Aku menatap Bagas, berusaha menebak nama wanita yang akan keluar dari mulutnya. Delapan tahun lalu, aku pernah menunggu penjelasan darinya sampai malam berganti pagi. Kini, setelah delapan tahun berlalu, aku kembali berada di hadapan laki laki yang sama, menunggu jawaban yang mungkin akan menghancurkan sisa harapanku.

“Wanita yang menerima bunga itu,” katanya pelan, “adalah ibumu.”
Aku terdiam.
“Apa?”
Bagas mengembuskan napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku celananya. Tangannya sedikit gemetar ketika menyodorkannya kepadaku.
“Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya. Jadi, sebelum kamu salah paham lebih jauh, baca ini dulu.”
Aku tidak segera mengambilnya. “Kamu datang setelah delapan tahun, memesan bunga untuk calon istrimu, meninggalkannya di tokoku, lalu sekarang bilang bunga itu untuk ibuku? Kamu pikir aku masih semudah itu percaya kepadamu?”
“Aku tahu kamu punya alasan untuk membenciku.”
“Bukan membencimu, Gas. Aku hanya sudah lelah bertanya kenapa kamu pergi.”
Kata kata itu akhirnya keluar juga. Bertahun tahun kusimpan, tetapi saat mengucapkannya, suaraku justru terdengar lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Bagas menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat laki laki berseragam polisi itu tampak kehilangan keberanian.
“Aku tidak pernah berhenti ingin menjawab pertanyaan itu.”
“Lalu kenapa tidak pernah menghubungiku?”
Dia menunjuk amplop di tanganku.
“Karena orang yang bisa menjelaskan semuanya ada di dalam rumah ini.”
Aku membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah foto lama, dan surat yang ditulis dengan tangan ibuku.
Begitu melihat tulisan itu, jantungku serasa berhenti.
Aku mengenali setiap lengkungan hurufnya. Itu tulisan yang sama dengan tulisan pada catatan kecil yang biasa ibu selipkan di kotak bekalku ketika aku masih sekolah.
Aku mulai membaca.
Sinta sayang, jika suatu hari Bagas datang membawa surat ini, berarti akhirnya Ibu sudah punya keberanian untuk mengatakan kebenaran kepadamu.
Tanganku langsung dingin.
Surat itu menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui. Delapan tahun lalu, ketika Bagas diterima di pendidikan kepolisian, ayahnya jatuh sakit dan keluarganya terlilit utang. Pada saat yang hampir bersamaan, toko bunga kami terancam disita karena tunggakan pinjaman yang digunakan untuk biaya operasi bapak.
Bagas mengetahui semuanya dari ibunya, yang kebetulan mengenal ibu melalui kegiatan warga. Tanpa sepengetahuanku, dia datang ke rumah untuk menawarkan bantuan.
Namun, sebelum Bagas sempat membicarakan masalah itu denganku, ibuku sudah lebih dahulu meminta satu hal kepadanya.
Jangan kembali menemui Sinta sebelum hidupmu benar benar mapan.
Menurut surat itu, ibu takut aku akan mengorbankan masa depanku demi mengikuti Bagas. Ibu juga takut hubungan kami membuatku meninggalkan toko yang menjadi satu satunya sumber penghidupan keluarga.
Bagas menolak permintaan tersebut. Dia bersikeras bahwa kami berhak menentukan masa depan sendiri.
Tetapi pada malam sebelum keberangkatannya ke Semarang, ibu memberinya sebuah pilihan yang kejam. Jika dia benar benar mencintaiku, dia harus pergi tanpa mengikatku dengan janji yang belum bisa dia tepati.
Ibu berjanji akan menjelaskan semuanya kepadaku setelah keadaan keluarga membaik.
Janji itu tidak pernah ditepati.
Aku mengangkat kepala. Ibu berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya pucat. Bapak berada di belakangnya, memegang gelas yang belum sempat dibawanya ke meja.
“Bu, ini benar?”
Ibu tidak menjawab.
“Delapan tahun, Bu. Delapan tahun aku mengira dia membuangku begitu saja.”
Air mata mulai mengalir di pipi ibu.
“Ibu pikir Ibu sedang melindungimu.”
“Melindungi aku dengan membiarkan aku merasa tidak berharga?”
Kalimat itu membuat ibu menutup mulutnya. Bapak meletakkan gelas di meja, kemudian mendekat dan merangkul bahu ibu. Namun, kali ini aku tidak sanggup mencari pembenaran untuk mereka.
Aku kembali menatap Bagas.
“Kalau memang begitu, kenapa kamu tidak pernah mencari cara lain untuk menghubungiku? Kenapa kamu membiarkan aku menunggu?”
Bagas menerima pertanyaanku tanpa berusaha membela diri.
“Awalnya aku marah. Aku merasa kalau aku menghubungimu, aku hanya akan membuatmu terjebak di antara aku dan keluargamu. Aku pikir, begitu aku selesai pendidikan dan punya pekerjaan tetap, aku akan kembali.”
“Lalu?”
“Ketika aku kembali ke Yogyakarta dua tahun kemudian, aku melihatmu di sebuah acara kampus. Kamu tertawa bersama seorang laki laki. Aku mengira kamu sudah bahagia dan tidak ingin masa lalumu mengganggu hidupmu.”
Aku menggeleng tak percaya.
“Itu teman sekelasku. Dia bahkan sudah menikah tiga tahun lalu.”
Bagas tersenyum getir. “Aku tahu sekarang.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena aku pernah bertanya kepada bapakmu.”
Bapak mengalihkan pandangan. Rupanya, ada lebih banyak rahasia di rumah ini daripada yang sanggup kuterima malam itu.
“Aku seharusnya tidak pergi tanpa penjelasan,” lanjut Bagas. “Aku tahu itu. Aku juga seharusnya tidak membiarkan ketakutanku mengambil keputusan untuk kita berdua. Aku tidak datang untuk meminta kamu melupakan semuanya.”
Aku meremas surat ibu. Dadaku sakit, tetapi bukan hanya karena kehilangan delapan tahun. Aku juga marah karena selama ini semua orang merasa berhak menentukan apa yang terbaik untukku tanpa pernah bertanya apa yang kuinginkan.
“Lalu calon istrimu?” tanyaku. “Jangan bilang kamu datang untuk mengungkit masa lalu hanya karena kamu akan menikah besok.”
Bagas menatapku lama.
“Aku memang akan menikah.”
Aku tertawa kecil, pahit. “Setidaknya ada satu hal yang jelas.”
“Namanya Rani. Dia adik perempuanku.”
Aku berhenti tertawa.
Bagas mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. Di foto itu, seorang perempuan muda berdiri di samping seorang pria berjas. Wajah perempuan itu terasa familier, meskipun aku tidak tahu dari mana.
“Rani akan menikah besok pagi,” katanya. “Pria yang akan dinikahinya adalah anak dari keluarga yang dulu membantu kami ketika ayahku sakit. Kami mengundang beberapa orang dari masa lalu untuk datang, termasuk ibumu.”
Aku menatap foto itu sekali lagi. Baru saat itulah aku melihat nama yang tertulis di belakangnya. Nama keluarga calon pengantin pria adalah nama yang sama dengan nama keluarga pemilik gedung tempat toko kami pernah menyewa kios bertahun tahun lalu.
Bagas melanjutkan, “Aku memesan buket itu untuk Rani. Aku ingin kamu yang memilihnya karena kamu selalu tahu bunga apa yang bisa membuat seseorang merasa dicintai. Aku pergi untuk menemui ibumu, bukan untuk membeli bunga lain. Kami sudah membicarakan surat ini sebelum aku datang ke toko.”
“Kalau begitu, kenapa kamu bilang bunga itu sudah diterima wanita yang kamu belikan?”
“Karena aku ingin kamu berhenti merasa harus mengembalikannya kepadaku. Aku sudah menitipkan buket untuk Rani kepada adikku. Bunga yang ada di tanganmu itu sebenarnya tidak pernah akan kubawa pergi.”
Aku menatap buket mawar putih di pangkuanku. Tiba tiba, pita abu abu yang kuikat dengan tanganku sendiri terasa begitu berat.
“Jadi, bunga ini untuk siapa?”
Bagas menatapku dengan mata yang tak lagi bisa menyembunyikan kesedihan.
“Untuk seseorang yang dulu ingin kunikahi.”
Aku tidak menjawab.
“Dan aku tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk mengatakannya,” lanjutnya, “tetapi selama delapan tahun, tidak ada satu hari pun ketika aku benar benar berhenti mencintaimu.”
Aku ingin memercayainya. Tuhan tahu betapa seringnya aku membayangkan mendengar kalimat itu. Namun, cinta yang kembali setelah delapan tahun tidak otomatis menghapus luka yang ditinggalkannya.
“Aku tidak bisa memberimu jawaban malam ini, Gas.”
“Aku tidak meminta jawaban malam ini.”
“Dan jangan berharap aku akan kembali menjadi perempuan yang menunggumu di depan jendela setiap kali hujan turun.”
“Aku juga tidak menginginkan perempuan yang sama seperti delapan tahun lalu,” jawabnya. “Aku ingin mengenal perempuan yang sekarang duduk di depanku, kalau dia masih bersedia memberiku kesempatan.”
Aku memandangnya cukup lama hingga akhirnya menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke toko, Bagas tidak mencoba meyakinkanku dengan janji. Dia hanya duduk di sana, menerima bahwa aku berhak marah, berhak ragu, bahkan berhak menolaknya.
Malam itu, dia pulang tanpa membawa buket.
Aku menyimpan bunga tersebut di kamarku. Bukan karena aku sudah memaafkannya, melainkan karena untuk pertama kalinya aku ingin mengambil keputusan tanpa membiarkan orang lain menentukan artinya.
Keesokan paginya, aku datang ke toko lebih awal. Hujan telah berhenti. Di atas meja kerja, aku menemukan sebuah pesan dari Rani yang dikirim melalui nomor yang diberikan Bagas. Dia berterima kasih atas buket untuk pernikahannya dan meminta maaf karena baru menghubungiku.
Di akhir pesannya, ada satu kalimat yang membuatku kembali terdiam.
Mbak Sinta, Mas Bagas sebenarnya sudah membeli dua tiket kereta untuk pulang ke Yogyakarta delapan tahun lalu. Satu untuk dirinya, satu untuk Mbak. Tiket itu masih disimpannya sampai sekarang.
Aku segera menghubungi Bagas.
Ketika dia datang, aku bertanya tentang tiket itu. Dia terdiam sejenak sebelum mengeluarkan dompet lamanya. Dari sela kompartemen paling belakang, dia menarik dua tiket kereta yang warnanya sudah memudar.
“Aku membelinya sebelum semuanya berubah,” katanya. “Waktu itu aku ingin kembali menemuimu setelah pendidikan selesai. Aku bahkan sudah membayangkan kita akan memulai hidup baru di kota ini.”
“Kenapa masih kamu simpan?”
“Karena aku tidak pernah benar benar berdamai dengan caraku meninggalkanmu.”
Aku menggenggam kedua tiket itu. Tanggal keberangkatannya sudah berlalu bertahun tahun, tetapi entah mengapa benda kecil tersebut terasa lebih jujur daripada semua penjelasan yang kudengar semalam.
“Aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya,” kataku.
“Aku mengerti.”
“Tapi aku juga tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan membenci masa lalu.”
Bagas mengangguk pelan.
Aku mengambil gunting, memotong ujung batang mawar yang mulai mengering, lalu mengganti air dalam vas. Setelah itu, aku meletakkan vas tersebut di dekat jendela toko, tempat cahaya pagi jatuh di atas kelopak putihnya.
“Kalau kamu masih ingin mengenalku,” kataku tanpa menoleh, “datanglah besok. Jangan memakai seragam. Jangan membawa surat dari ibuku. Jangan membawa kenangan yang sudah delapan tahun kamu simpan.”
“Lalu aku harus membawa apa?”
Aku akhirnya menatapnya.
“Dirimu sendiri. Dan kali ini, kalau ada sesuatu yang sulit dikatakan, katakanlah sebelum terlambat.”
Untuk pertama kalinya, Bagas tersenyum tanpa kesedihan yang berusaha disembunyikannya.
“Baik.”
Dia pergi setelah membantu bapak memindahkan beberapa pot ke depan toko. Aku tidak mengejarnya. Aku juga tidak berjanji akan menunggunya.
Keesokan harinya, tepat pukul sembilan, bel pintu toko berbunyi.
Bagas berdiri di sana dengan kemeja sederhana dan dua gelas kopi. Tidak ada bunga, tidak ada surat, tidak ada alasan untuk membuat kedatangannya terlihat istimewa.
Aku menerima satu gelas darinya.
Di luar, matahari menyinari jalanan Kotabaru yang masih basah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, aku tidak merasa sedang menunggu seseorang kembali dari masa lalu.
Aku sedang memberi kesempatan kepada seseorang untuk hadir di masa kini.
Dan ketika Bagas bertanya apakah aku bersedia berjalan dengannya setelah toko tutup, aku tidak langsung menjawab. Aku hanya tersenyum kecil, lalu menyerahkan kepadanya seikat mawar putih yang baru saja kurangkai.
“Boleh,” kataku. “Tapi kali ini, kamu yang harus belajar memilih bunga.”
Dia tertawa, dan aku ikut tertawa.
Aku akhirnya memahami bahwa cinta bukan selalu tentang dua orang yang berhasil menemukan jalan pulang. Kadang, cinta adalah keberanian untuk mengakui kesalahan, menerima luka, dan memulai kembali tanpa berpura pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi.
Mawar putih di dekat jendela perlahan mekar di bawah cahaya pagi.
Delapan tahun telah hilang, dan tidak ada yang bisa mengembalikannya.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa masa depan tidak harus menjadi tempat kita mengulang kesalahan yang sama.
