Aku tidak turun malam itu.
Rizky terus berteriak dari depan pagar, sementara hujan yang semula hanya gerimis berubah semakin deras. Dari balik jendela lantai dua, kulihat Indah berdiri di bawah payung dengan kedua tangan memeluk lengannya sendiri. Sesekali dia menyandarkan kepala ke bahu Rizky, seolah-olah dialah orang yang paling terluka dalam masalah ini.
“Maya! Turun sekarang!” teriak Rizky. “Jangan bikin masalah kecil jadi besar!”
Aku menatap mereka cukup lama sampai sesuatu di dalam dadaku yang selama empat tahun selalu lunak akhirnya mengeras.
Aku membuka ponsel, mengetik pesan kepada Rizky.

“Pulanglah. Aku tidak ingin bicara malam ini.”
Balasannya datang beberapa detik kemudian.
“Kamu keterlaluan. Indah sampai datang minta maaf, tapi kamu malah sok jual mahal.”
Aku tersenyum hambar.
Aneh sekali. Selama bertahun-tahun aku takut kehilangan Rizky. Malam itu, untuk pertama kalinya aku justru bertanya-tanya mengapa aku begitu takut kehilangan seseorang yang bahkan tidak takut menyakitiku.
Aku mematikan ponsel.
Malam semakin larut. Suara klakson akhirnya berhenti sekitar pukul sebelas. Ketika aku memastikan mobil Rizky sudah pergi, aku membuka lemari dan menarik sebuah koper hitam berukuran sedang.
Di dasar lemari ada sebuah map biru yang selama hampir tiga bulan kusembunyikan dari siapa pun.
Surat penawaran kerja.
Perusahaan teknologi finansial di Singapura tempatku menjalani magang daring setahun sebelumnya menawarkan posisi sebagai junior data analyst. Gajinya hampir lima kali lipat dari angka yang pernah ditawarkan perusahaan Jakarta kepadaku. Mereka bahkan menyediakan tunjangan tempat tinggal selama enam bulan pertama.
Aku diterima sejak dua minggu lalu.
Namun aku belum pernah memberitahu Rizky.
Aku masih ingin mendengar rencananya setelah wisuda. Aku membayangkan kami akan membicarakan masa depan, mungkin mencari pekerjaan di Jakarta bersama-sama, mungkin menjalani hubungan jarak jauh beberapa bulan jika diperlukan.
Sekarang semuanya terasa lucu.
Keberangkatanku dijadwalkan tiga hari lagi.
Aku mengambil jepit mutiara yang patah dari amplop kecil yang tadi malam dikirim Indah melalui ojek daring. Dua bagian logamnya sudah terlepas, satu mutiaranya hilang.
Aku menaruh benda itu di telapak tangan.
Empat tahun kenangan ternyata bisa patah sesederhana itu.
Keesokan paginya Rizky datang sendirian.
Aku membukakan pagar, tetapi tidak mempersilahkannya masuk.
Wajahnya kusut.
“Kamu puas sekarang?” katanya tanpa salam. “Indah semalaman nangis karena merasa bersalah.”
“Aku tidak pernah menyuruh dia menangis.”
“Tapi sikap kamu bikin dia merasa seperti pencuri.”
Aku menatapnya.
“Bukankah dia memang mengambil sesuatu milikku?”
Rizky mendengus. “Jepit rambut lagi. Maya, serius? Kamu mau merusak hubungan empat tahun karena barang tujuh puluh lima ribu?”
“Bukan karena jepitnya.”
“Terus karena apa?”
Aku ingin menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana dia membiarkanku didorong keluar dari foto. Tentang bagaimana dia tersenyum ketika teman-temannya menganggap Indah lebih cocok dengannya. Tentang tangannya yang begitu mudah merangkul bahu perempuan lain, lalu mencabut barang dari rambutku tanpa bertanya.
Tetapi melihat wajahnya saat itu, aku sadar penjelasan sepanjang apa pun tidak akan membuat orang yang tidak menghargaimu tiba-tiba memahami nilai dirimu.
“Tidak ada,” jawabku.
Rizky menggeleng seolah kecewa kepadaku.
“Aku sudah bilang ke teman-teman kita bakal makan malam bareng besok. Datanglah. Jangan bikin suasana aneh.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ada urusan.”
Rizky mencibir. “Urusan apa sih? Kamu kan belum kerja.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang mungkin dia sadari.
Selama kuliah, Rizky memang selalu lebih menonjol. Ketua senat mahasiswa, kenal banyak dosen, punya jaringan alumni, sering jadi moderator seminar. Sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, mengambil pekerjaan lepas, mengikuti kelas daring, dan mengerjakan proyek analisis data sampai dini hari.
Menurut Rizky, hidupku membosankan.
Menurutku, aku hanya sedang membangun pintu keluar yang tak seorang pun lihat.
Dua hari kemudian, teman-teman satu angkatan berkumpul di sebuah restoran di kawasan Senopati.
Aku datang.
Bukan karena Rizky memintaku, tetapi karena aku ingin menutup satu bab hidupku dengan mata terbuka.
Indah duduk di sebelah Rizky.
Jepit rambut mutiaraku tentu saja sudah tidak ada. Sebagai gantinya, di rambutnya terpasang aksesori berkilau yang mungkin berharga jutaan rupiah.
Bima langsung bersiul saat melihatku.
“Wah, Maya akhirnya keluar gua juga!”
Beberapa orang tertawa.
Aku hanya tersenyum dan duduk di kursi kosong.
Malam itu mereka membicarakan pekerjaan. Bima diterima di sebuah rumah produksi. Indah mendapat posisi marketing trainee berkat kenalan ayahnya. Rizky sedang menunggu hasil wawancara perusahaan properti milik paman Indah.
“Kalau lancar, Rizky masuk minggu depan,” kata Indah bangga. “Papa sudah bicara sama direkturnya.”
Aku mengangkat pandangan.
Jadi begitu.
Rizky bukan hanya menikmati perhatian Indah. Dia juga sedang menumpang jalan menuju masa depan yang menurutnya lebih menjanjikan.
Bima menoleh kepadaku.
“Kalau Maya gimana?”
Semua mata tertuju padaku.
Aku belum sempat menjawab ketika Rizky tertawa.
“Dia paling cari kerja santai dulu. Maya itu anak rumahan. Disuruh merantau dua hari saja pasti nangis.”
Tawa kecil terdengar.
Aku memandang wajah pria yang empat tahun lalu pernah naik motor hampir dua puluh kilometer hanya untuk mengantarkan obat saat aku demam.
Entah kapan orang itu berubah.
Atau mungkin dia tidak berubah. Mungkin aku baru saja melihatnya dengan jelas.
“Aku berangkat besok pagi,” kataku.
Suasana meja perlahan hening.
“Ke mana?” tanya Bima.
“Singapura.”
Indah tertawa kecil. “Liburan?”
“Kerja.”
Rizky langsung menoleh.
“Apa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan surat elektronik singkat mengenai jadwal orientasi.
“Aku diterima di AsterNova Financial Singapore. Mulai Senin.”
Senyum Bima menghilang.
Indah berkedip beberapa kali.
Rizky merebut ponselku hampir refleks.
“Kapan kamu daftar?”
“Empat bulan lalu.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku menatapnya tenang.
“Aku ingin memberi tahu setelah wisuda.”
“Terus kenapa enggak bilang kemarin?”
Aku hampir tertawa.
“Karena kamu sedang sibuk memasangkan jepit rambutku ke perempuan lain.”
Beberapa orang menunduk. Tidak ada yang tertawa lagi.
Rizky meletakkan ponselku di meja dengan wajah merah.
“Kamu sengaja menyembunyikan ini dari aku?”
“Aku tidak menyembunyikannya untuk menyakitimu.”
“Kita pacaran empat tahun, Maya!”
“Benar.”
“Terus kamu mau pergi begitu saja?”
Aku menatapnya lama.
“Bukankah dua hari lalu kamu juga menyuruhku menyingkir begitu saja?”
Rizky terdiam.
Indah tiba-tiba menyela.
“Maya, jangan salah paham. Aku sama Rizky cuma teman.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tidak pernah menuduh kalian apa pun.”
Entah kenapa, jawaban itu justru membuat wajahnya semakin pucat.
Aku berdiri.
Rizky ikut berdiri dan mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kalau kamu pergi, hubungan kita bagaimana?”
Aku melihat tangannya.
“Lepaskan.”
“Maya.”
“Empat tahun aku selalu menunggu kamu memilihku. Kemarin aku akhirnya sadar aku tidak seharusnya menunggu.”
Dia perlahan melepaskan tanganku.
“Aku tidak pernah bilang aku memilih Indah.”
“Orang tidak selalu memilih dengan kata-kata, Rizky.”
Aku mengambil tas.
“Kadang cara seseorang memperlakukan kita sudah merupakan jawaban.”
Aku meninggalkan restoran tanpa menoleh.
Besok paginya, pesawat yang kutumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul delapan lewat dua puluh menit.
Ketika Jakarta berubah menjadi gugusan bangunan kecil di bawah awan, ponselku dipenuhi puluhan pesan.
Rizky menelepon tujuh belas kali.
Bima mengirim pesan panjang meminta maaf.
Indah hanya mengirim satu kalimat.
“Semoga kamu sukses.”
Aku tidak membalas satu pun.
Singapura tidak langsung mengubah hidupku menjadi dongeng.
Enam bulan pertama sangat berat.
Aku tinggal di apartemen bersama tiga perempuan lain. Setiap pagi aku naik MRT dengan mata setengah tertutup. Bahasa Inggris di kantor membuat kepalaku berdenyut pada minggu-minggu awal. Aku pernah menangis diam-diam di toilet setelah melakukan kesalahan pada laporan klien.
Namun untuk pertama kalinya, tidak ada orang yang menyuruhku mengecilkan diri agar orang lain terlihat lebih bersinar.
Atasanku, seorang perempuan bernama Clara Lim, justru berkata setelah presentasi pertamaku gagal, “Kesalahanmu bisa diperbaiki. Yang tidak bisa diperbaiki adalah kalau kamu berhenti belajar.”
Aku mengingat kalimat itu.
Aku belajar.
Aku mengambil sertifikasi malam hari. Aku memperbaiki kemampuan bahasa Inggris. Aku bekerja lebih keras dari siapa pun karena aku tahu aku tidak punya keluarga kaya atau koneksi yang bisa menarikku naik.
Dua tahun kemudian aku dipromosikan menjadi senior analyst.
Tahun keempat, aku memimpin tim regional untuk ekspansi Asia Tenggara.
Tahun kelima, sebuah perusahaan investasi besar mengakuisisi startup tempatku bekerja dan aku mendapat saham yang nilainya jauh melebihi apa pun yang pernah kubayangkan ketika masih berdiri sendirian di ujung foto wisuda.
Sementara itu, kabar dari Indonesia sesekali sampai kepadaku tanpa kuminta.
Bima pernah mengirim pesan meminta bantuan melamar posisi kreatif di perusahaan kami.
Dari dia aku mengetahui bahwa Rizky hanya bertahan delapan bulan di perusahaan paman Indah. Setelah hubungan mereka memburuk, koneksi yang membawanya masuk juga menghilang.
Jadi memang mereka akhirnya berpacaran.
Tidak lama setelah aku pergi.
Namun hubungan itu hanya bertahan satu tahun.
Indah menikah dengan pengusaha pilihan keluarganya.
Rizky berpindah-pindah pekerjaan.
Aku tidak merasa puas mendengarnya.
Anehnya, aku juga tidak merasa sedih.
Nama mereka semakin lama terdengar seperti nama karakter dalam cerita yang pernah kubaca bertahun-tahun lalu.
Enam tahun setelah wisuda, Universitas Indonesia mengundangku menjadi pembicara dalam acara alumni dan career leadership forum.
Aku sempat ingin menolak.
Kemudian sekretarisku mengirim agenda acara.
Di halaman kedua terdapat sesi foto alumni di Lapangan Rektorat.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Akhirnya aku menerima undangan.
Hari acara tiba.
Aku kembali berdiri di tempat yang hampir sama dengan enam tahun lalu.
Pohon beringin masih ada. Gedung rektorat masih tampak megah. Hanya aku yang tidak lagi sama.
Setelah sesi seminar selesai, seseorang memanggil namaku.
“Maya?”
Aku menoleh.
Rizky berdiri sekitar lima meter dariku.
Wajahnya lebih dewasa. Tubuhnya sedikit lebih kurus. Tidak ada lagi aura percaya diri berlebihan yang dulu selalu mengelilinginya.
“Hai,” katanya canggung.
“Hai.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku dengar kamu sekarang direktur regional.”
“Baru beberapa bulan.”
“Keren.”
“Terima kasih.”
Kami terdiam.
Kemudian Rizky mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Aku membeku.
Sebuah kotak kecil.
Dia membukanya.
Di dalamnya ada jepit rambut mutiara sederhana.
Bentuknya hampir sama persis dengan milikku dulu.
“Aku cari model seperti ini lama,” katanya. “Aku tahu terlambat. Sangat terlambat malah.”
Aku memandang benda itu.
“Aku dulu bodoh, Maya.”
Aku tidak menjawab.
“Aku kira kamu akan selalu ada. Jadi aku merasa bebas memperlakukan kamu bagaimana pun.”
Suaranya semakin pelan.
“Hari kamu pergi, aku masih marah. Bertahun-tahun kemudian baru aku sadar yang membuatku marah sebenarnya bukan karena kamu meninggalkan aku.”
Dia menelan ludah.
“Tapi karena kamu ternyata bisa hidup jauh lebih baik tanpa aku.”
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, Rizky benar-benar jujur.
Dia menyodorkan kotak itu.
“Ambillah. Anggap saja aku mengembalikan barangmu.”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Maya…”
“Jepit yang lama memang patah. Tapi ternyata yang harus diperbaiki bukan jepitnya.”
Rizky menatapku.
“Lalu apa?”
“Caraku melihat diriku sendiri.”
Dari belakang terdengar suara panitia memanggil para pembicara untuk sesi foto.
Aku berbalik hendak pergi.
Rizky tiba-tiba berkata, “Maya.”
Aku menoleh.
“Kalau dulu aku tidak menyuruhmu bergeser dari foto itu, apakah kamu tetap akan pergi?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Kemudian aku tersenyum.
“Iya.”
Wajahnya terlihat terkejut.
“Aku sudah menerima pekerjaan itu sebelum wisuda.”
“Jadi semua ini bukan karena aku?”
“Bukan.”
Aku menarik napas.
“Kamu bukan alasan aku berhasil, Rizky. Kamu hanya alasan terakhir yang membuatku berhenti takut pergi.”
Aku meninggalkannya di bawah pohon beringin.
Beberapa menit kemudian aku berdiri bersama para alumni dan pembicara di depan Gedung Rektorat.
Fotografer mengangkat kamera.
Seorang panitia muda tiba-tiba berkata, “Bu Maya, bisa sedikit ke tengah? Anda tamu utama hari ini.”
Aku melangkah ke tengah.
Tepat ke tempat yang enam tahun lalu tidak pernah diberikan kepadaku.
Di antara puluhan orang, lampu kamera mulai berkedip.
“Satu, dua, tiga!”
Aku tersenyum.
Bukan karena akhirnya aku berada di tengah sebuah foto.
Melainkan karena setelah bertahun-tahun, aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Ada kalanya orang lain akan memaksamu bergeser agar mereka bisa mengambil tempatmu.
Ada kalanya sesuatu yang paling kaujaga akan direbut, diremehkan, bahkan dihancurkan di depan matamu.
Namun kehilangan tempat di sebuah foto bukan berarti kehilangan tempat dalam hidup.
Kadang kita memang harus keluar dari bingkai lama agar akhirnya menemukan dunia yang jauh lebih besar.
Kamera berbunyi.
Dan kali ini, aku tidak bergeser untuk siapa pun.
