Fajar duduk tenang di samping Bu Ratna, seolah kehadirannya di tengah pesta itu adalah hal paling wajar di dunia.
“Aku datang untuk menyelesaikan pembagian harta Nabila,” katanya.
Dari ranjang rumah sakit, aku menatap layar tablet tanpa berkedip. Rasa sakit dari bekas operasi seperti menghilang sesaat, digantikan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
“Kak Fajar juga terlibat?” suaraku nyaris tidak terdengar.
Rani berdiri di sampingku. Wajahnya tetap tenang.

“Lihat sampai selesai.”
Aku menoleh tajam kepadanya, tetapi Rani tidak menjelaskan apa pun.
Di rumahku, Dimas membuka map hitam yang dibawa Fajar. Senyumnya semakin lebar ketika melihat beberapa lembar dokumen dengan stempel notaris.
“Nah, begini lebih mudah,” katanya. “Besok pagi kita tinggal ke bank.”
Bu Ratna menuangkan minuman ke gelasnya.
“Ibu sudah bilang dari dulu. Kalau menikah, laki-laki harus tahu cara mengamankan masa depan keluarganya.”
Fajar menatapnya.
“Termasuk mengambil mahar istri?”
Ruangan mendadak sedikit sunyi.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Jangan bicara seperti itu. Nabila sudah menjadi keluarga kami.”
“Kalau begitu kenapa kalian membicarakan pembagian hartanya bahkan sebelum rumah sakit mengeluarkan surat kematian?”
Senyum Bu Ratna menghilang.
Dimas segera menyela.
“Kak Fajar, kita semua sedang berduka. Jangan memperumit keadaan.”
Berduka.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Di atas meja ada tumpeng, makanan katering, dan gelas-gelas yang terus diangkat untuk bersulang. Intan bahkan sedang membuka situs toko tas mewah di ponselnya.
Fajar bersandar.
“Baik. Jadi berapa sebenarnya yang ingin kalian ambil?”
Dimas tidak menjawab langsung.
Bu Ratna yang justru berkata, “Mahar lima belas miliar itu jelas. Setelah itu rumah Kemang, apartemen Kuningan, dan beberapa investasi. Sebagai suami, Dimas tentu punya hak.”
“Punya hak berdasarkan apa?”
Dimas mengangkat map merah yang dicurinya dari rumah sakit.
“Berdasarkan dokumen ini.”
Fajar mengambil map tersebut, membacanya beberapa detik, lalu mengangguk.
“Bagus.”
Ia kemudian mengeluarkan ponsel.
“Kalau begitu, kita bahas semuanya dengan jelas supaya nanti tidak ada yang berubah pikiran.”
Dimas tersenyum.
Aku baru menyadari ada sesuatu yang aneh.
Fajar sengaja membuat mereka berbicara.
Ia bertanya siapa mendapat berapa, siapa yang pertama kali mengetahui keberadaan dokumen mahar, dan siapa yang menghubungi pengurus dokumen.
Bu Ratna menjawab hampir semuanya.
Bahkan dengan bangga.
“Kalau bukan Ibu yang mencari informasi, Dimas tidak akan tahu jalurnya,” katanya.
“Jadi Ibu yang datang ke notaris?”
“Tentu.”
“Dan soal kondisi Nabila?”
Bu Ratna melirik Dimas.
“Dimas yang bilang peluang hidupnya hampir tidak ada.”
Fajar mengangguk perlahan.
“Padahal dokter belum pernah mengatakan Nabila meninggal.”
Wajah Dimas berubah.
“Apa maksudmu?”
Fajar berdiri.
Saat itulah Rani akhirnya berkata kepadaku, “Sekarang.”
Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
Di layar kamera rumah, bel berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Dimas menatap pintu.
“Siapa lagi?”
Tidak seorang pun menjawab.
Bel kembali berbunyi.
Dimas berjalan ke pintu dan membukanya.
Dua penyidik berdiri di luar bersama seorang petugas kepolisian berseragam dan seorang perempuan dari kantor notaris.
Wajah Dimas seketika pucat.
“Ada apa ini?”
“Kami perlu meminta keterangan mengenai kecelakaan yang dialami Ibu Nabila Prameswari dan dugaan penguasaan dokumen serta aset tanpa hak.”
Bu Ratna berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Kecelakaan? Apa hubungannya dengan kami?”
Fajar mengangkat ponselnya.
“Cukup banyak, Bu.”
Dimas menatap kakakku.
“Kamu menjebak kami?”
“Tidak,” jawab Fajar. “Aku cuma datang membawa umpan. Kalian sendiri yang memilih menggigitnya.”
Aku menutup mulut.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Fajar tidak mengkhianatiku.
Map hitam itu memang bagian dari rencana.
Rani menjelaskan bahwa sejak siang, Fajar sudah bekerja sama dengannya. Mereka sengaja membuat keluarga Dimas percaya dokumen asli berada di tangan Fajar.
“Dokumen di map hitam juga salinan,” kata Rani.
Aku memandangnya.
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena reaksimu harus asli kalau Dimas kembali ke rumah sakit. Kami tidak tahu apakah dia memasang kamera atau merekam percakapanmu.”
Aku tidak tahu harus marah atau lega.
Namun semuanya belum selesai.
Petugas meminta Dimas menyerahkan map merah.
Dimas menolak.
“Ini dokumen istri saya.”
“Dan istri Anda masih hidup,” jawab salah satu penyidik.
Ruangan di rumah itu mendadak membeku.
Gelas di tangan Intan jatuh ke lantai.
Bu Ratna berpegangan pada meja.
“Apa?”
Dimas tidak bergerak.
“Tidak mungkin.”
Fajar menatapnya lurus.
“Nabila sadar sejak siang.”
Wajah suamiku berubah total.
Bukan lega.
Bukan bahagia.
Ketakutan.
Itulah jawaban yang paling menyakitkan bagiku.
Jika ia mencintaiku, kabar bahwa aku hidup seharusnya membuatnya menangis bahagia.
Namun Dimas justru terlihat seperti seseorang yang baru mendengar bahwa rencananya gagal.
Ia tiba-tiba meraih ponselnya.
“Aku harus ke rumah sakit.”
Petugas menghentikannya.
“Anda belum boleh pergi.”
“Dia istri saya!”
“Beberapa jam lalu Anda memberi tahu keluarga bahwa istri Anda tidak tertolong tanpa konfirmasi dokter.”
Dimas kehilangan kata-kata.
Kemudian Fajar meletakkan satu lembar kertas di meja.
“Ada satu hal lagi.”
Aku memperbesar gambar di tablet.
Itu laporan dari bengkel.
Rani menjelaskan kepadaku bahwa polisi telah memeriksa mobilku lebih detail sore tadi. Selang pada sistem rem ditemukan dalam kondisi tidak wajar.
Belum cukup untuk langsung menyimpulkan sabotase.
Tetapi rekaman CCTV bengkel memberikan petunjuk baru.
Dimas datang kembali ke bengkel pada malam sebelum kecelakaanku.
Sendirian.
Ia berada di area kendaraan hampir dua puluh menit bersama seorang mekanik bernama Arman.
“Arman sudah diamankan untuk dimintai keterangan,” kata penyidik di layar.
Dimas langsung membantah.
“Aku cuma mengambil charger yang tertinggal.”
“Menarik,” kata Fajar. “Karena charger itu ditemukan di rumahmu.”
Bu Ratna mulai panik.
“Dimas, kamu bilang semuanya aman.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Termasuk Dimas.
“Ma!”
Bu Ratna menutup mulut.
Terlambat.
Fajar tidak melewatkannya.
“Apa yang harus aman, Bu?”
“Bukan begitu maksud saya.”
“Apa Ibu tahu Dimas datang ke bengkel?”
“Tidak.”
“Barusan Ibu bilang dia mengatakan semuanya aman.”
Bu Ratna mulai menangis.
Namun air mata itu berbeda dengan tangisan seorang ibu yang takut kehilangan menantu.
Ia takut kehilangan dirinya sendiri.
Dimas mendekatinya.
“Jangan ngomong lagi, Ma.”
Dan justru kalimat itulah yang membuat Bu Ratna semakin panik.
“Semua ini idemu!”
“Ma, diam!”
“Kamu bilang cuma mau bikin dia masuk rumah sakit beberapa minggu! Kamu bilang setelah itu kita bisa mengurus surat kuasa!”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Rani segera menurunkan volume tablet.
“Nabila.”
Aku menggeleng.
“Naikkan lagi.”
Aku harus mendengarnya.
Aku harus tahu seberapa jauh laki-laki yang tidur di sampingku selama empat tahun itu bersedia menghancurkanku.
Di layar, Dimas berteriak kepada ibunya.
“Ibu juga yang menyuruh aku cari cara!”
“Aku tidak pernah menyuruh kamu merusak mobil!”
“Cukup,” kata petugas.
Malam itu pesta berubah menjadi pemeriksaan.
Satu per satu tamu diminta memberikan keterangan. Ponsel Dimas diamankan. Map merah disita. Rekaman kamera rumah disalin sebagai barang bukti.
Namun kejutan terbesar datang keesokan paginya.
Arman mengaku.
Ia mengatakan Dimas membayarnya untuk membuat kerusakan yang diharapkan menyebabkan mobilku bermasalah setelah beberapa hari.
Menurut pengakuannya, Dimas tidak meminta kecelakaan fatal. Ia hanya ingin aku dirawat cukup lama agar ia bisa menggunakan surat kuasa yang sudah dipersiapkan.
Tetapi ada masalah.
Tanda tanganku pada surat kuasa itu palsu.
Dan orang yang membantu menyiapkannya adalah pengurus dokumen yang menerima map merah dari Dimas di parkiran rumah sakit.
Jaringan kecil kebohongan mereka runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Dimas akhirnya diizinkan datang ke rumah sakit, tetapi bukan sebagai suami yang bebas masuk ke kamarku.
Ia datang didampingi petugas.
Aku meminta Rani dan Fajar tetap berada di dalam.
Ketika pintu terbuka, Dimas tampak seperti orang yang berbeda.
Matanya merah. Rambutnya berantakan.
“Nabila.”
Aku menatapnya tanpa menjawab.
Ia mencoba mendekat.
Petugas menghentikannya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Suaraku jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Dimas menelan ludah.
“Aku terlilit utang.”
Aku tersenyum pahit.
“Tentu. Selalu ada alasan.”
“Bisnisku rugi hampir enam miliar. Mama tidak tahu semuanya. Aku takut kehilangan rumah, perusahaan, semuanya.”
“Jadi kamu memilih kehilangan istrimu?”
“Aku tidak pernah ingin kamu mati.”
“Tapi ketika mengira aku akan mati, kamu mengadakan pesta.”
“Itu bukan pesta.”
Aku menunjuk tablet.
“Aku melihat semuanya.”
Dimas terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku mendengar Intan meminta dua miliar. Aku mendengar ibumu membagi uangku. Aku mendengar kamu bilang besok urusan bank selesai.”
“Nabila, aku panik.”
“Tidak. Kamu tidak panik.”
Aku menatap matanya.
“Kamu membuat rencana.”
Ia mulai menangis.
Untuk pertama kalinya selama empat tahun pernikahan kami, air mata Dimas tidak lagi memengaruhiku.
“Aku masih suamimu.”
Kalimat itu justru membuatku sadar betapa lama aku hidup dengan cara berpikir yang salah.
Aku selalu menganggap pernikahan berarti bertahan.
Ayah dulu pernah berkata kepadaku bahwa cinta tidak boleh membuat seseorang menyerahkan hak untuk melindungi dirinya sendiri.
Aku baru memahami kalimat itu sekarang.
“Untuk sementara,” jawabku.
Rani meletakkan sebuah map di meja.
“Permohonan perceraian dan langkah hukum terkait aset sudah disiapkan.”
Dimas menatapku seolah aku baru saja menusuknya.
“Kamu serius?”
“Aku hampir mati, Dimas.”
“Aku bilang aku tidak bermaksud membunuhmu!”
“Dan itu seharusnya membuatmu terdengar lebih baik?”
Ia tidak mampu menjawab.
Sebelum dibawa keluar, Dimas berhenti di pintu.
“Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.
“Pernah.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Itulah sebabnya pengkhianatanmu berhasil selama ini.”
Pintu tertutup.
Aku mengira semuanya berakhir di sana.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian, kondisiku membaik dan aku sudah bisa duduk lebih lama.
Fajar datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Ia meletakkannya di pangkuanku.
Kotak itu milik Ayah.
Aku mengenal ukiran kecil di sudutnya.
“Dari mana Kakak mendapatkannya?”
“Notaris menyimpannya sejak Ayah meninggal.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Ayah dan sebuah flashdisk.
Tanganku bergetar ketika membuka surat tersebut.
Ayah menulisnya dua bulan sebelum pernikahanku.
Ia mengatakan tidak ingin menghalangi pilihanku menikahi Dimas, tetapi ia menemukan sesuatu yang membuatnya khawatir.
Ayah pernah menyewa auditor swasta untuk memeriksa perusahaan keluarga Dimas.
Sejak sebelum mengenalku, keluarga mereka sudah memiliki utang besar.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa minggu setelah aku dan Dimas mulai berpacaran, Bu Ratna pernah mencoba mencari informasi tentang aset keluarga kami.
Ayah mengetahuinya.
Namun ia tidak pernah memberitahuku.
“Kenapa Ayah diam?” tanyaku.
Fajar menunjuk bagian terakhir surat.
Aku membacanya perlahan.
Ayah menulis bahwa jika ia memaksaku meninggalkan Dimas, aku mungkin akan membenci keluarga sendiri dan justru semakin membela laki-laki itu.
Karena itu ia memilih cara lain.
Ia memastikan seluruh mahar, rumah Kemang, apartemen, dan sebagian besar aset yang diberikan kepadaku tidak dapat dialihkan hanya dengan tanda tangan biasa.
Setiap transaksi besar membutuhkan verifikasi tambahan dari notaris yang ditunjuk.
Artinya, sejak awal, rencana Dimas sebenarnya tidak pernah mungkin berhasil.
Bahkan jika aku benar-benar meninggal.
“Ada lagi,” kata Fajar.
Ia memasukkan flashdisk ke laptop.
Sebuah video muncul.
Ayah duduk di ruang kerjanya.
Wajahnya terlihat lebih kurus daripada yang kuingat.
“Nabila, kalau kamu menonton ini, berarti mungkin ada sesuatu yang membuatmu akhirnya mempertanyakan orang-orang di sekitarmu.”
Aku langsung menangis.
Suara Ayah memenuhi kamar rumah sakit.
“Ayah tidak membuat perlindungan ini karena tidak percaya kepadamu. Ayah membuatnya karena orang yang sedang jatuh cinta sering melihat kebaikan lebih cepat daripada melihat bahaya.”
Aku menutup mulut menahan tangis.
“Aset bisa dicari lagi. Uang bisa hilang dan kembali. Tapi jangan pernah mempertaruhkan hidupmu hanya demi mempertahankan orang yang membuatmu merasa harus terus mengalah agar pantas dicintai.”
Video berhenti.
Untuk beberapa menit, tidak ada seorang pun berbicara.
Aku memandang keluar jendela.
Jakarta bergerak seperti biasa di kejauhan. Mobil-mobil memenuhi jalan. Orang-orang pergi bekerja. Kehidupan terus berjalan seolah malam ketika keluargaku sendiri merayakan kematianku tidak pernah terjadi.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di ruang yang sama sekali berbeda.
Bukan ruang sidang.
Bukan kantor notaris.
Melainkan sebuah ruangan kecil di pusat bantuan hukum yang baru kubuka bersama Rani.
Sebagian dana yang dulu menjadi mahar pernikahanku kugunakan untuk membiayai pendampingan hukum bagi perempuan yang mengalami kekerasan ekonomi dan manipulasi aset dalam rumah tangga.
Perceraianku selesai.
Proses pidana terhadap Dimas dan pihak-pihak yang terlibat berjalan berdasarkan bukti yang ditemukan penyidik. Aku tidak lagi mengikuti setiap kabarnya.
Bu Ratna beberapa kali mencoba menghubungiku.
Intan juga mengirim pesan panjang meminta maaf.
Tidak satu pun kubalas.
Suatu sore, Fajar datang membawa kopi.
Ia melihat papan nama kantor lalu tersenyum.
“Kalau Ayah masih ada, dia pasti senang.”
Aku menggeleng pelan.
“Mungkin Ayah akan marah karena aku baru mengerti setelah hampir kehilangan nyawa.”
“Tidak.”
Fajar duduk di sebelahku.
“Ayah cuma ingin kamu akhirnya bisa melindungi dirimu sendiri.”
Aku memandang cincin pernikahan yang selama berbulan-bulan kusimpan di dalam laci.
Hari itu aku membawanya untuk terakhir kali.
Aku memasukkannya ke sebuah amplop bersama salinan surat perceraian.
Bukan untuk Dimas.
Aku menyimpannya sebagai pengingat.
Dulu aku berpikir lima belas miliar rupiah adalah mahar terbesar yang pernah diberikan Ayah kepadaku.
Aku salah.
Warisan terbesarnya bukan uang, rumah, atau perlindungan hukum yang ia susun diam-diam.
Warisan terbesarnya adalah satu pelajaran yang baru kupahami setelah mendengar orang-orang merayakan kematianku dari ranjang rumah sakit.
Bahwa keluarga tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengaku memiliki hak atas hidup kita.
Dan cinta tidak pernah meminta kita mati, secara harfiah maupun perlahan, agar orang lain bisa hidup nyaman dari apa yang kita miliki.
