“Rahma, jangan lupa hati ampelanya dipisah, ya. Buat Adelia,” pesan ibu mertua saat aku sibuk memotong ayam. “Iya, Bu,” jawabku.

Rahma menutup pintu kamar sedikit lebih keras dari biasanya. Dadanya naik turun menahan sesak yang sejak tadi ia paksa untuk ditelan sendiri. Di luar, suara televisi masih terdengar, diselingi tawa ibu mertuanya dan Adelia yang seolah tidak pernah memiliki beban hidup.

Mas Ahmad menoleh dari sajadahnya. Ia segera menutup mushaf Al-Qur’an, lalu berdiri mendekati istrinya.

“Ada apa, Ma?”

Rahma menggigit bibir. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja.

“Pokoknya Rahma ingin ngontrak, Mas. Titik.”

Ahmad terdiam beberapa saat. Ia mengusap pelan bahu istrinya.

“Ibu ngomong apa lagi?”

Rahma menggeleng. Bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena ia sudah terlalu lelah mengulang luka yang sama.

“Rahma capek, Mas.”

Hanya tiga kata itu.

Namun Ahmad mengerti bahwa tiga kata tersebut menyimpan ratusan luka yang tidak pernah sempat ia lihat sepenuhnya.

Sejak menikah dua tahun lalu, Rahma memang tinggal bersama keluarga suaminya. Awalnya semua terasa baik-baik saja. Ibu mertua memang keras, tetapi masih bisa dimengerti.

Semuanya berubah sejak Arsyad membawa pulang Adelia sebagai istrinya.

Seolah seluruh perhatian keluarga berpindah kepada perempuan itu.

Apa pun yang Adelia inginkan selalu tersedia.

Apa pun yang Adelia lakukan selalu dianggap benar.

Sedangkan Rahma…

Semua yang ia lakukan selalu kurang.

Masakannya kurang.

Cara bicaranya kurang.

Penampilannya kurang.

Bahkan rahimnya pun dianggap kurang.

“Aku sudah cari kontrakan beberapa minggu terakhir,” kata Ahmad pelan.

Rahma menatap suaminya terkejut.

“Mas sudah cari?”

“Iya.”

“Kenapa gak bilang?”

“Aku masih berharap keadaan bisa berubah.”

Rahma kembali menangis.

“Bisa pindah bulan depan kalau kamu mau.”

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Rahma merasa dadanya sedikit lega.

Namun ternyata kenyataan belum semudah itu.

Keesokan paginya, saat Ahmad menyampaikan niat mereka untuk pindah, suasana rumah langsung berubah tegang.

“Kamu serius mau keluar dari rumah ini?” tanya ibu dengan wajah merah.

“Iya, Bu.”

“Karena istrimu?”

“Bukan. Karena kami ingin belajar mandiri.”

Ibu tertawa sinis.

“Mandiri? Atau karena istrimu gak tahan tinggal sama keluarga?”

Rahma menunduk.

“Ibu…”

Belum sempat Ahmad menyelesaikan kalimatnya, ibu sudah menunjuk Rahma.

“Dasar perempuan pembawa sial. Baru dua tahun nikah belum kasih cucu, sekarang malah ngajak suami pisah dari keluarga.”

Rahma mengepalkan tangan.

Namun Ahmad berdiri tepat di depannya.

“Cukup, Bu.”

Suara Ahmad terdengar lebih tegas dari biasanya.

“Saya hormat sama Ibu. Tapi jangan hina istri saya lagi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan Arsyad yang biasanya diam kini ikut menatap kakaknya.

Ibu terlihat tidak percaya.

“Kamu berani sama ibu?”

“Saya membela istri saya.”

Ucapan itu membuat Rahma hampir menangis lagi.

Selama ini Ahmad memang tidak banyak bicara.

Tetapi setiap kali diperlukan, ia selalu berada di sampingnya.

Dua minggu kemudian mereka resmi pindah ke rumah kontrakan sederhana.

Rumah itu hanya memiliki dua kamar, dapur kecil, dan halaman yang bahkan tidak cukup untuk menanam pohon mangga.

Namun bagi Rahma…

Rumah itu terasa seperti istana.

Untuk pertama kalinya ia bisa memasak tanpa takut dikritik.

Ia bisa makan hati ampela tanpa harus menyembunyikan keinginannya.

Ia bisa tidur tanpa memikirkan pekerjaan rumah yang tak pernah habis.

Meski penghasilan Ahmad pas-pasan, mereka justru lebih sering tertawa.

Rahma mulai membuka usaha katering kecil-kecilan dari rumah.

Awalnya hanya menerima pesanan tetangga.

Lima bungkus.

Sepuluh bungkus.

Lima puluh bungkus.

Lama-kelamaan pesanan datang dari kantor, sekolah, hingga acara pengajian.

Masakan Rahma ternyata memang enak.

Bukan hanya menurut Ahmad.

Semua pelanggan berkata demikian.

Beberapa kali mereka bahkan rela antre hanya untuk mendapatkan nasi kotak buatannya.

Dalam waktu satu tahun, Rahma berhasil mempekerjakan tiga tetangga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.

Ahmad selalu tersenyum bangga melihat istrinya.

“Katanya masakanmu gak enak.”

Rahma terkekeh.

“Untung pelanggan gak kenal ibu.”

Mereka tertawa bersama.

Di sisi lain…

Kehidupan keluarga Arsyad mulai berubah.

Adelia yang selama ini selalu dimanja ternyata tidak siap menghadapi kenyataan menjadi seorang ibu.

Anaknya sering sakit.

Ia mudah marah.

Pekerjaan rumah terbengkalai.

Ibu mertua yang dulu selalu membelanya kini justru menjadi orang pertama yang mengeluh.

“Kamu ini ngurus anak aja gak becus.”

Adelia mulai menangis setiap hari.

Sementara Arsyad sering pulang larut karena tekanan pekerjaan.

Rumah yang dulu ramai kini dipenuhi pertengkaran.

Suatu sore telepon Rahma berdering.

Nama ibu muncul di layar.

Rahma ragu mengangkatnya.

“Halo…”

Suara di seberang terdengar lemah.

“Rahma…”

“Iya, Bu.”

“Ibu di rumah sakit.”

Jantung Rahma berdegup.

Ternyata ibu terkena serangan stroke ringan akibat tekanan darah tinggi.

Rahma dan Ahmad segera datang.

Sesampainya di rumah sakit, pemandangan yang mereka lihat membuat Rahma terdiam.

Ibu terbaring lemah.

Tidak lagi tampak garang seperti biasanya.

Rambutnya mulai memutih.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Saat melihat Rahma masuk, ibu justru menangis.

“Maafkan ibu.”

Rahma membeku.

Kalimat itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut ibu mertuanya.

“Ibu salah.”

Air mata ibu terus mengalir.

“Selama ini ibu terlalu membandingkan kamu dengan Adelia.”

Rahma tidak tahu harus menjawab apa.

“Setelah kamu pergi…”

Ibu menarik napas panjang.

“…baru ibu sadar siapa yang selama ini menjaga rumah.”

Suara ibu mulai bergetar.

“Tidak ada lagi yang bangun paling pagi.”

“Tidak ada lagi yang diam-diam membersihkan rumah.”

“Tidak ada lagi yang memasak tanpa mengeluh.”

“Ibu kehilangan semuanya.”

Rahma menutup wajahnya.

Tangis yang selama dua tahun ia pendam akhirnya pecah.

Ia menggenggam tangan ibu.

“Rahma sudah memaafkan ibu.”

Ibu menangis semakin keras.

“Apa kamu masih mau anggap ibu?”

Rahma mengangguk.

“Ibu tetap ibu Rahma.”

Beberapa bulan berlalu.

Hubungan mereka mulai membaik.

Ibu sering berkunjung ke rumah kontrakan Rahma.

Namun kali ini bukan untuk memerintah.

Melainkan membantu membungkus pesanan katering.

Ia bahkan sering berkata kepada pelanggan,

“Masakan menantu saya memang paling enak.”

Rahma hanya tersenyum setiap kali mendengarnya.

Suatu pagi, saat Rahma sedang sibuk mencicipi kuah opor, wajahnya tiba-tiba pucat.

Ia berlari menuju kamar mandi.

Ahmad panik.

“Ma!”

Rahma muntah beberapa kali.

Awalnya mereka mengira hanya masuk angin.

Namun setelah diperiksa dokter…

Dokter tersenyum sambil menyerahkan hasil pemeriksaan.

“Selamat.”

Rahma dan Ahmad saling berpandangan.

“Kehamilan Ibu sudah memasuki delapan minggu.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Rahma tidak bergerak.

Ia hanya memandangi hasil USG di tangannya.

Air matanya jatuh satu demi satu.

Ahmad langsung memeluk istrinya.

“Alhamdulillah…”

Mereka menangis bersama.

Tangis yang kali ini bukan karena luka.

Melainkan karena doa yang akhirnya dijawab Allah pada waktu terbaik.

Ketika kabar itu sampai kepada ibu mertua, perempuan tua itu datang sambil membawa satu kantong besar berisi buah-buahan.

Begitu melihat Rahma, ia langsung memeluknya.

“Ibu minta maaf sekali lagi.”

Rahma tersenyum.

“Sudah, Bu.”

Lalu ibu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.

Rahma membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat sepasang gelang emas.

“Itu milik almarhum nenek Ahmad.”

“Ibu simpan selama ini.”

“Dulu ibu pikir akan ibu berikan pada Adelia.”

Rahma terkejut.

“Tapi sekarang…”

Ibu menggenggam tangan Rahma.

“…ibu sadar, yang pantas menerimanya adalah perempuan yang sudah mengajarkan ibu arti kesabaran.”

Rahma kembali menangis.

Bukan karena gelang itu.

Melainkan karena akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang selama ini lebih ia rindukan daripada harta apa pun.

Pengakuan.

Rasa dihargai.

Dan sebuah pelukan tulus yang selama bertahun-tahun hanya ia impikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang