Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka itu berderit pelan saat saya mendorongnya

Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka itu berderit pelan saat saya mendorongnya. Di atas lantai keramik yang basah, mertua saya, Pak Surya, terduduk lemas dengan punggung bersandar pada dinding. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu, dan tangan kanannya mencengkeram dadanya dengan erat.

Namun, bukan itu yang membuat jantung saya seolah melompat keluar dari dada.

Di sekeliling tubuhnya, berserakan ratusan cangkang tiram yang sudah kosong. Bau amis yang pekat dan menusuk hidung memenuhi ruangan sempit itu, bercampur dengan aroma minyak tanah yang samar. Di sudut bak mandi, ada sebuah ember hitam besar yang masih penuh dengan tiram hidup yang belum dibuka.

“Ayah! Apa yang terjadi?” teriak saya histeris sambil berlutut di sampingnya.

Pak Surya tidak menjawab. Napasnya memburu. Dengan sisa tenaga yang ada, dia menunjuk ke arah ember hitam tersebut, lalu berbisik dengan suara yang sangat parau, “Jangan… jangan biarkan mereka… keluar…”

Sebelum saya sempat mencerna kalimatnya, kepala Pak Surya terkulai lemah. Dia pingsan.

Dalam keadaan panik luar biasa, saya langsung menelepon ambulans dan suami saya, tyo. Beruntung, paramedis tiba dengan cepat. Pak Surya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tyo menyusul ke rumah sakit, sementara dia meminta saya untuk mengunci rumah ayahnya dan menunggunya di sana sampai polisi atau pihak medis memberikan kejelasan, karena kondisi Pak Surya terlihat seperti keracunan parah.

Setelah ambulans pergi, keheningan yang mencekam kembali menguasai rumah tua itu. Saya berdiri sendirian di ruang tamu, gemetar. Rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk. Mengapa ada begitu banyak tiram di kamar mandi? Dari mana dia mendapatkannya setiap hari jika dia selalu meminta saya memasakkan bubur tiram?

Saya kembali ke kamar mandi untuk membersihkan kekacauan itu sebelum mengunci rumah. Saat saya mendekati ember hitam di sudut bak mandi, saya menyadari sesuatu yang janggal. Air di dalam ember itu tidak bening, melainkan berwarna merah kehitaman, seperti darah yang mengental. Dan ketika saya mengamati lebih dekat, tiram-tiram di dalamnya tidak seperti tiram yang biasa saya beli di pasar. Cangkangnya berwarna hitam legam dengan guratan-guratan merah yang menyerupai pembuluh darah manusia.

Tiba-tiba, salah satu cangkang tiram di dalam ember itu terbuka sedikit. Bukan gerakan pasif, melainkan gerakan berdenyut, seolah-olah ada sesuatu yang bernapas di dalamnya.

Saya mundur selangkah, menjerit kecil.

Pada saat itulah, perhatian saya teralih ke sebuah buku catatan kecil bercover kulit yang tergeletak di atas mesin cuci, setengah basah. Itu adalah buku harian Pak Surya. Dengan tangan bergetar, saya membuka halaman-halaman terakhirnya. Tulisan tangannya yang biasanya rapi berubah menjadi coretan yang berantakan dan penuh keputusasaan.

12 Maret:

Aku menemukannya di pantai terlarang ujung desa. Tiram hitam. Rasanya luar biasa saat mentah. Tubuhku yang renta mendadak terasa seperti berusia tiga puluh tahun lagi. Ini keajaiban.

20 Maret:

Ada yang salah. Efeknya hilang terlalu cepat. Jika aku tidak memakannya, jantungku terasa seperti diremas hebat. Aku butuh lebih banyak. Tapi aku tidak bisa terus memakannya mentah-mentah, perutku menolak. Harus dimasak menjadi bubur panas agar racun luarnya mati, tapi khasiatnya tetap ada.

5 April:

Aku tidak bisa membelinya di pasar. Mereka tidak menjualnya. Aku harus mengambilnya sendiri di celah batu karang hitam malam-malam. Menantu perempuanku, dia anak yang baik. Dia selalu datang memasakkannya tanpa curiga. Maafkan Ayah, Nak. Ayah memanfaatkanmu karena tangan Ayah sudah terlalu gemetar untuk memegang pisau dapur.

18 April:

Mereka bukan sekadar makanan. Mereka hidup di dalam diriku sekarang. Setiap kali bubur itu masuk ke tubuhku, aku bisa mendengar mereka berbisik di dalam kepalaku. Mereka meminta… wadah baru.

Pena di tangan saya terjatuh. Bulu kuduk saya berdiri tegak. Jadi, selama ini alasan Pak Surya selalu meminta saya memasak bubur tiram bukan karena dia menyukainya, melainkan karena dia kecanduan pada sesuatu yang parasit di dalam tiram tersebut! Dan monster-monster itu berserakan di kamar mandi ini karena Pak Surya mencoba memuntahkannya sebelum dia tidak sadarkan diri.

Telepon genggam saya berdering mengejutkan keheningan. Itu dari Tyo.

“Halo, Sayang? Bagaimana keadaan Ayah?” tanya saya dengan suara tercekat.

“Dokter sedang menanganinya di ruang ICU,” suara Tyo terdengar cemas sekaligus bingung. “Tapi ada yang sangat aneh, Rin. Dokter bilang hasil rontgen menunjukkan ada massa organik yang besar di dalam lambung Ayah. Seperti… kumpulan jaringan hidup yang terus bergerak. Mereka harus melakukan operasi darurat sekarang juga. Kamu cepatlah ke sini.”

“Aku… aku segera ke sana,” jawab saya.

Saya bergegas keluar dari rumah itu, mengunci pintunya rapat-rapat, dan memacu sepeda motor saya menuju rumah sakit dengan pikiran yang berkecamuk.

Sesampainya di rumah sakit, operasi sudah berjalan selama dua jam. Tyo duduk di bangku tunggu dengan wajah kuyu. Saya memeluknya, mencoba menyalurkan kekuatan, namun saya memilih untuk tidak menceritakan isi buku harian itu terlebih dahulu. Saya takut dia mengira saya sudah gila karena stres.

Tepat jam sebelas malam, lampu ruang operasi padam. Dokter keluar dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin dan tatapan mata yang kosong, seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

“Dokter, bagaimana ayah saya?” Tyo langsung memburu dokter itu.

Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum melepaskan maskernya. “Operasinya… berhasil mengeluarkan massa tersebut. Pak Surya stabil. Tapi… apa yang kami temukan di dalam perutnya… tidak masuk akal secara medis. Itu adalah sekumpulan moluska hitam yang saling menyatu, membentuk struktur yang menyerupai jantung kedua. Dan yang lebih mengerikan, organ itu masih berdenyut bahkan setelah dipisahkan dari tubuh pasien.”

Tyo terperangah. Sementara saya merasa bumi tempat saya berpijak runtuh.

“Kami telah mengamankan objek tersebut di laboratorium rumah sakit untuk diteliti lebih lanjut,” lanjut dokter itu dengan suara gemetar. “Kalian boleh menjenguk Pak Surya di ruang pemulihan, tapi dia belum sadar.”

Kami berdua segera menemani Pak Surya. Di dalam kamar yang remang-reman, mertua saya terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang tadi pucat perlahan mulai kembali berwarna. Napasnya teratur.

Malam itu, Tyo tertidur di sofa karena kelelahan. Saya duduk di samping tempat tidur Pak Surya, menatap wajah pria tua yang sudah saya anggap seperti ayah kandung sendiri. Rasa kantuk mulai menyerang saya sekitar jam tiga pagi.

Tiba-tiba, saya merasakan sebuah gerakan.

Saya membuka mata yang terasa berat. Tangan Pak Surya bergerak pelan. Matanya perlahan terbuka. Saya langsung mendekat, “Ayah? Ayah sudah sadar? Alhamdulillah…”

Pak Surya menoleh ke arah saya. Namun, tidak ada binar kehangatan atau senyuman jenaka yang biasa dia berikan. Matanya… seluruh bagian matanya, termasuk bagian putihnya, telah berubah menjadi hitam legam sepenuhnya, memantulkan cahaya lampu kamar rumah sakit seperti permukaan air laut di malam hari.

Dia menatap saya dengan tatapan yang dingin dan asing. Mulutnya terbuka sedikit, dan dari sela-sela bibirnya, mengalir cairan kental berwarna merah kehitaman, persis seperti air di dalam ember hitam di rumahnya.

Saya membeku, tidak mampu berteriak. Keberanian saya menguap total.

Pak Surya meraih pergelangan tangan saya dengan cengkeraman yang luar biasa kuat—kekuatan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pria tua yang baru saja menjalani operasi besar. Dia menarik wajah saya mendekat ke wajahnya. Bau amis tiram yang pekat langsung menusuk hidung saya dari napasnya.

Bukan suara Pak Surya yang keluar dari mulutnya, melainkan gema dari puluhan suara yang saling tumpang tindih, berbisik langsung ke dalam sanubari saya:

“Terima kasih atas buburnya, Nak… Rasanya sangat hangat. Tapi sekarang, Ayah sudah kosong…”

Pak Surya tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang mendadak tampak lebih runcing.

“Dokter-dokter itu… mereka mengira mereka telah membuang kami. Padahal, mereka hanya memindahkan kami ke tempat yang memiliki lebih banyak ‘makanan’.”

Sebelum saya sempat mencerna kata-katanya, dari koridor luar rumah sakit, terdengar suara jeritan histeris dari arah laboratorium. Suara kaca pecah yang nyaring menggema, diikuti oleh suara langkah kaki yang berlarian panik dan raungan sirine darurat rumah sakit.

Pak Surya melepaskan cengkeramannya dari tangan saya, lalu bersandar kembali di bantalnya. Matanya yang hitam pekat menatap langit-langit kamar dengan tatapan puas.

“Mereka lapar, Rin,” bisik Pak Surya, kali ini dengan suara aslinya yang lemah. “Dan seluruh rumah sakit ini… akan menjadi meja makan mereka.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang