MANTAN TUNANGANKU MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG PRIA MISKIN DAN GELANDANGAN AGAR DIA BISA MEMPERMALUKAN KELUARGAKU DI DEPAN SELURUH MASYARAKAT.

Marcus, yang berdiri di barisan depan bersama para tamu kehormatan, tertawa terbahak-bahak. Ia menatapku dengan tatapan penuh kemenangan, sudah membayangkan betapa malunya aku saat pria ini membacakan sumpah pernikahan dengan suara yang kotor dan terbata-bata.

“Lanjutkan,” teriak Marcus dengan nada mengejek. “Tunjukkan pada dunia siapa suamimu yang baru, Aurora!”

Pria di sampingku tidak menoleh ke arah Marcus. Ia justru memutar tubuhnya perlahan ke arahku. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang penuh kebencian dan rasa ingin tahu, ia menarik napas panjang.

Pria itu kemudian melakukan sesuatu yang membuat suasana gereja yang riuh tiba-tiba menjadi hening mencekam.

Ia meraih ujung mantel kusamnya yang berbau apek, lalu dengan satu sentakan mantap, ia melepaskannya ke lantai. Mantel itu jatuh, memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya.

Para tamu ternganga. Napas mereka seakan tertahan di tenggorokan.

Di balik tumpukan kain kotor itu, pria tersebut mengenakan setelan jas tuxedo hitam yang dibuat khusus dari bahan sutra kualitas terbaik yang tampak berkilau di bawah lampu kristal gereja. Potongannya sempurna, memeluk tubuhnya yang tegap dan atletis dengan gagah.

Namun, bukan itu yang membuat dunia seakan berhenti berputar.

Pria itu perlahan melepas topi tuanya, lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan bersih yang diambil dari saku jasnya. Debu, jelaga, dan kotoran itu lenyap, memperlihatkan fitur wajah yang selama ini disembunyikan oleh penyamaran yang sempurna.

Rahang yang tegas, mata yang tajam bagaikan elang, dan aura pemimpin yang dingin namun mematikan.

Itu bukan gelandangan.

Itu adalah Adrian Dirgantara.

Seluruh ruangan gemetar. Nama itu adalah mimpi buruk bagi para pebisnis di negeri ini. Adrian adalah pria yang menduduki puncak daftar orang terkaya dan paling berkuasa di kota ini—pria yang selama ini menjaga privasinya dengan sangat ketat dan tak pernah muncul di depan publik.

“A-Adrian? Bagaimana bisa?” Suara Marcus bergetar. Wajahnya yang tadi merah karena tertawa kini pucat pasi, kehilangan seluruh darahnya.

Adrian menatap Marcus dengan tatapan yang seolah bisa merobek jiwa. “Kau bilang padaku, Marcus… kau ingin mempermalukan seseorang hari ini?”

Suara Adrian bergema di seluruh penjuru gereja, berat dan sangat dingin. Ia melangkah maju, melepaskan cengkeraman tangannya dari diriku untuk kemudian merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah tablet tipis dan melemparkannya ke arah kaki Marcus.

“Aku sudah lama memantau kerakusanmu. Semua bukti penggelapan pajak, pencucian uang, dan sabotase perusahaan keluarga Aurora ada di sana. Lengkap, rinci, dan siap kukirim ke kantor kejaksaan dalam hitungan detik.”

Suasana gereja yang tadinya penuh ejekan kini berubah menjadi kuburan. Tak ada satu pun orang yang berani bernapas.

Adrian kembali menatapku, tatapannya melembut seketika. Ia memegang kedua bahuku dengan sangat lembut, seolah aku adalah satu-satunya barang paling berharga di dunia ini.

“Maafkan aku karena harus menyamar seperti ini, Aurora,” bisiknya dengan suara yang hanya bisa kudengar. “Tapi ini satu-satunya cara bagiku untuk masuk ke acara ini tanpa dicurigai oleh ‘tikus-tikus’ yang ingin menghancurkanmu. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitimu lagi.”

Di barisan depan, Marcus terjatuh lemas ke lantai. Ia tahu persis, hari ini bukan hari kehancuranku. Ini adalah hari di mana kerajaannya yang dibangun di atas kebohongan akan runtuh sepenuhnya, dan aku baru saja menemukan pelindung yang tak tertandingi di dunia ini.tạo ảnh ĐẢM BAO CHUẨN NỘI DUNG CÂU CHUYỆN, ảnh vuông 1200×1200 , ảnh NGƯỜI thực indonesia , thu hút SẮC NÉT

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang