MALAM SAAT SUAMIKU MENGUSIRKU DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA DIANGGAP MISKIN, AKU MEMBUAT SATU TELEPON. 72 JAM KEMUDIAN, KERAJAAN BISNISNYA MULAI HANCUR!

Rendy sama sekali tidak tahu wanita seperti apa yang baru saja ia usir ke jalanan.

Selama enam tahun pernikahan mereka, Valerie sengaja membiarkan suaminya mempercayai satu kebohongan sederhana bahwa dirinya hanyalah perempuan biasa yang beruntung menikahi keluarga kaya.

Malam itu, setelah menelepon nomor yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuhnya, Valerie berdiri di bawah atap sebuah minimarket dengan pakaian basah kuyup.

Tak sampai dua puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depannya.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun membawa payung.

Begitu melihat Valerie, ia berhenti beberapa langkah di depannya.

“Nona Valerie.”

Valerie tersenyum tipis.

“Sudah lama, Pak Adrian.”

Adrian Pratama adalah direktur utama Pratama Capital, perusahaan investasi yang namanya jarang muncul di media, tetapi memiliki kepemilikan di puluhan perusahaan besar di Indonesia.

Ia juga orang kepercayaan mendiang ibu Valerie.

Enam tahun lalu, ketika Valerie memutuskan menikahi Rendy, ia melepaskan seluruh jabatan operasionalnya.

Bukan karena Rendy memintanya.

Valerie sendiri yang memilih melakukannya.

Ia ingin mengetahui apakah seseorang bisa mencintainya tanpa mengetahui nama Pratama yang ada di belakangnya.

Awalnya Rendy berhasil meyakinkannya.

Dulu Rendy bahkan rela makan nasi goreng kaki lima bersamanya.

Ia pernah mengendarai motor menembus hujan hanya untuk mengantarkan obat ketika Valerie demam.

Saat bisnis Rendy hampir bangkrut pada tahun kedua pernikahan mereka, Valerie diam-diam meminta Pratama Capital membantu sebuah bank menyetujui restrukturisasi utangnya.

Rendy tidak pernah tahu.

Ia mengira keberhasilannya adalah hasil kejeniusannya sendiri.

Semakin besar bisnisnya, semakin kecil penghormatannya kepada Valerie.

Sampai akhirnya malam itu datang.

Di dalam mobil, Adrian menyerahkan sebuah tablet.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal.”

Valerie membaca layar itu.

Wajahnya perlahan berubah.

PT Cipta Properti memiliki utang jauh lebih besar daripada yang pernah dilaporkan Rendy kepadanya.

Sebagian aset bahkan dijaminkan dua kali melalui perusahaan berbeda.

Lebih mengejutkan lagi, proyek Kota Hijau Nusantara ternyata bergantung pada fasilitas kredit sindikasi yang belum ditandatangani.

Salah satu calon kreditur terbesar adalah Bank Arunika.

Valerie menatap Adrian.

“Pratama Capital masih pemegang saham pengendali tidak langsung Bank Arunika?”

“Lima puluh satu persen.”

Valerie menutup tablet.

“Jangan hentikan pinjamannya.”

Adrian tampak terkejut.

“Saya kira Nona ingin menghancurkannya.”

“Tidak.”

Valerie memandang hujan di luar jendela.

“Saya ingin tahu dulu apa yang sebenarnya dia sembunyikan.”

Pagi berikutnya, Rendy bangun dengan perasaan sebagai pemenang.

Selly sudah datang ke rumah Pondok Indah membawa tiga koper besar.

Ratna bahkan meminta pembantu mengganti seprai kamar utama.

“Kamu akhirnya membuang perempuan pembawa sial itu,” kata Ratna sambil menikmati kopi.

Rendy tersenyum.

Hari itu ia dijadwalkan bertemu Hendra Sutanto untuk menyelesaikan kerja sama Kota Hijau Nusantara.

Namun pukul sembilan pagi, direktur keuangannya menelepon.

“Pak, Bank Arunika menunda penandatanganan kredit.”

Senyum Rendy menghilang.

“Kenapa?”

“Mereka meminta pemeriksaan tambahan.”

“Tambahan apa?”

“Semua.”

Rendy berdiri.

“Siapa yang memerintahkannya?”

“Kami belum tahu.”

Rendy langsung menghubungi komisaris bank yang dikenalnya.

Tidak diangkat.

Ia mencoba direktur kredit.

Tidak diangkat.

Sementara itu, di sebuah ruang rapat sederhana di kawasan Sudirman, Valerie duduk di depan belasan auditor dan konsultan hukum.

Tak ada gaun mahal.

Tak ada perhiasan.

Ia hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Namun tak seorang pun di ruangan itu berani memotong ucapannya.

“Temukan aliran uang dari Cipta Properti menuju perusahaan yang berhubungan dengan keluarga Sutanto.”

Seorang auditor mengangkat tangan.

“Kami menemukan pembayaran konsultasi sebesar empat puluh dua miliar rupiah kepada PT Mahardika Konsultan.”

“Milik siapa?”

“Secara resmi milik pihak ketiga. Tetapi penerima manfaat akhirnya adalah seseorang bernama Selly Sutanto.”

Ruangan mendadak sunyi.

Valerie tidak menunjukkan kemarahan.

“Teruskan.”

“Selain itu ada pembayaran lain yang dikategorikan sebagai biaya percepatan perizinan.”

“Jumlahnya?”

“Delapan belas miliar.”

Valerie menyandarkan tubuhnya.

Kini semuanya mulai jelas.

Hubungan Rendy dengan Selly bukan sekadar perselingkuhan.

Rendy menggunakan uang perusahaan untuk membeli akses kepada Hendra.

Dan Selly menjadi penghubungnya.

Pada jam ke dua puluh empat setelah Valerie diusir, masalah pertama meledak.

Bank Arunika membekukan pencairan kredit.

Dua bank lain mengikuti karena klausul cross-default memungkinkan mereka meninjau kembali fasilitas pinjaman Cipta Properti.

Kontraktor utama proyek menolak melanjutkan pekerjaan sebelum pembayaran sebelumnya diselesaikan.

Rendy mulai panik.

“Apa-apaan ini?” bentaknya kepada direktur keuangan.

“Kenapa semuanya terjadi bersamaan?”

Direktur keuangannya pucat.

“Ada audit kepatuhan dari pihak investor.”

“Investor mana?”

“Kami belum mendapatkan namanya.”

Rendy membanting meja.

Selly yang duduk di sofa mendekatinya.

“Tenang. Papa bisa membantu.”

Rendy menatapnya penuh harapan.

Namun ketika Selly menelepon ayahnya, wajah perempuan itu berubah.

Hendra justru memintanya segera pulang.

“Ada apa?”

Selly tidak menjawab.

Ia memasukkan beberapa barang ke tasnya.

“Selly?”

“Aku harus menemui Papa.”

“Kita kan akan makan malam dengan investor malam ini.”

“Aku bilang aku harus pergi!”

Untuk pertama kalinya Rendy melihat ketakutan di wajah Selly.

Pada jam ke empat puluh delapan, badai berikutnya datang.

Salah satu perusahaan cangkang yang digunakan Cipta Properti untuk menyembunyikan kewajiban finansial ternyata pernah menerima dana dari anak perusahaan Pratama Capital.

Artinya, Pratama Capital memiliki hak kontraktual untuk meminta pemeriksaan transaksi.

Nama itu membuat Rendy membeku.

Ia pernah mendengar Pratama Capital.

Semua pengusaha besar mengenalnya.

Mereka bukan perusahaan yang suka tampil di televisi.

Namun kepemilikannya tersebar dari perbankan, logistik, energi hingga properti.

“Kenapa mereka mengaudit kita?” tanya Rendy.

Pengacaranya menelan ludah.

“Karena secara hukum mereka punya hak.”

“Siapa yang meminta audit?”

“Kami masih mencari tahu.”

Malam itu Rendy tidak tidur.

Ratna mondar-mandir di ruang keluarga.

“Telepon Hendra!”

“Sudah.”

“Terus?”

“Dia tidak menjawab.”

Ratna terdiam sebentar sebelum berkata, “Jangan-jangan Valerie melakukan sesuatu.”

Rendy tertawa meskipun wajahnya pucat.

“Valerie?”

Ia memandang ibunya seperti baru mendengar lelucon.

“Dia bahkan tidak punya uang untuk membayar hotel.”

Namun untuk pertama kalinya sejak perceraian itu, Rendy teringat satu hal.

Cara Valerie membaca perjanjian perceraian.

Cara Valerie menemukan kesalahan klausul dalam hitungan detik.

Cara perempuan itu tidak menangis ketika diusir.

Dan telepon tua yang dibawanya.

Dada Rendy mulai terasa tidak nyaman.

Pada jam ke tujuh puluh dua, Rendy menerima undangan rapat darurat.

Tempatnya berada di lantai tertinggi gedung Pratama Capital.

Ia datang bersama pengacara dan direktur keuangannya.

Hendra Sutanto ternyata sudah berada di sana.

Begitu Rendy masuk, ia langsung mendekati pria itu.

“Pak Hendra, sebenarnya apa yang terjadi?”

Hendra justru menatapnya tajam.

“Kamu menggunakan nama anak saya untuk memindahkan uang perusahaan?”

Rendy membeku.

“Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan.”

“Empat puluh dua miliar.”

Hendra melempar sebuah dokumen ke meja.

“Kamu bilang itu biaya konsultasi. Konsultasi apa yang diberikan Selly?”

Selly yang duduk di samping ayahnya menunduk.

Rendy mulai berkeringat.

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang berdiri.

Rendy ikut menoleh.

Langkahnya seakan kehilangan kekuatan.

Valerie masuk bersama Adrian dan beberapa anggota dewan komisaris.

Tidak ada perempuan miskin yang diusir dari rumah tiga malam sebelumnya.

Valerie berjalan menuju kursi di ujung meja.

Kursi pimpinan rapat.

Rendy menatapnya tanpa berkedip.

“Valerie?”

Valerie duduk.

Adrian kemudian berkata dengan tenang, “Izinkan saya memperkenalkan kembali Nona Valerie Pratama Suwandi, pemegang saham pengendali Pratama Capital sekaligus komisaris utama yang kembali aktif sejak tiga hari lalu.”

Wajah Ratna yang ikut mendampingi Rendy seketika pucat.

Rendy berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh.

“Tidak mungkin.”

Valerie menatapnya.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Kamu cuma bekerja di yayasan.”

“Itu yayasan milik ibu saya.”

Rendy kehilangan kata-kata.

Valerie membuka sebuah dokumen.

“Enam tahun lalu saya memilih meninggalkan jabatan karena ingin menjalani kehidupan biasa.”

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

Valerie terdiam beberapa detik.

“Karena dulu saya ingin tahu apakah kamu mencintai Valerie atau mencintai apa yang dimiliki Valerie.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.

Rendy mencoba mendekat.

“Val, dengarkan aku. Soal Selly, aku bisa menjelaskan.”

“Ini bukan tentang Selly.”

Valerie mendorong beberapa dokumen ke tengah meja.

“Ini tentang laporan keuangan palsu, jaminan ganda, transaksi afiliasi yang disembunyikan dan uang perusahaan yang digunakan untuk kepentingan pribadi.”

Pengacara Rendy langsung membaca dokumen itu.

Wajahnya berubah.

Rendy menatap Valerie dengan mata merah.

“Kamu sengaja menghancurkanku.”

“Tidak.”

Valerie menjawab tanpa meninggikan suara.

“Saya hanya menghentikan orang-orang saya dari terus menyelamatkanmu.”

Rendy terdiam.

Valerie lalu mengungkap sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Restrukturisasi utang Cipta Properti empat tahun lalu ternyata terjadi karena intervensi Pratama Capital.

Investor yang menyelamatkan proyek pertama Rendy juga perusahaan afiliasi mereka.

Bahkan lahan strategis yang membuat Cipta Properti berkembang pesat diberikan melalui perusahaan yang dikendalikan keluarga Valerie.

Selama bertahun-tahun Rendy mengira dirinya membangun kerajaan bisnis sendirian.

Padahal Valerie diam-diam memasang fondasi di bawahnya.

“Saya tidak pernah meminta satu rupiah pun kembali,” ujar Valerie.

“Saya melakukan semua itu karena kamu suami saya.”

Suara Valerie akhirnya sedikit bergetar.

“Bahkan ketika kamu mulai merendahkan saya, saya masih berpikir suatu hari kamu akan menjadi Rendy yang dulu.”

Rendy menunduk.

Untuk pertama kalinya kesombongannya benar-benar runtuh.

Ia tidak kehilangan Valerie karena miskin.

Ia kehilangan Valerie karena ketika merasa kaya, ia mulai percaya bahwa harga manusia ditentukan oleh rekening bank dan koneksi.

Hendra berdiri.

“Keluarga saya menarik diri dari proyek ini.”

Selly ikut berdiri tanpa menatap Rendy.

Satu per satu anggota rapat meninggalkan ruangan.

Rendy mengejar Valerie sampai ke lorong.

“Valerie!”

Valerie berhenti.

“Berikan aku kesempatan.”

Rendy mendekatinya dengan mata berkaca-kaca.

“Kita mulai lagi. Aku akan berubah.”

Valerie menatap lelaki yang pernah sangat dicintainya.

Anehnya, tidak ada kebencian lagi di dalam dirinya.

Hanya kelelahan.

“Enam tahun adalah kesempatanmu, Rendy.”

Ia kemudian berjalan menuju lift.

Beberapa bulan kemudian, Cipta Properti tidak bangkrut.

Valerie justru menolak usulan untuk menghancurkannya.

Perusahaan itu direstrukturisasi, aset bermasalah dijual dan manajemen lama dicopot.

Rendy kehilangan kendali atas perusahaan yang selama ini dibanggakannya, tetapi ia tidak kehilangan segalanya.

Valerie sengaja menyisakan satu unit usaha kecil yang dahulu pertama kali dibangun Rendy sebelum mereka menikah.

Sebuah perusahaan kontraktor dengan kantor sederhana dan belasan pegawai.

Ketika Adrian bertanya mengapa ia melakukan itu, Valerie hanya menjawab, “Saya tidak ingin menghancurkan manusia. Saya hanya ingin menghentikan keserakahannya.”

Setahun kemudian, Valerie menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya ada foto sebuah kantor kecil.

Rendy berdiri bersama para pegawainya dengan pakaian sederhana.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Aku akhirnya belajar membangun sesuatu tanpa menggunakan nama orang lain. Maaf karena aku baru memahami nilaimu setelah kehilanganmu.

Valerie membaca kalimat itu lama.

Kemudian ia memasukkan foto tersebut ke dalam laci tanpa membalasnya.

Di meja kerjanya masih tersimpan foto lama ibunya yang dibawanya pada malam hujan itu.

Valerie memandang foto tersebut dan tersenyum.

Enam tahun sebelumnya, ia meninggalkan kekuasaan demi mencari cinta.

Malam ketika dirinya diusir, ia mengira telah kehilangan rumah, suami, dan seluruh kehidupan yang dibangunnya.

Ternyata malam itu bukan malam ketika Valerie kehilangan segalanya.

Itulah malam ketika ia akhirnya mengambil kembali dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang