Namaku Mateo. Usia tiga puluh lima tahun. Selama lima tahun terakhir, hidupku hanya mengenal dua hal: panasnya gurun Arab Saudi dan kerinduan yang tak pernah selesai kepada istriku, Lira, serta putra kami, Leo. Setiap tetes keringat yang jatuh di lokasi proyek selalu kubayangkan berubah menjadi masa depan yang lebih baik untuk mereka. Aku rela melewatkan ulang tahun anakku, hari jadi pernikahan kami, bahkan saat Lira melahirkan demam tinggi dan harus dirawat sendirian. Semua pengorbanan itu kulakukan demi satu impian sederhana, pulang sebagai suami dan ayah yang mampu memberikan kehidupan layak.
Karena saat berangkat aku belum memiliki rekening bank, seluruh gajiku kutransfer ke rekening ibuku, Doña Carmen. Setiap bulan, tepat seratus ribu peso masuk ke rekeningnya. Aku selalu mengirim pesan yang sama.
“Pastikan Lira dan Leo tidak kekurangan apa pun. Mereka adalah tanggung jawabku.”
Mama selalu menjawab dengan kalimat yang membuatku tenang.
“Jangan khawatir. Lira hidup nyaman. Leo sekolah di tempat terbaik.”

Valerie, adikku, bahkan sering mengirim foto rumah mewah yang sedang dibangun. Aku melihat sofa baru, televisi besar, taman yang indah. Aku percaya semuanya. Tidak sedikit pun aku membayangkan bahwa foto-foto itu hanya memperlihatkan sisi yang sengaja dipoles.
Kontrakku selesai enam bulan lebih cepat. Aku sengaja tidak memberi tahu siapa pun. Aku ingin melihat wajah mereka saat aku berdiri di depan pintu rumah.
Namun kejutan yang kusiapkan justru berubah menjadi mimpi buruk.
Saat melihat Lira menyuapi Leo dengan nasi basi yang sudah dicuci, seluruh tubuhku gemetar.
“Lira…”
Suara itu membuat sendok di tangannya jatuh.
Ia menoleh perlahan.
Wajahnya yang dulu selalu ceria kini tampak kurus. Tulang pipinya menonjol. Di sudut bibirnya masih terlihat bekas luka lama.
“Mateo…”
Ia tidak langsung berlari memelukku.
Justru ia mundur selangkah, seolah takut sedang bermimpi.
Leo menatapku dengan mata bingung.
“Ibu… siapa Om itu?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam daripada pisau.
Anakku sendiri tidak mengenal ayahnya.
Aku berlutut.
“Ayah, Nak… Ayah pulang.”
Leo masih ragu. Lira menangis tersedu-sedu sambil memeluknya.
“Leo… ini Ayah. Ayah benar-benar pulang.”
Beberapa detik kemudian, anakku berlari dan memeluk leherku sekuat tenaga.
Tangis kami bertiga pecah di dapur belakang yang lembap itu.
Belum sempat aku bertanya apa pun, suara tawa dari ruang tamu terdengar semakin keras.
Lira langsung panik.
“Jangan masuk sekarang.”
“Kenapa?”
“Mereka akan marah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Rumah ini milikku.”
Lira hanya menggeleng.
“Bukan lagi menurut mereka.”
Kalimat itu membuat darahku mendidih.
Aku menggenggam tangan Lira dan Leo.
“Kalian ikut aku.”
Kami berjalan menuju ruang tamu.
Begitu pintu terbuka, musik langsung berhenti.
Mama sedang duduk di sofa mewah bersama Valerie dan beberapa tamu. Mereka tertawa sambil menikmati makanan laut mahal dan minuman impor.
Semua mata tertuju kepadaku.
Gelas di tangan Valerie jatuh.
“M… Mateo?”
Mama berdiri dengan wajah pucat.
“Kamu… kenapa tidak bilang kalau pulang?”
Aku memandang meja makan yang penuh makanan.
Lalu kuingat Leo tadi meminta sepotong ayam.
“Ayah…”
Leo menatap ayam panggang di meja dengan mata berbinar.
Belum sempat ia mendekat, Valerie langsung menarik piring itu.
“Jangan sentuh! Itu untuk tamu.”
Tanganku mengepal.
Aku menarik kursi dan mendudukkan Leo.
“Mulai hari ini, anakku makan apa pun yang dia inginkan.”
Valerie hendak berteriak.
Mama menahannya.
“Mateo, ini bisa dijelaskan.”
“Bagus. Aku memang datang untuk mendengar penjelasan.”
Suasana berubah sunyi.
Aku memandang Lira.
“Ceritakan semuanya.”
Lira menggeleng.
Mama lebih dulu berbicara.
“Lira terlalu boros. Uangmu habis untuk belanja.”
Aku tersenyum tipis.
“Benarkah?”
Mama mengangguk cepat.
“Iya.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah menghubungi bank sebelum pulang.”
Wajah Mama berubah.
“Semua mutasi rekening sudah kukirim ke emailku.”
Valerie mulai gelisah.
Aku membuka satu per satu transaksi.
Transfer ke dealer mobil.
Pembelian perhiasan.
Liburan ke Bali.
Pembayaran apartemen.
Semuanya atas nama Valerie.
Tak ada satu pun transaksi menuju rekening Lira.
Ruangan menjadi sunyi.
Mama mencoba merebut ponselku.
“Jangan percaya data itu.”
Aku mengeluarkan map lain.
“Ini sertifikat rumah.”
Mama langsung tersenyum.
“Nah, benar. Rumah ini memang milik keluarga.”
Aku membalik halaman terakhir.
“Pemilik tunggal: Mateo Alvarez.”
Senyum Mama perlahan hilang.
“Tapi…”
“Dan ini surat kuasa.”
Aku menunjukkan dokumen lain.
“Tidak pernah ada surat yang memberimu hak memiliki rumah ini.”
Valerie mulai menangis.
Mama masih mencoba bertahan.
“Kami hanya menjaga semuanya.”
Aku menatap mata ibuku.
“Menjaga? Dengan membiarkan cucumu makan nasi basi?”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Seorang tamu tiba-tiba berdiri.
“Carmen… bukankah selama ini kamu bilang menantumu kabur dengan laki-laki lain?”
Semua tamu saling berpandangan.
Aku menoleh ke Lira.
“Apa itu benar?”
Lira mengangguk pelan.
“Mama menyebarkan cerita kalau aku selingkuh supaya tetangga tidak bertanya kenapa aku selalu dipaksa tinggal di dapur belakang.”
Hatiku remuk.
“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”
Lira tersenyum pahit.
“Setiap surat yang kukirim katanya sudah dikirim. Setiap kali aku minta nomor teleponmu yang baru, Mama bilang kamu tidak mau diganggu.”
Aku langsung mengerti.
Selama lima tahun, semua komunikasi kami diputus.
Aku menoleh kepada Mama.
“Kau mencuri uangku.”
Ia diam.
“Kau menghancurkan rumah tanggaku.”
Ia tetap diam.
“Kau membuat anakku kelaparan.”
Air mata mulai jatuh dari wajahnya.
Tetapi kali ini aku tidak bisa lagi luluh.
Aku menghubungi pengacaraku yang memang sudah kusiapkan sejak mendarat.
“Saya ingin proses pengosongan rumah dimulai malam ini.”
Mama langsung berlutut.
“Mateo… Mama ibumu.”
Aku memejamkan mata.
“Karena itu aku tidak melaporkanmu lima tahun lalu. Tapi malam ini aku harus menjadi ayah sebelum menjadi anak.”
Polisi datang sekitar empat puluh menit kemudian bersama petugas keamanan kompleks.
Semua tamu pulang dalam diam.
Mama dan Valerie hanya diberi waktu mengambil barang pribadi.
Sebelum keluar, Valerie menoleh.
“Kalau bukan karena kami, rumah ini tidak akan berdiri.”
Aku menjawab tenang.
“Rumah ini berdiri karena lima tahun keringatku.”
Malam itu akhirnya hanya ada kami bertiga di dalam rumah.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Leo makan ayam sampai kenyang.
Ia tertidur di pangkuanku.
Lira duduk di sampingku sambil memegang tanganku erat.
“Aku pikir kamu tidak akan pernah percaya padaku.”
Aku mencium dahinya.
“Maaf karena terlalu percaya kepada orang lain.”
Beberapa minggu kemudian, kami mulai menata hidup dari awal.
Leo masuk sekolah yang layak.
Lira membuka usaha katering kecil.
Aku kembali bekerja sebagai konsultan teknik di Jakarta agar tidak perlu jauh dari keluarga.
Kupikir semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Suatu pagi, pengacaraku menelepon.
“Pak Mateo, ada sesuatu yang harus Anda lihat.”
Ia menunjukkan hasil audit rekening selama lima tahun.
Jumlah uang yang hilang ternyata jauh lebih besar daripada yang kukira.
Bukan hanya tabunganku.
Mama menggunakan namaku untuk meminjam uang kepada beberapa koperasi dan rentenir.
Total utangnya mencapai hampir tiga juta peso.
Semua kontrak memakai fotokopi paspor dan tanda tangan palsu.
Aku terdiam.
Kalau aku tidak pulang lebih cepat, seluruh utang itu akan jatuh kepadaku.
Kasus itu akhirnya masuk pengadilan.
Di depan hakim, Mama menangis sambil berkata bahwa semua dilakukan karena takut kehilangan kemewahan setelah aku berhenti mengirim uang.
Hakim hanya berkata singkat.
“Kasih sayang tidak pernah bisa dibangun dengan kebohongan.”
Mama dan Valerie dijatuhi hukuman atas pemalsuan dokumen, penggelapan, dan penipuan.
Hari ketika putusan dibacakan, aku tidak datang.
Aku memilih menghadiri pentas sekolah Leo.
Di atas panggung, guru meminta setiap anak memperkenalkan orang tua mereka.
Leo menggandeng tanganku.
Dengan suara lantang ia berkata kepada semua orang,
“Ini ayahku. Dulu ayah bekerja sangat jauh supaya aku bisa hidup bahagia. Sekarang ayah pulang, dan ayah tidak akan pergi lagi.”
Aku memeluknya erat.
Saat itulah aku sadar bahwa rumah bukanlah bangunan mewah yang kubangun dengan uang hasil kerja keras di negeri orang.
Rumah adalah tempat di mana seorang anak bisa makan tanpa rasa takut, seorang istri bisa tersenyum tanpa menangis diam-diam, dan seorang ayah tidak lagi membiarkan kepercayaannya membutakan cinta yang seharusnya ia jaga sejak awal.
