Nindy melangkah keluar dari gedung kantor dengan dada yang terasa sesak. Air matanya sudah menggenang sejak berada di dalam lift, tetapi ia menahannya mati-matian. Begitu pintu lift terbuka dan angin sore menerpa wajahnya, pertahanannya runtuh. Ia menangis tanpa suara sambil terus berjalan menuju parkiran.
Tangannya gemetar saat membuka tas. Di dalamnya masih tersimpan hasil pemeriksaan rumah sakit yang sedari pagi ingin ia tunjukkan kepada Juna. Kertas itu sudah kusut karena terlalu sering digenggam.
Di sudut kanan atas tertulis jelas bahwa ia sedang mengandung delapan minggu.

Nindy tersenyum pahit. Tadi ia datang dengan hati penuh harapan. Ia membayangkan Juna akan memeluknya, meminta maaf atas semua pertengkaran mereka, lalu bersama-sama menyambut kehadiran anak pertama mereka. Namun kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Suaminya bahkan tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan alasan kedatangannya.
Dengan pelan ia merobek hasil pemeriksaan itu menjadi beberapa bagian kecil.
“Kalau memang dia nggak peduli sama aku,” bisiknya lirih, “dia juga nggak perlu tahu tentang anak ini.”
Ia menyalakan mobil dan pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah gedung tempat Juna bekerja.
Sementara itu, Juna duduk di ruang IGD menemani Mira yang sedang dijahit lukanya.
Dokter menggeleng pelan.
“Lukanya lumayan dalam. Untung pecahan kacanya tidak mengenai pembuluh darah besar.”
Juna mengangguk sambil memandang kaki Mira yang dibalut perban.
“Terima kasih, Mas,” ucap Mira manja. “Kalau tadi Mas ninggalin aku, mungkin aku pingsan.”
Juna hanya mengangguk singkat. Entah mengapa pikirannya terus dipenuhi bayangan wajah Nindy saat mengatakan, “Aku pergi.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi istrinya.
Nomor yang dituju tidak aktif.
Juna mencoba lagi.
Tetap sama.
“Ada apa?” tanya Mira.
“Nggak ada.”
“Tadi kan cuma marahan biasa.”
Juna tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang benar-benar hilang.
Sesampainya di rumah malam itu, suasana terasa asing.
Lampu ruang tamu menyala, tetapi tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma masakan dari dapur.
“Nin?”
Tidak ada jawaban.
Ia masuk ke kamar.
Lemari pakaian terbuka.
Sebagian besar baju Nindy sudah tidak ada.
Rak kosmetik kosong.
Pigura foto pernikahan mereka juga menghilang.
Juna mulai panik.
Ia membuka laci meja rias.
Di sana hanya ada map cokelat.
Di dalamnya terdapat surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani Nindy.
Tangannya langsung dingin.
Di bawah tanda tangan itu hanya ada satu kalimat.
“Aku lelah memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak mau mendengarkan.”
Juna terduduk di lantai.
Baru sekarang ia sadar bahwa selama ini Nindy benar-benar telah menyerah.
Hari-hari berikutnya terasa sangat lambat.
Juna mencoba mencari Nindy ke apartemen sahabatnya, ke rumah orang tuanya, bahkan ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.
Semuanya sia-sia.
Nindy menghilang seperti ditelan bumi.
Mira justru semakin sering datang ke rumah.
“Mas sekarang sendiri. Aku bisa nemenin.”
Juna hanya mengangguk seperlunya.
Anehnya, setiap kali melihat Mira, yang teringat justru wajah Nindy.
Cara Nindy menyiapkan sarapan.
Cara Nindy diam saat terluka.
Cara Nindy selalu menunggunya pulang meski sering diabaikan.
Semua kenangan yang dulu terasa biasa kini berubah menjadi penyesalan.
Seminggu kemudian, sekretaris bagian administrasi mengetuk pintu ruangannya.
“Pak Juna.”
“Ya?”
“Ada barang milik Bu Nindy yang tertinggal.”
Juna langsung berdiri.
“Apa itu?”
Sebuah amplop putih.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan laboratorium.
Juna membaca perlahan.
Kemudian matanya membelalak.
“Kehamilan delapan minggu.”
Tangannya bergetar hebat.
Ia membaca lagi berkali-kali, berharap dirinya salah.
Tetapi tidak.
Nindy benar-benar sedang mengandung.
Juna terduduk lemas.
Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.
Jadi…
Hari itu…
Nindy datang untuk memberitahukan bahwa mereka akan menjadi orang tua.
Namun ia justru memilih memeluk wanita lain.
Air mata jatuh begitu saja.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, Juna menangis tanpa peduli siapa yang melihatnya.
Malam itu ia langsung menuju rumah orang tua Nindy.
Ibunya membuka pintu dengan wajah dingin.
“Kamu ngapain ke sini?”
“Bu… Nindy mana?”
“Nggak ada.”
“Tolong kasih tahu.”
“Nindy nggak mau ketemu kamu.”
“Saya cuma mau minta maaf.”
Ibu Nindy menatapnya lama.
“Kamu tahu kenapa anak saya berubah?”
Juna terdiam.
“Karena selama tiga tahun dia terus berharap kamu berubah.”
Setelah berkata demikian, pintu ditutup.
Juna berdiri sendirian di depan rumah itu sampai hujan turun.
Beberapa bulan berlalu.
Nindy memulai hidup baru di Bandung.
Ia bekerja sebagai konsultan desain interior sambil menjalani kehamilannya dengan tenang.
Tidak ada seorang pun di kantor yang mengetahui masa lalunya.
Ia belajar kembali tersenyum.
Setiap malam ia berbicara pada bayi di dalam kandungannya.
“Nak… kita berdua cukup.”
Ia tidak lagi menangis.
Luka memang belum sepenuhnya sembuh, tetapi ia mulai menerima kenyataan.
Di sisi lain, kehidupan Juna justru berantakan.
Prestasi kerjanya menurun.
Ia kehilangan fokus.
Bahkan beberapa proyek besar gagal karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Mira mulai menunjukkan sifat aslinya.
“Mas, kapan kita nikah?”
“Nggak usah bahas itu.”
“Kamu janji.”
“Aku nggak pernah janji.”
Mira semakin kesal.
Suatu malam ia diam-diam membuka laptop Juna.
Di sana ia menemukan folder berisi ratusan foto Nindy.
Foto bulan madu.
Foto ulang tahun.
Video saat mereka tertawa bersama.
Mira marah besar.
“Jadi selama ini kamu masih cinta sama dia?”
Juna menatap Mira tanpa ekspresi.
“Aku baru sadar… dari awal yang aku cintai memang Nindy.”
Kalimat itu menghancurkan semua kesabaran Mira.
Ia akhirnya mengaku.
“Luka di rumah sakit itu aku sengaja bikin!”
Juna membeku.
“Apa?”
“Aku sengaja pecahin gelas.”
“Aku sengaja jatuh.”
“Biar kamu nggak ngejar Nindy.”
Ruangan langsung sunyi.
Juna merasa kepalanya berdengung.
Jadi…
Selama ini…
Ia kehilangan kesempatan terakhir hanya karena sebuah sandiwara.
Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju pintu.
“Mas!”
Juna berhenti.
“Mulai hari ini jangan pernah cari aku lagi.”
Hubungan mereka berakhir saat itu juga.
Beberapa minggu kemudian, seorang teman lama memberi kabar.
“Aku lihat Nindy di Bandung.”
Juna langsung berangkat malam itu juga.
Ia mencari ke berbagai tempat sampai akhirnya melihat seorang wanita keluar dari klinik ibu dan anak.
Wanita itu mengenakan gaun sederhana dengan perut yang mulai membesar.
Nindy.
Juna hampir tidak mengenalinya.
Wajahnya terlihat jauh lebih tenang.
Ia berlari mendekat.
“Nin.”
Nindy berhenti.
Tatapan mereka bertemu setelah berbulan-bulan.
“Aku tahu tentang bayi kita.”
Nindy tidak menjawab.
“Aku minta maaf.”
Masih diam.
“Aku tahu semua tentang Mira.”
Nindy menghela napas.
“Lalu?”
“Aku pengen memperbaiki semuanya.”
Nindy tersenyum tipis.
“Semuanya?”
“Iya.”
“Mas.”
Suara Nindy tetap lembut.
“Orang bisa memperbaiki barang yang rusak.”
Juna mengangguk penuh harap.
“Tapi kepercayaan bukan barang.”
Kalimat itu membuat Juna kehilangan kata-kata.
Nindy melanjutkan langkahnya.
“Aku nggak akan melarang kamu menjadi ayah.”
Juna langsung mengangkat kepala.
“Tapi jangan berharap aku kembali menjadi istrimu.”
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Juna berdiri mematung sampai sosok Nindy benar-benar menghilang.
Beberapa bulan kemudian, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Juna datang sebagai ayah.
Ia menggendong putrinya untuk pertama kali sambil menangis.
Nindy memperhatikan dari kejauhan.
Ia tidak membenci Juna lagi.
Namun hatinya juga tidak lagi menjadi milik pria itu.
Saat Juna memandang wajah mungil putrinya, ia akhirnya memahami sesuatu yang datang terlambat.
Kesempatan terbesar dalam hidup sering kali tidak hilang karena takdir, melainkan karena kesombongan, ego, dan kegagalan menghargai orang yang selalu memilih bertahan.
Dan ketika seseorang yang selama ini diam akhirnya memilih pergi, sering kali yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu.
