Fajar tidak langsung menjawab.
Matanya berpindah dari wajahku ke surat kuasa di tanganku, lalu ke map plastik yang terbuka di atas meja makan.
Hujan masih menetes dari ujung rambutnya. Kemejanya basah di bagian bahu. Beberapa jam lalu, pemandangan itu mungkin masih bisa membuatku khawatir dia masuk angin.
Sekarang aku hanya melihat seorang laki-laki yang sedang menghitung seberapa banyak kebohongannya sudah terbongkar.
“Salma, dengarkan aku dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa pendek.
Kalimat itu.
Kalimat paling malas yang bisa keluar dari mulut seseorang setelah ketahuan berkhianat.
Aku mengangkat lembar pembiayaan.
“Rumah atas namaku dijadikan jaminan. Ada tanda tangan palsu. Uangnya masuk ke usaha Nindya. Bagian mana yang berbeda dari yang kupikirkan?”
Fajar menutup pintu, lalu berjalan mendekat.
“Turunkan suaramu.”
“Kenapa?”
“Orang-orang bisa dengar.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi itu yang kamu takutkan?”
Dia mengusap wajah.
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Silakan.”
Fajar menarik kursi, tetapi tidak duduk. Jemarinya mencengkeram sandaran.
“Nindya hampir bangkrut empat bulan lalu. Dia dapat proyek besar untuk acara perusahaan, tapi modalnya kurang. Kalau gagal, dia harus bayar penalti. Aku cuma membantu mencarikan pembiayaan sementara.”
“Dengan rumahku.”
“Tidak ada pilihan lain.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Tidak ada pilihan lain?”
“Rumah ini aset paling aman.”
“Bukan asetmu.”
“Aku suamimu.”
“Dan itu membuatmu boleh memalsukan tanda tanganku?”
Fajar diam.
Aku meletakkan dokumen di meja.
“Jawab.”
“Aku tidak memalsukan.”
“Lalu siapa?”
Dia tidak menjawab.
Pada saat itulah aku tahu ada sesuatu yang lebih buruk.
Aku mengambil ponsel dan memotret seluruh dokumen satu per satu.
Fajar langsung maju.
“Untuk apa difoto?”
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Salma.”
“Jangan.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Tanganku gemetar, tetapi bukan karena takut.
Aku mengirim semua foto itu kepada diriku sendiri lewat email, lalu kepada Ratih, sepupuku yang bekerja di kantor notaris.
Fajar melihat layar ponselku.
Wajahnya pucat.
“Kamu tidak perlu membawa orang lain ke masalah kita.”
“Masalah kita?”
Aku menatap sertifikat rumah.
“Ini masalah pidana.”
“Jangan berlebihan.”
“Pemalsuan tanda tangan dan penggunaan aset tanpa izin itu menurutmu masalah rumah tangga?”
Fajar menepuk meja.
“Aku akan lunasi semuanya!”
“Dengan uang siapa?”
“Aku sedang usahakan.”
“Dua cicilan sudah menunggak.”
“Itu cuma terlambat.”
Aku membuka lembar lain.
“Peninjauan jaminan dijadwalkan minggu depan.”
Fajar terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau aku tidak menemukan map ini malam ini, kapan kamu mau memberitahuku? Setelah orang datang memasang tanda di rumah?”
“Tidak akan sampai begitu.”
“Kamu yakin?”
“Aku punya rencana.”
“Seperti rencanamu meninggalkanku saat banjir?”
Wajahnya mengeras.
“Jangan campur dua hal berbeda.”
“Justru malam ini semuanya menjadi sangat jelas.”
Aku melihatnya tepat di mata.
“Kamu selalu memilih dia.”
“Tidak.”
“Ketika dia butuh rumah kontrakan, kamu bantu. Ketika dia butuh proyek, kamu beri akses. Ketika dia butuh modal, kamu pertaruhkan rumahku. Ketika banjir datang, kamu selamatkan dia.”
“Ada Raka di sana.”
“Dan ada istrimu di sini.”
Fajar membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Aku mengangguk pelan.
“Sudah cukup.”
Aku berjalan ke kamar.
Fajar mengikuti.
“Mau ke mana?”
“Mengambil dokumen penting.”
“Salma, jangan bertindak gegabah.”
Aku berhenti dan berbalik.
“Gegabah adalah memalsukan dokumen rumah orang lain demi mantan kekasih.”
“Itu bukan seperti itu.”
“Kamu masih bilang begitu?”
“Aku dan Nindya tidak selingkuh.”
Aku menatapnya.
Aneh sekali.
Setelah semua yang kulihat, dia masih menganggap hubungan fisik sebagai satu-satunya bentuk pengkhianatan.
“Kalau begitu lebih parah.”
“Apa?”
“Kamu menghancurkan pernikahan kita tanpa perlu tidur dengannya.”
Aku masuk ke kamar dan mengambil kotak berisi akta kelahiran, buku nikah, surat rumah asli, serta beberapa dokumen peninggalan Ibu.
Fajar langsung menatap sertifikat asli di tanganku.
“Kamu simpan di situ?”
Aku berhenti.
Ada sesuatu dalam nada suaranya.
Bukan heran.
Lebih seperti kecewa.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menatapnya tajam.
“Dokumen yang dipakai untuk pembiayaan ini fotokopi legalisir. Kalau sertifikat asli masih ada padaku, bagaimana pembiayaan bisa cair?”
Fajar tidak menjawab.
Aku merasakan tengkukku dingin.
Ponselku bergetar.
Ratih menelepon.
Aku mengangkatnya.
“Sal?”
“Iya.”
“Aku sudah lihat foto yang kamu kirim. Jangan serahkan dokumen asli kepada siapa pun.”
“Kenapa?”
“Ada yang aneh.”
Aku melirik Fajar.
“Aneh bagaimana?”
“Format surat kuasanya menyerupai akta yang biasa dipakai lembaga pembiayaan tertentu, tapi stempel notarisnya buram. Kirim foto bagian bawah lebih dekat.”
Aku melakukannya.
Ratih terdiam beberapa detik.
“Salma.”
“Iya?”
“Nama notaris ini Pak Hendra?”
Aku membaca.
“Iya.”
“Dia meninggal dua tahun lalu.”
Aku menatap Fajar.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Ratih melanjutkan.
“Dokumen ini kemungkinan bukan sekadar tanda tangan palsu. Bisa jadi seluruh legalisasi dibuat palsu.”
Aku menutup telepon setelah Ratih berjanji datang pagi-pagi.
Fajar duduk di tepi kasur.
Aku tidak pernah melihatnya seperti itu.
Bahu jatuh.
Napas berat.
Seolah-olah akhirnya ia menyadari bahwa lubang yang digalinya sendiri terlalu dalam untuk dipanjat keluar.
“Aku tidak tahu Pak Hendra sudah meninggal,” katanya pelan.
“Siapa yang mengurus dokumen ini?”
Dia tidak menjawab.
“Fajar.”
“Nindya punya kenalan.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Tentu saja.
“Nindya?”
“Dia bilang semuanya aman. Jaminan hanya formalitas. Dananya bisa dikembalikan setelah proyek selesai.”
“Lalu kenapa cicilannya tidak dibayar?”
“Proyeknya gagal.”
“Kenapa?”
Fajar menggosok tengkuk.
“Klien membatalkan kontrak.”
“Uangnya ke mana?”
Dia diam terlalu lama.
Aku sudah tahu jawabannya akan buruk.
“Sebagian dipakai menutup utang lama usaha Nindya.”
Aku tertawa.
Tidak ada rasa lucu di dalamnya.
“Hampir setengah miliar rupiah.”
“Tidak semuanya.”
“Berapa yang benar-benar masuk ke proyek?”
Fajar tidak menjawab.
“Berapa?”
“Sekitar seratus enam puluh juta.”
Aku merasa mual.
“Jadi sisanya?”
“Bayar vendor lama. Kartu kredit. Sewa gudang. Beberapa kewajiban lain.”
Aku menutup kotak dokumen.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa benar-benar tidak mengenal suamiku.
“Keluar.”
“Salma.”
“Keluar dari rumahku.”
“Jangan begini.”
“Mulai malam ini jangan tidur di sini.”
“Ini juga rumahku.”
Aku menatapnya.
“Tidak. Dan ternyata itu yang paling membuatmu marah selama ini, ya?”
Dia membeku.
Semua potongan kecil tiba-tiba terhubung.
Setiap kali kami bertengkar tentang uang, Fajar selalu mengatakan kalimat yang sama.
Aku tinggal di rumah istri.
Aku tidak punya apa-apa atas namaku.
Aku cuma menumpang.
Dulu aku selalu menenangkannya.
Aku bahkan pernah menawarkan menambahkan namanya ke sertifikat.
Ibu yang melarang.
Waktu itu aku sempat merasa Ibu terlalu curiga.
Sekarang aku ingin memeluknya dan meminta maaf.
Fajar berdiri.
“Aku tidak pernah iri sama rumah ini.”
“Lalu kenapa kamu bisa begitu mudah menjadikannya jaminan?”
Dia menunduk.
Pukul tujuh pagi, Ratih datang bersama seorang rekan pengacara bernama Arman.
Fajar sudah pergi.
Entah ke mana.
Aku tidak peduli.
Ratih memeriksa dokumen selama hampir satu jam.
Hasilnya membuat perutku terasa kosong.
Fotokopi sertifikat yang digunakan memang berasal dari dokumen asli.
Bukan scan lama.
Ada halaman tambahan dengan tanda khas yang baru muncul setelah pembaruan administrasi tiga tahun sebelumnya.
Saat itu hanya dua orang yang pernah memegang sertifikat.
Aku.
Dan Fajar.
Arman menyarankan kami segera mendatangi lembaga pembiayaan.
Sebelum pergi, aku menerima pesan dari nomor Nindya.
Salma, kita perlu bicara. Ini tidak sepenuhnya salah Fajar.
Aku mengabaikannya.
Lima menit kemudian pesan kedua masuk.
Kalau kamu lapor polisi, Fajar juga akan masuk penjara.
Aku menunjukkan kepada Arman.
Dia hanya berkata, “Simpan. Jangan balas.”
Kami tiba di kantor pembiayaan menjelang siang.
Manajer cabang bernama Pak Reno tampak panik setelah melihat sertifikat asli di tanganku.
“Bu Salma, terus terang kami juga sedang melakukan pemeriksaan internal.”
“Kenapa?”
Dia menarik map dari lemari.
“Ada beberapa dokumen serupa.”
“Serupa bagaimana?”
“Agunan atas nama pihak ketiga. Pengajuan lewat satu marketing yang sekarang sudah tidak masuk kerja.”
“Siapa?”
Pak Reno menyebut nama yang tidak kukenal.
Namun ketika ia menunjukkan foto dari data pegawai, Ratih langsung menatapku.
Laki-laki itu pernah datang ke rumah.
Dua kali.
Fajar memperkenalkannya sebagai teman kantor bernama Dimas.
Katanya ingin menawarkan investasi.
Ternyata dia pegawai pembiayaan.
Pak Reno memutar layar komputernya.
“Dana cair ke rekening CV Laras Nusantara Event.”
“Ada penarikan?”
“Sebagian besar dipindahkan pada hari yang sama.”
“Kepada siapa?”
Pak Reno ragu.
Arman menyela.
“Kami akan minta datanya secara resmi.”
Namun Pak Reno sudah telanjur menatapku dengan ekspresi aneh.
“Ada transfer ke rekening pribadi Pak Fajar juga.”
Dunia seperti berhenti sebentar.
“Berapa?”
“Seratus dua puluh juta rupiah.”
Aku tidak langsung bereaksi.
Semalam Fajar mengatakan semuanya demi Nindya.
Sekarang ternyata ia juga mengambil bagian.
Aku pulang dengan kepala penuh suara.
Di rumah, Fajar sudah menunggu.
Begitu aku turun dari mobil, dia mendekat.
“Kamu ke kantor pembiayaan?”
Aku melewatinya.
“Salma.”
Aku membuka pintu.
“Seratus dua puluh juta.”
Langkahnya berhenti.
Aku berbalik.
“Masih mau bilang kamu cuma menolong Nindya?”
Dia tidak menjawab.
“Uangnya buat apa?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Sudah bosan aku dengar kalimat itu.”
“Aku punya utang.”
“Utang apa?”
Fajar terlihat seperti ingin melarikan diri.
“Trading.”
Aku tertawa pelan karena tubuhku sudah terlalu lelah untuk marah.
“Berapa?”
“Awalnya lima puluh juta.”
“Sekarang?”
Dia menelan ludah.
“Hampir dua ratus.”
Aku memejamkan mata.
Semuanya akhirnya terbuka.
Nindya bukan satu-satunya alasan.
Fajar menggunakan kebutuhan Nindya sebagai pintu untuk mengambil uang.
Dan Nindya menggunakan Fajar untuk menyelamatkan usahanya.
Mereka bukan dua orang yang saling mencintai.
Mereka dua orang yang saling memanfaatkan.
Ponsel Fajar berdering.
Nama Nindya muncul.
Dia mematikannya.
Aku tersenyum tipis.
“Angkat.”
“Tidak penting.”
“Angkat.”
Fajar menatapku, lalu menjawab.
Suara Nindya langsung terdengar keras dari seberang.
“Mas, orang pembiayaan datang ke gudang! Mereka bilang ada audit! Kamu bilang semuanya aman!”
Fajar mematikan pengeras suara.
Aku mengambil ponselnya dari tangan.
“Nindya.”
Seberang langsung sunyi.
“Aku akan membuat laporan resmi hari ini.”
“Salma, jangan gila.”
“Yang gila adalah memakai rumah orang untuk menutup utang.”
“Kamu pikir Fajar tidak menikmati uangnya?”
“Aku sudah tahu.”
Nindya terdiam.
Lalu, entah karena panik atau marah, dia mengucapkan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Kalau bukan karena anakmu meninggal, semua ini mungkin tidak akan terjadi.”
Tanganku membeku.
“Apa katamu?”
Fajar langsung merebut ponsel.
“Nindya, tutup mulut!”
Terlambat.
Aku memandangnya.
“Kenapa dia menyebut anak kita?”
Fajar pucat.
“Nindya cuma asal bicara.”
Aku meraih ponselnya lagi.
“Nindya. Jelaskan.”
Suara perempuan itu gemetar.
“Aku… aku kira kamu sudah tahu.”
“Tahu apa?”
“Fajar mulai menghubungiku lagi lima tahun lalu.”
Aku merasa lantai bergerak.
Lima tahun lalu.
Saat aku hamil.
Saat putri kami lahir prematur.
Saat Fajar katanya sedang dinas luar kota.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu bersama dia?”
Fajar menggeleng.
“Salma, jangan dengarkan.”
Nindya menangis di telepon.
“Dia ke Bali waktu kamu dirawat. Dia bilang kalian terus bertengkar dan dia bingung harus pulang atau tidak.”
Aku tidak bisa bernapas beberapa detik.
Semua kenangan yang selama bertahun-tahun kusimpan rapi mendadak berubah bentuk.
Ranjang rumah sakit.
Tangan Ibu.
Kursi kosong.
Pesan Fajar.
Maaf aku tidak bisa pulang malam ini.
Aku kira pekerjaan telah mengambil suamiku pada hari terburuk dalam hidupku.
Ternyata dia sendiri yang memilih pergi.
Aku memutus sambungan.
Fajar mencoba menyentuh tanganku.
Aku mundur.
“Jangan pernah sentuh aku lagi.”
“Aku tidak tahu bayi kita akan lahir malam itu.”
“Tapi kamu tahu aku di rumah sakit.”
“Aku pengecut.”
“Benar.”
“Aku menyesal sampai sekarang.”
“Penyesalan tidak membuatmu pulang.”
Air mata mengalir di wajahnya.
Anehnya, aku tidak merasakan kepuasan.
Hanya kehampaan.
Sore itu, ditemani Ratih dan Arman, aku membuat laporan.
Tentang pemalsuan dokumen.
Tentang penggunaan sertifikat tanpa izin.
Tentang dugaan keterlibatan pegawai pembiayaan.
Aku juga menyerahkan semua pesan dari Nindya.
Dua minggu kemudian, kasus itu berkembang lebih besar.
Ternyata Dimas tidak hanya membantu Fajar.
Ada empat pengajuan lain dengan dokumen bermasalah.
Ia ditangkap di Semarang.
Nindya diperiksa sebagai penerima dana.
Fajar pun diperiksa karena terbukti menyerahkan salinan sertifikat, mengatur dokumen, dan menerima sebagian uang.
Proses hukum berjalan panjang.
Perceraian kami jauh lebih cepat.
Pada sidang terakhir, Fajar berdiri di lorong pengadilan dan memanggilku.
“Salma.”
Aku berhenti.
Tubuhnya lebih kurus.
Matanya cekung.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Dia terlihat bingung.
“Kamu tidak kehilangan semuanya.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu menukarkan semuanya.”
Aku menarik napas.
“Sedikit demi sedikit.”
Kepercayaan dengan kebohongan.
Pernikahan dengan ego.
Rumah orang lain dengan utang.
Dan keluarga dengan perempuan yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Aku berjalan pergi.
Setahun kemudian, rumah Ibu masih berdiri.
Utang pembiayaan dinyatakan bermasalah secara hukum karena dokumen jaminannya terbukti tidak sah.
Aku tidak kehilangan rumah itu.
Sebaliknya, aku mengubah garasi menjadi dapur produksi.
Dapur Salma berkembang.
Aku mempekerjakan enam perempuan dari lingkungan sekitar, termasuk dua ibu tunggal.
Bu Lilis mengurus pesanan.
Aldi, yang dulu membantuku berjalan saat banjir, sesekali membantu membuat konten media sosial setelah pulang kuliah.
Suatu malam di musim hujan berikutnya, aku duduk di teras.
Air sungai naik sedikit, tetapi tidak sampai masuk gang.
Aku mendengar pengumuman dari masjid agar warga tetap waspada.
Dulu suara itu mengingatkanku pada malam ketika suamiku meninggalkanku.
Sekarang tidak lagi.
Di atas meja ada foto Ibu.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
Dulu aku berpikir warisan terbesar Ibu adalah rumah ini.
Aku salah.
Warisan terbesarnya adalah keputusan untuk tidak pernah menambahkan nama Fajar ke sertifikat.
Sebuah keputusan yang dulu kukira sebagai bentuk ketidakpercayaan.
Ternyata itu perlindungan terakhir seorang ibu yang melihat sesuatu yang belum sanggup kulihat.
Aku menyentuh bingkai foto itu.
“Bu, ternyata Ibu benar.”
Hujan mulai turun.
Aku berdiri, menutup pintu teras, lalu berjalan masuk tanpa tergesa.
Kakiku masih pincang sedikit jika terlalu lelah.
Luka lama itu tidak pernah benar-benar hilang.
Tapi sekarang aku tahu sesuatu.
Orang yang berjalan lambat belum tentu tertinggal.
Kadang justru karena ia berjalan lebih pelan, ia sempat melihat siapa yang benar-benar memilih tetap berada di sisinya.
Dan siapa yang sejak awal hanya menunggu kesempatan untuk pergi.
