Pintu ruang bawah tanah itu terbuka begitu keras hingga Eun-seo tersentak dalam pelukanku.
Cahaya dari lorong menyilaukan mataku yang sudah terlalu lama berada dalam kegelapan.
Dua petugas keamanan berdiri di ambang pintu. Di belakang mereka ada seorang pria berjas hitam yang selama enam tahun hanya kulihat melalui berita bisnis.
Han Tae-jun.
Kakakku.
Begitu melihat wajahku, langkahnya terhenti.

Tatapannya turun ke luka di pelipisku, lalu ke Eun-seo yang menggigil sambil memelukku.
Untuk sesaat, pria yang dikenal mampu menjatuhkan harga saham sebuah perusahaan hanya dengan meninggalkan ruang rapat itu tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian rahangnya mengeras.
“Seo-jin.”
Aku mencoba berdiri, tetapi kakiku kehilangan tenaga.
Tae-jun langsung menangkap tubuhku.
Eun-seo menatapnya ketakutan.
“Mommy, siapa dia?”
Tae-jun berlutut di depan putriku.
Tatapannya yang biasanya dingin berubah lembut.
“Aku pamanmu.”
Eun-seo terdiam.
Tae-jun melepaskan jasnya dan menyelimuti tubuh kecil itu.
“Dan mulai malam ini, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu lagi.”
Kami dibawa ke lantai atas.
Begitu memasuki ruang keluarga, aku melihat Ji-hoon berdiri bersama ibunya, adiknya, dan Chae-rin.
Beberapa pengacara sudah memenuhi ruangan.
Ji-hoon menatapku, kemudian Tae-jun.
“Apa-apaan ini?”
Tae-jun tidak menjawab.
Dia menyerahkan sebuah map kepada salah satu pengacaranya.
Ji-hoon berjalan mendekat.
“Ini rumahku. Kau tidak bisa masuk begitu saja.”
“Benarkah?”
Tae-jun akhirnya berbicara.
Nada suaranya tenang.
Justru itu yang membuat wajah Ji-hoon berubah.
Seorang pengacara membuka dokumen.
“Properti ini dijadikan jaminan atas fasilitas pembiayaan Kang Mirae Holdings tiga tahun lalu. Kreditur utamanya adalah perusahaan investasi yang sekarang berada di bawah Hanseong Capital.”
Nyonya Kang membelalak.
“Itu tidak mungkin.”
Aku menatapnya.
“Memang mungkin.”
Semua mata beralih kepadaku.
Aku berjalan perlahan menuju sofa dan mendudukkan Eun-seo di sana.
Kemudian aku menatap Ji-hoon.
“Kau selalu mengira aku tidak memahami urusan keluargamu karena setelah menikah aku berhenti bekerja.”
Ji-hoon mengepalkan tangan.
“Apa maksudmu?”
“Perusahaan keluargamu hampir bangkrut enam tahun lalu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku masih mengingat hari itu dengan jelas.
Beberapa minggu sebelum pernikahan kami, ayah Ji-hoon datang menemuiku secara diam-diam.
Kang Mirae Holdings terlilit utang akibat ekspansi yang gagal.
Bank menolak memberikan pinjaman baru.
Investor mulai menarik diri.
Jika keadaan itu diketahui publik, perusahaan mereka akan runtuh.
Aku menyusun restrukturisasi utang menggunakan beberapa perusahaan investasi.
Aku melakukannya karena mencintai Ji-hoon.
Dan karena ayahnya memohon agar aku tidak pernah mengatakan kepadanya siapa yang menyelamatkan perusahaan.
Dia takut harga diri putranya hancur.
Aku setuju.
Itulah kesalahan terbesarku.
Ji-hoon tertawa pendek.
“Kau mengarang cerita.”
Tae-jun melemparkan map hitam ke atas meja.
“Baca.”
Ji-hoon membukanya.
Tangannya berhenti pada halaman pertama.
Aku melihat wajahnya perlahan memucat.
Di sana ada tanda tanganku sebagai pihak yang menyetujui struktur investasi.
Dan di bawahnya terdapat tanda tangan Ji-hoon sendiri sebagai direktur penerima pembiayaan.
Dia memang pernah menandatanganinya.
Hanya saja saat itu dia terlalu sibuk merayakan posisinya sebagai pewaris untuk membaca siapa pemilik sebenarnya dari dana tersebut.
“Ini…”
Suaranya bergetar.
“Ini tidak berarti apa-apa.”
“Kalau begitu halaman berikutnya mungkin lebih menarik,” kata Tae-jun.
Ji-hoon membalik halaman.
Kemudian halaman berikutnya.
Semakin jauh dia membaca, semakin pucat wajahnya.
Sebagian besar ekspansi perusahaan Kang selama lima tahun terakhir dibiayai melalui dana investasi yang secara tidak langsung masih kukendalikan.
Aku tidak memiliki perusahaan mereka.
Namun tanpa persetujuan investor utama, rencana restrukturisasi terbaru mereka tidak akan pernah berjalan.
Nyonya Kang menatapku seolah baru pertama kali melihat wajahku.
“Kau menyembunyikan semua ini?”
Aku hampir tertawa.
“Bukan aku yang menyembunyikannya. Kalian yang tidak pernah bertanya siapa aku sebelum menjadi istri Ji-hoon.”
Chae-rin tiba-tiba berdiri.
“Ini urusan keluarga. Aku sebaiknya pergi.”
“Jangan.”
Suara Tae-jun menghentikannya.
Wajah Chae-rin menegang.
Seorang pengacara mengeluarkan ponsel.
“Kami juga sudah menerima rekaman kamera keamanan.”
Chae-rin langsung menoleh kepada Ji-hoon.
Aku sendiri terkejut.
Kupikir kamera di dekat tangga sedang rusak.
Ternyata Tae-jun mengetahui bahwa sistem keamanan vila menyimpan cadangan otomatis di server perusahaan.
Rekaman itu diputar di layar televisi.
Semua orang melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Chae-rin berdiri di dekat tangga sambil berbicara kepadaku.
Dia sengaja mendekat.
Kemudian ketika mendengar langkah Ji-hoon dari lorong, dia menjatuhkan tubuhnya sendiri.
Beberapa detik kemudian dia mulai berteriak.
“Seo-jin mendorongku!”
Tidak ada seorang pun berbicara setelah video itu selesai.
Ji-hoon menatap Chae-rin.
“Kau berbohong?”
Chae-rin mundur.
“Aku melakukannya karena dia selalu menghalangi kita.”
“Kita?”
Aku menatap Ji-hoon.
Chae-rin menyadari kesalahannya terlambat.
Ji-hoon mencoba memotong pembicaraan.
“Seo-jin, kita bisa membicarakan ini nanti.”
Aku tersenyum.
Enam tahun aku menunggu kalimat seperti itu.
Ironisnya, ketika akhirnya mendengarnya, aku tidak merasakan apa-apa.
“Tidak ada nanti.”
Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas yang dibawakan pengacara Tae-jun.
Aku meletakkannya di depan Ji-hoon.
“Aku mengajukan gugatan cerai.”
Wajahnya berubah.
“Jangan konyol.”
“Aku juga meminta hak asuh penuh atas Eun-seo.”
Ji-hoon meraih pergelangan tanganku.
“Kau pikir karena kakakmu datang membawa beberapa pengacara, kau bisa menghancurkan keluargaku?”
Tae-jun hendak maju, tetapi aku mengangkat tangan.
Aku menatap jari-jari Ji-hoon yang mencengkeramku.
“Lepaskan.”
Dia tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku menatap matanya tanpa rasa takut.
“Ada laporan medis, rekaman kamera, kesaksian staf, dan bukti bahwa kau mengurung seorang anak di ruang bawah tanah dalam kondisi terluka. Kalau kau ingin memperburuk posisi hukummu, terus pegang tanganku.”
Ji-hoon melepaskannya.
Nyonya Kang segera mendekat.
“Seo-jin, pikirkan Eun-seo. Perceraian akan membuatnya tumbuh tanpa keluarga lengkap.”
Aku menatap perempuan yang beberapa jam sebelumnya menyaksikan putranya menamparku.
“Keluarga yang lengkap bukan keluarga yang tinggal di bawah satu atap.”
Aku menggenggam tangan Eun-seo.
“Keluarga adalah tempat seorang anak merasa aman.”
Kami meninggalkan vila malam itu.
Tetapi kehancuran keluarga Kang baru dimulai keesokan paginya.
Berita mengenai penundaan pendanaan Kang Mirae Holdings menyebar ke pasar.
Tae-jun tidak menghancurkan perusahaan mereka.
Aku yang meminta agar dia tidak melakukannya.
Ribuan pegawai menggantungkan hidup pada perusahaan itu. Mereka tidak bersalah atas apa yang dilakukan keluarga Kang.
Sebaliknya, kami menuntut restrukturisasi menyeluruh.
Ji-hoon dicopot dari posisi direktur.
Ibunya kehilangan hak mengendalikan beberapa aset keluarga yang dijadikan jaminan.
Dewan direksi menunjuk manajemen profesional.
Untuk pertama kalinya, keluarga Kang harus hidup tanpa kekuasaan yang selama ini mereka anggap sebagai hak sejak lahir.
Namun kejutan terbesar datang dari Chae-rin.
Dua minggu setelah kejadian itu, polisi menemukan bahwa dia tidak hanya berbohong tentang insiden di tangga.
Selama hampir setahun, dia dan adik Ji-hoon ternyata diam-diam memindahkan dana perusahaan melalui sejumlah perusahaan cangkang.
Hubungannya dengan Ji-hoon hanyalah sebagian dari rencana.
Dia mendekati Ji-hoon karena mengetahui lelaki itu akan segera menjadi pewaris.
Yang lebih mengejutkan, adik Ji-hoon adalah orang yang pertama kali memperkenalkan mereka.
Ji-hoon kehilangan istri, jabatan, kekasih, dan kepercayaan keluarganya hampir dalam waktu bersamaan.
Tiga bulan kemudian, aku bertemu dengannya untuk terakhir kali di pengadilan.
Dia terlihat berbeda.
Tidak ada lagi jas mahal.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada tatapan angkuh.
“Seo-jin.”
Aku berhenti.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku seharusnya mendengarkanmu malam itu.”
“Bukan hanya malam itu.”
Dia menunduk.
“Aku tahu.”
Kemudian dia menatapku dengan mata merah.
“Apakah kau pernah benar-benar mencintaiku?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
Karena jawabannya adalah ya.
Aku pernah mencintainya sampai rela meninggalkan dunia yang kubangun sendiri.
Aku pernah menyelamatkan keluarganya tanpa meminta penghargaan.
Aku pernah meyakinkan diriku bahwa setiap penghinaan hanyalah fase buruk dalam pernikahan.
“Aku mencintaimu,” kataku.
Wajahnya sedikit terangkat.
“Tapi perempuan yang mencintaimu itu sudah lama hilang.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Enam bulan kemudian, aku kembali memasuki gedung Hanseong Capital.
Para pegawai berdiri ketika aku melewati lobi.
Di lantai tertinggi, Tae-jun menungguku.
Di meja kerjanya terdapat sebuah papan nama baru.
Han Seo-jin.
Chief Investment Strategist.
Aku menyentuh tulisan itu perlahan.
“Enam tahun,” kataku.
Tae-jun berdiri di sampingku.
“Terlambat?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Hanya terasa seperti aku harus belajar berjalan lagi.”
Dia tersenyum.
“Kalau begitu berjalanlah pelan-pelan.”
Sore itu, Eun-seo datang sepulang sekolah.
Dia berlari memasuki kantorku sambil membawa sebuah gambar.
“Mommy, lihat!”
Dalam gambar itu ada tiga orang bergandengan tangan.
Aku, Eun-seo, dan Tae-jun.
Di belakang kami berdiri sebuah rumah kecil dengan matahari besar di atasnya.
Aku tersenyum.
“Kenapa rumahnya kecil?”
Eun-seo mengangkat bahu.
“Bu guru bilang kami harus menggambar rumah impian.”
“Lalu kenapa bukan rumah besar?”
Jawabannya membuatku terdiam.
“Karena rumah besar yang dulu dingin.”
Dia menunjuk matahari yang digambarnya.
“Aku mau rumah yang hangat.”
Aku memeluknya erat.
Barulah saat itu aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kupahami.
Aku pernah mengira mempertahankan pernikahan berarti menyelamatkan keluarga.
Padahal terkadang, pergi justru merupakan satu-satunya cara menyelamatkan orang-orang yang kita cintai.
Setahun kemudian, Kang Mirae Holdings kembali mencatat keuntungan.
Perusahaan itu tidak lagi dikendalikan keluarga Kang.
Ribuan pegawainya tetap bekerja.
Ji-hoon menjalani proses hukum atas kekerasan yang dilakukannya dan kehilangan hak asuh atas Eun-seo, meskipun pengadilan masih memberikan kesempatan pertemuan terbatas dengan pengawasan.
Aku tidak pernah melarang Eun-seo mengenal ayahnya.
Aku hanya memastikan dia tidak lagi tumbuh dengan keyakinan bahwa rasa takut adalah bagian dari cinta.
Suatu malam, Tae-jun bertanya kepadaku mengapa aku tidak mengambil alih Kang Mirae ketika kesempatan itu terbuka lebar.
Aku menatap lampu-lampu Jakarta dari jendela kantor baru Hanseong Capital Indonesia, tempat aku memimpin ekspansi perusahaan ke Asia Tenggara.
“Karena aku tidak ingin hidup untuk membalas dendam.”
“Lalu semua yang kita lakukan?”
Aku tersenyum tipis.
“Itu bukan balas dendam.”
“Jadi apa?”
Aku teringat ruang bawah tanah itu.
Dingin.
Gelap.
Dan suara Eun-seo yang mengatakan bahwa dia kedinginan.
Malam itu dahulu terasa seperti akhir hidupku.
Sekarang aku tahu itu justru permulaannya.
“Itu hanya caraku mengambil kembali apa yang memang milikku.”
Tae-jun mengangkat alis.
“Perusahaan?”
Aku menggeleng.
“Diriku sendiri.”
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Eun-seo masuk.
Mommy, cepat pulang. Aku membuat cokelat panas.
Aku mengambil tas dan berdiri.
Dulu, aku meninggalkan kantor demi menjadi istri seseorang.
Malam itu, aku meninggalkan kantor karena seseorang sedang menungguku pulang.
Perbedaannya sederhana.
Yang pertama kulakukan karena takut kehilangan cinta.
Yang kedua kulakukan karena akhirnya aku tahu seperti apa cinta seharusnya terasa.
Hangat.
Aman.
Dan tidak pernah membutuhkan seseorang untuk kehilangan dirinya sendiri.
