Miliarder Itu Berpura-pura Tidur untuk Menguji Putri Kecil Asisten Rumah Tangganya—Namun Saat Aku Membuka Mata, Wajahku Dipenuhi Cat, dan Hatikulah yang Benar-Benar Hancur

Maria membeku di tempatnya, jemarinya mencengkeram erat tali tas kerjanya seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaga kewarasannya di tengah badai yang ia yakini akan segera meledak. Di dunia tempat aku hidup, dunia para miliarder yang dikelilingi oleh para direktur licik, penasihat hukum berpembawaan dingin, dan mitra bisnis yang selalu menghitung keuntungan dalam setiap kedipan mata, sebuah kesalahan kecil seperti coretan cat air di wajah seorang penguasa properti bernilai miliaran dolar adalah alasan yang lebih than cukup untuk menghancurkan hidup seseorang. Aku tahu betul bagaimana cara kerja dunia itu. Aku telah memecat orang-orang hanya karena mereka salah menempatkan dokumen di atas meja mahoni seharga sepuluh ribu dolar, atau karena mereka tidak cukup cepat membukakan pintu mobilku saat hujan deras mengguyur pusat kota Nashville.

Namun, ketika kuas kecil yang basah itu menyentuh ujung hidungku sekali lagi, meninggalkan goresan warna biru langit yang cerah tepat di atas bibirku, tidak ada rasa marah yang bergejolak di dalam dadaku. Yang ada justru sebuah kehampaan yang perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh kehangatan asing yang sudah lama sekali tidak diizinkan masuk ke balik dinding-dinding pertahanan jiwaku.

“Sophia, jangan!” suara Maria bergetar hebat, nyaris seperti bisikan yang nyaris mati di tenggorokan. Perempuan itu melangkah maju dengan tergesa-gesa, lututnya nyaris lemas saat ia berlutut di sebelah karpet wol tebal tempat putrinya duduk bersila. Ia meraih tangan kecil Sophia, mencoba merebut kuas itu dengan gerakan panik yang penuh ketakutan akan kehilangan pekerjaan satu-satunya yang bisa membiayai sewa apartemen kecil mereka di pinggiran kota. “Maafkan anak saya, Tuan Cole. Demi Tuhan, dia tidak bermaksud… dia hanya anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Saya akan ganti rugi, saya akan membersihkan semuanya sekarang juga, tolong jangan pecat saya…”

Aku menatap Maria. Wajah perempuan itu pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah kapan saja. Di balik ketakutan itu, aku melihat bayangan diriku sendiri bertahun-tahun lalu—seorang anak lelaki yang berdiri di sudut ruangan yang sama, gemetar ketakutan setiap kali ayahnya membentur meja karena bisnis yang merugi. Uang memang tidak pernah melahirkan kejujuran; uang hanya mengajarkan kita cara berlari lebih cepat dari ketakutan akan kemiskinan. Dan Maria, dengan segala kerendahan hatinya, sedang berlari sekencang-kencangnya untuk melindungi dunia kecilnya yang rapuh dari amarah seorang pria kaya raya yang dianggapnya tak tersentuh.

Namun Sophia tidak merasa bersenjata. Bocah berambut ikal itu justru mengerutkan keningnya, menatap ibunya dengan tatapan bingung yang polos. Ia melepaskan genggaman Maria dengan lembut, lalu kembali menatapku, tepat di mataku yang masih berhiaskan matahari kuning dan kupu-kupu biru.

“Ibu jangan takut,” kata Sophia dengan suara kecilnya yang terdengar begitu jernih di dalam ruangan yang luas itu. “Om Rumah tidak marah. Wajah Om tadi kelihatan sedih sekali, seperti Noodle waktu kepalanya hampir putus digigit anjing tetangga. Kalau sedih, harus diwarnai biar jadi pelangi. Kata Bu Guru di paut, pelangi itu hadiah setelah hujan.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja, polos tanpa beban, namun berhasil menghujam tepat di jantungku. Seseorang yang mengenalku sebagai raksasa industri properti tidak akan pernah berani berkata demikian. Para pemegang saham melihatku sebagai mesin pencetak uang. Para wanita yang datang ke pesta-pesta eksklusifku melihatku sebagai trofi berjalan. Bahkan mantan tunanganku, seorang model papan atas yang meninggalkanku dua tahun lalu demi pewaris pabrik baja di Chicago, pernah mengatakan bahwa hatiku terbuat dari beton bertulang yang tidak akan pernah bisa retak oleh apa pun.

Tetapi di sini, di atas karpet seharga mobil mewah, seorang anak berusia tiga tahun dengan kuas murah seharga dua dolar berhasil membobol benteng pertahanan itu tanpa perlawanan berarti.

Aku perlahan mengangkat tanganku. Gerakan itu membuat Maria semakin menahan napasnya, mengira aku akan mengusir mereka detik itu juga. Namun aku tidak menepis tangan Sophia. Aku justru mengulurkan jari telunjukku, menyentuh pipi anak itu yang bernoda cat merah muda, lalu mengusapnya perlahan.

“Kau benar, Sophia,” suaraku terdengar serak, nyaris asing di telingaku sendiri setelah berhari-hari hanya berbicara melalui sambungan telepon atau rapat tertutup. “Om memang sedang sedih. Dan rumah ini… rumah ini sangat dingin.”

Maria terdiam. Ia menatap tanganku yang menyentuh putrinya, lalu beralih menatap mataku. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai bekerja di rumah ini dua minggu lalu, tidak ada topeng profesionalisme yang kaku di wajah perempuan itu. Yang terlihat hanya kelelahan seorang ibu tunggal yang berjuang sendirian di tengah kota asing, bergelut dengan jadwal lembur demi menyekolahkan anaknya, sementara aku duduk di singgasana kemewahanku sambil meratapi kesunyian yang kuciptakan sendiri.

“Tuan Cole…” Maria berbisik pelan, suaranya terdengar begitu rapuh. “Saya bisa pergi sekarang. Anda tidak perlu melihat kekacauan ini.”

“Tetaplah di sini, Maria,”kataku sambil bangkit berdiri dari sofa kulit yang empuk. Bayanganku di cermin dinding besar memperlihatkan sosok seorang miliarder dengan wajah penuh coretan cat air warna-warni, tampak begitu konyol sekaligus sangat hidup. Aku tidak pernah merasa sekebebas ini seumur hidupku. “Dan kau, Sophia… apakah lukisan ini sudah selesai?”

Sophia tersenyum lebar, menampakkan gigi depannya yang sedikit tanggal. Ia menggelengkan kepalanya dengan antusias. “Belum! Di jidat Om masih kurang gambar roket. Biar Om bisa terbang ke luar angkasa kalau sedihnya datang lagi.”

Aku tertawa. Sebuah tawa renyah yang rasanya sudah puluhan tahun tidak pernah keluar dari tenggorokanku. Suara itu menggema di lorong-lorong panjang rumahku, memantul di dinding marmer dan lampu-lampu kristal, mengusir setiap sudut kesunyian yang selama ini menghimpit dadaku. Untuk pertama kalinya, rumah seluas empat belas ribu kaki persegi ini tidak lagi terasa seperti makam megah yang dihiasi harta karun, melainkan tempat di mana sebuah keluarga kecil—meskipun hanya untuk sementara—sedang membiarkan cahaya masuk melalui celah-celah kecil yang tak terduga.

Malam itu, hujan di luar Nashville perlahan reda. Jamuan makan penting yang seharusnya dihadiri Maria terlewatkan begitu saja karena ia memutuskan untuk tetap tinggal di dapurku, menyeduh teh hangat sementara Sophia tertidur pulas di atas sofa ruang duduk dengan Noodle dipeluk erat di dadanya. Aku duduk di seberang Maria, masih dengan wajah penuh cat warna-warni yang sengaja tidak kubersihkan, menikmati secangkir teh celup murah yang rasanya jauh lebih nikmat daripada anggur berharga ribuan dolar di ruang bawah tanahku.

Di dunia luar, aku tetaplah Ethan Cole, sang penguasa properti yang tak tersentuh, seorang pria kaya raya yang memiliki segalanya. Namun di dalam ruangan itu, di bawah temaram lampu meja dan sisa-sisa cat air yang mengering di kulitku, aku menyadari satu hal yang selama ini salah kuartikan. Uang memang bisa membeli bangunan tertinggi, mobil tercepat, dan keamanan terbaik di dunia. Tetapi uang tidak pernah bisa membeli senyuman tulus yang menyembuhkan luka di dalam dada.

Dan semua itu kutemukan bukan dari para rekan bisnis yang menjilat di balik jas mahal mereka, melainkan dari tangan mungil seorang anak perempuan asisten rumah tangga yang mengira wajahku hanyalah selembar kanvas kosong yang membutuhkan sedikit warna untuk kembali hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang