Malam itu, hujan turun begitu deras hingga suara rintiknya menenggelamkan hampir semua kebisingan kota Jakarta. Alya menatap layar ponselnya yang masih menyala. Sudah tiga jam ia menunggu balasan dari kekasihnya, Raka.
Biasanya Raka selalu menjawab dalam hitungan menit.
Namun malam itu, hanya ada tanda centang dua tanpa balasan.
Alya menarik napas panjang. Ia mencoba mengusir perasaan tidak enak yang terus mengganggunya. Mungkin Raka sedang rapat. Mungkin baterainya habis. Mungkin ia sedang menyetir.

Ia terus mencari alasan demi alasan agar pikirannya tetap tenang.
Keesokan paginya, Raka datang ke apartemen sambil membawa kopi favorit Alya dan sebuket bunga matahari.
“Aku minta maaf ya. Semalam benar-benar sibuk.”
Senyumnya hangat seperti biasa.
Kalau saja Alya tidak melihat setitik noda lipstik merah muda di bagian kerah kemejanya, mungkin ia akan percaya begitu saja.
Namun ia memilih diam.
Ia tersenyum, menerima bunga itu, lalu memeluk Raka seolah tidak terjadi apa-apa.
Sejak hari itu, Alya mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Jam kerja Raka semakin panjang.
Telepon selalu dibalik ketika diletakkan di meja.
Notifikasi dimatikan.
Bahkan password ponselnya berubah tanpa pernah diberitahukan.
Semakin banyak tanda yang muncul, semakin keras Alya mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebetulan.
Sampai suatu sore, Raka berkata dengan santai.
“Besok aku harus ke Bandung dua hari. Meeting dengan klien.”
Alya hanya mengangguk.
Padahal ia tahu perusahaan Raka baru saja mengumumkan seluruh rapat dilakukan secara daring minggu itu.
Informasi itu ia lihat sendiri dari unggahan resmi media sosial kantor Raka.
Ia tidak langsung menuduh.
Ia justru menghubungi sahabat lamanya, Nia, seorang fotografer yang terbiasa memperhatikan detail.
“Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Nia menatapnya cukup lama.
“Kalau memang ingin tahu kebenarannya, jangan mencari bukti untuk membenarkan prasangka. Cari fakta.”
Keesokan harinya, Alya mengambil cuti.
Ia mengikuti mobil Raka dari kejauhan.
Namun mobil itu tidak menuju jalan tol ke Bandung.
Mobil tersebut berhenti di sebuah kawasan perumahan mewah di Jakarta Selatan.
Dari balik kaca mobil, Alya melihat seorang perempuan keluar membawa dua kantong belanja.
Perempuan itu tersenyum ketika melihat Raka.
Raka turun, mengambil salah satu kantong, lalu membuka pintu rumah dengan sangat akrab.
Bukan seperti tamu.
Melainkan seperti seseorang yang sudah lama tinggal di sana.
Dunia Alya seakan berhenti berputar.
Ia pulang tanpa menangis.
Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru menjadi sangat tenang.
Malam itu ia tidak menghubungi Raka sama sekali.
Sebaliknya, ia mulai mengumpulkan semua potongan fakta.
Seminggu kemudian, kesempatan itu datang dengan sendirinya.
Raka mandi terburu-buru karena ada panggilan mendadak dari kantornya.
Ponselnya tertinggal di meja makan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, layar ponsel itu tidak terkunci.
Bukan karena Raka lupa.
Melainkan karena ada panggilan video yang tiba-tiba masuk.
Nama kontaknya hanya satu huruf.
“S.”
Alya tidak mengangkat.
Namun notifikasi pesan yang muncul di layar membuat dadanya sesak.
“Jangan lupa akhir pekan ini kita lihat rumah yang dekat sekolah Aruna.”
Aruna?
Siapa Aruna?
Beberapa detik kemudian muncul foto seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun yang sedang tersenyum sambil memegang balon.
Di bawahnya tertulis.
“Ayah jangan lupa datang ya.”
Alya merasakan seluruh tubuhnya membeku.
Ia tidak membuka pesan lain.
Ia hanya memotret layar itu menggunakan ponselnya sendiri.
Saat Raka keluar dari kamar mandi, Alya sudah duduk di sofa seperti biasa.
“Ada yang telepon?”
Raka bertanya santai.
“Tidak.”
Jawabannya singkat.
Sejak hari itu, Alya diam-diam mencari tahu identitas perempuan tersebut.
Ternyata namanya Sarah.
Guru taman kanak-kanak.
Statusnya belum menikah.
Tetangga di lingkungan rumah itu mengenal Raka sebagai suaminya.
Yang lebih mengejutkan lagi, mereka mengira Raka dan Sarah sudah menjadi keluarga selama bertahun-tahun.
Alya tidak lagi merasa marah.
Ia justru penasaran.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menjalani dua kehidupan sekaligus tanpa pernah ketahuan?
Jawabannya datang secara tidak terduga.
Suatu malam, Sarah menghubungi Alya.
Bukan karena mengetahui siapa dirinya.
Melainkan karena salah mengirim pesan.
“Mas, Aruna demam lagi. Dokter bilang mungkin harus dirawat.”
Nomor itu tersimpan otomatis karena sebelumnya muncul di layar ponsel Raka.
Alya membalas.
“Maaf, ini bukan Raka.”
Beberapa menit kemudian telepon berdering.
Suara perempuan di seberang terdengar bingung.
“Maaf… ini siapa?”
“Aku Alya.”
Hening.
Lalu terdengar isakan pelan.
“Kamu… tunangan Raka?”
Kini giliran Alya yang membeku.
“Tunangan?”
Sarah menangis.
“Aku istrinya.”
Dua perempuan yang sama-sama merasa dikhianati akhirnya bertemu keesokan harinya.
Mereka membawa semua bukti yang mereka miliki.
Foto.
Pesan.
Transfer uang.
Tanggal.
Semuanya disusun di atas meja kafe.
Semakin banyak yang mereka lihat, semakin jelas satu kenyataan.
Raka telah membohongi keduanya.
Kepada Alya, ia mengaku belum pernah menikah.
Kepada Sarah, ia mengaku bekerja di luar kota hampir setiap minggu.
Yang paling menyakitkan, Sarah menunjukkan akta kelahiran Aruna.
Raka benar-benar ayah kandung anak itu.
Namun ada satu hal yang membuat Alya merasa ada sesuatu yang belum terungkap.
Selama lima tahun bersama Sarah, mengapa Raka masih begitu gigih mempertahankan hubungan dengannya?
Apa sebenarnya yang ia inginkan?
Jawaban itu muncul dari seseorang yang sama sekali tidak mereka duga.
Ayah Raka datang menemui Alya.
Pria tua itu terlihat jauh lebih lelah daripada usianya.
“Ayah tahu semuanya.”
Kalimat pertama itu membuat Alya terdiam.
“Ayah sudah berkali-kali menyuruh Raka jujur.”
“Tapi dia takut.”
“Takut apa?”
Pria itu menunduk.
“Takut kehilangan warisan.”
Ternyata keluarga Alya memiliki perusahaan logistik yang berkembang pesat.
Raka sejak awal memang bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
Ia yakin jika menikahi Alya, karier dan masa depannya akan jauh lebih mudah.
Sementara Sarah adalah perempuan yang ia cintai sejak kuliah, tetapi berasal dari keluarga sederhana.
Karena tidak ingin kehilangan keduanya, Raka memilih menjalani dua kehidupan.
Ia terus menunda pilihan sampai kebohongannya semakin besar.
Alya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena begitu sulit mempercayai kenyataan itu.
Semua perhatian.
Semua hadiah.
Semua kata-kata manis.
Ternyata bukan lahir dari ketulusan.
Melainkan dari rasa takut kehilangan keuntungan.
Dua minggu kemudian, Raka mengundang Alya makan malam.
“Aku sudah pilih tanggal pernikahan.”
Katanya sambil tersenyum.
Alya ikut tersenyum.
“Tentu.”
Raka tampak lega.
Ia tidak tahu bahwa malam itu bukan Alya yang sedang menyiapkan kejutan.
Di restoran tersebut, Sarah datang sambil menggandeng Aruna.
Di belakang mereka berdiri ayah dan ibu Raka.
Beberapa kerabat yang selama ini hanya mengenal satu versi kehidupan Raka juga hadir.
Wajah Raka berubah pucat.
“Apa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Sarah hanya meletakkan buku nikah di atas meja.
Alya meletakkan foto-foto yang selama ini ia kumpulkan.
Ayah Raka meletakkan hasil pemeriksaan keuangan yang menunjukkan semua kebohongan putranya.
Ruangan itu sunyi.
Untuk pertama kalinya, Raka tidak mampu merangkai satu pun alasan.
Ia memohon.
Menangis.
Mengaku salah.
Berkata bahwa ia mencintai mereka berdua dengan cara yang berbeda.
Namun tidak ada lagi yang mempercayainya.
Sarah berdiri lebih dulu.
“Aku memaafkanmu sebagai manusia.”
“Tapi aku tidak akan hidup bersamamu lagi.”
Alya ikut berdiri.
“Aku juga memaafkanmu.”
“Bukan karena kamu pantas mendapatkannya.”
“Tapi karena aku pantas hidup tanpa terus membawa beban kebohonganmu.”
Beberapa bulan kemudian, kehidupan mereka berubah.
Sarah membuka taman bermain kecil untuk anak-anak dengan bantuan ayah Raka yang memilih bertanggung jawab kepada cucunya.
Aruna tumbuh menjadi anak yang ceria meski keluarganya berubah.
Sementara Alya memutuskan menerima tawaran bekerja di Surabaya untuk memimpin cabang perusahaan.
Di kota baru itu, ia belajar bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang bersama orang yang paling lama menemani.
Kadang kebahagiaan muncul setelah kita berani melepaskan seseorang yang selama ini hanya membawa luka.
Suatu sore, ketika Alya sedang menikmati kopi di balkon kantornya, ia menerima sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak dikenalinya.
“Aku benar-benar kehilangan segalanya.”
Pesan itu berasal dari Raka.
Alya membaca sekali, lalu menghapusnya tanpa membalas.
Ia menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kota.
Dulu ia mengira akhir dari sebuah hubungan adalah akhir dari segalanya.
Kini ia memahami bahwa akhir dari kebohongan justru menjadi awal dari kehidupan yang lebih jujur.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum bukan karena ada seseorang yang membuatnya bahagia.
Melainkan karena akhirnya ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
