Bagas tidak langsung membawa Sinta pulang.
Dia justru duduk di bangku bambu di depan gubuk itu, menatap tumpukan koin lima ratus dan seribu rupiah yang masih tersusun di atas papan kayu.
Selama delapan tahun, hampir setiap bulan dia mengirimkan uang ke rekening yang dikelola Aris. Jumlahnya tidak pernah kecil. Bahkan ketika usahanya masih merangkak, Bagas selalu memastikan kebutuhan Sinta menjadi prioritas.

Namun perempuan yang seharusnya menikmati hasil kerja kerasnya justru hidup di belakang kandang ayam.
“Aku mau lihat bukti transfermu,” kata Sinta tiba-tiba.
Bagas menoleh.
Sinta menyeka tangannya pada rok lusuh yang dikenakannya.
“Kalau memang benar Mas selalu mengirim uang, aku ingin melihatnya sendiri.”
Bagas mengambil ponselnya.
Dia membuka aplikasi perbankan dan mencari arsip transaksi lama yang masih tersimpan. Sebagian laporan dari tahun-tahun awal sudah tidak muncul, tetapi Bagas memiliki salinan laporan keuangan perusahaan yang dikirim oleh akuntannya setiap tahun.
Dia mengunduh beberapa berkas.
Sinta berdiri di belakangnya.
Bagas membuka salah satunya.
Transfer rutin.
Rp25.000.000.
Rp30.000.000.
Rp40.000.000.
Beberapa bulan bahkan mencapai Rp75.000.000.
Semua menuju rekening atas nama Aris Setiawan.
Sinta menutup mulut.
“Sebanyak itu?”
Bagas tidak menjawab.
Semakin lama dia menggulir layar, semakin keras rahangnya mengatup.
“Aku selalu bilang kepada Aris, lima juta untuk kebutuhan rumah, sisanya disimpan untuk renovasi dan tabungan kita.”
Sinta tertawa kecil, tetapi suaranya penuh kepedihan.
“Lima juta saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku tidak harus mencuci pakaian orang sampai tengah malam.”
Bagas mematikan layar ponselnya.
“Aku akan menemui Aris.”
Sinta langsung memegang lengannya.
“Jangan sekarang.”
Bagas mengernyit.
“Aku tidak mau Mas datang hanya dengan kemarahan.”
“Dia mencuri delapan tahun hidup kita.”
“Aku tahu.”
“Dia membuatku percaya kamu meninggalkanku.”
“Aku juga dibuat percaya kamu sudah melupakanku.”
Suara Sinta melemah.
“Tapi kalau kita datang tanpa bukti lengkap, dia akan mencari kebohongan baru.”
Kalimat itu membuat Bagas terdiam.
Sinta sudah berubah.
Perempuan yang dulu sering panik menghadapi masalah kecil kini berbicara dengan tenang. Delapan tahun hidup sendirian telah membuatnya jauh lebih keras daripada yang Bagas ingat.
“Kamu punya bukti lain?” tanya Bagas.
Sinta masuk ke gubuk.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah tas plastik tebal yang sudah menguning.
Dari dalamnya, Sinta mengeluarkan puluhan amplop.
Semua tertulis nama Bagas.
Semua belum pernah dikirim.
“Aku menulis ini selama hampir tiga tahun.”
“Kenapa masih ada di sini?”
“Awalnya aku menitipkannya kepada Aris.”
Sinta mengangkat beberapa amplop.
“Lalu suatu hari aku menemukan surat-surat ini dibuang di gudang belakang rumah.”
Bagas mengambil salah satunya.
Tanggal di sudut amplop menunjukkan tujuh tahun lalu.
Dia membukanya.
Mas, hari ini aku menjual cincin pemberian Ibu untuk membayar listrik. Aku tidak tahu usahamu sedang sesulit apa. Aku tidak ingin menjadi beban. Kalau suatu hari Mas membaca surat ini, jangan khawatir. Aku masih menunggu.
Tangan Bagas mulai gemetar.
Surat berikutnya lebih pendek.
Mas, Aris bilang rumah harus dijual untuk membayar utangmu. Aku sudah pindah sementara. Tolong beri kabar meskipun hanya satu kalimat.
Bagas berhenti membaca.
Dadanya terasa panas.
“Kenapa kamu tidak mencari nomor kantorku?”
“Aku mencoba.”
Sinta tersenyum getir.
“Aris bilang perusahaan tempatmu bekerja bangkrut dan nomor Malaysia yang kupunya sudah tidak aktif. Saat aku mencoba meminta bantuan orang untuk mencarimu lewat internet, nama perusahaanmu belum sebesar sekarang.”
Bagas baru menyadarinya.
Pada tahun-tahun awal, perusahaan ekspedisinya memang menggunakan nama mitra lokal Malaysia, bukan namanya sendiri.
Aris mengetahui semua itu.
Dan memanfaatkannya.
Bagas berdiri.
“Kita perlu pergi ke bank.”
Sinta menatap pakaian yang dikenakannya.
“Aku seperti ini?”
Bagas menatap istrinya beberapa detik.
“Tidak ada yang salah dengan pakaianmu.”
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, mata Sinta memerah.
Siang itu mereka pergi ke kota menggunakan mobil sewaan.
Bagas meminta bank mencetak riwayat transaksi rekening lamanya.
Karena beberapa dokumen membutuhkan prosedur khusus, dia juga menelepon Naufal, kepala keuangan perusahaannya di Malaysia.
“Naufal, kirimkan semua bukti transfer pribadi saya ke Indonesia selama delapan tahun terakhir.”
Naufal terdiam.
“Semua, Pak?”
“Semua.”
Dua jam kemudian, surel masuk.
Bagas dan Sinta membacanya di sebuah warung makan kecil di depan bank.
Total transfer mencapai lebih dari Rp2,8 miliar.
Sinta menatap angka itu lama sekali.
Tangannya berhenti di atas gelas teh.
“Rumah itu…”
“Rumah itu kemungkinan besar dibangun dengan uang kita.”
“Tapi sertifikatnya?”
Bagas langsung teringat sesuatu.
Sebelum pergi ke Malaysia, rumah lama memang berdiri di tanah warisan orang tua yang dibagi secara lisan antara dirinya dan Aris.
Bagas segera pergi ke kantor desa.
Kepala desa yang lama sudah pensiun, tetapi arsip tanah masih tersedia.
Setelah mencari hampir satu jam, seorang staf mengeluarkan salinan berkas.
Bagas membacanya.
Tanah tempat rumah megah Aris berdiri tercatat atas nama dirinya.
Tidak pernah ada transaksi jual beli.
Tidak pernah ada pengalihan hak.
Bagas justru tertawa.
Sinta menatapnya bingung.
“Kenapa tertawa?”
“Karena Aris melakukan sesuatu yang jauh lebih bodoh daripada yang kukira.”
Mereka belum langsung kembali.
Bagas menemui seorang pengacara di Solo yang direkomendasikan oleh mitra bisnisnya.
Namanya Prasetyo.
Setelah mendengar cerita dan melihat dokumen, pria itu tidak banyak bereaksi.
Dia hanya menyusun semua bukti di meja.
“Jangan beritahu kakak Anda bahwa Anda sudah mengetahui semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang merasa aman biasanya akan berbicara lebih banyak.”
Prasetyo menunjuk ponsel Bagas.
“Pancing dia menjelaskan penggunaan uang tersebut.”
Bagas memahami maksudnya.
Malam itu dia kembali ke rumah Aris sendirian.
Aris sedang makan bersama Reno dan istrinya, Mira.
Begitu Bagas masuk, Aris tersenyum.
“Dari mana saja? Aku pikir kamu tersesat mencari mantan istrimu.”
Bagas menarik kursi dan duduk.
“Aku tadi ke bank.”
Sendok di tangan Aris berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
Lalu kembali bergerak.
“Untuk apa?”
“Aku sedang menghitung berapa uang yang pernah kukirim.”
Aris tertawa.
“Ngapain menghitung masa lalu?”
“Lumayan banyak.”
Bagas menuangkan air ke gelas.
“Hampir tiga miliar.”
Mira menoleh kepada suaminya.
Reno yang sejak tadi makan perlahan langsung berhenti mengunyah.
Aris masih mencoba tersenyum.
“Ya, uang itu kan dipakai untuk keluarga.”
“Untuk siapa?”
“Kita semua.”
“Termasuk Sinta?”
Suasana meja makan langsung membeku.
Aris meletakkan sendoknya.
“Bagas, aku sudah bilang perempuan itu meninggalkanmu.”
“Aku bertemu dengannya.”
Wajah Aris akhirnya berubah.
“Di mana?”
“Kenapa? Takut?”
“Bukan begitu.”
Aris tertawa kecil.
“Aku cuma heran kamu masih mau percaya kepadanya.”
Bagas menatap kakaknya tanpa berkedip.
“Sinta bilang dia tidak pernah menerima uangku.”
“Dia bohong.”
“Berapa yang kamu beri kepadanya setiap bulan?”
Aris tidak langsung menjawab.
“Ya… tergantung kebutuhan.”
“Berapa?”
“Dua juta. Kadang tiga.”
Reno tiba-tiba menundukkan kepala.
Bagas menangkap gerakan itu.
“Reno.”
Adik bungsunya tersentak.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Tidak, Mas.”
Aris langsung memotong.
“Jangan libatkan Reno.”
Bagas menyandarkan tubuhnya.
“Baik.”
Kemudian dia mengeluarkan satu dokumen.
“Kalau begitu jelaskan rumah ini.”
Aris meliriknya.
“Apa yang harus dijelaskan?”
“Tanahnya masih atas namaku.”
Mira langsung menatap Aris.
“Kamu bilang tanah ini warisan bagianmu.”
Aris berdiri.
“Bagas, kita bicara berdua saja.”
“Kenapa?”
“Ini masalah keluarga.”
“Bukankah mereka keluarga?”
Aris menarik napas panjang.
“Kamu pergi delapan tahun. Semua urusan di sini aku yang tangani.”
“Dengan uangku.”
“Aku menjaga asetmu!”
“Dengan mengusir istriku?”
“Aku tidak mengusir siapa pun!”
Suara dari ujung meja tiba-tiba terdengar.
“Mas Aris yang mengusir Mbak Sinta.”
Semua kepala berbalik.
Reno masih menunduk.
Aris membentak.
“Diam!”
Reno mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak takut.
“Aku sudah diam delapan tahun.”
Aris melangkah mendekatinya.
“Reno!”
“Aku yang melihat Mas membuang surat-surat Mbak Sinta.”
Bagas tidak bergerak.
Reno mulai menangis.
“Waktu itu aku masih sembilan belas tahun. Mas Aris bilang kalau aku bicara, biaya kuliahku akan dihentikan.”
“Pembohong!”
Aris menunjuk wajahnya.
Namun Reno terus bicara.
“Mas Aris juga yang bilang kepada Mbak Sinta bahwa Mas Bagas punya perempuan lain di Malaysia.”
Sinta tidak pernah menceritakan bagian itu.
Bagas mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Kenapa?”
Reno terisak.
“Karena Mas Aris mau menguasai rumah dan uang.”
Aris tiba-tiba menarik kerah Reno.
Bagas langsung berdiri dan mendorong tangan kakaknya.
“Jangan sentuh dia.”
Aris menatap Bagas dengan wajah merah.
“Semua ini karena aku juga berkorban! Kamu pikir siapa yang menjaga orang tua ketika kamu pergi? Siapa yang mengurus keluarga?”
“Ayah dan Ibu meninggal sebelum aku berangkat.”
Aris kehilangan kata-kata.
Bagas melanjutkan.
“Kamu tidak menjaga siapa pun.”
Mira berdiri perlahan.
“Aris.”
Suaminya menoleh.
“Rumah, mobil, toko bahan bangunan yang kamu bilang hasil usaha itu… semuanya dari uang Bagas?”
Aris tidak menjawab.
Dan diamnya sudah menjadi jawaban.
Mira melepas cincin di jarinya lalu meletakkannya di meja.
“Aku tidak mau hidup dari uang curian.”
Dia masuk ke kamar.
Aris seperti kehilangan kendali.
Dia menatap Bagas.
“Kamu punya miliaran sekarang! Rumah ini tidak ada artinya buatmu!”
Bagas tertawa pendek.
“Jadi akhirnya kamu mengaku.”
Wajah Aris membeku.
Bagas mengangkat ponselnya.
Sejak memasuki rumah, perekam suara telah menyala.
Aris langsung maju untuk merebutnya, tetapi Bagas mundur.
“Kamu menjebakku?”
“Tidak.”
Bagas memasukkan ponsel ke sakunya.
“Aku cuma memberimu kesempatan untuk berkata jujur.”
Aris duduk kembali.
Amarah di wajahnya berubah menjadi ketakutan.
“Bagas… kita saudara.”
“Delapan tahun lalu juga kita saudara.”
Dua minggu berikutnya mengubah semuanya.
Melalui pengacara, Bagas melaporkan dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen. Pemeriksaan rekening menunjukkan sebagian besar uang digunakan untuk membangun rumah, membeli mobil, membuka toko bahan bangunan, dan investasi atas nama Aris.
Tetapi kejutan terbesar justru muncul ketika bank memeriksa transaksi beberapa tahun pertama.
Ada transfer rutin dalam jumlah kecil ke sebuah rekening lain.
Atas nama Reno Setiawan.
Bagas langsung menemui Reno.
“Ini apa?”
Reno terlihat pucat.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan.”
Reno menarik napas.
“Mas Aris menyuruhku membuka rekening. Katanya untuk kebutuhan keluarga.”
“Berapa banyak yang kamu ambil?”
“Tidak ada.”
Reno mengambil buku tabungan lama dari lemari.
“Aku tidak pernah berani menyentuhnya.”
Saldo rekening itu mencapai Rp186 juta.
Bagas terdiam.
“Kenapa tidak kamu berikan kepada Sinta?”
Air mata Reno jatuh.
“Aku pengecut.”
Dia menutup wajahnya.
“Aku ingin memberikannya. Tapi setiap kali aku mencoba, Mas Aris mengancam akan membuatku berhenti kuliah. Setelah bekerja, aku pindah kota. Aku terus bilang pada diriku sendiri nanti akan kuberitahu Mas… tapi semakin lama aku diam, semakin takut aku mengaku.”
Bagas menatap adiknya lama sekali.
Dia marah.
Namun di hadapannya bukan orang yang menikmati pencurian itu.
Hanya seseorang yang terlalu takut untuk melakukan hal yang benar.
“Uang itu bukan milikmu.”
“Aku tahu.”
“Kembalikan kepada Sinta.”
Reno mengangguk.
“Semua.”
Ketika Bagas menceritakannya kepada Sinta, perempuan itu justru berkata sesuatu yang tidak dia duga.
“Aku tidak mau rumah besar itu.”
Bagas terkejut.
“Itu hakmu juga.”
“Aku tahu.”
Sinta menatap kandang ayam tempat mereka pertama kali bertemu kembali.
“Aku cuma mau hidupku kembali.”
Beberapa bulan kemudian, rumah megah itu dijual melalui penyelesaian hukum untuk mengembalikan sebagian aset Bagas.
Namun Bagas tidak membangun rumah baru yang lebih besar.
Dia membeli sebidang tanah kecil tidak jauh dari tempat Sinta tinggal.
Di sana mereka membangun rumah satu lantai dengan halaman luas.
Mbak Marni mendapat bagian belakang untuk memperbesar peternakan ayamnya.
Reno membantu mengurus administrasi tanpa menerima bayaran selama beberapa bulan sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Sedangkan Aris harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Suatu sore, Bagas pulang dan menemukan Sinta duduk di teras.
Di depannya terdapat kaleng biskuit tua.
Kaleng yang dahulu berisi uang receh.
Bagas tersenyum.
“Masih menghitung koin?”
Sinta mengangguk serius.
Bagas duduk di sampingnya.
“Untuk apa sekarang?”
Sinta membuka kaleng tersebut.
Di dalamnya bukan lagi uang lima ratus dan seribu rupiah.
Ada puluhan kertas kecil bertuliskan nama.
“Apa ini?”
“Daftar perempuan di desa yang butuh mesin jahit.”
Bagas menatapnya.
Sinta tersenyum.
“Aku mau pakai sebagian uang yang dikembalikan Reno untuk membeli mesin jahit. Biar mereka bisa kerja dari rumah.”
Bagas terdiam.
Delapan tahun kemiskinan tidak membuat istrinya menjadi pahit.
Justru membuatnya memahami bagaimana rasanya ketika seseorang tidak memiliki pilihan.
Bagas menggenggam tangan Sinta.
“Aku kehilangan delapan tahun bersamamu.”
Sinta menatapnya.
“Kita tidak bisa mengambilnya kembali.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf karena pergi bekerja.”
Sinta tersenyum tipis.
“Minta maaf karena terlalu percaya pada orang lain sampai lupa memastikan sendiri keadaan istrimu.”
Bagas tertawa pelan.
“Itu lebih sakit.”
“Memang harus sakit supaya ingat.”
Mereka tertawa untuk pertama kalinya tanpa beban.
Bagas kemudian mengambil satu koin seribu rupiah dari kaleng lama itu.
Dia meletakkannya di telapak tangan Sinta.
“Boleh aku simpan satu?”
“Untuk apa?”
Bagas memandang koin tersebut.
“Supaya kalau suatu hari aku terlalu sibuk mengejar uang lagi, aku ingat bahwa uang sebanyak apa pun tidak ada gunanya kalau tidak pernah sampai kepada orang yang kita cintai.”
Sinta menutup jari Bagas di atas koin itu.
Namun sebelum masuk ke rumah, dia berhenti.
“Oh iya, Mas.”
“Apa?”
“Ada satu surat yang belum pernah kuberikan.”
Sinta mengeluarkan amplop kecil dari saku.
Bagas membukanya.
Tanggal di atas surat itu hanya tiga hari sebelum kepulangannya.
Mas Bagas, kalau sampai akhir tahun ini kamu tetap tidak pulang, aku akan berhenti menunggu. Bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku hanya ingin belajar hidup tanpa berharap pada seseorang yang mungkin sudah tidak mengingatku.
Bagas menatap tanggal itu sekali lagi.
Tiga hari.
Seandainya dia pulang tiga hari lebih lambat, mungkin semuanya akan berbeda.
Dia mengangkat wajah.
Sinta sudah berdiri di ambang pintu.
“Kamu benar-benar akan pergi?”
Sinta tersenyum.
“Iya.”
“Ke mana?”
“Entahlah.”
Bagas mendekat lalu memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Sinta tidak menjauh.
Dan di dalam genggaman Bagas, koin seribu rupiah itu terasa jauh lebih berharga daripada miliaran rupiah yang pernah dia kirimkan.
Karena akhirnya dia mengerti bahwa yang hampir hilang bukanlah rumah, uang, atau perusahaan.
Melainkan kesempatan terakhir untuk pulang kepada orang yang selama ini benar-benar menunggunya.
