Roommate-ku menuduh aku menularkan hiv demi merebut kesempatan kuliah ke singapura—Tiga hari kemudian, mereka memanggilku ke ruang dekan dan membekukan beasiswaku, tanpa tahu kamera kecil di laci pribadiku merekam siapa yang sebenarnya masuk malam itu.

Aku memutar ulang rekaman itu berkali-kali hingga dini hari. Semakin lama kutonton, semakin jelas setiap gerakan yang terekam. Citra membuka laci dengan kunci duplikat, mengeluarkan sebungkus pembalut yang memang kusimpan untuk keadaan darurat, lalu meletakkan benda lain yang dibawanya. Sesaat kemudian tangan kedua masuk ke dalam bingkai. Pemilik gelang emas berbentuk daun itu tidak pernah memperlihatkan wajahnya, tetapi aku mengenali gelang tersebut tanpa ragu. Bu Laras selalu memakainya dalam setiap acara fakultas.

Dadaku berdebar keras.

Kalau rekaman ini benar, berarti semua yang terjadi bukan sekadar fitnah spontan. Seseorang telah menyiapkan semuanya.

Aku tidak langsung mengirim video itu kepada siapa pun. Aku menyalinnya ke tiga flashdisk berbeda, mengunggah salinan terenkripsi ke penyimpanan awan, lalu mengirim satu file kepada kakakku dengan pesan singkat.

Kalau besok aku kehilangan laptop atau ponsel, simpan file ini.

Keesokan paginya, aku datang ke klinik kampus lebih awal. dr. Maya tampak terkejut melihatku.

“Kamu datang sendiri?”

“Aku ingin menjalani semua pemeriksaan yang diperlukan.”

Beliau mengangguk.

“Bagus. Dan hasilnya akan mengikuti prosedur medis, bukan opini.”

Aku menjalani pemeriksaan lengkap. Sebelum keluar, aku mengeluarkan flashdisk.

“Dok, saya ingin meminta pendapat, bukan keputusan.”

Beliau menonton rekaman itu sampai selesai. Ekspresi wajahnya berubah perlahan.

“Apakah hanya saya yang melihat ini?”

“Untuk sementara.”

dr. Maya menarik napas panjang.

“Nadia, jangan sebarkan dulu. Rekaman ini harus diamankan sebagai bukti. Kalau benar ada manipulasi, prosedurnya harus rapi.”

Sore harinya hasil laboratorium pertamaku keluar. Tidak ditemukan bukti yang mendukung tuduhan bahwa aku mengidap HIV. dr. Maya menjelaskan bahwa hasil tersebut tetap harus dikonfirmasi sesuai prosedur, tetapi secara medis tuduhan yang beredar sama sekali tidak memiliki dasar.

Namun berita baik itu tidak pernah keluar dari ruang klinik.

Yang beredar justru kabar bahwa aku sedang menjalani pemeriksaan karena dicurigai menularkan penyakit.

Dalam waktu kurang dari sehari, aku menjadi bahan pembicaraan seluruh kampus.

Saat berjalan melewati kantin, percakapan langsung berhenti.

Beberapa orang memindahkan kursi.

Ada yang sengaja menyemprot meja setelah aku bangkit.

Bukan karena mereka mengerti HIV.

Mereka hanya percaya pada ketakutan.

Malam itu, Sari menghampiriku.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Aku dengar Citra pernah bilang kalau kamu akan disingkirkan sebelum pengumuman beasiswa.”

Aku menatapnya.

“Dia bilang begitu?”

Sari mengangguk pelan.

“Aku kira cuma emosi. Tapi sekarang aku mulai takut.”

“Takut kenapa?”

“Karena malam sebelum semuanya terjadi, Bu Laras datang ke asrama.”

Aku terdiam.

“Asrama sudah tutup jam sepuluh malam.”

“Iya. Tapi beliau bilang sedang memeriksa fasilitas. Aku melihat beliau masuk ke lantai kita.”

Potongan-potongan kejadian mulai saling menyambung.

Aku meminta izin kepada pengelola asrama untuk melihat rekaman CCTV koridor. Permintaanku ditolak dengan alasan hanya dekanat yang boleh mengakses.

Malamnya, seseorang mengetuk pintu kamarku.

Wulan berdiri dengan wajah pucat.

“Aku nggak tahan lagi.”

Dia masuk lalu mengunci pintu.

“Aku lihat sesuatu malam itu.”

Aku tidak menyela.

“Citra meminjam printerku. Waktu aku masuk ke kamar, dia sedang memegang kantong plastik kecil berwarna merah. Dia langsung menyembunyikannya.”

“Apa lagi?”

“Dia bilang kalau semua akan selesai dalam tiga hari.”

Tangannya gemetar.

“Aku pikir dia cuma stres soal beasiswa.”

Dua hari kemudian, kampus mengadakan sidang etik tertutup.

Aku hadir bersama kakakku dan dr. Maya sebagai saksi ahli.

Bu Laras, Dekan Prasetyo, Citra, serta ibunya juga hadir.

Belum ada seorang pun yang mengetahui isi flashdisk yang kubawa.

Sidang baru berjalan sepuluh menit ketika Bu Helena berdiri.

“Mahasiswa seperti Nadia tidak layak menerima beasiswa luar negeri.”

Aku mengangkat tangan.

“Sebelum sidang dilanjutkan, saya ingin memperlihatkan satu bukti.”

Bu Laras langsung memotong.

“Rekaman pribadi tidak selalu sah.”

“Saya tidak merekam orang lain. Kamera ini berada di dalam laci milik saya sendiri.”

Ruangan menjadi sunyi.

Video diputar.

Semua mata tertuju ke layar.

Terlihat Citra membuka laci menggunakan kunci duplikat.

Beberapa dosen mulai saling berpandangan.

Lalu tangan kedua muncul.

Gelang emas berbentuk daun tampak jelas ketika membantu memegang laci.

Bu Laras langsung memucat.

“Itu… tidak membuktikan apa pun.”

Aku menghentikan video tepat saat gelang itu memenuhi layar.

“Kalau begitu, boleh saya minta Ibu menunjukkan gelang yang sedang Ibu pakai hari ini?”

Beliau refleks menyembunyikan pergelangan tangannya.

Ketua sidang meminta beliau berdiri.

Gelang emas dengan bandul daun itu masih melekat di sana.

Ruangan langsung gaduh.

“Tetap saja tidak membuktikan saya memasukkan apa pun,” kata Bu Laras dengan suara meninggi.

dr. Maya meminta izin berbicara.

“Saya ingin menjelaskan satu hal.”

Beliau mengangkat kantong plastik transparan.

“Pembalut yang dijadikan barang bukti telah diperiksa laboratorium. Noda yang ditemukan bukan darah menstruasi segar seperti yang diklaim. Sampel tersebut sengaja ditempelkan dari luar beberapa waktu sebelumnya.”

Wajah Citra langsung kehilangan warna.

“Selain itu,” lanjut dr. Maya, “tidak ditemukan dasar ilmiah yang mendukung tuduhan penularan seperti yang disampaikan kepada publik. Tuduhan tersebut sangat menyesatkan.”

Ketua sidang menoleh kepada Citra.

“Apakah ada yang ingin kamu jelaskan?”

Air mata mulai mengalir.

“Aku… aku cuma ingin kesempatan kuliah ke Singapura.”

Ibunya langsung memegang lengannya.

“Diam.”

Namun Citra justru menangis semakin keras.

“Bu Laras bilang kalau Nadia keluar dari seleksi sementara, peluangku akan terbuka.”

Ruangan seakan membeku.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Citra menutup wajahnya.

“Beliau bilang tidak akan ada yang benar-benar terluka. Cuma investigasi beberapa minggu.”

Semua mata kini mengarah kepada Bu Laras.

Beliau masih berusaha tenang.

“Itu fitnah.”

Saat itulah pintu ruang sidang terbuka.

Seorang petugas keamanan kampus masuk bersama staf teknologi informasi.

“Maaf mengganggu. Kami diminta memeriksa akses sistem anonim kampus.”

Ketua sidang mengangguk.

“Silakan.”

Staf IT membuka laporan.

“Akun anonim yang pertama kali mengunggah identitas Nadia dibuat menggunakan jaringan internal fakultas.”

Ia berhenti sejenak.

“Login terakhir berasal dari komputer ruang koordinasi akademik.”

Ruangan kembali sunyi.

“Komputer itu digunakan oleh siapa?”

“Menurut log akses, akun yang aktif saat unggahan dibuat adalah akun Bu Laras Wibowo.”

Tidak ada lagi yang bisa disangkal.

Bu Laras perlahan duduk.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, wajahnya menunjukkan kepanikan.

Beliau akhirnya mengaku.

Selama bertahun-tahun beliau membimbing mahasiswa yang mengikuti program pertukaran. Putrinya pernah gagal mendapatkan kesempatan yang sama. Sejak itu beliau terobsesi melihat mahasiswa “yang pantas” mewakili fakultas.

Citra adalah anak sahabat lamanya.

Beliau yakin Citra lebih layak berangkat dibanding aku.

“Aku hanya ingin memberi sedikit dorongan,” katanya lirih.

“Dorongan?” suara Dekan Prasetyo bergetar menahan marah. “Kamu menghancurkan nama baik mahasiswa dengan tuduhan yang bisa merusak hidupnya.”

Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan lanjutan Citra keluar.

Ternyata hasil skrining reaktif sebelumnya adalah positif palsu. Pemeriksaan konfirmasi menunjukkan bahwa ia tidak terinfeksi HIV.

Berita itu akhirnya diumumkan secara resmi.

Namun kerusakan yang telah terjadi tidak bisa dihapus hanya dengan satu pengumuman.

Bu Laras diberhentikan dari jabatannya sambil menunggu proses hukum dan etik.

Unggahan anonim dihapus, tetapi salinannya telanjur menyebar.

Pihak universitas mengadakan konferensi pers, meminta maaf kepadaku dan keluargaku, serta mengakui bahwa kampus gagal melindungi mahasiswanya dari stigma dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Beasiswaku dipulihkan.

Beberapa minggu kemudian, aku berdiri di Bandara Soekarno-Hatta dengan paspor dan surat penerimaan program pertukaran ke Singapura di tangan.

Sebelum masuk ke ruang keberangkatan, seseorang memanggil namaku.

Citra.

Tubuhnya tampak lebih kurus.

“Aku nggak minta kamu memaafkan aku.”

Aku menatapnya tanpa kebencian.

“Aku juga nggak akan pura-pura melupakan semuanya.”

Dia mengangguk.

“Aku cuma ingin bilang… aku iri. Dan aku membiarkan rasa iri itu mengubahku jadi orang yang bahkan aku sendiri nggak kenal.”

Aku tidak menjawab selama beberapa detik.

“Kesempatan bisa direbut kembali. Tapi kepercayaan jauh lebih sulit.”

Air mata kembali mengalir di pipinya.

Dia membungkuk sebelum berbalik pergi.

Pesawat mulai dipanggil untuk naik.

Aku menatap langit yang cerah melalui jendela terminal.

Aku pernah kehilangan nama baik hanya dalam tiga hari karena satu kebohongan yang diulang terus-menerus.

Tetapi aku belajar bahwa kebenaran tidak selalu datang lebih cepat daripada fitnah.

Ia hanya membutuhkan keberanian untuk disimpan, dijaga, dan diungkapkan pada waktu yang tepat.

Dan malam ketika aku memasang kamera kecil di dalam laci, aku mengira sedang melindungi barang-barangku.

Ternyata, tanpa kusadari, aku sedang menyelamatkan masa depanku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang