Aku membuka pintu ruang makan tepat ketika Dimas hendak membawa kotak kayu itu pergi.
Semua orang membeku.
Naya yang tadi duduk di samping Bu Lestari langsung berdiri. Wajahnya pucat. Dimas justru memeluk kotak itu semakin erat, seolah benda kecil tersebut jauh lebih berharga daripada apa pun di rumah kami.
Aku menatap mereka satu per satu.
“Surat apa yang kalian sembunyikan?”
Tidak ada jawaban.

“Jawab Ayah, Dimas.”
Dimas menunduk.
Naya mulai menangis.
Bu Lestari melangkah maju dan berdiri di depan kedua anakku.
“Pak Raka,” katanya pelan, “kalau Bapak ingin tahu semuanya, jangan tanyakan di depan anak-anak.”
Aku menahan amarah.
“Kenapa?”
Bu Lestari menoleh ke lorong belakang.
Saat itulah suara pintu garasi terdengar terbuka.
Seseorang baru saja masuk.
Wajah Bu Lestari berubah.
“Mereka datang lebih cepat.”
“Siapa?”
Belum sempat dia menjawab, terdengar suara laki-laki dari arah dapur.
“Lestari?”
Aku mengenali suara itu.
Pak Hendra.
Kakak kandung mendiang istriku.
Beberapa detik kemudian, Hendra muncul bersama seorang perempuan berkacamata yang membawa tas dokumen. Hendra berhenti ketika melihatku.
“Raka?”
Aku menatapnya tajam.
“Kalian sedang apa di rumahku?”
Hendra tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih kepada Bu Lestari, lalu kepada kotak di tangan Dimas.
“Kamu belum pergi?”
Bu Lestari menggeleng.
“Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.”
Aku semakin bingung.
“Meninggalkan anak-anakku dari apa?”
Hendra mengembuskan napas panjang.
“Raka, sebaiknya kita bicara.”
“Tidak. Kita bicara sekarang.”
Aku menunjuk kotak kayu itu.
“Itu milik Maya. Kenapa ada pada Dimas?”
Hendra menatap perempuan di sampingnya.
“Bu Sinta, tolong tunggu sebentar.”
Perempuan itu mengangguk.
Aku mengenalnya samar-samar. Sinta Prameswari, notaris yang pernah menangani beberapa dokumen keluarga Maya.
Bu Lestari mendekati Dimas.
“Berikan kepada ayahmu.”
Dimas mundur.
“Jangan.”
“Dimas.”
“Kalau Ayah baca, Ayah akan marah sama Ibu.”
Aku terdiam.
Ibu?
Aku menatap Bu Lestari.
Dimas langsung sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Wajahnya pucat.
Bu Lestari menutup mata.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Apa yang barusan kamu panggil dia?”
Dimas tidak menjawab.
Naya menangis semakin keras.
“Jangan marahi Dimas, Yah.”
Aku memandang kedua anakku.
Selama dua tahun terakhir, aku sibuk memastikan mereka memiliki semuanya.
Sekolah terbaik.
Pengasuh.
Sopir.
Dokter keluarga.
Liburan.
Mainan.
Tetapi sekarang aku menyadari ada sesuatu yang bahkan tidak kuketahui tentang kehidupan mereka di rumah sendiri.
“Berikan kotaknya.”
Kali ini suaraku lebih pelan.
Dimas akhirnya menyerahkannya.
Tanganku gemetar ketika menyentuh permukaan kayu itu.
Aku mengenali goresan kecil di bagian tutupnya. Maya pernah menjatuhkannya ketika kami pindah rumah sebelas tahun lalu.
Aku membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa foto, sebuah flashdisk, gelang rumah sakit, dan tiga amplop.
Amplop paling atas bertuliskan namaku.
Untuk Raka.
Tulisan tangan Maya.
Lututku hampir kehilangan tenaga.
Aku membuka surat itu.
Raka,
kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.
Aku berhenti.
Tulisan itu mulai kabur karena mataku dipenuhi air.
Aku melanjutkan.
Ada satu hal yang selama bertahun-tahun tidak berani kukatakan kepadamu. Bukan karena aku tidak percaya kepadamu, tetapi karena aku takut kehilangan keluarga yang sudah kita bangun.
Aku menatap Hendra.
“Apa ini?”
“Baca sampai selesai.”
Aku kembali membaca.
Lestari bukan orang asing bagiku. Dia adikku.
Aku menoleh cepat kepada Bu Lestari.
Perempuan itu menunduk.
Tidak mungkin.
Selama hampir tiga tahun bekerja di rumah kami, aku mengenalnya hanya sebagai Lestari Wulandari, seorang janda asal Solo yang direkomendasikan agen tenaga kerja.
Maya tidak pernah mengatakan memiliki adik perempuan.
Aku melanjutkan.
Ayah tidak pernah mengakui Lestari sebagai anaknya. Ibu melahirkannya dari hubungan sebelum menikah dengan Ayah. Setelah Kakek meninggal, keluarga memisahkan kami. Lestari dibesarkan oleh kerabat di Solo. Aku menemukannya lagi ketika Naya berusia tiga tahun.
Tanganku semakin gemetar.
Aku menatap Hendra.
“Kamu tahu?”
Hendra mengangguk.
“Sejak lama.”
“Dan kalian menyembunyikannya dariku?”
“Maya yang meminta.”
“Kenapa?”
Bu Lestari akhirnya bicara.
“Karena saya tidak ingin apa pun dari keluarga ini.”
Aku menatapnya.
Dia tidak lagi terlihat seperti pembantu rumah tangga.
Tiba-tiba aku melihat kemiripan yang selama ini tidak kusadari.
Cara dia menundukkan kepala.
Bentuk matanya.
Bahkan senyum kecil yang selalu muncul ketika Naya bercerita.
Semuanya mengingatkanku pada Maya.
Aku membaca bagian berikutnya.
Kalau sesuatu terjadi kepadaku, aku ingin Lestari tetap dekat dengan anak-anak. Bukan sebagai pengganti diriku, bukan juga untuk mengambil apa pun. Aku hanya ingin anak-anak kita tetap memiliki seseorang dari keluargaku yang mencintai mereka tanpa syarat.
Aku berhenti.
“Kenapa dia harus menyamar sebagai pembantu?”
Kali ini Bu Sinta yang menjawab.
“Karena setelah Bu Maya meninggal, ada masalah dengan warisan keluarga.”
Aku menoleh kepadanya.
“Warisan apa?”
Bu Sinta membuka tasnya.
“Sebagian besar saham perusahaan milik keluarga almarhumah sebenarnya diwariskan kepada Naya dan Dimas. Nilainya sekarang sekitar dua ratus delapan puluh miliar rupiah.”
Aku menatap Hendra.
“Kamu bilang saham itu sudah dijual untuk membayar utang perusahaan.”
“Itulah yang ingin kami bicarakan.”
Hendra mengeluarkan sebuah map.
“Seseorang mencoba memalsukan persetujuan pengalihan saham.”
“Siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu terdengar langkah kaki lagi dari garasi.
Kali ini seorang laki-laki muncul di ambang pintu.
Aku langsung mengenalinya.
Arman.
Adik kandungku sendiri.
Dia tersenyum ketika melihat kami.
“Wah, lengkap ternyata.”
Aku menatapnya.
“Kamu ngapain di sini?”
Arman memasukkan tangan ke saku celana.
“Aku dapat telepon dari satpam. Katanya mobil Hendra masuk.”
Bu Lestari langsung menarik Naya dan Dimas mendekat.
Aku melihat gerakan itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku memahami ketakutannya.
“Arman,” kataku, “kamu tahu soal saham anak-anak?”
Senyumnya menghilang.
“Jangan mulai percaya omong kosong mereka.”
Bu Sinta mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Kami menemukan permohonan pengalihan saham dengan tanda tangan Pak Raka.”
Aku mengambilnya.
Tanda tangannya terlihat seperti milikku.
Tapi bukan.
Aku tahu bagaimana tanganku membentuk huruf R.
Ini tiruan.
Aku menatap Arman.
Dia tertawa pendek.
“Kamu serius mau menuduh aku?”
Bu Lestari maju.
“Saya melihat Bapak masuk ke ruang kerja Pak Raka tiga bulan lalu.”
Arman menatapnya dingin.
“Kamu cuma pembantu.”
“Aku juga melihat kamu mengambil stempel perusahaan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arman mendekati Bu Lestari.
“Jaga mulutmu.”
Aku berdiri di antara mereka.
“Jangan sentuh dia.”
Arman berhenti.
Mungkin untuk pertama kalinya dia melihat sesuatu dalam wajahku yang membuatnya sadar aku tidak sedang bercanda.
Bu Sinta mengangkat ponselnya.
“Semua bukti sudah disalin dan diserahkan kepada pengacara. Jadi tidak ada gunanya mengambil dokumen di sini.”
Wajah Arman berubah.
“Kalian jebak aku?”
“Tidak,” jawab Hendra. “Kami hanya menunggu sampai bukti cukup.”
Arman menatapku.
“Kak, dengar dulu. Aku melakukan ini buat perusahaan kita.”
“Dengan mencuri hak anak-anakku?”
“Kamu bahkan tidak tahu cara mengurus mereka!”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Aku ingin membantah.
Tetapi tidak bisa.
Arman menunjuk Naya dan Dimas.
“Kamu tahu Dimas pernah demam empat puluh derajat waktu kamu ke Singapura? Kamu tahu Naya tiga bulan nggak mau tidur sendirian setelah Maya meninggal?”
Aku menoleh kepada anak-anakku.
Mereka diam.
“Kamu tahu siapa yang ada di samping mereka?”
Arman tertawa getir.
“Pembantu itu.”
Aku menatap Bu Lestari.
Dia menunduk.
Arman pergi setelah Hendra mengatakan polisi sedang menuju rumah. Aku tidak mengejarnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak peduli pada perusahaan, saham, atau nama keluarga.
Aku hanya memandang kedua anakku.
“Naya.”
Dia tidak menatapku.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Naya mengusap air matanya.
“Ayah selalu sibuk.”
Kalimat sederhana itu menghancurkanku.
“Ayah bisa pulang kalau kalian telepon.”
Naya akhirnya menatapku.
“Dulu aku pernah telepon.”
Aku terdiam.
“Kapan?”
“Waktu Dimas demam.”
Aku mencoba mengingat.
Ada begitu banyak panggilan.
Begitu banyak rapat.
Begitu banyak pesan yang kubalas dengan kalimat yang sama.
Ayah sedang kerja. Nanti Ayah telepon lagi.
“Ayah tidak angkat,” katanya.
Aku tidak punya jawaban.
Bu Lestari berjongkok di depan Naya.
“Kalian ikut Om Hendra dulu.”
“Tidak.”
Naya memeluknya.
Dimas ikut memeluk pinggang Bu Lestari.
“Jangan pergi.”
Pemandangan itulah yang sebenarnya kulihat ketika pulang lebih awal.
Bukan dua anak yang terlalu dekat dengan seorang pembantu.
Aku sedang melihat dua anak yang takut kehilangan orang yang selama ini hadir ketika ayah mereka tidak ada.
Aku membuka amplop kedua.
Untuk Naya dan Dimas.
Aku tidak membacanya.
Itu bukan milikku.
Namun ada satu amplop lagi.
Untuk Lestari.
Aku menyerahkannya.
Bu Lestari menggeleng.
“Saya sudah membacanya.”
“Isinya apa?”
Air matanya jatuh.
“Mbak Maya meminta saya berjanji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan pernah membiarkan anak-anak merasa tidak punya ibu.”
Aku menutup mata.
Dada yang sejak pagi terasa berat akhirnya pecah.
Aku menangis.
Bukan tangis diam-diam yang bisa kusembunyikan dengan membalikkan badan.
Aku menangis di depan anak-anakku.
Di depan Hendra.
Di depan perempuan yang selama bertahun-tahun kupanggil pembantu.
Aku berlutut di lantai.
“Naya, Dimas, maafkan Ayah.”
Naya menatapku seperti tidak pernah melihatku seperti itu sebelumnya.
“Ayah nggak marah sama Bu Lestari?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Dia bohong sama Ayah.”
“Ayah juga bohong.”
Naya mengernyit.
“Ayah selalu bilang semua yang Ayah lakukan untuk kalian.”
Aku menatap wajahnya.
“Ternyata Ayah melakukan banyak hal supaya Ayah sendiri tidak merasa bersalah karena jarang ada bersama kalian.”
Dimas berjalan mendekat.
“Kalau Bu Lestari bukan pembantu, berarti dia siapa?”
Aku memandang perempuan itu.
“Dia adik ibumu.”
Dimas berpikir beberapa detik.
“Berarti Tante?”
Bu Lestari tertawa sambil menangis.
“Iya.”
Dimas langsung memeluknya lagi.
“Tante Lestari jangan pergi.”
Aku berdiri.
“Dia tidak akan pergi.”
Bu Lestari menatapku.
“Pak Raka…”
“Kalau kamu mau tinggal, tinggal sebagai keluarga.”
Enam bulan kemudian, kasus pemalsuan dokumen Arman masuk ke pengadilan. Aku mundur sementara dari jabatan direktur utama dan menyerahkan operasional perusahaan kepada tim profesional.
Banyak orang menganggap aku gila.
Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli.
Aku mulai mengantar Dimas ke sekolah dua kali seminggu. Setiap Jumat malam, ponselku dimatikan selama makan malam. Naya bahkan membuat aturan bahwa laptop dilarang berada di meja makan.
Rumah kami perlahan berubah.
Suara pendingin ruangan masih ada.
Tetapi sekarang kalah oleh suara tawa.
Suatu malam, aku menemukan Naya duduk sendirian di ruang kerja Maya sambil memegang surat ibunya.
“Ayah.”
“Hm?”
“Aku baru baca surat Mama.”
Aku duduk di sampingnya.
“Apa katanya?”
Naya tersenyum.
“Mama bilang ada rahasia terakhir yang cuma boleh aku kasih tahu Ayah kalau Ayah sudah berubah.”
Aku tertawa kecil.
“Sekarang Ayah sudah berubah?”
“Lumayan.”
Dia menyerahkan selembar kertas.
Aku membukanya.
Hanya ada beberapa baris tulisan Maya.
Raka, kalau akhirnya kamu membaca ini, berarti anak-anak sudah memaafkanmu.
Ada satu hal yang belum pernah kukatakan.
Hari ketika dokter memberitahuku waktuku tidak lama lagi, aku tidak takut mati.
Aku hanya takut kamu akan terus hidup seperti orang yang tidak punya waktu untuk mencintai.
Karena itu aku meminta Lestari datang.
Bukan untuk menjaga anak-anak dari dunia.
Tetapi untuk menjaga mereka sampai suatu hari kamu kembali menjadi ayah mereka.
Aku menurunkan surat itu.
Air mataku kembali jatuh.
Naya menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dari ruang makan terdengar suara Dimas memanggil.
“Ayah! Tante! Makanannya dingin!”
Aku tertawa di tengah tangis.
“Datang!”
Aku berdiri dan menggenggam tangan Naya.
Saat kami berjalan keluar, aku melihat foto Maya di atas meja.
Dulu aku berpikir warisan terbesar yang ditinggalkannya adalah rumah, saham, dan kekayaan untuk anak-anak.
Ternyata aku salah.
Warisan terbesar Maya adalah seseorang yang menjaga keluargaku tetap utuh sampai aku akhirnya mengerti bahwa anak-anak tidak akan mengingat berapa banyak uang yang kita tinggalkan untuk mereka.
Mereka akan mengingat siapa yang duduk di samping mereka ketika mereka takut.
Siapa yang menjawab ketika mereka memanggil.
Dan siapa yang memilih pulang ketika masih ada waktu.
