang menjijikkan.
Aku melihat seseorang yang telah bertahan hidup.
Aku menyentuh salah satu bekas jahitan yang paling panjang.
Ia langsung menarik napas.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Jelek.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Aku menatap matanya.
“Kalau semua luka ini adalah harga yang harus kamu bayar agar tetap hidup… agar suatu hari kita bisa bertemu… maka bagiku tidak ada yang jelek.”
Air mata langsung memenuhi matanya.
Malam itu kami sama-sama menangis.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya ia berhenti bersembunyi.
Kupikir rahasia itu adalah akhir dari semuanya.
Aku salah.
Itu justru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Beberapa minggu setelah pernikahan, aku mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anehnya.
Setiap malam ia mengoleskan salep khusus ke kedua kakinya.
Ia selalu menyembunyikan obat-obatan di laci yang terkunci.
Sesekali wajahnya meringis ketika menaiki tangga.
Namun setiap kali kutanya, ia selalu menjawab, “Tidak apa-apa.”
Suatu pagi aku mencuci pakaiannya.
Di saku celana kerjanya aku menemukan selembar hasil pemeriksaan rumah sakit.
Aku tidak sengaja membacanya.
Di bagian atas tertulis jadwal operasi.
Tanggalnya hanya tinggal tiga minggu lagi.
Tanganku langsung gemetar.
Malam itu aku menunggunya pulang.
“Apa ini?”
Ia terdiam sangat lama.
Lalu ia duduk.
“Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu.”
“Operasi apa?”
Ia menghela napas panjang.
“Tulang di kaki kiriku mulai rusak lagi.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku tidak mau merusak kebahagiaan kita.”
Dokter menjelaskan bahwa sebagian tulang hasil rekonstruksi tiga belas tahun lalu mulai mengalami penurunan fungsi.
Jika tidak segera ditangani, ia bisa kehilangan kemampuan berjalan.
Aku menggenggam tangannya.
“Kita hadapi bersama.”
Ia tersenyum, tetapi matanya masih dipenuhi rasa bersalah.
Operasi berlangsung hampir sembilan jam.
Aku duduk sendirian di ruang tunggu sejak pagi.
Setiap kali pintu ruang operasi terbuka, jantungku berdegup semakin cepat.
Ketika dokter akhirnya keluar, aku langsung berdiri.
“Operasinya berhasil.”
Aku menangis lega.
Namun dokter melanjutkan.
“Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui.”
Beliau menyerahkan sebuah map cokelat.
“Suami Anda meminta kami memberikan ini kalau operasi selesai.”
Aku membuka map itu.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Tanganku bergetar ketika mulai membaca.
“Istriku.
Kalau kamu sedang membaca surat ini, berarti aku masih diberi kesempatan hidup.
Tapi kalau suatu hari nanti kakiku tidak lagi mampu membawaku berjalan, jangan pernah merasa hidupmu ikut berhenti.
Aku sudah menyiapkan semuanya.
Rumah.
Tabungan.
Asuransi.
Semuanya atas namamu.
Aku tidak ingin kamu menghabiskan hidup merawat laki-laki yang mungkin hanya menjadi beban.”
Air mataku jatuh membasahi kertas.
Di halaman terakhir ada sesuatu yang membuatku semakin tidak sanggup menahan tangis.
Sebuah foto kecil.
Foto dirinya saat berusia delapan belas tahun.
Tubuhnya penuh perban.
Duduk di kursi roda.
Di balik foto itu tertulis kalimat sederhana.
“Aku bertahan hidup bukan karena ingin hidup. Aku bertahan karena percaya suatu hari nanti akan ada seseorang yang memandang bekas lukaku sebagai alasan untuk bersyukur, bukan alasan untuk pergi.”
Aku memegang foto itu erat-erat.
Saat ia sadar dari anestesi beberapa jam kemudian, hal pertama yang ia lakukan adalah meminta maaf.
“Aku mungkin akan merepotkanmu lagi.”
Aku tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Selama kamu masih bisa menggenggam tanganku, kamu tidak pernah menjadi beban.”
Masa pemulihan berlangsung berbulan-bulan.
Kini giliran aku yang membantunya belajar berjalan lagi.
Setiap pagi kami berlatih di taman dekat rumah.
Kadang ia jatuh.
Kadang ia marah pada dirinya sendiri.
Kadang ia ingin menyerah.
Setiap kali itu terjadi, aku selalu mengingatkannya pada satu kalimat.
“Dulu kamu bisa bangkit sendirian setelah kehilangan kedua orang tuamu. Sekarang kamu tidak sendirian lagi.”
Sedikit demi sedikit langkahnya kembali stabil.
Pada suatu sore, hampir setahun setelah pernikahan kami, kami kembali mengunjungi Pantai Kuta di Bali.
Tempat yang dulu selalu ia hindari.
Ia berdiri lama memandangi ombak.
Lalu perlahan menggulung celana panjangnya hingga kedua bekas luka itu terlihat jelas.
Beberapa orang memang sempat melirik.
Namun kali ini ia tidak lagi menutupinya.
Ia melepas sandal.
Berjalan perlahan di atas pasir.
Aku menggenggam tangannya.
“Tak malu?”
Ia tersenyum.
“Dulu aku malu karena kupikir semua orang hanya melihat bekas lukanya.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku tahu… orang yang benar-benar mencintaiku tidak pernah berhenti di bekas luka.”
Aku tersenyum.
Tanpa banyak bicara, aku berlutut di pasir.
Kucium perlahan salah satu bekas jahitan di kakinya.
Ia langsung terkejut.
Orang-orang yang lewat mungkin mengira aku melakukan sesuatu yang aneh.
Padahal bagiku, aku hanya sedang menghormati bagian tubuh yang telah berjuang begitu keras agar laki-laki di hadapanku tetap hidup.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, ia memelukku erat.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia berjalan tanpa berusaha menyembunyikan dirinya.
Dan saat itulah aku benar-benar memahami satu hal.
Luka yang paling berat ternyata bukanlah bekas jahitan di kulit, melainkan rasa takut bahwa diri kita tidak lagi pantas dicintai.
Untungnya, cinta yang sejati tidak pernah datang untuk mencari tubuh yang sempurna.
Cinta datang untuk memeluk semua bagian yang selama ini paling ingin kita sembunyikan.
