Bunyi tongkat Ibu menghantam lantai marmer terdengar tepat beberapa menit sebelum aku seharusnya duduk di depan penghulu dan menikahi perempuan yang ternyata sudah merencanakan mengambil perusahaan keluargaku dari belakang.
Aku berlari keluar dari ruang tunggu ketika mendengar teriakan.
“Ibu!”
Ibu terjatuh di dekat meja bunga. Aku menangkap bahunya sebelum kepalanya membentur lantai.
Wajahnya pucat. Kaki kirinya gemetar.

Sejak kecelakaan empat tahun lalu, Ibu memang tidak bisa berdiri lama tanpa tongkat. Tiga kali operasi membuatnya mampu berjalan lagi, tetapi langkahnya tidak pernah benar-benar normal.
Tongkat itu sekarang berada hampir dua meter dari tubuhnya.
Dan di depannya berdiri calon istriku, Nadine.
Gaun pengantinnya masih sempurna. Ia hanya sedang merapikan kerudung di depan cermin besar.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Nadine, apa yang terjadi?”
Ia menoleh.
“Mama kamu terpeleset.”
Aku memandang lantai.
Kering.
Lalu aku melihat posisi sepatu Nadine.
“Kamu menendang tongkat Ibu?”
“Aku cuma menggeser kaki. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menahan napas.
Di ballroom, hampir dua ratus tamu menunggu. Keluarga dari Surabaya dan Bandung datang sejak kemarin. Penghulu sudah tiba.
Nadine mendekat.
“Kita akad lima belas menit lagi.”
Ibu mencengkeram lenganku.
“Raka.”
“Apa, Bu?”
“Tanya dia soal dokumen.”
Wajah Nadine membeku.
Ibu mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tasnya.
Namaku tertera pada halaman pertama.
Di bawahnya ada nama PT Arunika Pangan Nusantara, perusahaan distribusi makanan yang dibangun almarhum Ayah dari satu gudang kecil di Bekasi hingga memiliki cabang di enam kota.
Dokumen itu berisi rancangan restrukturisasi kepemilikan.
Sebagian saham pribadiku akan dialihkan kepada Mahardika Prima Kapital.
Mahardika.
Nama keluarga Nadine.
Halaman berikutnya lebih buruk.
Ada rancangan pemberian kuasa yang memungkinkan pihak tertentu melakukan negosiasi pinjaman, menjaminkan aset, dan mewakiliku dalam transaksi perusahaan.
Aku mengangkat kepala.
“Apa ini?”
Nadine tidak menjawab.
“Itu cuma rancangan,” katanya akhirnya.
“Siapa yang membuat?”
“Tim Papa.”
“Kenapa tim papamu mengurus sahamku?”
“Karena kita akan menikah.”
Saat itulah pintu terbuka.
Bastian Mahardika masuk bersama beberapa anggota keluarganya.
Ia tidak bertanya kenapa Ibu berada di lantai.
Ia justru melihat jam tangan.
“Penghulu sudah menunggu.”
Kemudian matanya jatuh pada dokumen di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Aku tersenyum tipis.
“Jadi Bapak tahu.”
“Itu pembahasan bisnis. Kita bicarakan setelah akad.”
Aku menatap Nadine.
“Akadnya batal.”
Ia tertawa kecil, mungkin karena mengira aku bercanda.
“Raka.”
“Aku serius.”
“Kamu mau mempermalukan aku di depan semua orang hanya karena ibumu jatuh?”
Keheningan muncul beberapa detik.
Nadine sadar ia salah bicara.
Terlambat.
“Bukan karena Ibu jatuh,” kataku. “Karena aku akhirnya melihat siapa kamu.”
Aku berjalan menuju ballroom.
Nadine mengejarku.
Aku mengambil mikrofon dari pembawa acara.
“Mohon maaf. Hari ini tidak akan ada akad.”
Ruangan langsung gaduh.
Nadine naik ke panggung.
“Kamu gila?”
Aku meletakkan cincin di atas meja.
Tiba-tiba Siska, salah satu bridesmaid Nadine, berdiri.
“Nadine memang menggeser tongkat Tante.”
Semua kepala menoleh kepadanya.
“Siska, diam!” bentak Nadine.
“Aku lihat sendiri. Nadine marah karena Tante Mira mengambil map dari tasnya.”
Aku menoleh kepada Ibu.
Sebelum sempat bertanya, ponselku bergetar.
Pesan dari Intan Prameswari, direktur operasional Arunika.
Semua sudah siap. Begitu kamu beri izin, notifikasi resmi dikirim.
Aku membalas satu kata.
Jalankan.
Beberapa detik kemudian ponsel Bastian berbunyi.
Lalu Nadine.
Kemudian dua pria di meja keluarga Mahardika.
Wajah mereka berubah hampir bersamaan.
Pintu ballroom terbuka.
Pak Surya, kepala bagian hukum Arunika, masuk bersama dua auditor.
Di tangannya ada map hitam.
“Pak Raka, kami menemukan rekening tujuan terakhirnya.”
Aku melihat Nadine.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajahnya.
Pak Surya menyerahkan map tersebut.
“Rekening perusahaan cangkang atas nama PT Langit Timur Konsultama.”
Bastian langsung berdiri.
“Jangan bicara sembarangan!”
Pak Surya tidak menghiraukannya.
“Perusahaan itu baru berdiri sebelas bulan lalu. Tidak memiliki pegawai tetap, kantor operasionalnya hanya alamat virtual, tetapi menerima beberapa pembayaran konsultasi dari vendor Arunika.”
Aku membuka dokumen.
Nilainya tidak kecil.
Dalam delapan bulan, hampir enam miliar rupiah keluar melalui serangkaian pembayaran yang masing-masing tampak wajar.
Konsultasi.
Survei pasar.
Studi ekspansi.
Biaya penghubung vendor.
Jika dilihat satu per satu, tidak mencurigakan.
Kalau disatukan, polanya terlihat jelas.
“Siapa pemiliknya?” tanyaku.
Pak Surya menatap Bastian.
“Pemegang saham akhirnya terhubung ke seseorang bernama Adrian Mahardika.”
Adrian adalah kakak Nadine.
Laki-laki yang selama tiga tahun selalu mengatakan tidak tertarik pada perusahaan keluargaku.
Bastian maju.
“Ini fitnah.”
Aku menggeleng.
“Belum selesai.”
Intan masuk menyusul.
Perempuan itu mengenakan setelan kantor, bukan pakaian pesta.
Nadine menatapnya penuh kebencian.
“Kamu yang melakukan ini?”
Intan menjawab tenang.
“Saya menjalankan pekerjaan saya.”
Tiga bulan sebelumnya, Intan menemukan kejanggalan pada beberapa vendor. Aku memintanya melakukan audit internal diam-diam.
Aku sengaja tidak memberi tahu Nadine.
Awalnya aku masih berharap semuanya hanya kesalahan administrasi.
Kemudian dua minggu lalu kami menemukan seorang manajer pengadaan menerima transfer dari perusahaan yang berhubungan dengan keluarga Mahardika.
Aku mulai curiga.
Tapi aku belum menyangka Nadine terlibat.
Sampai Ibu menemukan dokumen itu.
Nadine menatapku.
“Jadi selama ini kamu menyelidiki keluargaku?”
“Aku menyelidiki uang perusahaan.”
“Kamu tidak percaya aku?”
Aku memandangnya lama.
“Aku percaya kamu selama tiga tahun.”
Nadine terdiam.
“Makanya aku hampir menikahimu.”
Bastian tiba-tiba mengambil map hitam dari tanganku.
“Kamu tidak punya hak menuduh keluarga saya di depan umum.”
Aku merebutnya kembali.
“Ini perusahaan keluarga saya.”
“Perusahaan yang sebentar lagi membutuhkan modal!”
Aku berhenti.
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Bastian sadar ia terpancing.
Aku mendekatinya.
“Bagaimana Bapak tahu?”
Wajahnya menegang.
Informasi mengenai rencana ekspansi gudang pendingin Arunika hanya diketahui jajaran direksi.
Kami memang membutuhkan fasilitas kredit baru.
Tetapi informasi itu belum pernah diumumkan.
Bastian mundur setengah langkah.
Aku langsung mengerti.
“Ada orang dalam.”
Intan mengangguk.
“Kami juga menemukannya pagi ini.”
Ia menyerahkan ponselnya.
Di layar terlihat salinan percakapan.
Pengirimnya adalah Dimas.
Sepupuku sendiri.
Direktur pengembangan bisnis Arunika.
Aku merasa sesuatu runtuh di dalam dada.
Dimas tumbuh bersamaku.
Setelah Ayah meninggal, akulah yang mengajaknya masuk perusahaan.
“Aku tidak percaya,” bisikku.
Sebuah suara muncul dari belakang.
“Percaya saja.”
Dimas berdiri di pintu ballroom.
Ia rupanya datang terlambat.
Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan.
“Kamu selalu dapat semuanya, Rak.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu?”
“Om membangun perusahaan, lalu semuanya jatuh ke tanganmu. Aku kerja bertahun-tahun dan tetap dianggap sepupu yang ditolong.”
“Aku memberikan kamu posisi direktur.”
“Itu masalahnya. Kamu yang memberikan.”
Dimas tertawa pahit.
“Aku capek hidup dari belas kasihanmu.”
Aku hampir tidak mengenali laki-laki di depanku.
Bastian menyela.
“Jangan bodoh, Dimas.”
Namun Dimas justru tertawa.
“Sekarang Bapak takut?”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Aku punya semua percakapan kita.”
Nadine memucat.
“Mas Dimas, jangan.”
Ternyata keserakahan memiliki satu kelemahan sederhana.
Orang-orang serakah jarang benar-benar saling percaya.
Dimas menyimpan seluruh percakapan karena takut keluarga Mahardika akan mengkhianatinya setelah mendapatkan sahamku.
Rencananya perlahan menjadi jelas.
Setelah pernikahan, Nadine akan membujukku menandatangani sejumlah dokumen dengan alasan restrukturisasi aset keluarga.
Dimas akan mendorong kebutuhan pinjaman besar melalui proyek ekspansi.
Kuasa pengelolaan tertentu kemudian diberikan kepada pihak yang terhubung dengan Mahardika Prima Kapital.
Aset strategis perusahaan dijadikan jaminan.
Jika Arunika gagal memenuhi syarat tertentu, kendali perusahaan dapat berpindah perlahan tanpa pernah terlihat seperti perampasan.
Mereka tidak berniat mencuri perusahaan dalam satu malam.
Mereka berniat membuatku menyerahkannya sendiri.
Nadine mulai menangis.
“Raka, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Aku awalnya tidak tahu.”
Aku menatapnya.
“Awalnya?”
Ia menunduk.
“Papa yang merencanakan semuanya.”
Bastian berteriak, “Nadine!”
“Diam, Pa!”
Tangisnya pecah.
“Aku mengenal Raka sebelum semua ini. Aku benar-benar mencintainya.”
Aku ingin mempercayai kalimat itu.
Sayangnya, aku sudah membaca terlalu banyak dokumen.
“Kapan kamu tahu?”
Nadine tidak menjawab.
“Kapan?”
“Delapan bulan lalu.”
Dadaku terasa kosong.
Delapan bulan.
Selama delapan bulan ia masih memilih gedung pernikahan denganku.
Mencoba cincin.
Membicarakan rumah.
Menentukan nama anak sambil tertawa di mobil.
Dan setiap malam ia tidur dengan mengetahui keluarganya sedang mempersiapkan cara mengambil perusahaan peninggalan Ayah.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku takut kehilangan keluargaku.”
“Jadi kamu memilih kehilangan aku?”
Nadine menangis semakin keras.
Aku tidak merasa menang.
Tidak ada kemenangan dalam mengetahui orang yang kita cintai ternyata bersedia mengorbankan kita demi keluarganya sendiri.
Kemudian Ibu berdiri perlahan dengan bantuan tongkat yang telah diambilkan Siska.
“Ada satu hal lagi.”
Aku menoleh.
Ibu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map kecil.
“Nadine benar soal satu hal,” katanya. “Dokumen yang Raka pegang bukan Ibu temukan di ruang kerjamu.”
Aku terdiam.
“Ibu bohong?”
Ibu mengangguk.
“Supaya dia tidak tahu bahwa Ibu sudah membuka tasnya.”
Kemarin sore, Nadine datang ke rumah untuk mengantarkan beberapa dokumen pernikahan. Ketika ia pergi ke kamar mandi, map itu terjatuh dari tasnya.
Ibu melihat nama perusahaan kami.
Ia membacanya.
Lalu memotretnya dan menghubungi Pak Surya malam itu juga.
Pagi ini, Ibu sengaja mengatakan kepada Nadine bahwa ia mengetahui dokumen tersebut.
“Kenapa Ibu lakukan itu?”
Ibu menatapku.
“Karena Ibu ingin memberinya kesempatan.”
Nadine mengangkat wajah.
“Kesempatan?”
“Untuk mengaku sebelum akad.”
Ibu berjalan mendekatinya.
“Kalau kamu datang kepada Raka dan mengatakan semuanya, saya akan meminta dia mendengarkanmu.”
Nadine menangis.
“Tapi Tante mengambil map saya.”
“Karena kamu mencoba merebutnya.”
Siska menyela pelan.
“Waktu Tante tidak mau menyerahkan map itu, Nadine mendorong tangannya. Tongkat Tante tersangkut kakinya.”
Aku memejamkan mata.
Jadi bahkan pada detik terakhir, Nadine masih memilih menutupi semuanya.
Bukan mengaku.
Bukan meminta maaf.
Menutupi.
Beberapa petugas keamanan gedung datang setelah dipanggil panitia. Pak Surya mengatakan seluruh bukti akan diserahkan melalui proses hukum yang semestinya.
Aku meminta semua tamu pulang tanpa mengambil foto atau mempermalukan siapa pun.
Aku tidak ingin menjadikan kehancuran hidupku sebagai tontonan.
Tiga bulan kemudian, penyelidikan internal selesai.
Dimas diberhentikan dan menghadapi proses hukum bersama beberapa pihak yang terlibat dalam transaksi fiktif. Kerja sama Arunika dengan perusahaan yang berhubungan dengan Mahardika dihentikan.
Bastian kehilangan banyak kontrak setelah sejumlah mitra mengetahui adanya masalah hukum.
Aku tidak pernah bertemu Nadine lagi.
Sampai suatu sore, sebuah amplop tiba di kantorku.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada surat pendek dari Nadine.
Ia tidak meminta kembali.
Tidak meminta dimaafkan.
Ia hanya menulis bahwa hukuman terberatnya bukan kehilangan pernikahan atau keluarganya yang kini saling menyalahkan.
Hukuman terberatnya adalah mengetahui bahwa pada hari pernikahan kami, ia sebenarnya masih memiliki satu kesempatan untuk memilih dengan benar.
Dan ia menyia-nyiakannya.
Aku melipat surat itu.
Di meja kerjaku ada foto Ayah dan Ibu ketika gudang pertama Arunika dibuka dua puluh delapan tahun lalu.
Bangunannya kecil.
Cat temboknya bahkan belum selesai.
Namun mereka tersenyum lebar.
Ibu masuk membawa dua cangkir teh.
Kakinya masih sedikit pincang.
“Surat dari siapa?”
“Nadine.”
Ibu duduk di depanku.
“Kamu masih marah?”
Aku berpikir cukup lama.
“Tidak.”
“Masih sayang?”
Pertanyaan itu jauh lebih sulit.
“Mungkin pada orang yang dulu kukira dia.”
Ibu tersenyum tipis.
Aku mengambil foto lama Ayah.
“Ayah pernah bilang perusahaan bisa dibangun lagi kalau bangkrut. Tapi kepercayaan?”
Ibu melanjutkan kalimatnya.
“Kalau pecah, bentuknya tidak pernah sama.”
Aku mengangguk.
Baru saat itu aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan sekolah bisnis mana pun.
Hari pernikahanku memang gagal.
Aku kehilangan calon istri, sepupu yang kuanggap saudara, dan keyakinan bahwa orang-orang terdekat selalu menginginkan yang terbaik untukku.
Namun aku juga hampir kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.
Bukan perusahaan.
Bukan saham.
Bukan miliaran rupiah.
Aku hampir kehilangan kemampuan untuk melihat perbedaan antara cinta dan kepentingan.
Aku menatap tongkat Ibu yang bersandar di samping kursi.
Benda sederhana itulah yang menghentikan sebuah akad.
Dulu aku mengira bunyi tongkat itu adalah suara sesuatu yang hancur.
Ternyata aku salah.
Itu adalah suara hidupku sedang diselamatkan beberapa menit sebelum semuanya terlambat.
