Dunia seakan runtuh seketika. Genggaman tangan ayahku yang keriput dan gemetar seolah menghancurkan seluruh benteng kesuksesan yang selama ini kubangun dengan susah payah di luar negeri. Aku berdiri terpaku di halaman belakang rumah mewahku sendiri, tempat di mana rumput hijau dan kolam renang minimalis seharusnya menjadi simbol kebahagiaan keluarga kecil kami. Namun, kenyataan pahit tersaji di depan mataku, jauh lebih kejam daripada mimpi buruk manapun yang pernah kubayangkan.
Diane, istriku, masih berdiri dengan tangan bersidekap di ambang pintu dapur. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Tidak ada kepanikan, tidak ada keterkejutan, apalagi penyesalan. Yang ada di matanya hanyalah kilatan dingin seolah kehadiran suaminya secara tiba-tiba ini adalah sebuah gangguan kecil yang menyebalkan dalam rutinitas hariannya.

“Diane,” suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar di antara deru angin sore dan tangisan anak bungsuku yang masih ku dekap erat di dadaku. “Apa sebenarnya yang terjadi di sini?”
Diane mendengus pelan, menarik napas panjang dengan sikap meremehkan yang membuat darahku mendidih seketika. “Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu, Aris. Namanya juga hidup serumah, wajar kalau saling membantu. Lagi pula, dia kan cuma tinggal numpang. Tidak mungkin dia hanya duduk diam berpangku tangan sementara aku dan anak-anak sibuk mengurus rumah ini.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir wanita yang selama lima tahun ini kusebut sebagai pendamping hidup, wanita yang selalu kukirimkan uang belanja dalam jumlah besar setiap bulannya, wanita yang setiap malam selalu mengirimkan foto-foto manis penuh senyuman palsu ke ponselku.
Ayahku, bapak tua berusia tujuh puluh dua tahun yang dulunya adalah seorang kepala sekolah teladan di kampung halaman kami, langsung membungkuk gemetar. Beliau mencoba merapikan kain selimut basah yang tadi dibanting ke lantai oleh menantunya sendiri. “Sudah, Aris… Jangan ribut. Diane benar. Bapak memang… bapak memang cuma ingin meringankan pekerjaan rumah. Bapak tidak apa-apa, sungguh.”
Mendengar suara parau itu, pertahananku benar-benar jebol. Aku melangkah maju, meninggalkan anak-anakku yang kebingungan di pelukan pengasuh mereka yang baru saja berlari kecil datang dari dalam rumah. Aku mencengkeram bahu ayahku, merasakan betapa rapuhnya tubuh renta itu di balik balutan kemeja usang yang telah basah oleh keringat dan air dingin.
“Ayah, tatap mata Aris,” suaraku serak, air mata yang sudah kutahan sejak tadi akhirnya tumpah juga. “Sejak kapan semua ini terjadi? Sejak kapan Diane memperlakukan Ayah seperti ini?”
Ayah menunduk, menghindari tatapanku. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang keriput. Beliau tidak menjawab, namun isakan tertahan yang keluar dari tenggorokannya sudah cukup menjadi jawaban atas segala pertanyaan yang bergolak di dadaku. Selama ini, setiap kali aku menelepon lewat panggilan video, Diane selalu memastikan Ayah berada di sebelah cucu-cucunya dengan senyum yang dipaksakan. Ternyata, di balik layar ponsel itu, ada ancaman dan siksaan mental yang harus ditanggung oleh seorang lelaki tua yang seharusnya menikmati masa tuanya dengan tenang.
Aku bangkit berdiri. Emosi yang selama ini terkunci rapat akibat kesibukan korporat meledak menjadi kemarahan yang luar biasa. Aku berbalik menatap Diane dengan tatapan yang membuat wanita itu akhirnya mundur selangkah.
“Kamu mau bawa dia ke mana, Aris? Mau membela orang tua pikun ini?” maki Diane, suaranya mulai meninggi karena panik melihat sorot mataku. “Kamu pikir gampang mengurus orang tua di kota besar? Rumah ini bau minyak angin setiap hari. Dia batuk-batuk sembarangan. Dia merepotkan! Harusnya kamu sadar diri, kalau bukan karena aku yang menampungnya, dia pasti sudah jadi gelandangan di kampung!”
“Cukup!” bentakku menggema di seluruh sudut halaman belakang, membuat anak-anak menangis histeris ketakutan. “Cukup, Diane!”
Aku menatapnya dengan rasa jijik yang teramat sangat. Selama ini aku mengira kerja keras di Singapura, bolak-balik menyeberang selat demi mengejar kontrak miliaran rupiah adalah demi masa depan keluarga ini. Aku membelikan rumah mewah di kawasan elit Jakarta Selatan, mobil Eropa terbaru, dan segala fasilitas kelas atas, dengan keyakinan bahwa semua itu akan membuat orang-orang yang kusayangi hidup dalam kemuliaan. Aku telah dibutakan oleh ambisi materi, mengira bahwa uang bisa membeli kebahagiaan dan menyelesaikan segalanya.
Malam itu juga, aku membuat keputusan terbesar dalam hidupku. Tanpa ragu, aku menyuruh Diane mengemasi barang-barangnya sendiri. Wanita itu sempat berteriak histeris, mengancam akan membawa anak-anak dan menggugat gono-gini, mengecilkan arti pengorbankanku selama ini. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bergeming sedikit pun oleh ancamannya. Sifat dingin dan manipulatif yang selama ini disembunyikannya di balik senyuman manis di depan kamera akhirnya terkuak sempurna. Aku menyewa jasa pengacara terbaik malam itu juga, bukan hanya untuk mengurus perceraian, tetapi juga untuk menyelidiki seluruh aset yang selama ini dipercayakan kepadanya.
Beberapa hari setelah pengusiran itu, rumah terasa begitu sunyi, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu terasa bernyawa. Aku membatalkan seluruh sisa perjalanan bisnisku ke luar negeri. Aku menolak tawaran promosi jabatan regional yang mengharuskan aku pindah kantor pusat ke luar negeri. Aku memilih turun jabatan di perusahaan demi mendapatkan waktu luang yang fleksibel.
Setiap pagi, aku sendiri yang membuatkan secangkir teh hangat untuk Ayah. Kami duduk di teras belakang, menikmati matahari pagi sambil mengenang masa-masa ketika aku masih kecil di kampung halaman. Luka memar di tubuh Ayah berangsur-angsur sembuh, begitu pula dengan senyum aslinya yang kini kembali terpancar tanpa ada rasa takut.
Namun, cerita ini tidak berhenti pada kelegaan semata.
Dua minggu setelah Diane pergi meninggalkan rumah, seorang kurir pengiriman datang membawa sebuah kotak kardus tua berukuran sedang yang ditujukan kepadaku. Tidak ada nama pengirim di bagian luar. Dengan perasaan curiga, aku membawa kotak itu ke ruang kerja dan membukanya di hadapan Ayah yang sedang membaca koran pagi.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah buku harian bersampul kulit hitam milik mendiang ibuku, serta sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. Jantungku berdegup kencang. Buku harian itu adalah barang pribadi Ibu yang seharusnya ikut terbawa saat Ayah pindah ke Jakarta.
Aku membuka lembar demi lembar buku harian tersebut. Tulisannya rapi, menggunakan tinta biru. Di halaman-halaman terakhir, sebelum Ibu meninggal dunia tiga tahun lalu, ada catatan-catatan yang membuat bulu kudukku mereminding. Ibu menuliskan ketakutannya terhadap sifat asli Diane. Jauh sebelum aku menikahi Diane, ternyata Ibu sudah pernah memperingatkanku. Ibu menulis bahwa Diane bukanlah wanita yang tulus, melainkan seseorang yang terobsesi dengan status sosial dan kekayaan keluargaku. Ibu bahkan menuliskan sebuah kecurigaan besar mengenai kematian mendadak bibi Diane di kampung yang mewariskan seluruh tanah kepada keluarga mereka dengan cara yang tidak wajar.
Tanganku gemetar hebat. Aku segera mengambil laptop, mencolokkan flashdisk yang ada di dalam kotak tersebut, dan mengeklik satu-satunya file video yang tersimpan di dalamnya.
Layar laptop menyala. Video itu berdurasi sekitar dua puluh menit. Rekaman CCTV tersembunyi yang sepertinya diambil dari sudut ruangan keluarga di rumah ini.
Yang kulihat di layar membuat darahku serasa berhenti mengalir.
Dalam video itu, terlihat Diane sedang berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya sambil mondar-mandir di ruang tamu, sementara Ayah sedang tidur di sofa karena kelelahan. Dari percakapan yang terekam jelas melalui mikrofon sensitif, terungkap sebuah rencana yang jauh lebih busuk daripada apa yang kubayangkan selama ini.
Diane tidak hanya menyiksa Ayah karena kesal. Dia sengaja melakukannya agar Ayah mengalami tekanan mental yang berat, frustrasi, dan berujung pada kepikunan permanen atau kematian akibat kelelahan. Tujuannya? Agar seluruh aset properti dan tabungan pensiun Ayah di kampung bisa segera dialihkan atas namanya melalui surat kuasa palsu yang sedang dipersiapkannya bersama seorang Notaris fiktif.
Bukan itu saja. Kalimat terakhir yang diucapkan Diane sebelum menutup telepon membuatku jatuh lemas dari kursi kerja.
“Tenang saja, sebentar lagi lelaki bodoh itu akan menyerahkan seluruh saham perusahaannya padaku dengan dalih investasi keluarga. Setelah orang tua itu mati tersiksa dan suamiku bangkrut karena stres, seluruh harta ini akan sepenuhnya jadi milikku dan kekasihku.”
Di layar, wajah kekasih gelap yang dimaksud Diane akhirnya muncul sekilas ketika pintu samping terbuka dan seorang pria masuk membawakan dokumen. Pria itu adalah manajer keuangan di perusahaanku sendiri, orang yang selama ini paling kupercaya untuk mengaudit laporan keuangan di kantorku di Jakarta.
Aku menatap layar laptop yang kini menampilkan sudut ruangan yang kosong. Napasku memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Kebenaran ini datang bagaikan sambaran petir di siang bolong. Perjalanan bisnisku ke luar negeri selama ini ternyata bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan sebuah skenario besar yang dirancang rapi oleh orang-orang terdekatku untuk menghancurkan hidupku dari dalam.
Ayah meletakkan korannya di atas meja. Beliau menatapku dengan pandangan penuh pengertian, seolah sudah mengetahui apa isi video tersebut tanpa harus melihatnya secara langsung.
“Aris,” ucap Ayah dengan suara tenang namun penuh wibawa, suara seorang kepala sekolah yang dulu pernah mendidik ribuan anak muridnya menjadi orang besar. “Kejahatan memang bisa bersembunyi di balik senyuman yang paling manis. Tapi kebenaran memiliki jalannya sendiri untuk pulang, sama sepertimu yang pulang lebih cepat hari ini.”
Aku menatap Ayah, lalu menatap lembaran buku harian Ibu, dan terakhir menatap layar laptop yang masih menyala. Senyum sinis perlahan terukir di bibirku. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti keluargaku lagi.
