Mentari menarik napas panjang sebelum meninggalkan kamar sempit itu. Bayangannya di cermin tampak pucat, tetapi matanya masih menyimpan cahaya yang belum berhasil dipadamkan oleh siapa pun.
Suara langkah kaki palsunya terdengar lebih berat saat ia menaiki tangga dari basemen menuju ruang makan utama. Setiap anak tangga seakan mengingatkannya bahwa di rumah sebesar ini, ia tetap dianggap tidak mempunyai tempat.
Begitu Mentari memasuki ruang makan, semua orang sudah duduk mengelilingi meja marmer panjang.
Mama berada di ujung meja. Bintang duduk di sebelah kanannya, sementara seorang gadis berambut panjang bernama Kejora menempati kursi yang dahulu selalu digunakan Mentari sebelum kecelakaan. Kejora adalah putri dari adik Mama yang sudah tinggal di rumah itu hampir lima tahun.
Di hadapan mereka tersaji sup asparagus, salmon panggang, dan berbagai makanan yang bahkan tak pernah Mentari lihat selama tinggal bersama Nenek.

Mentari berdiri beberapa langkah dari meja.
“Duduklah,” kata Bintang singkat.
Mentari menatap kursi kosong di sebelahnya, tetapi Mama segera meletakkan sendok.
“Itu kursi Kejora kalau dia mau pindah tempat. Kamu duduk di belakang saja.”
Mentari menoleh. Di dekat pintu dapur terdapat meja kecil yang biasanya digunakan para pelayan untuk menunggu perintah.
Ruangan mendadak hening.
Bintang mengerutkan kening. “Mama, masih ada kursi kosong.”
“Mama tahu.”
“Terus kenapa Mentari harus duduk di sana?”
Mama menatap Mentari dengan dingin. “Karena dia datang tanpa memberi kabar, membawa barang seadanya, dan sekarang tinggal di kamar staf. Mama hanya menyesuaikan keadaan.”
Kejora menahan senyum sambil memotong salmonnya.
Mentari tidak membantah. Ia berjalan menuju meja kecil, lalu duduk seorang diri. Bi Rodiah datang membawa sepiring nasi dan lauk sederhana.
“Maaf, Non,” bisiknya.
Mentari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Bi.”
Namun ketika ia baru mengambil sendok, Mama kembali berbicara.
“Besok kamu ikut Bi Rodiah ke pasar. Sekalian belajar membantu di rumah. Jangan cuma tinggal gratis.”
Tangan Mentari berhenti.
Bintang langsung menatap Mama. “Mentari baru sampai.”
“Memangnya kenapa? Dia sudah dewasa. Di rumah ini semua orang punya tanggung jawab.”
Kejora menyandarkan punggungnya. “Benar juga, Tante. Daripada menganggur.”
Mentari mengangkat wajah. “Saya tidak menganggur.”
Untuk pertama kalinya sejak ia datang, suaranya terdengar jelas di ruangan itu.
Mama menaikkan alis. “Lalu apa kesibukanmu?”
“Saya akan kuliah.”
Kejora terkekeh. “Kuliah? Di mana? Universitas dekat kampung?”
“Universitas Impian.”
Sendok di tangan Bintang terlepas dan membentur piring.
Universitas Impian adalah salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta. Biaya masuknya saja dapat mencapai ratusan juta rupiah.
Mama menatap Mentari dari ujung kepala hingga kaki. “Kamu tahu biaya kuliah di sana?”
“Saya mendapat beasiswa penuh.”
Kejora berhenti tersenyum.
“Beasiswa dari siapa?” tanya Bintang.
“Merdeka Foundation.”
Wajah Mama berubah sesaat, tetapi ia cepat-cepat mengambil gelas.
“Kamu pasti salah paham,” katanya. “Yayasan itu tidak sembarangan memberi beasiswa.”
“Saya sudah mengikuti seleksi sejak kelas dua belas. Saya menerima surat kelulusan bulan lalu.”
“Mana suratnya?”
“Ada di kamar.”
Mama tersenyum tipis. “Besok tunjukkan. Mama hanya tidak ingin kamu membual untuk mencari perhatian.”
Mentari menunduk lagi. “Baik.”
Malam itu, setelah makan, ia kembali ke basemen dengan dada sesak. Ia tidak mengharapkan pelukan atau permintaan maaf. Namun ia tidak menyangka bahwa setiap kalimatnya akan dianggap kebohongan.
Saat tiba di depan kamar, pintunya sedikit terbuka.
Mentari yakin tadi sudah menguncinya.
Ia segera masuk dan memeriksa lemari. Pakaian masih rapi. Ransel masih berada di tempat semula. Namun ketika tangannya meraba bagian bawah kasur, amplop cokelat itu tidak ada.
Jantungnya berdegup keras.
Mentari mengangkat kasur, memindahkan buku, lalu memeriksa seluruh sudut kamar.
Surat beasiswanya hilang.
“Cari apa?”
Suara perempuan terdengar dari ambang pintu. Pembantu muda yang tadi mengejeknya berdiri sambil melipat tangan. Namanya Siska.
“Apakah kamu masuk ke kamar saya?”
Siska mendengus. “Jangan nuduh sembarangan.”
“Pintunya tadi terkunci.”
“Terus kenapa tanya aku?”
Bi Rodiah datang karena mendengar suara mereka. “Ada apa, Non?”
“Berkas saya hilang.”
“Berkas apa?”
“Surat beasiswa.”
Wajah Bi Rodiah menegang. Ia menatap Siska, tetapi perempuan itu langsung pergi sambil menggerutu.
Mentari hampir mengejarnya, tetapi rasa sakit mulai muncul di bagian paha tempat kaki palsunya tersambung. Perjalanan jauh dan naik turun tangga membuat kulitnya lecet.
“Non duduk dulu,” kata Bi Rodiah. “Bibi bantu cari.”
Mereka memeriksa kamar hampir setengah jam. Berkas itu tetap tidak ditemukan.
“Bibi yakin ada orang yang mengambilnya,” bisik Bi Rodiah. “Belakangan ini Siska dekat sekali sama Non Kejora.”
Mentari terdiam.
Ia tidak mempunyai bukti. Menuduh tanpa bukti hanya akan membuat Mama semakin yakin bahwa dirinya pembuat masalah.
“Bi, jangan bilang siapa-siapa dulu.”
“Tapi besok Non harus menunjukkan surat itu.”
“Saya akan menghubungi pihak yayasan.”
Pagi harinya, Mentari bangun sebelum matahari terbit. Ia membersihkan luka di kakinya, lalu memakai rok panjang berwarna biru tua. Saat keluar dari kamar, Siska sudah menunggunya dengan dua keranjang belanja.
“Katanya kamu ikut ke pasar.”
“Saya ada urusan ke kampus.”
Siska tertawa sinis. “Baru semalam ngaku dapat beasiswa, sekarang sudah mau ke kampus. Suratnya saja mungkin palsu.”
Mentari menatapnya. “Bagaimana kamu tahu surat saya hilang?”
Wajah Siska langsung berubah.
Sebelum perempuan itu sempat menjawab, suara Mama terdengar dari tangga.
“Mentari!”
Mama turun dengan langkah cepat, membawa beberapa lembar kertas yang sudah kusut.
“Ini yang kamu sebut surat beasiswa?”
Mentari mengenali dokumen itu. Amplopnya telah dibuka paksa.
“Dari mana Mama mendapatkannya?”
Mama mengabaikan pertanyaan tersebut. “Kamu tahu betapa memalukannya ini? Kamu mencatut nama Merdeka Foundation dan Universitas Impian.”
“Itu surat asli.”
“Jangan berbohong!”
Mama merobek bagian atas surat itu tepat di depan mata Mentari.
Bi Rodiah menutup mulutnya. Siska tersenyum kecil dari belakang.
Mentari bergerak maju. “Jangan dirobek.”
“Kenapa? Supaya kamu bisa terus menipu orang?”
“Itu satu-satunya salinan yang saya bawa.”
Mama merobeknya sekali lagi, lalu menjatuhkan potongan kertas ke lantai.
“Mulai hari ini kamu tidak boleh keluar tanpa izin. Kamu ikut membantu pekerjaan rumah sampai Mama menemukan cara mengembalikanmu ke kampung.”
Mentari memandang serpihan surat di lantai. Tangannya mengepal, tetapi suaranya tetap tenang.
“Apakah Mama pernah bertanya bagaimana saya hidup bersama Nenek?”
Mama terdiam.
“Apakah Mama tahu Nenek menjual sawah untuk biaya pengobatan saya? Apakah Mama tahu kami sering makan nasi dengan garam karena uang kiriman tidak pernah datang?”
“Mama selalu mengirim uang.”
“Kepada siapa?”
Pertanyaan itu membuat suasana basemen berubah.
Bintang yang baru turun tangga berhenti beberapa langkah dari mereka.
Mentari menatap Mama lurus-lurus. “Nenek tidak pernah menerima kiriman rutin. Hanya dua kali dalam setahun, itu pun jumlahnya tidak cukup untuk berobat.”
“Itu tidak mungkin,” jawab Mama cepat.
“Semua bukti rekening masih disimpan Nenek.”
Bintang mendekat. “Mama mengirim lewat siapa?”
Mama memalingkan wajah. “Bagian keuangan keluarga yang mengurus.”
“Siapa?”
“Kamu tidak perlu ikut campur.”
Bintang menatap ibunya semakin tajam. Untuk pertama kalinya, keangkuhan di wajahnya menghilang.
Ponsel Mentari tiba-tiba berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.
“Halo?”
“Selamat pagi, apakah kami berbicara dengan Saudari Mentari Wiratama?” tanya suara seorang perempuan.
“Benar.”
“Kami dari Merdeka Foundation. Tim kami sudah berada di depan kediaman keluarga Wiratama untuk menjemput Anda menghadiri orientasi penerima beasiswa.”
Semua orang mendengar karena suara telepon cukup keras.
Wajah Mama memucat.
Beberapa menit kemudian, dua mobil hitam memasuki halaman. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama tiga staf. Ia mengenakan setelan sederhana, tetapi sikapnya penuh wibawa.
Mama menyambut mereka di ruang tamu dengan senyum yang dipaksakan.
“Selamat datang. Saya Livia Wiratama, ibu Mentari.”
Perempuan itu tidak membalas senyumnya.
“Saya Ratna Maheswari, direktur Merdeka Foundation.”
Tatapan Ratna beralih kepada Mentari yang berdiri dekat pintu dengan rok panjang dan wajah pucat.
“Kenapa kamu belum siap?”
“Surat saya dirusak, Bu. Saya kira keberangkatan saya dibatalkan.”
Ratna mengernyit. “Siapa yang merusaknya?”
Tidak ada yang menjawab.
Tatapan Ratna jatuh pada serpihan surat yang belum sempat dibersihkan oleh Bi Rodiah. Ia membungkuk, mengambil salah satunya, lalu membaca logo yayasan.
“Ini dokumen resmi.”
Mama mendekat. “Saya kira surat itu palsu. Anak saya sering salah memahami sesuatu.”
Ratna menatap Mama lama sekali. “Mentari meraih nilai tertinggi dari lebih dari dua puluh ribu peserta. Dia tidak salah memahami apa pun.”
Kejora yang baru turun dari lantai atas membeku di anak tangga.
Ratna kemudian menyerahkan sebuah map baru kepada Mentari.
“Ini salinan dokumenmu, kartu mahasiswa, fasilitas tempat tinggal, dan rekening pendidikan. Mulai hari ini, semua kebutuhanmu ditanggung yayasan.”
Mentari menerima map itu dengan tangan bergetar. “Terima kasih, Bu.”
“Ada satu hal lagi yang harus dibicarakan bersama keluarga.”
Ratna duduk di sofa. Seorang staf membuka laptop dan meletakkannya di meja.
“Dua puluh tahun lalu, almarhum Arya Wiratama mendirikan Merdeka Foundation secara tertutup. Sebagian besar sahamnya disimpan melalui perjanjian amanah.”
Mama kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Bintang menatap Ratna. “Papa mendirikan yayasan itu?”
“Benar. Nama Merdeka diambil dari cita-citanya agar anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan tanpa bergantung pada kekayaan orang tua.”
Ratna membuka sebuah dokumen digital.
“Dalam perjanjian tersebut, hak pengendalian yayasan dan dua puluh lima persen saham Wiratama Group akan dialihkan kepada putrinya ketika ia diterima di universitas melalui kemampuannya sendiri.”
Ruangan seketika sunyi.
Mentari merasa suara di sekelilingnya menghilang.
“Putrinya?” bisik Kejora.
Ratna mengangguk. “Mentari.”
Mama berdiri mendadak. “Itu tidak mungkin. Semua saham Arya sudah dialihkan setelah dia meninggal.”
“Tidak semuanya. Dokumen ini disahkan sebelum kecelakaan.”
Ratna menatap Mama dengan ekspresi tegas.
“Kami juga sedang mengaudit dana pemeliharaan Mentari yang dikirim melalui rekening keluarga setiap bulan. Nilainya tiga puluh juta rupiah sejak ia tinggal bersama neneknya.”
Mentari menahan napas.
“Nenek tidak pernah menerima sebanyak itu,” katanya.
“Kami tahu,” jawab Ratna. “Dana tersebut masuk ke rekening pengelola rumah tangga ini, kemudian dialihkan ke beberapa rekening lain.”
Tatapan semua orang mengarah kepada Mama.
Bintang berdiri dengan wajah penuh ketidakpercayaan. “Mama memakai uang Mentari?”
“Tidak!” Mama membentak. “Mama hanya mengatur keuangan keluarga.”
“Dengan membiarkan Nenek menjual tanah demi membeli kaki palsu untuknya?”
Suara Bintang pecah.
Mama mencoba mendekati Mentari. “Tari, dengarkan Mama. Semua ini bisa dijelaskan.”
Mentari mundur satu langkah.
Selama bertahun-tahun, ia membayangkan hari ketika Mama akan memeluknya dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Namun saat hari itu akhirnya mungkin datang, Mentari tidak lagi menginginkannya.
“Apa Mama juga bisa menjelaskan kenapa saya selalu disalahkan atas kecelakaan Papa?”
Mama terdiam.
Ratna menutup laptop. “Ada rekaman suara dari mobil almarhum yang disimpan bersama dokumen amanah. Pak Arya membawa Mentari malam itu karena mengetahui adanya pengalihan dana perusahaan oleh seseorang yang sangat ia percaya.”
Bintang menatap ibunya.
“Siapa yang Papa sebut pengkhianat?”
Bibir Mama bergetar.
Ratna tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Livia, dan tatapan itu sudah cukup untuk membuat semua orang memahami kebenarannya.
Mentari memejamkan mata. Selama bertahun-tahun ia percaya kecelakaan itu terjadi karena dirinya keras kepala. Padahal malam itu ia hanyalah seorang anak yang ditarik masuk ke dalam konflik orang dewasa.
Air matanya akhirnya jatuh, bukan karena kelemahan, melainkan karena beban yang selama ini menghancurkan dirinya perlahan-lahan akhirnya terangkat.
Bintang menghampirinya.
“Tari, maafkan Kakak.”
Mentari menatapnya.
“Aku melihat semuanya, tapi aku memilih percaya pada cerita yang paling mudah. Aku membiarkanmu turun ke basemen.”
“Kakak tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak ingin Kakak perbaiki,” jawab Mentari pelan.
Bintang menunduk.
Ratna berdiri dan mempersilakan Mentari ikut bersamanya. Sebelum keluar, Mentari menatap rumah besar itu untuk terakhir kalinya.
Kejora berdiri membisu. Siska bersembunyi di dekat dapur. Mama masih terpaku di tengah ruang tamu, dikelilingi kemewahan yang tiba-tiba tidak lagi mampu melindunginya.
“Kamu mau meninggalkan Mama?” tanyanya lirih.
Mentari berhenti di depan pintu.
“Dulu saya selalu berharap Mama menganggap saya anak. Sekarang saya sadar, keluarga bukan tentang rumah tempat kita dilahirkan, tetapi tentang siapa yang tetap memegang tangan kita saat kita tidak punya apa-apa.”
Ia menoleh kepada Bi Rodiah.
“Bi, ikut saya.”
Bi Rodiah terkejut. “Bibi?”
“Saya membutuhkan seseorang yang bisa saya percaya.”
Perempuan tua itu menangis sambil mengangguk.
Mentari kemudian melangkah keluar. Kaki palsunya masih terasa sakit, tetapi untuk pertama kalinya, setiap langkah membawanya menuju kehidupan yang ia pilih sendiri.
Enam bulan kemudian, Mentari resmi menjadi mahasiswa Universitas Impian sekaligus anggota termuda dewan pengawas Merdeka Foundation. Ia menggunakan sebagian dana pribadinya untuk membangun pusat rehabilitasi dan beasiswa bagi anak-anak penyandang disabilitas dari keluarga kurang mampu.
Ia tidak membalas penghinaan dengan mengusir siapa pun ke basemen. Ia tidak merampas kamar orang lain atau membuat mereka makan di dekat pintu dapur.
Balasan Mentari jauh lebih menyakitkan bagi mereka yang merendahkannya.
Ia hidup dengan baik tanpa membutuhkan pengakuan mereka.
Sementara itu, hasil audit membuat Mama kehilangan kendali atas aset keluarga dan harus menghadapi proses hukum atas pengalihan dana. Kejora pulang ke rumah orang tuanya. Siska diberhentikan setelah terbukti mengambil surat Mentari atas perintah Kejora.
Bintang beberapa kali datang menemui Mentari, bukan untuk meminta bagian dari saham, melainkan belajar menjadi kakak yang seharusnya sejak dulu.
Suatu sore, mereka duduk di taman kampus.
“Kenapa kamu masih mau menemuiku?” tanya Bintang.
Mentari menatap matahari yang perlahan turun di antara gedung-gedung Jakarta.
“Karena Nenek mengajarkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan.”
“Lalu apa artinya?”
“Artinya aku tidak akan membawa luka kalian ke masa depanku. Tapi aku juga tidak akan memberikan kalian kesempatan untuk melukaiku dengan cara yang sama.”
Bintang mengangguk. Matanya memerah.
Mentari tersenyum tipis, lalu bangkit dan berjalan menuju gedung perpustakaan.
Dahulu ia pernah tidur di kamar pembantu karena keluarganya menganggapnya tidak berharga. Kini, tanpa harus mengangkat dagu atau merendahkan siapa pun, Mentari membuktikan bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh kamar tempat ia tidur.
Nilai seseorang ditentukan oleh caranya bangkit setelah dunia berusaha menjatuhkannya.
