Malam itu, di koridor rumah sakit, keluarga Budi berpesta pora di dalam pikiran mereka. Mereka sudah memesan katering mewah, bahkan sudah memilih desain kartu undangan untuk acara “doa bersama” yang sebenarnya adalah perayaan atas kematian Nadia.
Budi kembali ke luar ruangan dengan wajah yang dipoles sedemikian rupa agar terlihat sedih—wajah yang sudah ia latih di depan cermin. “Semuanya sudah siap. Besok pagi, saat jantungnya berhenti, kita langsung urus surat kematian dan kuasa waris. Ingat, jangan sampai ada pihak keluarga Nadia yang tahu, terutama ibunya,” bisik Budi kepada Ibu Lina dan Adi.

Nadia, yang mendengarkan melalui alat bantu dengar yang terhubung ke ponselnya, menggenggam sprei rumah sakit dengan erat. Ia tidak lagi menangis. Kini, yang ada hanyalah api pembalasan yang dingin.
Babak Terakhir: Sandiwara yang Berujung Petaka
Pagi harinya, suasananya terasa begitu mencekam namun penuh kemunafikan. Pihak rumah sakit, yang sudah dikoordinasikan oleh Pak Harun, tiba-tiba menyatakan bahwa kondisi Nadia “sangat kritis” dan harus segera dilakukan tindakan administrasi akhir.
Budi, Ibu Lina, dan Adi datang dengan pakaian rapi. Mereka tampak seperti pelayat yang paling berduka, padahal di dalam dompet mereka sudah terselip draf surat kuasa untuk mencairkan mahar 15 miliar tersebut. Di lobi rumah sakit, mereka disambut oleh Pak Harun yang berpura-pura menjadi perwakilan firma hukum yang akan mengurus “administrasi peninggalan” Nadia.
“Selamat pagi, Pak Budi,” sapa Pak Harun dengan senyum yang sangat sopan. “Karena kondisi Ibu Nadia sangat tidak memungkinkan, saya diminta oleh pihak rumah sakit untuk membantu proses peralihan aset secara cepat agar tidak terjadi sengketa di kemudian hari.”
Mata Budi berbinar. “Tentu, Pak. Kami adalah keluarga yang bertanggung jawab. Kami sangat berduka, tapi kami harus segera membereskan urusan ini demi ketenangan Nadia.”
Pak Harun menyerahkan sebuah dokumen tebal. “Silakan ditandatangani di sini, di sini, dan di sini. Setelah ditandatangani, seluruh hak atas mahar 15 miliar akan sah berpindah ke tangan Anda sebagai suami sah.”
Tanpa sedikit pun keraguan, Budi menandatangani dokumen tersebut dengan tangan yang bergetar karena nafsu. Ibu Lina dan Adi juga ikut menandatangani sebagai saksi. Mereka tertawa kecil di balik masker, merasa bahwa kemenangan sudah di tangan.
Namun, tepat saat tanda tangan terakhir dibubuhkan, pintu ruangan rawat Nadia terbuka lebar.
Kejutan yang Mematikan
Nadia berjalan keluar. Tidak ada lagi infus, tidak ada lagi perban yang menutupi wajahnya. Ia tampak bugar, mengenakan gaun formal, didampingi oleh dua orang petugas kepolisian dan beberapa notaris senior dari Jakarta.
Budi tersentak, pulpen yang ia pegang jatuh ke lantai. Wajahnya pucat pasi, seperti melihat hantu. “Na… Nadia? Kau… kau masih hidup?”
“Hidup dan sangat sadar, Budi,” jawab Nadia dengan suara yang tenang namun menusuk seperti belati.
Pak Harun melangkah maju, memungut dokumen yang baru saja ditandatangani Budi. “Tuan Budi, selamat. Anda baru saja menandatangani surat pengakuan utang, surat pernyataan telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap istri sah, serta dokumen pembatalan hak waris atas harta pribadi istri karena terbukti adanya tindakan kriminal.”
Budi terbelalak. “Apa? Tidak! Itu bohong!”
“Itu bukan bohong,” sahut seorang petugas polisi sembari menekan tombol play pada perangkat perekam. Suara Budi, suara Ibu Lina, dan suara Adi yang merencanakan pembunuhan serta pembagian uang 15 miliar itu menggema di seluruh lobi rumah sakit, didengar oleh para perawat dan pengunjung lainnya.
Ibu Lina jatuh terduduk. “Ini jebakan! Ini tidak sah!” teriaknya histeris.
“Ini sangat sah, Bu Lina,” potong Pak Harun. “Dokumen yang Anda tanda tangani tadi bukanlah dokumen ahli waris, melainkan akta notariil yang mencantumkan pengakuan Anda atas upaya pencelakaan Nadia. Dengan bukti rekaman dan pengakuan tertulis ini, polisi punya alasan kuat untuk melakukan penahanan seketika.”
Akhir dari Sebuah Keserakahan
Kepanikan melanda keluarga Budi. Mereka mencoba melarikan diri, namun polisi sudah mengepung pintu keluar. Nadia berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan iba, bukan karena kasihan, tetapi karena betapa kecilnya jiwa-jiwa yang selama ini mengelilinginya.
“Kalian meremehkan seorang wanita yang kalian pikir lemah karena uang,” ucap Nadia dingin. “Kalian lupa bahwa 15 miliar itu adalah milik keluarga saya. Uang yang kalian incar justru menjadi bukti bahwa kalian memiliki motif untuk membunuh saya. Rekaman itu? Itu adalah peluru yang kalian tembakkan ke kaki kalian sendiri.”
Hari itu, alih-alih merayakan kematian Nadia, keluarga Budi justru merayakan kehancuran mereka sendiri. Budi, sang sales mobil yang ingin hidup mewah, kini harus menghadapi jeruji besi selama belasan tahun. Ibu Lina dan Adi pun tidak luput dari dakwaan sebagai kaki tangan.
Nadia berjalan keluar dari rumah sakit, menembus cahaya matahari pagi yang cerah. Ia tidak memenangkan uang 15 miliar itu—uang itu memang sudah miliknya dari awal. Namun, ia telah memenangkan kembali harga dirinya, kebebasannya, dan hidupnya yang selama ini tersandera oleh parasit bernama keluarga.
Di belakangnya, sirine polisi meraung, membawa pergi orang-orang yang pernah ia sebut sebagai keluarga, menjauh dari hidupnya untuk selamanya. Nadia tersenyum tipis. Ternyata, kebenaran memang tidak butuh panggung yang megah; ia hanya butuh keberanian untuk menunjukkannya di saat yang paling tepat.
