Menyamar sebagai seorang asisten rumah tangga demi menguji calon menantunya sendiri, Bu Hartati sama sekali tidak menyangka bahwa lima hari menjelang pernikahan putra semata wayangnya, ia justru akan dipermalukan dengan seember air kotor di rumah yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun. Namun yang tidak diketahui Natasha adalah, satu tindakan gegabah itu bukan hanya menghancurkan rencana pernikahannya, melainkan juga membuka tabir penipuan senilai delapan belas miliar rupiah yang selama ini disembunyikan dengan sangat rapi.
Reno menuruni tangga dengan langkah yang terasa begitu berat. Wajahnya pucat, napasnya memburu, sementara matanya bergantian memandang ibunya yang basah kuyup dan Natasha yang kini kehilangan seluruh keberaniannya.
“Ibu… kenapa Ibu ada di sini?” suaranya bergetar.
Bu Hartati hanya menatap putranya beberapa detik.

“Aku ingin melihat sendiri perempuan yang akan menemanimu seumur hidup.”
Ruangan menjadi sunyi.
Natasha berusaha tersenyum.
“Sayang… ini semua salah paham. Aku tidak tahu kalau beliau…”
“Kalau aku benar-benar pembantu, apa yang kamu lakukan tadi tetap benar?” potong Bu Hartati pelan.
Natasha terdiam.
Tidak ada jawaban yang bisa keluar.
Video dari kamera kecil di bros Bu Hartati masih terus merekam.
Suara Natasha ketika menghina para pekerja, saat menjebak gelang emas, hingga ketika menyiram air kotor, semuanya terekam tanpa ada yang terlewat.
Reno menutup wajahnya.
Selama ini ia selalu menganggap para pegawai rumah membesar-besarkan cerita.
Kini kenyataan justru jauh lebih buruk.
“Aku… aku minta maaf, Bu…” Natasha mencoba mendekat.
Bu Hartati mengangkat tangan.
“Jangan sentuh saya.”
Nada suaranya tetap tenang.
Justru ketenangan itu membuat semua orang semakin merasa takut.
Bu Hartati menoleh kepada kepala rumah tangga yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan.
“Pak Darto.”
“Ya, Bu.”
“Tolong putar rekaman CCTV ruang tamu dan lorong belakang tiga hari terakhir.”
Natasha langsung menegang.
“Tidak perlu, Bu. Saya sudah mengaku salah.”
Bu Hartati tersenyum tipis.
“Kalau hanya soal menyiram air kotor, mungkin memang cukup dengan meminta maaf.”
“Tapi saya ingin memastikan apakah ini kesalahan pertama.”
Lima menit kemudian layar televisi besar di ruang keluarga menampilkan rekaman CCTV.
Satu demi satu kebiasaan Natasha muncul.
Ia menampar tangan koki hanya karena sausnya dianggap terlalu asin.
Ia memaki sopir karena mobil terlambat dua menit.
Ia menyuruh seorang petugas kebersihan membersihkan pecahan gelas dengan tangan kosong.
Bahkan ada rekaman ketika Natasha diam-diam mengambil amplop tip milik para pekerja dan memasukkannya ke dalam tasnya sendiri.
Reno memejamkan mata.
Perempuan yang selama ini dikenalnya lembut ternyata berubah menjadi orang lain setiap kali tidak ada dirinya.
Natasha mulai menangis.
“Aku… aku cuma stres.”
“Tiga minggu berturut-turut?” tanya Bu Hartati.
Tidak ada jawaban.
Bu Hartati mematikan layar televisi.
“Saya sudah mendapat jawaban yang saya cari.”
Ia melepas seragam pembantunya dan menyerahkannya kepada Pak Darto.
“Besok semua pegawai mendapatkan bonus tiga kali gaji.”
Seluruh pekerja saling berpandangan.
Mereka tahu kalimat itu berarti satu hal.
Bu Hartati mempercayai mereka.
Natasha masih mencoba bertahan.
“Bu, saya benar-benar mencintai Reno.”
Bu Hartati menghela napas.
“Mungkin.”
“Tapi kamu tidak menghormati manusia.”
“Dan orang yang tidak bisa menghormati manusia, tidak akan pernah bisa mencintai keluarga.”
Reno berjalan mendekati Natasha.
Matanya merah.
“Natasha.”
“Sayang, dengarkan aku dulu.”
“Apa semua ini benar?”
Natasha tidak langsung menjawab.
“Itu cuma…”
“Cukup.”
Suara Reno terdengar datar.
“Pernikahan kita dibatalkan.”
Kalimat itu membuat Natasha seperti kehilangan pijakan.
“Apa?”
“Aku tidak bisa menikahi seseorang yang memperlakukan orang lain seperti sampah.”
Natasha langsung berlutut.
“Jangan tinggalkan aku. Semua undangan sudah tersebar.”
“Itu bukan masalahku lagi.”
Reno berbalik meninggalkannya.
Hari itu juga seluruh persiapan pernikahan dihentikan.
Vendor-vendor menerima pemberitahuan pembatalan.
Natasha pulang ke apartemennya dengan wajah penuh amarah.
Namun baginya, kehilangan Reno bukanlah hal yang paling menakutkan.
Malam itu ia menerima telepon dari seseorang.
“Bagaimana? Sudah berhasil membuat Reno menandatangani surat kuasa perusahaan?”
Suara laki-laki di seberang terdengar tergesa.
Natasha mengepalkan tangan.
“Gagal.”
“Tidak mungkin gagal!”
“Ibunya menyamar menjadi pembantu.”
Telepon langsung terdiam.
Laki-laki itu adalah Kevin, kekasih lama Natasha.
Selama dua tahun terakhir mereka diam-diam masih menjalin hubungan.
Target mereka bukan cinta.
Melainkan kekayaan keluarga Hartati.
Kevin pernah bekerja sebagai analis keuangan di salah satu perusahaan investasi.
Melalui berbagai perusahaan cangkang, ia berhasil menyembunyikan utang hampir delapan belas miliar rupiah akibat kegagalan investasi kripto.
Satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah mendapatkan akses ke aset keluarga Hartati.
Natasha sengaja mendekati Reno.
Hubungan itu telah dirancang sejak awal.
Setelah menikah, ia akan membujuk Reno menjadi komisaris di sebuah perusahaan baru.
Di balik dokumen itu tersembunyi jaminan utang delapan belas miliar rupiah yang nantinya otomatis menjadi tanggung jawab perusahaan keluarga Hartati.
Selama ini semua berjalan sempurna.
Hingga Bu Hartati memutuskan menyamar.
Kevin mulai panik.
“Kita harus ambil semua dokumen.”
“Dari mana?”
“Rumah Reno.”
Natasha menggigit bibir.
Masih ada satu flashdisk yang pernah ia sembunyikan di ruang kerja Reno beberapa minggu sebelumnya.
Di dalamnya terdapat draft perjanjian yang belum sempat ditandatangani.
Malam berikutnya, saat rumah keluarga Hartati mulai sepi, Natasha diam-diam masuk menggunakan sidik jari lama yang masih tersimpan di sistem pintu digital.
Ia tidak tahu bahwa sejak sore Bu Hartati sudah meminta seluruh sistem keamanan diperbarui.
Begitu Natasha masuk ke ruang kerja, lampu otomatis menyala.
“Ternyata benar.”
Suara Bu Hartati terdengar dari belakang.
Natasha membeku.
Di ruangan itu sudah ada Reno, dua petugas keamanan, seorang notaris, dan dua penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi.
“Sedang mencari ini?”
Bu Hartati mengangkat sebuah flashdisk.
Natasha langsung pucat.
“Sejak kamu pertama kali meminta Reno menandatangani dokumen investasi itu, tim audit kami sudah mulai memeriksa latar belakangmu.”
Layar monitor dinyalakan.
Muncul puluhan transaksi mencurigakan.
Rekening perusahaan kosong.
Transfer ke luar negeri.
Nama-nama perusahaan fiktif.
Hingga rekaman CCTV sebuah kafe tempat Natasha bertemu Kevin.
“Semuanya sudah kami miliki.”
Natasha mulai gemetar.
“Itu bukan…”
Pintu kembali terbuka.
Kevin digiring masuk dengan tangan diborgol.
Wajahnya dipenuhi kepanikan.
“Semuanya sudah selesai, Natasha.”
Polisi menemukan komputer Kevin beberapa jam sebelumnya.
Di dalamnya terdapat seluruh rencana penipuan.
Termasuk daftar aset keluarga Hartati yang ingin mereka kuasai.
Nilainya mencapai delapan belas miliar rupiah.
Natasha terduduk lemas.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Reno, topengnya benar-benar hancur.
Beberapa bulan kemudian, persidangan berlangsung terbuka.
Kevin dijatuhi hukuman penjara karena penipuan, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen.
Natasha dinyatakan bersalah atas persekongkolan tindak pidana ekonomi serta percobaan penipuan.
Semua aset hasil kejahatan mereka disita negara.
Setelah semuanya berakhir, Reno memilih mengundurkan diri sementara dari perusahaan.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya.
Suatu sore mereka duduk di taman rumah.
“Aku hampir kehilangan semuanya karena terlalu percaya pada wajah yang terlihat baik,” kata Reno lirih.
Bu Hartati tersenyum sambil menuangkan teh.
“Semua orang bisa berpura-pura sopan kepada orang yang mereka butuhkan.”
“Kalau ingin mengenal hati seseorang, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya apa-apa.”
Beberapa meter dari sana, para pekerja rumah tertawa bersama menikmati acara makan sore yang sengaja diadakan Bu Hartati.
Tidak ada lagi jarak antara pemilik rumah dan mereka yang selama ini membantu menjaga rumah itu tetap hidup.
Bu Hartati memandangi wajah-wajah mereka dengan rasa syukur.
Hari itu ia tidak hanya menyelamatkan putranya dari pernikahan yang salah.
Ia juga menyelamatkan warisan puluhan tahun kerja keras keluarganya dari penipuan yang hampir merenggut delapan belas miliar rupiah.
Dan semua itu terbongkar bukan karena penyelidikan yang rumit, melainkan karena satu ember air kotor yang disiramkan kepada orang yang salah.
