Aku masih bisa merasakan sakit di pergelangan tanganku ketika Yudha mencengkeramnya sekuat tenaga. Tatapannya tajam, penuh kecurigaan, seolah aku adalah orang yang paling pantas disalahkan atas hilangnya adik kesayangannya.
Di saat yang sama, roti bakar yang kugenggam kembali berbisik dengan suara lirih yang dipenuhi ketakutan.
“Kak… jangan bilang siapa pelakunya sekarang. Dia masih ada di rumah ini.”

Jantungku berdetak semakin cepat.
Aku menatap satu per satu wajah orang yang memenuhi ruang tamu megah itu. Semua tampak cemas, marah, atau bingung. Sulit membayangkan bahwa salah satu dari mereka mungkin menyimpan rahasia mengerikan.
“Aku tidak mengenal siapa pun di sini,” kataku perlahan. “Tapi aku tahu satu hal. Orang yang membuat Nabila menghilang bukan orang luar.”
Ruangan kembali gaduh.
“Itu omong kosong!” bentak Dimas.
Praktisi spiritual yang tadi begitu percaya diri mulai terlihat ragu.
“Ada sesuatu yang tidak biasa…” gumamnya.
Yudha akhirnya melepaskan tanganku.
“Kalau begitu, buktikan.”
Aku menarik napas panjang.
“Biarkan aku melihat kamar Nabila.”
Semua saling berpandangan.
Ayah Nabila, Hendra Hadiwijaya, yang sejak tadi hanya duduk diam dengan wajah muram, akhirnya berbicara untuk pertama kalinya.
“Antarkan dia.”
Suasana mendadak sunyi.
Kami berjalan menuju lantai dua rumah itu.
Begitu pintu kamar dibuka, aroma parfum yang lembut langsung menyambutku.
Kamar itu masih sangat rapi, seolah pemiliknya baru saja keluar sebentar.
Saat aku melangkah masuk, mataku tertuju pada secangkir cokelat hangat yang sudah mengering di atas meja belajar.
Tanpa sadar aku menyentuh cangkir itu.
Seketika suara seorang gadis memenuhi kepalaku.
“Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka…”
“Aku tidak boleh tahu rahasia itu…”
“Itulah sebabnya mereka membungkamku…”
Tubuhku langsung gemetar.
Air mata mengalir tanpa kusadari.
“Nabila…” bisikku.
Semua orang memandangku heran.
“Apa yang kau dengar?” tanya Yudha.
Aku belum sempat menjawab.
Suara lain muncul.
Kali ini berasal dari sepotong biskuit yang masih berada di dalam kaleng kecil di meja.
“Bukan hanya satu orang.”
“Ada dua.”
“Dua orang bekerja sama.”
Aku memejamkan mata.
Bayangan-bayangan mulai muncul.
Aku melihat Nabila sedang menangis.
Dia berdiri di depan ruang kerja ayahnya.
Di balik pintu, dua pria sedang berdebat.
Salah satunya berkata,
“Kalau dia membocorkan ini, perusahaan selesai.”
Bayangan itu menghilang secepat datangnya.
Aku membuka mata.
“Nabila mendengar sesuatu yang tidak seharusnya.”
Semua orang terdiam.
Yudha langsung menoleh kepada keenam adiknya.
“Apa ada yang tahu soal ini?”
Tak seorang pun menjawab.
Sementara itu, seorang pria berkacamata yang sejak tadi berdiri di belakang para pengawal mulai terlihat gelisah.
Namanya Arman.
Sekretaris pribadi keluarga.
Tangannya berkeringat.
Aku memperhatikannya sekilas, tetapi belum mengatakan apa pun.
Aku kembali mengelilingi kamar.
Di dekat jendela terdapat pot tanaman kecil.
Aku menyentuh buah stroberi yang sudah mulai layu.
Suara Nabila kembali terdengar.
“Kak… aku sempat berlari…”
“Aku hampir berhasil keluar…”
“Tapi seseorang memukulku dari belakang…”
Aku spontan memegang kepalaku sendiri.
Bayangan pukulan itu terasa begitu nyata.
Yudha segera menopang tubuhku yang hampir jatuh.
“Apa yang terjadi?”
Aku menatapnya.
“Nabila tidak pernah keluar dari rumah malam itu.”
Kalimat itu membuat semua orang membeku.
Komandan tim penyelamat langsung membuka kembali laporan penyelidikan.
“Semua CCTV menunjukkan tidak ada orang yang keluar lewat gerbang utama.”
“Itu sebabnya kami menduga dia diculik lewat jalur lain.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Dia bahkan tidak sempat meninggalkan rumah.”
Semua wajah berubah tegang.
Aku kemudian menunjuk ke arah taman belakang.
“Di sana.”
Kami semua berlari menuju taman.
Para petugas mulai memeriksa setiap sudut.
Namun tidak ditemukan apa pun.
Dimas tertawa mengejek.
“Sudah kubilang dia hanya mengarang.”
Aku sendiri mulai ragu.
Apa mungkin aku salah?
Saat itulah aroma roti bakar di tanganku kembali menguar.
“Kak…”
“Lihat kolam ikan…”
Aku langsung menoleh.
Di tengah taman terdapat kolam koi yang sangat besar.
Aku mendekatinya.
Seekor ikan koi putih berenang perlahan mendekati permukaan.
Entah mengapa, aku mengulurkan tangan.
Begitu ujung jariku menyentuh air, suara lain muncul.
Gelap.
Dingin.
Takut.
“Aku ada di bawah…”
Aku menatap dasar kolam.
“Kosongkan kolam ini.”
Semua orang memandangku seperti orang gila.
Yudha hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya memberi perintah.
“Kuras sekarang.”
Puluhan pekerja segera bergerak.
Air kolam mulai dipompa keluar.
Semakin sedikit airnya, semakin terlihat sesuatu yang tidak biasa di dasar kolam.
Sebuah lempengan beton.
Komandan tim penyelamat langsung berteriak.
“Angkat itu!”
Beberapa pria menggunakan alat berat kecil.
Saat beton berhasil dibuka, seluruh orang yang berada di sana membeku.
Di bawahnya terdapat ruang sempit yang sengaja dibuat.
Dan di sanalah jasad Nabila ditemukan.
Suasana langsung berubah menjadi tangisan.
Hendra Hadiwijaya terduduk lemas.
Yudha memeluk tubuh adiknya sambil menangis untuk pertama kalinya di depan semua orang.
Tidak ada seorang pun yang mampu berkata-kata.
Polisi segera memasang garis pembatas.
Kasus yang sebelumnya dianggap sebagai penculikan kini berubah menjadi pembunuhan.
Namun bagiku, semuanya belum selesai.
Karena roti bakar itu masih terus menangis.
“Kak…”
“Orangnya belum tertangkap.”
Malam itu polisi mulai memeriksa seluruh penghuni rumah.
Tidak ada satu pun yang diizinkan keluar.
Aku duduk sendirian di ruang tamu.
Di depanku tersedia secangkir teh hangat.
Saat tanpa sengaja menyentuh sendok kecil di dalam cangkir, suara asing kembali terdengar.
“Bukan keluarga…”
“Bukan…”
“Dia hanya memanfaatkan mereka.”
Aku mengangkat kepala.
Mataku langsung tertuju kepada Arman.
Sekretaris itu tampak hendak meninggalkan rumah secara diam-diam.
Aku berdiri.
“Jangan biarkan dia pergi!”
Semua pengawal langsung mengejar.
Arman panik dan berlari menuju garasi.
Namun baru beberapa langkah, Yudha berhasil menjatuhkannya.
“Apa yang kau sembunyikan?”
Arman masih berusaha menyangkal.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
Polisi mulai menggeledah tas kerjanya.
Di dalamnya ditemukan sebuah ponsel rahasia.
Isinya penuh dengan transaksi keuangan, rekaman suara, dan percakapan dengan perusahaan pesaing.
Ternyata Arman telah menjual berbagai rahasia bisnis keluarga Hadiwijaya selama bertahun-tahun.
Suatu malam, Nabila tanpa sengaja mendengar percakapannya melalui pintu ruang kerja.
Arman ketakutan.
Ia membujuk seorang petugas keamanan yang terlilit utang untuk membantunya membungkam Nabila.
Rencana mereka sebenarnya hanya ingin menyekap sementara.
Namun saat terjadi perlawanan, Nabila terjatuh dan kepalanya membentur meja batu.
Panik, mereka menyembunyikan jasadnya di ruang bawah kolam yang memang sedang direnovasi.
Setelah semuanya terbongkar, petugas keamanan itu akhirnya menyerahkan diri.
Tangisan memenuhi rumah besar itu.
Tak ada uang yang mampu membeli kembali nyawa seorang anak.
Beberapa hari kemudian, keluarga Hadiwijaya mengadakan pemakaman secara tertutup.
Setelah seluruh prosesi selesai, Yudha menemuiku.
Ia menyerahkan sebuah koper.
“Ini hadiah sayembara.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak datang karena uang.”
Yudha tersenyum pahit.
“Adikku bisa pulang karena keberanianmu.”
“Kalau kau menolak hadiah ini, kami justru akan merasa berutang seumur hidup.”
Aku akhirnya menerimanya.
Namun sebagian besar uang itu kugunakan untuk membangun rumah singgah bagi anak-anak yatim dan membantu biaya pengobatan nenekku.
Kupikir semuanya telah berakhir.
Sampai suatu pagi, ketika aku membeli sebungkus nasi uduk di warung dekat rumah.
Saat membuka bungkusnya, sebutir telur rebus tiba-tiba berbisik pelan.
“Kak…”
“Tolong jangan makan aku dulu.”
“Di rumah yang ada di seberang jalan…”
“Seorang anak kecil sedang menangis meminta tolong.”
Aku menatap rumah sederhana yang ditunjuk oleh suara itu.
Bulu kudukku meremang.
Aku menyadari satu hal.
Kasus Nabila bukanlah akhir dari kemampuan aneh yang kumiliki.
Itu hanyalah awal.
Selama masih ada makanan yang menyimpan jejak kisah manusia, selama itu pula akan selalu ada rahasia yang memanggil namaku untuk diungkap.
