Pukul 07.18 keesokan paginya, aku sudah berdiri di teras rumahku sendiri dengan perban melilit bahu kiri, Bianca Hale di sisiku, dua polisi berjaga di dekat gerbang, dan seorang tukang kunci yang sedang berlutut di samping kotak peralatannya yang terbuka.

Pukul 07.18 pagi itu, aku berdiri di teras rumahku sendiri dengan perban melilit bahu kiri. Di sampingku, Bianca Hale menggenggam map kulit hitam berisi dokumen-dokumen yang selama ini tak pernah kubayangkan akan menyelamatkan hidupku. Dua polisi berdiri di dekat pagar, sementara seorang tukang kunci mengeluarkan peralatannya.

Kompleks perumahan elite Willowmere masih tenang. Udara Jakarta Selatan terasa sejuk setelah hujan semalam. Orang-orang mulai keluar rumah untuk jogging, menyiram tanaman, atau sekadar berjalan-jalan dengan anjing peliharaan mereka. Tak seorang pun menyangka bahwa di salah satu rumah paling mewah di blok itu, sebuah keluarga sedang runtuh dari dalam.

Di balik blus krem yang kupakai, kulit bahuku masih berdenyut karena luka bakar. Dokter mengatakan bahwa aku beruntung. Air mendidih yang dilempar Lorraine Roth hanya mengenai bahu dan sebagian punggungku. Sedikit lebih tinggi, wajahku mungkin akan cacat seumur hidup.

Namun, rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan kenyataan yang akhirnya harus kuterima.

Aku telah menghabiskan tiga tahun pernikahanku dengan seorang pria yang membiarkan ibunya memperlakukanku seperti orang asing di rumah yang kubeli dengan hasil kerjaku sendiri.

Pintu depan terbuka.

Lorraine keluar dengan jubah sutra biru mudanya, wajahnya masih sembab karena baru bangun tidur. Ketika melihat polisi dan tukang kunci, ekspresinya berubah dari kesal menjadi bingung.

“Apa-apaan ini?” tanyanya.

Bianca menjelaskan semuanya dengan suara tenang. Bahwa Lorraine tidak lagi diizinkan tinggal di rumah itu. Bahwa polisi hadir untuk memastikan proses berjalan aman. Bahwa kunci rumah akan diganti pagi itu juga.

Lorraine tertawa sinis.

“Kalian gila? Ini rumah anak saya.”

Aku menatapnya.

“Ini rumah saya.”

Ia tersenyum meremehkan.

“Marina, berhentilah berkhayal. Evan yang membeli rumah ini.”

Bianca membuka dokumen-dokumen di tangannya. Akta kepemilikan, bukti pembayaran, kontrak kredit, hingga dokumen notaris yang semuanya menunjukkan satu nama.

Namaku.

Lorraine membeku.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku melihat ketakutan di matanya.

Tetapi semuanya baru benar-benar berubah ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Evan turun tergesa-gesa dengan wajah kusut. Rupanya ibunya sudah meneleponnya beberapa menit sebelumnya.

“Ada apa ini?” bentaknya sambil berjalan cepat menuju teras.

Tatapannya langsung jatuh pada perban di bahuku, lalu pada polisi.

Bianca menyerahkan satu amplop kepadanya.

“Apa ini?”

“Surat gugatan cerai dan perintah pengosongan rumah.”

Wajah Evan memucat.

“Apa?”

Aku melihat pria yang dulu kucintai berdiri beberapa meter dariku, tampak benar-benar terkejut. Mungkin karena selama ini ia selalu yakin bahwa aku akan memaafkannya, seperti yang selalu kulakukan.

“Marina, kita bisa bicara.”

“Kita sudah terlalu banyak bicara, Evan.”

Ibunya segera memotong.

“Jangan dengarkan dia. Dia hanya emosional.”

Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menyadari betapa lucunya semua ini. Mereka masih menganggapku lemah bahkan setelah polisi berdiri di depan rumah.

“Aku masuk rumah sakit tadi malam,” kataku pelan.

Lorraine mendengus.

“Itu kecelakaan.”

“Tidak.”

Suasana mendadak hening.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan menyerahkannya kepada polisi.

“Silakan putar videonya.”

Lorraine mendadak pucat.

Karena ia baru sadar bahwa kamera keamanan di dapur tidak pernah mati.

Video itu memperlihatkan semuanya.

Bagaimana Lorraine masuk ke dapur sambil berteriak. Bagaimana ia menyebutku parasit meski aku yang membayar semua tagihan rumah. Bagaimana ia meraih ketel berisi air mendidih dan melemparkannya tepat ke arahku.

Dan yang paling menghancurkan adalah bagian terakhir.

Evan ada di sana.

Ia berdiri beberapa meter dari kami.

Ia melihat semuanya.

Tetapi ia tidak menolongku.

Yang ia lakukan hanyalah mendekati ibunya dan berkata, “Sudahlah, Bu. Marina memang suka membesar-besarkan masalah.”

Aku masih ingat bagaimana kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada luka bakarku.

Polisi saling berpandangan.

Lorraine mulai panik.

“Itu tidak seperti yang terlihat.”

Namun, tak seorang pun lagi mendengarkannya.

Salah satu polisi meminta Lorraine untuk mengambil barang-barang pribadinya. Polisi lainnya menjelaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan terkait dugaan penganiayaan.

Lorraine berbalik ke arah Evan.

“Katakan sesuatu!”

Evan tampak kehilangan kata-kata.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dengan pesona dan alasan-alasan kosong.

Sementara tukang kunci mulai mengganti silinder pintu, aku duduk di tangga teras, menahan nyeri yang kembali menyerang bahuku.

Bianca duduk di sebelahku.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk pelan.

“Kurasa aku hanya lelah.”

Bianca menatapku beberapa saat.

“Kamu tahu, selama ini mereka hidup dari uangmu.”

Aku tersenyum pahit.

“Aku baru menyadarinya sekarang.”

Tiga tahun sebelumnya, aku dan Evan bertemu di sebuah acara perusahaan teknologi. Aku bekerja sebagai konsultan perangkat lunak yang membangun sistem keamanan digital untuk beberapa perusahaan besar di Asia Tenggara. Pendapatanku jauh lebih besar daripada yang kukatakan kepada orang-orang.

Bukan karena aku ingin berbohong.

Aku hanya tidak suka memamerkan kekayaan.

Ketika membeli rumah itu sebelum menikah, aku memilih untuk tetap hidup sederhana. Aku membiarkan orang-orang berpikir bahwa kami membeli rumah bersama.

Dan di situlah kesalahanku dimulai.

Sedikit demi sedikit, Evan mulai menikmati pujian yang seharusnya bukan miliknya.

Ibunya memuja dirinya sebagai pria sukses yang membangun keluarga sempurna.

Aku diam.

Ketika Lorraine mulai tinggal bersama kami sembilan bulan sebelumnya, aku kembali diam.

Ketika ia mengkritik pekerjaanku, masakanku, cara berpakaianku, bahkan keputusan kami untuk belum memiliki anak, aku tetap diam.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini akan membaik.

Sampai malam itu.

Malam ketika aku akhirnya meminta Lorraine pindah.

Dan ia memilih melemparkan air mendidih.

Siang harinya, rumah itu terasa asing.

Lorraine pergi ke apartemen temannya sambil menangis dan memaki-maki. Evan tetap bertahan beberapa jam, mencoba membujukku.

“Kita bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Kamu melihat ibumu menyakitiku.”

“Dia tidak sengaja.”

Aku menatap matanya.

“Kamu bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.”

Evan terdiam.

Baru saat itulah aku menyadari bahwa pernikahan kami sebenarnya telah berakhir jauh sebelum air mendidih itu menyentuh kulitku.

Ia berakhir setiap kali aku memilih diam demi menjaga kedamaian.

Malamnya, Bianca datang membawa beberapa dokumen tambahan.

“Ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”

Ia membuka laporan keuangan.

Aku mengernyit.

“Apa ini?”

“Tagihan kartu kredit atas nama suamimu.”

Jumlahnya membuatku tercekat.

Ratusan juta rupiah.

Pembelian jam tangan mewah.

Perjalanan bisnis yang tidak pernah ada.

Transfer rutin ke rekening asing.

“Aku tidak mengerti.”

Bianca menarik napas panjang.

“Marina, aku menyewa penyelidik setelah kamu menceritakan semuanya tadi malam.”

Dadaku mendadak sesak.

“Apa maksudmu?”

Bianca mengeluarkan beberapa foto.

Di sana, Evan terlihat bersama seorang perempuan muda di sebuah hotel di Bali.

Lalu foto lain.

Dan foto lainnya lagi.

Tanggal-tanggalnya membentang hampir dua tahun.

Dunia di sekitarku seolah berhenti.

Bukan karena aku tidak pernah curiga.

Tetapi karena aku tidak menyangka bahwa pengkhianatan itu berlangsung selama ini.

“Dia menggunakan uangmu,” kata Bianca pelan.

Aku menutup mata.

Lucunya, rasa sakit terbesar bukanlah perselingkuhan itu sendiri.

Melainkan kenyataan bahwa aku telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempertahankan orang-orang yang bahkan tidak pernah menghargai keberadaanku.

Proses perceraian berlangsung cepat.

Video dari kamera keamanan menjadi bukti kuat. Tuduhan penganiayaan terhadap Lorraine diproses. Sementara bukti perselingkuhan dan penyalahgunaan dana memperburuk posisi Evan.

Keluarganya yang selama ini begitu bangga mulai menjauh.

Teman-temannya berhenti menelepon.

Bisnis kecil yang selama ini ia banggakan ternyata hampir bangkrut dan diam-diam bertahan berkat uang yang secara tidak langsung berasal dariku.

Semua kebohongan yang mereka bangun runtuh dalam hitungan minggu.

Namun, kejutan terbesar datang beberapa bulan kemudian.

Suatu sore, aku menerima telepon dari rumah sakit.

Lorraine terkena serangan stroke ringan.

Aku hampir mengabaikan telepon itu.

Tetapi entah mengapa, aku tetap pergi.

Lorraine tampak jauh lebih tua daripada terakhir kali kami bertemu. Tubuhnya mengecil. Tatapannya kehilangan ketajaman yang dulu membuatku takut.

Ketika melihatku masuk, matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak menyangka kamu datang.”

Aku duduk di kursi dekat ranjangnya.

“Kabarnya Evan sedang di luar kota.”

Lorraine mengangguk pelan.

Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Aku salah tentang banyak hal.”

Aku tidak menjawab.

“Aku selalu berpikir perempuan harus bergantung pada laki-laki.”

Ia menatap tangannya sendiri.

“Ketika melihatmu berhasil, aku marah. Bukan karena aku membencimu.”

“Lalu kenapa?”

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suaranya terdengar rapuh.

“Karena aku iri.”

Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar pengakuan itu.

Lorraine menitikkan air mata.

“Aku menghabiskan hidup mendukung suamiku, lalu anakku. Aku tidak pernah punya apa pun atas namaku sendiri. Ketika melihat rumah itu, aku ingin percaya bahwa Evan yang membangunnya. Karena kalau bukan, berarti seluruh keyakinanku selama ini salah.”

Aku duduk diam.

Tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan permintaan maaf.

Namun, untuk pertama kalinya, aku melihat Lorraine sebagai manusia biasa, bukan monster.

Beberapa menit kemudian, sebelum aku pergi, ia berkata pelan, “Terima kasih karena dulu pernah memperlakukanku seperti keluarga.”

Aku keluar dari rumah sakit tanpa menoleh lagi.

Setahun kemudian, rumah di Willowmere berubah total.

Aku mengecat ulang dinding-dindingnya. Merenovasi dapur yang menyimpan terlalu banyak kenangan buruk. Kamar tamu di lantai atas kuubah menjadi perpustakaan kecil dengan jendela besar menghadap taman.

Suatu pagi, sambil menikmati kopi di teras, aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya ada selembar cek.

Nominalnya kecil dibandingkan hartaku.

Tetapi yang membuatku membeku adalah tulisan tangan di bagian bawah.

Aku tidak pernah tahu betapa banyak yang kau korbankan untuk kami. Aku akhirnya tahu semua yang terjadi. Maaf karena terlambat menyadarinya.

Evan.

Tidak ada alamat.

Tidak ada nomor telepon.

Hanya permintaan maaf yang datang terlambat.

Aku menatap halaman rumah yang dulu menjadi saksi kehancuran pernikahanku.

Kemudian, tanpa ragu, aku merobek cek itu menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke tempat sampah.

Karena pada akhirnya, hal paling berharga yang berhasil kurebut kembali bukanlah rumah itu.

Melainkan diriku sendiri.

Dan ada kalanya, kehilangan sebuah keluarga yang dibangun di atas kebohongan justru menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kehidupan yang benar-benar layak dipertahankan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang