Rokok itu hanya menyentuh perutku selama beberapa detik.

Rokok itu hanya menyentuh perutku selama beberapa detik, tetapi rasa panasnya seolah membakar habis tiga tahun kebohongan dalam pernikahanku.

Malam Tahun Baru yang seharusnya kami rayakan sebagai keluarga berubah menjadi malam ketika aku akhirnya melihat wajah asli keluarga Kang.

Aku sedang hamil enam bulan.

Namun suamiku, Kang Min-jae, sama sekali tidak ragu menempelkan rokok menyala ke gaun kasmirku, sementara ibunya, Han Mi-sook, menahan kedua tanganku di kursi makan.

Aku menjerit ketika panas menembus kain dan mengenai kulit.

“Pegang dia,” kata Min-jae.

Mi-sook justru mempererat cengkeramannya.

“Perempuan yang tidak menghormati suaminya memang harus diberi pelajaran.”

Ayah mertua hanya menunduk menatap anggurnya.

Soo-jin, adik Min-jae, malah merekam semuanya sambil tersenyum.

Ketika bayiku menendang dari dalam perut, aku berhenti menangis.

Saat itu aku sadar bahwa jika aku tetap diam, suatu hari anakku mungkin akan tumbuh dengan menganggap semua ini normal.

Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.

“Aku akan pergi,” kataku.

Min-jae tersenyum puas.

“Bagus. Keluar dari rumah keluargaku.”

Aku berdiri perlahan.

“Bukan aku yang akan keluar.”

Kubuka dokumen kepemilikan penthouse di ponsel.

“Kalian yang akan keluar dari rumahku.”

Senyum mereka lenyap.

Aku meninggalkan penthouse dan menelepon polisi serta pengacaraku, Choi Eun-seo.

Saat ambulans membawaku ke rumah sakit, Eun-seo mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Min-jae ternyata telah memindahkan uang dari salah satu rekening investasiku selama hampir dua tahun.

Jumlahnya mencapai miliaran won.

Lalu sebuah pesan anonim masuk.

Ada hal lain yang harus kau ketahui tentang anak yang sedang kau kandung.

Tanganku langsung dingin.

Pengirimnya menggunakan nomor yang tidak kukenal.

Aku mencoba menelepon, tetapi nomor itu tidak aktif.

Di rumah sakit, dokter memeriksa luka bakarku dan kondisi janin. Untungnya luka itu tidak dalam dan bayiku masih dalam keadaan stabil.

Aku menangis ketika mendengar detak jantungnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, air mataku bukan karena takut.

“Apa bayiku benar-benar baik-baik saja?”

Dokter mengangguk.

“Untuk saat ini, iya. Tapi Anda harus menghindari stres berat.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bagaimana mungkin?

Hidupku baru saja runtuh dalam satu malam.

Eun-seo datang sekitar pukul dua pagi membawa laptop dan beberapa dokumen.

Dia duduk di samping ranjangku.

“Aku menemukan pola transfernya.”

Dia menunjukkan catatan transaksi.

Min-jae memindahkan uang dalam jumlah kecil terlebih dahulu, lalu semakin besar. Uang itu dialirkan melalui beberapa perusahaan investasi sebelum akhirnya masuk ke sebuah perusahaan bernama KM Bio Holdings.

“Perusahaan siapa?”

“Secara resmi milik orang lain. Tapi aku yakin Min-jae yang mengendalikannya.”

“Untuk apa?”

Eun-seo menatapku lama.

“Perusahaan itu membayar sebuah klinik fertilitas.”

Napas tertahan di tenggorokanku.

Enam bulan sebelumnya, aku memang menjalani program bayi tabung.

Setelah dua tahun gagal memiliki anak, Min-jae yang paling bersemangat menyarankan IVF.

Dia mengurus hampir semua administrasi.

Saat itu aku menganggapnya sebagai bentuk perhatian.

Sekarang aku merasa bodoh.

“Pesan tadi…” bisikku.

Eun-seo mengangguk.

“Kita harus memeriksa semuanya.”

Keesokan paginya, polisi datang mengambil keteranganku.

Soo-jin sempat menghapus rekaman dari ponselnya, tetapi dia tidak tahu bahwa video itu otomatis tersimpan di cloud.

Rekaman kamera gedung juga memperlihatkan aku meninggalkan penthouse dalam keadaan terluka.

Min-jae mencoba mengatakan bahwa luka itu terjadi karena kecelakaan.

Sayangnya baginya, terlalu banyak bukti yang mengatakan sebaliknya.

Namun aku belum puas.

Aku ingin tahu tentang anakku.

Tiga hari kemudian, Eun-seo menemukan seorang mantan perawat dari klinik fertilitas bernama Park Hye-rin.

Kami bertemu diam-diam di sebuah kafe kecil di Mapo.

Begitu melihatku, wajahnya langsung pucat.

“Saya sudah tahu suatu hari Anda akan datang.”

Aku duduk di hadapannya.

“Apa yang dilakukan suami saya?”

Tangannya gemetar ketika memegang cangkir.

“Nyonya Yoon, saya minta maaf.”

“Jawab saya.”

Dia menarik napas.

“Suami Anda membayar direktur klinik untuk mengubah beberapa catatan medis.”

Aku merasa bayiku bergerak.

“Catatan apa?”

“Catatan donor.”

Dunia seolah berhenti.

Aku menatapnya tanpa mampu berbicara.

Hye-rin buru-buru melanjutkan.

“Sel telur yang digunakan tetap milik Anda.”

Aku menutup mata sejenak.

“Lalu spermanya?”

“Bukan milik suami Anda.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Siapa?”

“Itulah masalahnya. Identitas donor disembunyikan.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Kenapa Min-jae melakukan itu?”

Hye-rin mulai menangis.

“Karena dia mandul.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada rokok di malam Tahun Baru.

Ternyata Min-jae sudah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa dirinya tidak dapat memiliki anak biologis.

Namun keluarganya terobsesi dengan pewaris.

Mi-sook bahkan pernah mengatakan kepadaku bahwa tugasku sebagai menantu pertama adalah melahirkan penerus keluarga Kang.

Jadi mereka menyembunyikan semuanya.

Mereka menggunakan donor sperma tanpa persetujuanku dan membuatku percaya bahwa anak ini adalah anak biologis Min-jae.

“Tapi kenapa mereka mencuri uangku?”

Eun-seo bertanya.

Hye-rin menatap kami.

“Karena bukan hanya untuk IVF.”

Dia mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya.

“Saya menyimpan salinan beberapa dokumen karena saya takut.”

Di dalamnya terdapat kontrak perusahaan, pembayaran klinik, dan komunikasi pribadi antara Min-jae dan Mi-sook.

Salah satu pesan membuat tubuhku membeku.

Setelah anak lahir, pindahkan aset atas nama cucu. Yoon-ah tidak perlu tahu sampai semuanya selesai.

Pesan lain lebih buruk.

Kalau dia menolak, gunakan diagnosis postpartum. Kita bisa mengatakan kondisinya tidak stabil dan Min-jae harus mengendalikan keuangannya.

Mereka tidak hanya menginginkan anak.

Mereka menginginkan seluruh hartaku.

Kehamilanku adalah bagian dari rencana.

Malam ketika mereka membakarku bukan sekadar ledakan kemarahan.

Aku telah mulai mencurigai transaksi keuangan Min-jae beberapa minggu sebelumnya.

Ketika aku menanyakan salah satu transfer saat makan malam, Min-jae panik.

Mereka ingin menakutiku agar diam.

Kesalahan terbesar mereka adalah percaya bahwa perempuan yang selama tiga tahun memilih diam berarti tidak mampu melawan.

Dalam dua minggu berikutnya, hidup keluarga Kang berubah total.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Pengacaraku membekukan akses Min-jae ke rekening yang terkait denganku.

Aku mencabut seluruh jaminan pribadi yang pernah kuberikan kepada perusahaannya.

Dan melalui prosedur hukum, keluarganya diwajibkan meninggalkan penthouse.

Hari mereka pindah, aku tidak datang.

Namun petugas gedung mengirimkan laporan bahwa Mi-sook menangis dan berteriak di lobi.

Min-jae meneleponku puluhan kali.

Aku tidak pernah menjawab.

Sampai suatu malam, dia mengirim pesan.

Kita harus bicara tentang bayi itu.

Aku membalas untuk pertama kalinya.

Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Beberapa menit kemudian teleponku berdering.

Aku mengangkatnya.

“Yoon-ah, dengarkan aku.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Aku melakukan semua itu karena ibu memaksaku.”

Aku tertawa kecil.

“Apakah ibumu juga memegang tanganmu ketika kau menempelkan rokok ke perutku?”

Dia diam.

“Aku mencintaimu.”

“Tidak.”

Aku memandang bekas luka yang mulai mengering di perutku.

“Kau mencintai kehidupan yang kubayar.”

Aku memutus sambungan.

Namun misteri terbesar belum selesai.

Identitas donor sperma masih belum diketahui.

Aku sebenarnya berniat membiarkannya tetap seperti itu. Bagiku, siapa pun donor tersebut tidak akan mengubah kenyataan bahwa bayi ini adalah anakku.

Tetapi sebulan kemudian, Hye-rin menelepon.

“Saya menemukan catatan aslinya.”

Aku terdiam.

“Siapa donornya?”

“Bukan donor anonim.”

Jantungku berdetak keras.

“Lalu?”

“Nama orang itu Kang Dong-hyun.”

Aku tidak mengenalnya.

Setidaknya aku merasa tidak mengenalnya.

Sampai Eun-seo mencari namanya.

Kang Dong-hyun ternyata adalah adik laki-laki ayah mertua Min-jae.

Dia meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan mobil.

Aku menatap foto lama keluarga Kang yang ditemukan Eun-seo.

Dong-hyun berdiri di sudut foto.

Wajahnya mirip Min-jae.

Tapi matanya jauh lebih lembut.

“Jadi mereka menggunakan sperma pamannya?”

Eun-seo mengangguk.

“Sampel itu disimpan bertahun-tahun lalu untuk keperluan medis. Tampaknya Mi-sook mendapatkan akses melalui direktur klinik.”

Aku merasa mual.

Sekarang semuanya masuk akal.

Mereka tidak hanya membutuhkan seorang bayi.

Mereka membutuhkan bayi yang tetap memiliki darah keluarga Kang.

Dan mereka menggunakan tubuhku tanpa persetujuanku untuk mendapatkannya.

Kasus itu akhirnya berkembang jauh melampaui kekerasan rumah tangga.

Penyelidikan keuangan menemukan penggelapan dana, pemalsuan dokumen, transaksi ilegal, dan manipulasi prosedur medis.

Direktur klinik ditangkap.

Min-jae diperiksa atas beberapa tuduhan.

Mi-sook yang selama ini selalu membanggakan nama keluarga Kang mulai menghindari wartawan.

Soo-jin menyerahkan video asli kepada polisi setelah pengacaranya menyarankan agar dia bekerja sama.

Yang paling mengejutkanku justru ayah mertua.

Suatu sore dia datang menemuiku.

Dia berdiri di depan pintu apartemen sementara tempatku tinggal.

“Aku tidak meminta kau memaafkanku,” katanya.

“Bagus. Karena aku tidak akan melakukannya.”

Dia mengangguk.

“Aku pantas menerima itu.”

Kemudian dia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat dokumen lama milik Dong-hyun.

Salah satunya adalah surat persetujuan penyimpanan sampel.

Ada satu kalimat yang digarisbawahi.

Sampel tidak boleh digunakan untuk reproduksi tanpa persetujuan tertulis dari pemilik.

Tidak pernah ada persetujuan tersebut.

“Aku seharusnya menghentikan mereka sejak awal,” kata ayah mertua.

Aku menatapnya.

“Tapi Anda memilih diam.”

Air matanya jatuh.

“Iya.”

“Diam juga sebuah pilihan.”

Dia tidak membantah.

Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku menamainya Seo-ah.

Aku tidak memberinya nama keluarga Kang.

Saat perawat meletakkannya di dadaku, tangannya yang sangat kecil menggenggam jariku.

Aku menangis.

Bukan karena semua yang telah hilang.

Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun keluarga Kang membuatku percaya bahwa keluarga adalah soal nama belakang, garis keturunan, kekuasaan, dan warisan.

Namun bayi kecil yang sedang tidur di dadaku mengajarkanku sebaliknya.

Keluarga adalah tempat seseorang merasa aman.

Beberapa hari setelah kami pulang, keputusan awal pengadilan keluar.

Min-jae dilarang mendekatiku dan Seo-ah.

Sebagian besar dana yang dicurinya berhasil dilacak dan dibekukan.

Penthouse Hannam-dong tetap menjadi milikku.

Tetapi aku memutuskan menjualnya.

Eun-seo terkejut.

“Bukankah rumah itu sangat berarti bagimu?”

Aku memandang jendela apartemenku.

“Tidak lagi.”

Dengan sebagian uang penjualan, aku membeli rumah yang lebih kecil di lingkungan yang tenang.

Tidak ada kristal mahal.

Tidak ada anggur impor.

Tidak ada pemandangan Seoul dari lantai tertinggi.

Hanya ruang tamu hangat, kamar kecil untuk Seo-ah, dan balkon tempat matahari pagi masuk setiap hari.

Pada malam pertama di sana, aku berdiri di depan cermin sambil menggendong putriku.

Bekas luka kecil di perutku masih terlihat.

Dulu aku membencinya.

Sekarang tidak.

Luka itu adalah pengingat tentang malam ketika mereka mencoba mengajariku di mana tempatku.

Mereka pikir tempatku adalah di bawah mereka.

Mereka salah.

Aku mencium kening Seo-ah.

Di luar jendela, Seoul masih menyala seperti malam Tahun Baru itu.

Namun kali ini tidak ada seorang pun yang menahan tanganku.

Tidak ada seorang pun yang menentukan kapan aku boleh bicara.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah tempat aku berdiri benar-benar terasa seperti milikku.

Bukan karena namaku tertulis di sertifikat.

Melainkan karena di dalam rumah itu, tidak ada seorang pun yang harus terluka untuk bisa disebut keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang