PULANG KERJA 7 TAHUN DI LUAR NEGERI BAWA TABUNGAN MILIARAN, PRIA INI KAGET RUMAHNYA KOSONG. ISTRI DITUDUH KABUR BAWA 420 JUTA RUPIAH!

Hendra tidak tidur sedikit pun malam itu.

Ia duduk di tepi ranjang dalam kegelapan, sementara suara pendingin udara berdengung pelan di atas kepalanya. Pikirannya terus kembali pada satu hal yang sama. Nomor Siska masih aktif, dan ponsel yang menggunakan kartu SIM itu berada di kamar Tari.

Berarti seseorang sengaja mengambil akses komunikasi istrinya.

Dan jika mereka berbohong soal itu, mungkin semua cerita tentang uang 420 juta rupiah juga bohong.

Pagi harinya, Hendra turun ke ruang makan seolah tidak terjadi apa apa.

Bu Maya sedang membuat teh. Dimas membaca berita dari ponsel, sementara Tari menyiapkan sarapan.

“Kamu mau tinggal lama di Indonesia?” tanya Dimas.

“Belum tahu,” jawab Hendra santai. “Mungkin cuma beberapa minggu. Aku masih harus mengurus perusahaan di Jepang.”

Dimas dan Tari saling berpandangan singkat.

Hendra menangkapnya.

Ia sengaja tersenyum.

“Kalau memang Siska sudah pergi, mungkin rumah ini biar kalian tempati saja.”

Wajah Tari langsung berubah cerah.

“Serius?”

“Daripada kosong.”

Dimas tertawa kecil lalu menepuk bahu adiknya.

“Kamu memang dari dulu paling pengertian.”

Hendra membalas senyum itu, meski dadanya terasa panas.

Siang harinya ia berpamitan dengan alasan ingin menemui teman lama. Namun bukannya pergi jauh, Hendra memarkir mobilnya di sebuah minimarket sekitar lima ratus meter dari rumah.

Ia menunggu.

Hampir satu jam kemudian, Tari keluar mengendarai mobil.

Hendra mengikutinya dari kejauhan.

Tari berhenti di sebuah pusat perbelanjaan kecil. Setelah memastikan kakak iparnya masuk ke dalam, Hendra kembali ke rumah.

Bu Maya sedang tidur siang. Dimas bekerja di lantai bawah.

Hendra masuk ke kamar Tari.

Tangannya bergerak cepat membuka laci meja rias.

Tidak ada.

Ia membuka lemari pakaian, tas, dan kotak penyimpanan.

Sampai akhirnya ia melihat sebuah ponsel tua terselip di balik tumpukan selimut.

Hendra menekan tombol daya.

Ponsel itu menyala.

Di layar terpampang nomor Siska.

Jantung Hendra berdegup keras.

Ia membuka aplikasi pesan.

Sebagian besar percakapan telah dihapus. Namun ada satu pesan yang tersimpan di folder sampah.

Pesan itu dikirim tiga minggu sebelumnya kepada nomor yang tidak dikenalnya.

“Aku sudah mengambil HP Siska. Sekarang dia tidak bisa menghubungi Hendra. Pastikan perempuan itu tidak kembali ke rumah.”

Hendra memotret layar tersebut dengan ponselnya sendiri.

Ia hendak keluar ketika mendengar langkah kaki.

Dimas.

Hendra cepat mengembalikan ponsel itu dan masuk ke kamar mandi.

Dimas masuk beberapa detik kemudian.

“Tar, berkas tanah itu kamu taruh di mana?”

Tidak ada jawaban.

Dimas mengumpat pelan lalu membuka lemari.

Hendra menahan napas.

Kemudian terdengar suara Dimas menelepon seseorang.

“Tenang saja. Hendra masih percaya cerita kita. Dia bahkan bilang rumahnya boleh kita tempati.”

Hendra mengepalkan tangan.

“Yang penting Siska jangan sampai muncul sebelum sertifikatnya selesai.”

Hendra hampir membuka pintu saat itu juga.

Namun ia menahan diri.

Sertifikat apa?

Ia membutuhkan jawaban lebih banyak.

Malamnya, Hendra mencari nomor yang menerima pesan dari ponsel Siska.

Ia terkejut ketika menemukan foto profil seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang wajahnya terasa tidak asing.

Pria di foto bersama Siska.

Pria yang menurut Tari adalah selingkuhan istrinya.

Hendra menghubungi nomor itu.

“Halo?”

“Nama saya Hendra.”

Di ujung telepon mendadak sunyi.

“Saya suami Siska.”

Pria itu menarik napas panjang.

“Akhirnya kamu pulang juga.”

“Siapa Anda?”

“Nama saya Pak Joko. Saya mantan ketua RT di lingkungan rumahmu.”

Hendra terdiam.

“Kenapa istri saya bersama Anda?”

“Bukan bersama saya. Saya yang menolong dia kabur.”

Dunia Hendra seperti berhenti.

Pak Joko meminta bertemu di sebuah warung kopi di Waru.

Satu jam kemudian mereka duduk berhadapan.

Pak Joko mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Tiga bulan lalu Siska datang menemui saya,” katanya. “Dia bilang keluargamu mulai memaksanya menandatangani dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Surat persetujuan pengalihan hak tanah.”

Hendra mengerutkan kening.

Tanah tempat rumah itu berdiri memang warisan ayahnya. Tetapi karena Hendra berada di luar negeri, proses pembangunan dan beberapa administrasi dikuasakan kepada Bu Maya.

“Dimas terlilit utang,” lanjut Pak Joko. “Bisnis investasinya gagal. Utangnya lebih dari satu miliar.”

Hendra merasa tengkuknya dingin.

“Terus uang 420 juta?”

Pak Joko mendorong map itu ke arahnya.

Di dalamnya terdapat salinan mutasi rekening.

Uang 420 juta yang dikirim Hendra memang masuk ke rekening Siska.

Namun beberapa hari kemudian terjadi empat transaksi.

Seratus juta.

Seratus dua puluh juta.

Seratus juta.

Seratus juta.

Semuanya menuju rekening berbeda.

Nama penerima terakhir membuat tangan Hendra gemetar.

Dimas Prasetyo.

“Kenapa Siska mentransfer uang itu?”

“Dia tidak melakukannya.”

Pak Joko menunjukkan salinan laporan bank.

“Rekening itu diakses menggunakan ponsel Siska setelah ponselnya diambil. Siska sudah melapor, tetapi prosesnya belum selesai.”

Hendra menutup wajahnya.

“Di mana Siska sekarang?”

Pak Joko tidak langsung menjawab.

“Dia takut kamu akan lebih percaya keluargamu daripada dia.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kebohongan yang baru saja ia dengar.

Karena Hendra tahu ketakutan itu bukan tanpa alasan.

Selama tujuh tahun, setiap kali Siska mengeluh tentang sikap Dimas atau Tari, Hendra selalu mengatakan hal yang sama.

“Sabar saja. Mereka keluarga.”

Setiap kali Siska berkata Bu Maya terlalu ikut campur dalam mengurus Arka, Hendra menjawab dari ribuan kilometer jauhnya.

“Ibu sudah tua. Jangan bikin masalah.”

Ia mengirim uang, tetapi hampir tidak pernah benar benar hadir.

“Aku ingin bertemu mereka,” katanya.

Pak Joko menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memberikan sebuah alamat.

Alamat itu membawa Hendra ke sebuah rumah kontrakan sederhana di daerah Gedangan.

Tangannya gemetar saat mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Siska berdiri di sana.

Tubuhnya lebih kurus daripada yang Hendra ingat. Rambutnya dipotong pendek. Ada bekas luka tipis di dekat pelipisnya.

Mereka hanya saling menatap.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan dramatis.

Hanya keheningan panjang antara dua orang yang pernah berjanji menjalani hidup bersama tetapi dipisahkan oleh tujuh tahun jarak dan terlalu banyak hal yang tidak pernah dibicarakan.

“Ayah?”

Suara kecil muncul dari belakang.

Hendra menoleh.

Arka berdiri di lorong.

Anak yang terakhir kali ia peluk ketika berusia empat tahun kini sudah sebelas tahun.

Hendra bahkan membutuhkan beberapa detik untuk mengenali wajah putranya sendiri.

Arka berlari.

“Ayah!”

Hendra berlutut dan memeluknya.

Saat itulah pertahanannya runtuh.

Ia menangis di bahu anaknya.

“Maafin Ayah.”

Arka menggeleng sambil ikut menangis.

Siska berdiri beberapa langkah dari mereka.

Ketika Hendra akhirnya menatap istrinya, hanya satu kalimat yang keluar.

“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”

Siska tertawa kecil, tetapi matanya basah.

“Aku bilang, Hen. Berkali kali.”

Hendra terdiam.

“Kamu selalu menjawab aku harus sabar karena mereka keluargamu.”

Siska kemudian menceritakan semuanya.

Dimas kehilangan uang besar akibat investasi ilegal. Tari mengetahui Hendra terus mengirim dana pembangunan dan mulai menggunakan rekening yang dipercayakan kepada Siska.

Ketika Siska mengetahui uang 420 juta hilang, ia mengancam akan melapor.

Pertengkaran besar terjadi.

Tari mengambil ponselnya.

Dimas memaksanya menandatangani dokumen pengalihan tanah dengan alasan untuk administrasi renovasi.

Siska menolak.

“Bekas luka itu dari mana?” tanya Hendra.

Siska menyentuh pelipisnya.

“Mas Dimas mendorongku waktu aku mencoba mengambil dokumennya.”

Hendra berdiri.

“Aku pulang sekarang.”

Siska langsung menahan lengannya.

“Jangan.”

“Mereka menyakitimu.”

“Kalau kamu datang sambil marah, mereka akan menghilangkan bukti. Aku bertahan selama ini bukan supaya kamu pulang dan menghajar kakakmu.”

Kalimat itu membuat Hendra berhenti.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia benar benar mendengarkan istrinya.

Dua hari kemudian Hendra pulang ke rumah seperti biasa.

Ia mengatakan kepada keluarganya bahwa dirinya harus kembali ke Jepang minggu depan.

“Aku juga sudah memikirkan rumah ini,” katanya saat makan malam. “Kalau Dimas mau mengurus semuanya, aku bisa buat surat kuasa baru.”

Mata Dimas berbinar.

“Benar?”

“Tentu. Besok kita panggil notaris.”

Tari tersenyum lebar.

Bu Maya terlihat lega.

Keesokan harinya, seorang pria berkemeja rapi datang membawa tas dokumen.

Namun pria itu bukan notaris yang diharapkan Dimas.

Ia adalah pengacara Hendra.

Bersamanya datang dua petugas kepolisian.

Wajah Tari langsung pucat.

“Ada apa ini?”

Hendra meletakkan ponsel Siska di atas meja.

Kemudian satu per satu ia meletakkan salinan transaksi, pesan yang dihapus, laporan bank, serta dokumen pengalihan tanah.

Dimas berdiri.

“Kamu salah paham.”

“Jelaskan.”

“Itu cuma urusan keluarga.”

“Uang 420 juta juga urusan keluarga?”

Dimas kehilangan kata kata.

Tari tiba tiba menunjuk Bu Maya.

“Ibu juga tahu!”

Ruangan mendadak sunyi.

Hendra menoleh perlahan kepada ibunya.

Bu Maya mulai menangis.

“Ibu cuma ingin membantu kakakmu.”

“Membantu dengan mengorbankan istri dan anak saya?”

“Dimas hampir kehilangan semuanya, Hen.”

“Jadi Siska yang harus kehilangan semuanya?”

Bu Maya menunduk.

Saat itulah pintu depan terbuka.

Siska masuk bersama Arka dan Pak Joko.

Bu Maya langsung berdiri.

“Siska.”

Siska tidak menjawab.

Arka justru bersembunyi di belakang ibunya.

Gerakan kecil itu menghancurkan hati Hendra.

Seorang anak seharusnya merasa aman di rumah keluarganya, bukan takut.

Dimas akhirnya mengaku.

Ia menggunakan sebagian uang Hendra untuk menutup utang. Ketika uang itu tidak cukup, ia berencana menjaminkan tanah dan rumah tersebut.

Siska menjadi satu satunya penghalang karena mengetahui seluruh transaksi.

Maka mereka membuat cerita bahwa Siska berselingkuh dan kabur membawa uang.

Foto bersama Pak Joko sengaja diambil dari kejauhan ketika Siska meninggalkan rumah.

Mereka berharap ketika Hendra pulang, kemarahannya kepada Siska akan membuatnya tidak memeriksa apa pun.

Polisi membawa Dimas dan Tari untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bu Maya tidak ditahan saat itu, tetapi harus memberikan keterangan karena mengetahui beberapa tindakan tersebut.

Rumah besar yang selama tujuh tahun dibayangkan Hendra sebagai simbol keberhasilannya mendadak terasa seperti bangunan kosong.

Beberapa minggu kemudian, Hendra mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.

Ia menjual rumah itu.

“Kenapa?” tanya Bu Maya sambil menangis. “Ini tanah peninggalan ayahmu.”

Hendra menatap bangunan besar di hadapannya.

“Ayah meninggalkan tanah, Bu. Bukan kebohongan.”

Sebagian hasil penjualan digunakan untuk menyelesaikan persoalan hukum dan mengembalikan hak keuangan yang sempat dirampas dari Siska. Hendra membeli rumah yang jauh lebih sederhana di Surabaya.

Namun Siska tidak langsung kembali menjadi istrinya seperti tidak pernah terjadi apa apa.

“Aku belum bisa percaya sepenuhnya,” katanya.

Hendra mengangguk.

“Aku tahu.”

“Kamu pergi tujuh tahun untuk membangun masa depan kita. Tapi selama tujuh tahun itu, aku menjalani hampir semuanya sendirian.”

“Aku tahu.”

“Uang tidak bisa mengembalikan waktu.”

Hendra menunduk.

“Aku juga tahu.”

Untuk pertama kalinya ia tidak membela diri.

Ia tidak mengatakan bahwa semua itu dilakukan demi keluarga.

Ia tidak menyebut miliaran rupiah di rekeningnya.

Ia hanya berkata, “Kalau masih ada kesempatan, izinkan aku belajar jadi suami dan ayah lagi.”

Beberapa bulan kemudian Hendra menyerahkan pengelolaan perusahaan di Tokyo kepada partnernya dan membuka cabang kecil di Surabaya.

Penghasilannya memang tidak sebesar sebelumnya.

Namun setiap pagi ia bisa mengantar Arka ke sekolah.

Setiap malam ia makan bersama keluarganya.

Dan perlahan, Siska mulai membuka kembali pintu yang pernah tertutup.

Suatu malam Arka menunjukkan tugas sekolahnya.

Di atas kertas tertulis sebuah pertanyaan.

Apa arti rumah bagimu?

Hendra tersenyum.

“Jawabanmu apa?”

Arka menyerahkan kertas itu.

Di sana tertulis dengan tulisan tangan yang belum terlalu rapi.

Rumah bukan tempat yang paling besar atau paling mahal. Rumah adalah tempat di mana orang yang kita sayangi tidak perlu takut untuk mengatakan kebenaran.

Hendra membaca kalimat itu dua kali.

Siska yang berdiri di dekat meja menatapnya.

Hendra tidak mengatakan apa apa.

Ia hanya menggenggam tangan istrinya.

Tujuh tahun di luar negeri telah memberinya miliaran rupiah, perusahaan, mobil, dan kemampuan membangun rumah besar.

Namun baru setelah hampir kehilangan istri dan anaknya, Hendra memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kesuksesan.

Keluarga tidak hancur hanya karena kekurangan uang.

Kadang keluarga justru hancur ketika seseorang terlalu sibuk menyediakan segalanya sampai lupa hadir untuk orang orang yang seharusnya menikmati semuanya bersamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang