Pukul 01.57 dini hari.
Petir membelah langit di atas Laut Flores ketika pintu kabinku terbuka perlahan.
Aditya berdiri di ambang pintu dengan jaket hitam yang menutupi tubuhnya hingga leher. Rambutnya sedikit basah, sementara wajah yang selama seminggu terakhir selalu kupandang sebagai wajah suamiku kini terlihat asing.
Di belakangnya berdiri Bambang dan Ratna.

Aku segera memejamkan mata setengah, membiarkan tubuhku terkulai di sisi ranjang.
“Sayang, bangun sebentar,” bisik Aditya sambil mengusap pipiku. “Kita keluar cari udara segar. Mungkin pusingmu akan berkurang.”
Sentuhannya membuat kulitku merinding.
Aku ingin menamparnya. Ingin berteriak bahwa aku sudah mengetahui semuanya.
Namun pesan terakhir Paman Hendra terus terngiang di kepalaku.
Jangan melawan. Buat mereka percaya rencana mereka berhasil.
Aku mengerang pelan.
“Aku… mengantuk sekali.”
“Tidak apa-apa. Aku bantu.”
Aditya merangkul pinggangku dan menarikku berdiri.
Aku sengaja membiarkan lututku lemas.
“Pelan-pelan, Dit… kepalaku pusing.”
“Aku di sini, Sayang.”
Betapa mudahnya seseorang mengucapkan kalimat penuh kasih sambil bersiap membunuh orang yang dipeluknya.
Kami keluar dari kabin.
Ratna mengikuti beberapa langkah di belakang. Di tangannya ada sepasang sandal batik milikku.
Dadaku langsung berdegup keras.
Itulah sandal yang tadi mereka bicarakan.
Bukti palsu untuk menciptakan kecelakaan palsu.
Bambang berjalan paling belakang sambil sesekali memeriksa lorong kapal.
“Awak kapal?” bisiknya.
“Sudah kuberi uang. Mereka pikir kita hanya ingin menikmati dek sendirian,” jawab Aditya.
Aku menyimpan setiap kata itu.
Ponsel tua di dalam saku jubah tidurku masih merekam.
Kami menaiki tangga menuju dek belakang.
Begitu pintu terbuka, angin malam menerjang wajahku. Ombak menghantam lambung kapal begitu keras hingga lantai di bawah kakiku terasa bergoyang.
Di kejauhan hanya ada kegelapan.
Tidak terlihat kapal polisi.
Tidak terdengar helikopter.
Untuk pertama kalinya, keraguan menyusup ke pikiranku.
Bagaimana jika Paman Hendra terlambat?
Bagaimana jika polisi tidak bisa menemukan kapal kami?
Bagaimana jika sinyal koordinat yang kukirim tidak akurat?
Aku menahan napas.
Tidak.
Aku sudah sampai sejauh ini.
Aku harus bertahan.
Aditya membawaku mendekati pagar pembatas.
“Pegangan di sini.”
Tanganku menyentuh besi dingin.
Ratna meletakkan sandal batikku beberapa meter dari kami.
“Jangan terlalu rapi,” bisik Bambang. “Satu sandal dekat pagar, satunya agak jauh. Biar kelihatan seperti dia terpeleset.”
Ratna menggeser salah satu sandal dengan ujung kakinya.
“Begini?”
“Ya.”
Aku hampir tidak percaya mereka membicarakan kematianku seperti sedang mengatur dekorasi meja makan.
Aditya berdiri di belakangku.
Tangannya perlahan berpindah dari pinggang menuju bahuku.
“Maafkan aku, Maya,” bisiknya.
Aku membuka mata sedikit.
“Apa?”
Untuk sesaat wajahnya berubah.
Ada keraguan.
Namun Ratna langsung mendesis.
“Aditya.”
Suamiku menoleh kepada ibunya.
“Jangan lemah sekarang. Ingat semua yang sudah kita korbankan.”
Wajah Aditya kembali dingin.
Aku menunduk sambil berpura-pura kehilangan keseimbangan.
“Dit… aku takut.”
Tangannya mencengkeram bahuku.
“Tidak akan lama.”
Kalimat itu menghancurkan sisa keraguanku.
Pria ini memang berniat membunuhku.
Aditya mulai mendorong tubuhku ke arah pagar.
Aku merasakan perutku menempel pada besi pembatas.
Ombak hitam bergulung jauh di bawah.
“Sekarang!” desis Bambang.
Aditya mengangkat tubuhku.
Aku langsung membuka mata.
“ADITYA!”
Dia terkejut.
Aku menghantamkan siku ke dadanya sekuat tenaga.
Aditya terhuyung mundur.
“Apa-apaan ini?”
Aku menjauh dari pagar.
Wajah Ratna memucat.
“Kau… kau sadar?”
Aku mengeluarkan ponsel tua dari saku jubah dan mengangkatnya.
“Sejak kalian membicarakan bagaimana caranya membunuhku.”
Sunyi.
Hanya suara badai yang terdengar.
Aditya menatap ponsel di tanganku.
Kemudian ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Kemarahan murni.
“Berikan ponsel itu!”
Dia menerjang.
Aku berlari.
Namun kondisi tubuhku belum sepenuhnya pulih dari obat yang diberikan selama empat hari. Baru beberapa langkah, kakiku tersandung kursi dek.
Aku jatuh.
Ponsel terlepas dari tanganku.
Aditya mengambilnya.
Dia melihat layar yang masih menunjukkan rekaman berjalan.
“Kurang ajar!”
Dengan satu gerakan, dia melempar ponsel itu ke laut.
Ratna tertawa lega.
“Sekarang tidak ada bukti.”
Aku bangkit perlahan.
Anehnya, aku justru tersenyum.
“Siapa bilang?”
Mereka bertiga terdiam.
Bambang menatapku tajam.
“Apa maksudmu?”
Aku menatap jam digital di dinding dek.
02.03.
“Ponsel itu bukan satu-satunya yang merekam.”
Tiba-tiba terdengar suara keras dari kejauhan.
“POLISI! SEMUA TETAP DI TEMPAT!”
Cahaya putih menyapu permukaan kapal.
Ratna menjerit.
Dua kapal cepat muncul dari balik kegelapan. Lampu biru berkedip di antara ombak. Dari sisi kanan, sebuah kapal patroli Polairud mendekat dengan beberapa petugas bersenjata lengkap.
Aditya membeku.
“Tidak mungkin…”
Bambang berlari menuju pintu dek.
Namun sebelum dia mencapai tangga, dua petugas keamanan kapal yang sebelumnya kukira sudah disuap justru muncul dan menghalangi jalannya.
“Jangan bergerak, Pak.”
Bambang menatap mereka dengan marah.
“Kalian sudah dibayar!”
Salah satu petugas tersenyum tipis.
“Dan uang itu sudah kami serahkan sebagai barang bukti.”
Wajah Bambang kehilangan warna.
Beberapa menit kemudian, petugas Polairud naik ke kapal.
Aditya masih berdiri di depanku.
Dia menatapku seperti orang yang baru kehilangan seluruh dunianya.
“Maya, dengarkan aku.”
Aku mundur.
“Jangan panggil namaku.”
“Ini semua salah paham.”
Aku hampir tertawa.
“Salah paham?”
“Aku tidak benar-benar akan mendorongmu.”
“Lalu apa yang baru saja kau lakukan?”
Aditya membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Ratna tiba-tiba berlutut di depanku.
“Maya!”
Dia menangis.
Tangannya mencoba memegang kakiku.
Aku mundur.
“Kami khilaf, Nak. Ibu menganggapmu seperti anak sendiri.”
Kata-kata itu terasa lebih menjijikkan daripada ancaman mereka.
“Jangan panggil dirimu Ibu.”
Ratna terdiam.
“Ibuku memang sudah meninggal,” kataku, “tapi dia tidak pernah mengajariku bahwa seorang ibu boleh merencanakan kematian anaknya demi uang.”
Dua petugas memborgol tangan Ratna.
Sementara itu, seorang perwira mendekat kepadaku.
“Ibu Maya?”
Aku mengangguk.
“Rekaman sudah kami terima secara langsung.”
Aku tertegun.
“Secara langsung?”
Perwira itu menunjukkan perangkat kecil.
“Ponsel yang diberikan Pak Hendra sudah dimodifikasi. Selama tersambung, rekamannya otomatis dikirim ke server cadangan. Jadi meskipun ponselnya dibuang, seluruh percakapan tetap tersimpan.”
Aku menutup mulut.
Paman Hendra ternyata sudah memikirkan semuanya.
Aditya mendengarnya.
Wajahnya benar-benar hancur.
Namun kemudian dia tertawa kecil.
“Tidak masalah.”
Semua orang menoleh.
Aditya mengangkat dagu.
“Kalian punya rekaman. Lalu apa? Surat kuasa sudah ditandatangani Maya. Beberapa aset sudah dalam proses pemindahan. Kalian tidak bisa membuktikan tanda tangannya palsu.”
Aku menatapnya.
“Kau yakin?”
Aditya terdiam.
Aku mendekat satu langkah.
“Perjanjian perwalian keluarga Pratama memiliki klausul yang tidak pernah kuberitahukan kepadamu.”
“Apa?”
“Tidak satu rupiah pun aset utama dapat dipindahkan hanya dengan tanda tanganku.”
Senyumnya menghilang.
“Setiap transaksi di atas lima miliar rupiah membutuhkan autentikasi biometrik dan persetujuan dua wali independen.”
Bambang memaki pelan.
Aku melanjutkan.
“Jadi semua dokumen yang kalian palsukan tidak hanya tidak berguna. Dokumen itu justru menjadi bukti percobaan penipuan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan sejati di mata Aditya.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Keesokan paginya, kapal kami kembali ke Labuan Bajo.
Begitu turun di dermaga, aku melihat seseorang berdiri di antara petugas.
“Ayah!”
Surya Pratama berjalan cepat menghampiriku.
Aku berlari memeluknya.
Seluruh keberanian yang kutahan sepanjang malam akhirnya runtuh.
Aku menangis di dadanya seperti anak kecil.
“Ayah…”
“Ayah di sini.”
Tangannya mengusap kepalaku.
“Ayah sudah di sini.”
Aku melihat wajahnya.
“Kata Paman Hendra ada orang yang akan merusak rem mobil Ayah.”
Surya mengangguk.
“Sudah ditangkap.”
Ternyata polisi menemukan dua orang suruhan Aditya di garasi rumah kami di Jakarta. Dari ponsel mereka ditemukan percakapan, bukti transfer, foto kendaraan Ayah, hingga instruksi mengenai waktu perjalanan ke Bandung.
Tetapi ada satu fakta yang bahkan tidak kuketahui.
Ayah sudah mencurigai Aditya jauh sebelum pernikahan kami.
“Kenapa Ayah tidak bilang?”
Kami sedang duduk di sebuah ruangan privat di kantor polisi ketika aku menanyakannya.
Ayah menatapku lama.
“Karena Ayah tidak punya bukti. Dan karena saat itu kau sangat mencintainya.”
Aku menunduk.
“Ponsel tua itu…”
“Bukan sekadar ponsel darurat,” jawab Ayah. “Paman Hendra memasang sistem pengiriman rekaman otomatis di dalamnya.”
Air mataku kembali jatuh.
“Jadi Ayah sudah tahu bulan madu ini berbahaya?”
“Tidak.”
Ayah menggeleng.
“Ayah hanya takut suatu hari kecurigaan Ayah menjadi kenyataan.”
Beberapa bulan kemudian, kasus itu memasuki persidangan.
Aditya, Ratna, dan Bambang didakwa atas percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, percobaan penggelapan aset, dan keterlibatan dalam rencana mencelakai Ayah.
Selama persidangan, satu fakta lain terbongkar.
Aku bukan perempuan pertama yang menjadi sasaran Aditya.
Penyidik menemukan bahwa lima tahun sebelumnya, Aditya pernah bertunangan dengan seorang pengusaha perempuan asal Surabaya. Hubungan itu berakhir setelah perempuan tersebut mengalami kecelakaan misterius dan kehilangan sebagian besar tabungannya.
Tidak ada cukup bukti untuk membuktikan Aditya menyebabkan kecelakaan itu.
Namun pola transaksinya hampir sama.
Mendekati perempuan kaya.
Mendapatkan kepercayaan.
Menguasai dokumen.
Mengambil aset.
Aku duduk di ruang sidang ketika hakim akhirnya menjatuhkan putusan.
Aditya menoleh kepadaku.
Tatapan kami bertemu.
Aku mengira dia akan marah.
Sebaliknya, dia menangis.
“Maya.”
Aku tidak menjawab.
“Aku pernah mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian aku berkata pelan, “Tidak. Kau mencintai apa yang kau kira bisa kau ambil dariku.”
Aku berbalik dan berjalan keluar.
Setahun setelah malam di Laut Flores itu, aku kembali ke Labuan Bajo.
Bukan untuk mengenang Aditya.
Aku datang bersama Ayah dan Paman Hendra untuk meresmikan yayasan baru yang memberikan bantuan hukum dan pendampingan kepada korban kekerasan serta penipuan finansial dalam hubungan rumah tangga.
Di sore terakhir, aku berdiri sendirian di dermaga.
Laut Flores membentang biru di hadapanku.
Dulu aku mengira laut ini hampir menjadi kuburanku.
Sekarang aku melihatnya berbeda.
Laut tidak pernah mencoba membunuhku.
Manusia yang kupercaya yang melakukannya.
Saat matahari mulai tenggelam, Ayah menghampiriku.
“Kau menyesal pernah menikah dengannya?”
Aku terdiam beberapa detik.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak.”
Ayah mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena malam itu aku kehilangan seorang suami palsu, tapi aku menemukan diriku sendiri.”
Angin laut menerbangkan rambutku.
Aku menatap cakrawala yang perlahan berubah keemasan.
Warisan empat setengah triliun rupiah yang membuat mereka bersedia menghilangkan nyawaku ternyata bukan warisan terbesar yang diberikan keluargaku.
Warisan terbesar itu adalah satu pelajaran yang baru kupahami setelah hampir kehilangan segalanya.
Cinta yang sehat tidak pernah meminta kita menyerahkan kewaspadaan.
Kepercayaan tidak berarti menutup mata.
Dan keluarga bukanlah orang yang paling pandai memanggil kita dengan sebutan penuh kasih.
Keluarga adalah mereka yang tetap berusaha menyelamatkan kita bahkan ketika kita sendiri belum menyadari bahwa kita sedang berada dalam bahaya.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Paman Hendra.
Aku membukanya.
Polisi baru saja menemukan satu rekening rahasia milik Aditya.
Di dalamnya terdapat transfer rutin selama tiga tahun dari seseorang yang selama ini tidak pernah muncul dalam penyelidikan.
Nama pengirimnya membuat tanganku membeku.
Aku mengenal nama itu.
Sangat mengenalnya.
Orang tersebut adalah salah satu direktur senior Pratama Group yang sudah bekerja bersama Ayah selama lebih dari dua puluh tahun.
Aku menoleh cepat ke arah Ayah.
“Ayah.”
“Ada apa?”
Aku menunjukkan layar ponsel.
Wajah Ayah berubah.
Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap.
Ternyata Aditya bukanlah otak utama dari semua ini.
Seseorang dari dalam keluarga bisnis kami sendiri telah membiayainya sejak jauh sebelum dia pertama kali bertemu denganku.
Aku memandang kembali Laut Flores yang kini mulai gelap.
Kupikir badai sudah berakhir.
Ternyata malam ketika aku hampir dilemparkan ke laut hanyalah awal dari rahasia yang jauh lebih besar.
