Pacarku sepuluh tahun datang saat lebaran sebagai calon suami kakakku, Kue nastar di tangannya jatuh saat mata kami bertemu, Dan kebohongan kecilku tentang pria yang sudah berpulang malah membawa kami ke sebuah makam baru yang namanya terlalu mirip

“Jadi kamu yang semalam mencari makam kakak saya?”

Suara pria berjaket hitam itu membuat langkahku berhenti. Di belakangku, Ibu yang membawa bunga tabur ikut terdiam. Rania melepaskan tanganku. Ayah menatap pria itu dengan bingung, sementara Arman berdiri beberapa langkah di belakang kami dengan wajah sepucat batu nisan.

Aku tidak pernah membayangkan kebohongan yang kubuat untuk menyelamatkan harga diriku akan membawaku sejauh ini.

Pria itu berjalan mendekat. Usianya mungkin tiga puluhan. Matanya sembap, seperti belum tidur sejak berhari-hari.

“Saya Dimas,” katanya. “Adiknya Arman Saputra.”

Aku berusaha mengatur napas.

“Maaf. Saya Layla.”

“Saya tahu.”

Dua kata itu membuat tengkukku dingin.

Dimas mengeluarkan ponsel dan menunjukkan unggahanku di grup warga semalam. “Saya yang kirim alamat makam ini lewat pesan pribadi.”

Ibu langsung menyentuh lenganku. “Berarti benar ini makam pacarmu?”

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dimas menatapku beberapa detik, kemudian pandangannya beralih melewati bahuku.

Ke arah Arman.

Ekspresinya berubah.

“Mas?”

Semua orang menoleh.

Arman membeku.

Dimas berjalan mendekat, mengamati wajahnya dengan saksama. “Maaf, nama Mas siapa?”

Rania menjawab lebih dulu.

“Arman. Arman Prasetyo. Calon suami saya.”

Dimas terlihat semakin aneh.

Dia menatap batu nisan kakaknya, lalu kembali menatap Arman.

“Mirip sekali.”

Aku sendiri baru menyadarinya ketika Dimas mengatakan itu. Bukan wajah mereka yang benar-benar sama, tetapi ada sesuatu pada bentuk mata dan garis rahang yang membuat kemiripan itu sulit diabaikan.

Arman tertawa kaku. “Kebetulan saja, Mas.”

Dimas tidak ikut tertawa.

Ibu mengajak kami berdoa. Aku duduk di samping makam seorang asing yang bahkan kemarin tidak kukenal, menaburkan bunga sambil menahan rasa bersalah yang semakin berat.

Setelah doa selesai, Ibu menghampiri Dimas.

“Maaf kalau saya bertanya. Kakaknya meninggal karena apa?”

Dimas menghela napas panjang.

“Serangan jantung. Mendadak.”

Aku merasakan seluruh tubuhku dingin.

Dadanya sesak.

Menunda periksa.

Masih muda.

Masih kuat.

Semua alasan yang kukarang di mobil tadi tiba-tiba terdengar seperti cerita yang sudah pernah terjadi.

Rania menatapku.

Arman juga.

Aku tahu mereka sama-sama memikirkan hal yang sama.

Dimas melanjutkan, “Sebenarnya beberapa bulan terakhir Kak Arman sering mengeluh nyeri dada. Kami sudah suruh periksa, tapi dia keras kepala.”

Ibu menggenggam tanganku semakin erat.

“Ya Allah, persis seperti yang Layla ceritakan.”

Aku tidak sanggup menjawab.

Saat kami hendak pulang, Dimas memanggilku.

“Mbak Layla.”

Aku berhenti.

Dia mendekat dan berbicara pelan agar keluargaku tidak mendengar.

“Sebenarnya Mbak kenal kakak saya atau tidak?”

Aku menatap matanya.

Aku bisa saja melanjutkan kebohongan itu. Tetapi ada batas tertentu ketika kebohongan berhenti menjadi perlindungan dan mulai melukai orang yang tidak bersalah.

“Tidak,” bisikku.

Dimas terdiam.

“Maaf.”

Anehnya, dia tidak marah.

Dia hanya mengangguk kecil.

“Saya sudah menduga.”

“Kenapa tetap kasih alamat?”

“Karena nama yang Mbak cari Arman, umur sekitar dua puluh delapan, baru meninggal. Saya pikir mungkin ada sesuatu yang belum saya tahu tentang hidup kakak saya.”

Aku menunduk.

“Maaf sudah menyeret keluarga Mas ke masalah saya.”

Dimas menatap ke arah Arman yang sedang berdiri bersama Rania.

“Masalah Mbak sepertinya lebih besar daripada makam palsu.”

Sebelum aku sempat bertanya, Dimas kembali ke makam.

Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang banyak bicara.

Begitu tiba di rumah, aku masuk kamar dan mengunci pintu.

Tidak sampai lima menit, Arman mengetuk.

“Layla.”

Aku diam.

“Buka. Kita harus bicara.”

Aku membuka pintu, tetapi tidak membiarkannya masuk.

“Apa lagi yang mau dibicarakan?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Sepuluh tahun, Man.”

Suaraku gemetar.

“Sepuluh tahun aku menunggu kamu. Kamu selalu bilang belum siap menikah. Belum punya rumah. Belum stabil. Masih harus bantu keluarga. Tapi ternyata kamu cukup siap untuk melamar kakakku.”

“Aku nggak pernah bermaksud menyakitimu.”

Aku tertawa.

Kalimat itu terdengar lebih kejam daripada pengakuan.

“Lalu maksudmu apa?”

Arman menunduk.

“Aku kenal Rania enam bulan lalu lewat proyek kantor. Awalnya cuma kerja. Terus dia bilang tentang keluarganya, koneksi ayahnya, rencana bisnisnya.”

Aku langsung memahami sesuatu.

“Jadi karena dia lebih mapan?”

“Bukan begitu.”

“Karena dia anak kandung Ayah?”

Arman terdiam.

Itu jawabannya.

Ayah tiriku membesarkan Rania sejak kecil. Sedangkan aku adalah anak Ibu dari pernikahan sebelumnya. Meski Ayah tidak pernah membedakan kami, rupanya Arman dan keluarganya melihat perbedaan itu sebagai angka dalam sebuah perhitungan.

“Aku mencintaimu,” katanya.

“Jangan hina kata itu.”

Aku hendak menutup pintu ketika dia menahan.

“Aku belum pernah tidur dengan Rania.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku nggak peduli.”

“Aku masih bisa membatalkan semuanya.”

“Bagus. Batalkan karena kamu penipu. Bukan karena kamu berharap aku menerima kamu kembali.”

Aku menutup pintu tepat di depan wajahnya.

Malam itu aku menangis sampai tertidur.

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Dimas datang ke rumah.

Dia membawa sebuah amplop cokelat dan foto lama.

Ayah mempersilahkannya masuk. Arman yang sedang sarapan langsung berdiri ketika melihatnya.

Dimas meletakkan foto itu di meja.

Dalam foto tersebut ada tiga pemuda berdiri di depan sebuah bengkel tua. Salah satunya Dimas. Yang kedua pasti almarhum Arman Saputra.

Yang ketiga membuat sendok di tangan Ibu jatuh.

Wajahnya sangat mirip Arman Prasetyo.

“Ini siapa?” tanya Ayah.

Dimas menatap Arman.

“Bapak saya.”

Ruang makan seketika sunyi.

Arman berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Kamu ngomong apa?”

Dimas mengeluarkan beberapa dokumen dari amplop.

“Kakak saya meninggal empat hari lalu. Sebelum meninggal, dia sedang mencari seseorang. Dia menemukan dokumen lama milik ibu kami.”

Dimas menunjuk foto.

“Pria ini namanya Prasetyo.”

Arman kehilangan warna wajahnya.

“Itu nama belakang saya.”

“Saya tahu.”

Dimas membuka salinan kartu keluarga lama dan sebuah surat yang kertasnya sudah menguning.

“Bapak kami meninggalkan rumah ketika saya masih bayi. Kak Arman waktu itu tiga tahun. Beberapa tahun kemudian kami dengar dia menikah lagi.”

Arman mundur satu langkah.

“Ayah saya namanya Bambang Prasetyo.”

Dimas mengangguk.

“Nama lengkap bapak saya Bambang Adi Prasetyo.”

Arman tidak menjawab lagi.

Ayah mengambil dokumen itu dan membacanya.

“Tempat lahirnya sama.”

Ibu menutup mulut.

Rania berdiri perlahan.

“Jadi kalian…”

Dimas menatap Arman.

“Kalau dokumen ini benar, kami saudara seayah.”

Tidak ada yang bergerak.

Arman duduk kembali seperti kakinya kehilangan tenaga.

Tiba-tiba aku teringat ekspresi Dimas di makam. Kemiripan itu bukan kebetulan.

Dan makam yang kupilih secara acak ternyata adalah makam kakak tiri pria yang telah mengkhianatiku.

Namun kejutan belum selesai.

Dimas mengeluarkan ponsel.

“Sebelum meninggal, Kak Arman merekam percakapan dengan seseorang.”

Dia memutar sebuah rekaman.

Suara pertama terdengar berat dan lelah.

Aku menduga itu suara almarhum.

Kemudian terdengar suara lain.

Suara perempuan.

Aku mengenalnya.

Rania.

“Aku cuma perlu Arman Prasetyo menikah denganku dulu,” suara Rania terdengar jelas. “Setelah aset atas nama Ayah dialihkan, urusan berikutnya gampang.”

Jantungku berdegup keras.

Arman berdiri.

“Rania?”

Wajah kakakku berubah pucat.

Rekaman berlanjut.

Suara almarhum Arman bertanya, “Dia tahu kamu cuma memanfaatkan dia?”

Rania tertawa kecil.

“Dia juga memanfaatkan aku. Dia pikir menikah denganku akan bikin hidupnya naik kelas. Jadi kami impas.”

Arman menatap Rania seperti baru pertama kali melihatnya.

Rania berusaha mengambil ponsel Dimas, tetapi Ayah berdiri di antara mereka.

“Cukup.”

Satu kata dari Ayah membuat seluruh ruangan membeku.

“Aset apa yang kamu maksud?”

Rania mulai menangis.

“Ayah, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

Ternyata beberapa bulan terakhir Rania terlilit utang karena investasi daring yang gagal. Dia meminjam uang dari beberapa orang tanpa sepengetahuan keluarga. Ketika mengetahui Ayah berencana membagi sebagian aset usaha kepada kami berdua, Rania panik.

Dia membutuhkan pasangan yang bisa membantunya mengambil pinjaman besar dengan jaminan aset setelah menikah.

Arman cocok.

Ambisius, mudah diyakinkan, dan sangat ingin masuk ke keluarga yang menurutnya memiliki masa depan finansial lebih baik.

Mereka bukan kisah cinta.

Mereka adalah dua orang yang saling menggunakan.

Aku seharusnya puas.

Anehnya, aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lelah.

Rania duduk sambil menangis.

“Aku nggak tahu dia pacarmu, Lay.”

Aku menatapnya.

“Benarkah?”

Dia tidak sanggup membalas tatapanku.

“Setelah aku lihat foto kalian di ponselnya, aku tahu.”

Dadaku terasa ditusuk.

“Sejak kapan?”

“Dua bulan lalu.”

“Dan kamu tetap membawanya ke rumah?”

Air matanya jatuh.

“Aku selalu iri sama kamu.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu iri apa dariku?”

“Kamu selalu merasa aku punya semuanya. Tapi Ayah…”

Dia memandang ayah tiriku.

“Ayah selalu membela kamu. Setiap kali orang bilang kamu bukan anak kandung Ayah, Ayah marah. Waktu kamu kesulitan kuliah, Ayah diam-diam jual motor supaya biaya kamu cukup. Waktu aku minta apartemen, Ayah bilang aku harus belajar mandiri.”

Aku menoleh pada Ayah.

Aku tidak pernah tahu soal motor itu.

Ayah menghela napas.

“Karena waktu itu kamu membutuhkannya, Layla.”

Air mataku langsung jatuh.

Selama bertahun-tahun aku menjaga jarak karena takut menjadi anak bawaan yang merepotkan.

Ternyata jarak itu hanya ada di kepalaku.

Arman mencoba mendekatiku.

“Layla, setelah semua ini, mungkin kita bisa mulai lagi.”

Aku menatapnya cukup lama.

Kemudian aku tersenyum.

“Bukankah aku sudah bilang pada keluarga kalau pacarku meninggal?”

Dia mengerutkan kening.

“Ya.”

“Berarti biarkan dia tetap meninggal.”

Arman terdiam.

“Pria yang kucintai selama sepuluh tahun sudah mati kemarin pagi, saat kaleng nastar jatuh dari tangannya.”

Untuk pertama kalinya, aku mengatakan sesuatu tanpa rasa takut kehilangan dia.

Arman pergi dari rumah sore itu.

Pertunangannya dengan Rania dibatalkan. Ayah membantu Rania menyelesaikan masalah utangnya dengan satu syarat, semua aset dan keuangan keluarga harus transparan dan Rania harus bertanggung jawab atas setiap rupiah yang dia pinjam.

Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke TPU Pondok Ranggon.

Sendirian.

Aku membawa bunga.

Dimas sedang membersihkan makam kakaknya ketika aku datang.

“Kok balik?”

“Aku punya utang.”

Dia mengangkat alis.

“Utang apa?”

“Doa.”

Aku duduk di samping makam Arman Saputra.

Aku tidak pernah mengenal pria yang terkubur di sana. Tetapi anehnya, kematiannya membuka lebih banyak kebenaran dalam hidupku daripada orang-orang yang kukenal bertahun-tahun.

Setelah berdoa, aku berdiri.

Dimas memberiku sebuah benda kecil.

Kaleng nastar.

Aku menatapnya bingung.

“Ibu bikin kebanyakan.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

“Trauma aku lihat nastar.”

“Kalau begitu sembuhkan traumanya dengan dimakan.”

Kami berjalan menuju pintu keluar makam sambil berbicara tentang hal-hal sederhana.

Di tengah perjalanan, ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Aku membukanya.

Hanya ada satu foto.

Foto batu nisan Arman Saputra yang diambil sebelum Lebaran.

Di belakang batu nisan itu terlihat seseorang sedang berdiri.

Arman Prasetyo.

Di bawah foto terdapat satu kalimat.

“Dia datang sehari sebelum pemakaman dan meminta kakakmu berhenti menyelidiki keluarga Prasetyo.”

Langkahku berhenti.

Aku menoleh pada Dimas.

“Mas…”

Dia membaca pesan itu.

Wajahnya berubah.

Kemudian sebuah pesan kedua masuk.

“Arman Saputra tidak meninggal karena serangan jantung.”

Aku menatap makam yang semakin jauh di belakang kami.

Angin siang berembus pelan di antara pepohonan.

Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa makam yang kutemukan karena sebuah kebohongan mungkin bukan akhir dari ceritaku.

Mungkin justru dari sanalah semuanya baru dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang