MANTAN SUAMIKU MENGUNDANGKU KE PERNIKAHANNYA UNTUK MEMPERMALUKANKU

Tentu, mari kita lanjutkan kisah pembalasan dendam yang manis ini.

Suara musik klasik mengalun lembut di bawah tenda megah berhias kristal di Garden Hotel. Tamu-tamu undangan, yang terdiri dari pengusaha elit dan sosialita, berbisik-bisik saat Marco berdiri di altar dengan setelan jas Armani yang berkilauan. Di sampingnya, Tiffany, wanita yang selama ini ia gadang-gadang sebagai “tiket emas” menuju kekayaan, tersenyum pongah.

“Lihat, Marco,” bisik Tiffany sambil melirik jam tangan mewahnya. “Mantan istrimu yang menyedihkan itu mungkin sedang bingung mencari ongkos angkot agar bisa sampai ke sini. Kasihan sekali, harusnya kita berikan dia sedikit uang receh agar tidak bau keringat saat datang nanti.”

Marco tertawa angkuh. “Dia pasti akan datang. Aku ingin dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa salahnya dia dulu karena tidak memohon padaku untuk tetap tinggal.”

Tiba-tiba, suara dengungan mesin yang halus namun bertenaga memutus percakapan mereka. Bukan suara angkot, bukan pula suara mobil biasa. Sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam dengan plat nomor khusus berhenti tepat di depan gerbang utama hotel.

Semua orang menoleh. Atmosfer kemewahan yang mereka pamerkan mendadak terasa hambar.

Pintu mobil terbuka. Aku turun dengan gaun couture berwarna merah marun yang menjuntai anggun, dipadukan dengan kalung berlian yang harganya mungkin bisa membeli sepuluh hotel ini. Namun, bukan aku yang membuat semua orang menahan napas.

Di kiri dan kananku, dua bocah laki-laki berusia lima tahun keluar dengan setelan jas kecil yang identik. Wajah mereka adalah fotokopi hidup dari Marco, namun dengan ketegasan dan karisma yang jauh lebih kuat di usia mereka yang masih belia. Si kembar, Leo dan Lucas, berjalan dengan tegak, memegang tanganku dengan penuh perlindungan.

Langkah kakiku mantap. Tidak ada lagi Liza yang menangis di lantai apartemen. Yang ada di sini adalah seorang CEO yang memegang kendali atas ribuan karyawan.

“Itu… itu Liza?” bisik salah satu tamu. “Tapi, bukankah dia wanita yang dulu dicampakkan karena miskin?”

Marco membeku di altar. Wajahnya yang tadi berseri-seri kini berubah pucat pasi. Ia menatap si kembar, lalu menatapku, matanya membelalak tak percaya.

Aku berhenti tepat di depan altar. Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Aku tidak perlu berteriak. Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Marco gemetar.

“Terima kasih undangannya, Marco,” ucapku dengan suara yang tenang namun menusuk ke jantung kerumunan. “Kamu bilang ingin aku melihat pernikahan orang kaya yang sesungguhnya? Aku rasa kamu benar. Aku perlu melihat bagaimana seorang pria yang begitu haus akan kekayaan, akhirnya menjual harga dirinya demi sebuah mahar.”

Tiffany melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Siapa mereka? Siapa anak-anak ini, Liza?”

Aku menatap Marco tajam. “Tanyakan padanya. Dia yang mengusir mereka sebelum mereka lahir. Dia yang menganggap mereka ‘beban’ yang tidak berguna.”

Suasana mendadak kacau. Para fotografer pernikahan mulai mengarahkan kamera mereka ke arah kami. Marco mencoba mendekat, tangannya bergetar. “Liza… tunggu… itu anakku? Kita bisa bicara, sayang. Kita bisa…”

“Sayang?” potongku dingin. “Satu hal lagi, Marco. Kamu pikir kamu menikah dengan wanita kaya? Kamu pikir keluarga Tiffany yang mendukungmu?”

Aku memberikan isyarat kepada asistenku yang berdiri di belakang. Dia menyerahkan sebuah tablet besar yang terhubung langsung ke layar proyektor raksasa di belakang altar—layar yang seharusnya menampilkan foto-foto pra-nikah mereka.

Tiba-tiba, layar itu berubah. Bukan foto mesra, melainkan data audit keuangan.

“Keluarga Tiffany berada di ambang kebangkrutan total,” suaraku bergema melalui pengeras suara. “Dan mereka memilihmu, Marco, karena mereka tahu kamu punya aset kecil yang masih bisa mereka curi untuk menutupi hutang mereka. Mereka bukan menikahkan putri mereka padamu, mereka sedang menjadikanmu tumbal hutang.”

“TIDAK! Itu bohong!” teriak Tiffany histeris, sementara ayahnya mencoba melarikan diri dari kerumunan, namun dihadang oleh sekelompok pria berjas hitam—pengawalku.

Marco menatap layar, lalu menatapku. Dunianya hancur dalam hitungan detik. Dia menyadari bahwa dia bukan hanya kehilangan anak-anaknya yang kini mungkin akan menjadi pewaris kekayaan yang jauh melampaui imajinasinya, tapi dia juga baru saja menandatangani kontrak pernikahan yang akan menyeretnya ke penjara karena utang keluarga Tiffany.

Aku berlutut di depan si kembar, membelai rambut mereka. “Leo, Lucas, katakan selamat tinggal pada pria ini. Kita punya urusan bisnis yang lebih penting daripada sekadar lelucon pernikahan.”

“Selamat tinggal, Ayah,” ucap si kembar serempak dengan nada datar yang sangat dingin.

Aku berbalik. Saat aku melangkah pergi, aku mendengar teriakan Marco yang memohon ampun, diikuti oleh suara keributan antara pihak keluarga Tiffany dan para penagih hutang yang mulai berdatangan.

Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai.

Saat aku masuk kembali ke dalam Rolls-Royce, aku tidak hanya membawa si kembar. Di kursi belakang, duduk seorang pria paruh baya yang merupakan rival bisnis terbesar Marco—pria yang selama ini diam-diam membantuku membangun kekayaanku dari bayang-bayang.

“Kerja bagus, Liza,” ujarnya sambil menyerahkan dokumen legal. “Hari ini, bukan hanya pernikahan Marco yang hancur. Dengan tanda tanganmu di sini, seluruh aset properti yang selama ini Marco banggakan secara resmi menjadi milik restoranku. Dia akan keluar dari sini tanpa sepeser pun, sebagai pria paling miskin yang pernah dia benci.”

Aku menatap spion mobil, melihat Marco tersungkur di tanah, dikelilingi oleh tamu-tamu yang kini menertawakannya.

Ternyata, balas dendam tidak perlu dilakukan dengan kekerasan. Cukup dengan menjadi sukses, menunjukkan kebenaran, dan membiarkan mereka menghancurkan diri mereka sendiri dengan keserakahan mereka sendiri.

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Masa lalu sudah terkubur. Hari ini, aku bukan lagi mantan istrinya yang malang. Aku adalah pemilik masa depanku sendiri.

“Ayo jalan,” kataku pada supir.

Mobil meluncur meninggalkan hotel, meninggalkan Marco di tengah kehancuran total yang ia bangun sendiri. Dan yang paling mengejutkan? Saat aku melihat ke samping, si kembar menunjukkan sebuah foto tua yang mereka temukan di laci Marco semalam—ternyata Marco bukan anak kandung dari keluarganya yang kaya. Dia hanyalah anak angkat yang selama ini hidup dalam kebohongan besar tentang status sosialnya, yang baru saja terbongkar ke publik tepat di saat dia paling butuh citra itu.

Keadilan memang tidak selalu datang tepat waktu, tapi ketika ia datang, ia datang dengan cara yang paling tidak terduga. Dan aku, Liza, baru saja memenangkan permainan ini dengan telak.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang