Pada hari Kakak menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi, dia menjemputku di taman kanak-kanak. Di kakinya terpasang sepatu sneakers bermerek yang harganya mencapai jutaan rupiah. Aku memperhatikan bahwa wali kelasku, Bu Clara, menatap Kakak cukup lama.

Maya baru berusia lima tahun ketika ia mulai percaya bahwa boneka kain lusuh pemberian almarhum neneknya bisa berbicara. Tidak setiap saat. Boneka itu hanya berbisik ketika bahaya benar-benar mengintai.

Awalnya tak seorang pun mempercayainya.

Bahkan Arga, kakaknya yang baru saja menyelesaikan ujian masuk universitas, menganggap semua itu hanyalah imajinasi anak kecil.

Hari itu matahari Jakarta terasa menyengat. Jalanan dipenuhi suara klakson dan debu kendaraan. Arga menjemput Maya di taman kanak-kanak seperti biasa. Ia masih mengenakan seragam sekolah dan sepasang sepatu baru hasil tabungannya sendiri.

Saat mereka keluar dari gerbang sekolah, Bu Rani, wali kelas Maya, menghampiri dengan senyum yang sangat ramah.

“Kalian pulang jalan kaki? Kebetulan arah rumah kita sama. Biar Ibu temani.”

Arga mengangguk sopan. Ia tidak melihat alasan untuk menolak.

Namun tangan kecil Maya mendadak menggigil.

Boneka kelinci yang dipeluknya berbisik sangat pelan.

“Jangan percaya senyumnya.”

Jantung Maya berdetak semakin cepat.

“Dia akan mencoba masuk ke rumah kalian.”

Maya memandang wajah Bu Rani yang tampak lembut dan penuh perhatian. Sulit membayangkan perempuan itu bisa melakukan sesuatu yang jahat.

Mereka terus berjalan melewati deretan ruko dan taman kota.

Beberapa menit kemudian, tepat seperti yang dikatakan boneka itu, Bu Rani tiba-tiba mengaduh.

“Aduh…”

Ia memegangi pergelangan kaki.

“Sepertinya keseleo. Boleh aku beristirahat sebentar di rumah kalian?”

Maya merasa darahnya membeku.

Boneka itu kembali berbisik.

“Kalau dia masuk, semuanya akan dimulai.”

Maya langsung menarik tangan Arga.

“Kak, jangan!”

Arga menoleh bingung.

“Maya?”

“Ayo kita ke rumah Om Budi dulu.”

“Kenapa?”

Maya tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Siapa yang akan percaya kalau sebuah boneka berbicara?

Bu Rani tertawa kecil.

“Anak-anak memang suka berimajinasi.”

Tetapi kali ini Arga memperhatikan sesuatu.

Keringat di wajah Bu Rani tidak seperti orang yang kesakitan.

Napasnya tetap stabil.

Dan yang paling aneh, kaki yang katanya keseleo sesekali masih berpijak dengan normal ketika ia mengira mereka tidak melihat.

Arga akhirnya berkata pelan.

“Maaf, Bu. Rumah kami sedang direnovasi. Lebih baik saya panggil ojek online untuk Ibu.”

Wajah Bu Rani sempat berubah sebelum kembali tersenyum.

“Kalau begitu tidak usah.”

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Sepanjang perjalanan pulang Maya terus memeluk bonekanya.

Arga mulai merasa ada sesuatu yang memang tidak beres.

Malam itu mereka menceritakan semuanya kepada ayah dan ibu.

Ayah hanya tertawa.

“Anak kecil memang suka berkhayal.”

Namun ibu tidak ikut tertawa.

Ia memperhatikan wajah Maya yang masih pucat.

“Maya tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

Keesokan harinya, berita mengejutkan muncul di grup sekolah.

Bu Rani mendadak mengundurkan diri dengan alasan keluarga.

Tidak ada pesta perpisahan.

Tidak ada penjelasan.

Ia menghilang begitu saja.

Semua orang menganggap masalah selesai.

Sampai seminggu kemudian.

Boneka itu kembali berbicara.

“Belum selesai.”

Maya sedang bermain di ruang tamu ketika bisikan itu terdengar.

“Orang yang lebih berbahaya akan datang.”

Malam harinya seseorang mengetuk pintu rumah.

Seorang pria berjas memperkenalkan diri sebagai petugas yayasan pendidikan.

Ia mengatakan Arga mendapatkan beasiswa penuh ke universitas impiannya.

Keluarga itu sangat gembira.

Pria tersebut hanya meminta Arga datang sendirian ke kantor yayasan keesokan pagi untuk menandatangani dokumen.

Ayah bahkan sempat menyiapkan pakaian terbaik untuk Arga.

Namun sebelum tidur, boneka itu berbisik lagi.

“Jangan biarkan dia pergi.”

Maya menangis sejadi-jadinya.

Ia memohon agar Arga tidak datang.

Semua orang menganggap Maya terlalu manja.

Keesokan paginya Arga tetap berangkat.

Namun Maya diam-diam memasukkan boneka itu ke dalam tas kakaknya.

Sekitar satu jam kemudian telepon berdering.

Nomor Arga.

Suara kakaknya terdengar gemetar.

“Ayah… alamat yayasan ini kosong.”

“Tidak ada gedung.”

“Hanya gudang tua.”

Ayah langsung bergegas menjemputnya.

Saat polisi datang memeriksa lokasi, mereka menemukan sesuatu yang mengerikan.

Gudang itu ternyata pernah digunakan oleh sindikat perdagangan manusia beberapa tahun sebelumnya.

Di dalamnya masih ada kamera tersembunyi, tali pengikat, serta dokumen-dokumen palsu.

Polisi menduga kelompok itu mulai beroperasi lagi dengan modus memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi.

Berita itu segera menyebar.

Arga nyaris menjadi korban.

Sejak saat itu, ayah tidak pernah lagi menertawakan ucapan Maya.

Beberapa bulan kemudian polisi berhasil menangkap sebagian anggota sindikat tersebut.

Dalam pemeriksaan, muncul satu nama yang membuat semua orang terdiam.

Bu Rani.

Ternyata selama bertahun-tahun ia bertugas mencari target dari sekolah.

Anak-anak yang pintar.

Keluarga sederhana.

Atau remaja yang mudah dipancing dengan kesempatan kuliah.

Maya akhirnya mengerti mengapa boneka itu memperingatkannya sejak awal.

Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Bagaimana boneka itu bisa mengetahui semuanya?

Jawabannya datang tanpa diduga.

Saat membersihkan loteng rumah nenek yang telah lama kosong, ibu menemukan sebuah buku harian tua.

Di halaman terakhir terdapat foto seorang gadis kecil yang sangat mirip Maya.

Namanya Ayu.

Ia adalah kakak ibu yang hilang tiga puluh tahun lalu dan tidak pernah ditemukan.

Di samping foto itu tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang mulai pudar.

“Kalau suatu hari boneka kelinci ini berbicara, dengarkanlah. Aku gagal menyelamatkan Ayu. Semoga boneka ini masih bisa menyelamatkan anak-anak lain.”

Semua terdiam.

Nenek ternyata sudah lama mengetahui bahwa putrinya diculik.

Ia menghabiskan sisa hidupnya membantu polisi secara diam-diam sambil menyimpan boneka kesayangan Ayu sebagai satu-satunya kenangan.

Malam itu Maya memeluk boneka tersebut lebih erat daripada sebelumnya.

“Terima kasih.”

Boneka itu tidak menjawab.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada suara.

Seolah tugasnya telah selesai.

Beberapa tahun kemudian Arga resmi menjadi seorang jaksa yang menangani kasus perdagangan manusia. Maya tumbuh menjadi psikolog anak yang mendampingi korban-korban penculikan agar mampu kembali menjalani hidup dengan berani.

Boneka kelinci itu tetap disimpan di dalam lemari kaca ruang keluarga.

Tua, usang, dan mulai pudar warnanya.

Setiap tamu menganggapnya hanya benda biasa.

Hanya Maya yang sesekali tersenyum ketika menatapnya.

Karena ia tahu, tidak semua pahlawan datang dengan seragam atau senjata.

Sebagian datang dalam wujud boneka tua yang memilih tetap diam… sampai ada satu nyawa lagi yang harus diselamatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang