SAAT MAKAN BUFFET, AKU MELIHAT MOBIL SUAMIKU DI PARKIRAN—RAPAT BISNIS YANG IA KLAIM TERNYATA MAKAN MALAM RAHASIA YANG MEMBONGKAR PENGKHIANATAN BESAR

Aku hampir tidak tidur malam itu.

Foto perempuan di kursi roda terus terbayang di kepalaku. Wajahnya begitu mirip denganku. Bentuk matanya, garis rahangnya, bahkan cara ia menundukkan kepala seolah menyimpan beban yang terlalu lama dipendam. Di sampingnya berdiri Bu Laras, perempuan yang selama tiga puluh lima tahun kupanggil Ibu.

Rina duduk di seberangku di apartemennya, sementara Pak Surya meneliti dokumen-dokumen yang baru saja dibawa dari kantor.

“Aku tidak mengerti,” kataku pelan. “Kalau Helena masih hidup, kenapa Ayah menyembunyikan semuanya?”

Pak Surya melepas kacamatanya. Wajah pria itu tampak lebih tua malam itu.

“Karena ayahmu pernah berjanji kepada Helena untuk melindungimu.”

“Melindungiku dari siapa?”

“Dari keluarganya sendiri.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku memandangi surat peninggalan Ayah yang sudah mulai kusut karena berkali-kali kubaca.

Dulu, ketika aku masih kecil, Ayah selalu berkata bahwa bisnis hanyalah alat untuk membantu orang. Ia tidak pernah membicarakan saham, kekuasaan, atau perebutan jabatan. Baginya, keluarga lebih penting daripada perusahaan.

Kini aku mulai mengerti mengapa ia begitu keras kepala menolak membawaku ke lingkungan bisnis keluarga.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Adrian.

“Aku baru selesai rapat. Besok mungkin pulang siang. Jangan lupa antar Kayla ke sekolah.”

Aku menatap pesan itu lama.

Laki-laki yang sembilan tahun tidur di sampingku baru saja merencanakan penghancuran hidupku, lalu masih sempat berpura-pura menjadi suami yang baik.

Aku tidak membalas.

Menjelang subuh, Pak Surya akhirnya angkat bicara.

“Ada sesuatu yang belum pernah kuberitahukan.”

Aku mengangkat kepala.

“Dua puluh tahun lalu, setelah Helena mengalami kecelakaan, perusahaan hampir jatuh ke tangan beberapa investor asing. Saat itulah Bu Laras mengambil alih pengasuhanmu dan mulai mengelola aset keluarga.”

“Maksudnya, dia memang diberi kepercayaan?”

“Awalnya, ya.”

“Lalu apa yang berubah?”

Pak Surya menarik napas panjang.

“Keserakahan.”

Pagi harinya, aku mengantar Kayla ke sekolah seperti biasa. Putriku terus bercerita tentang lomba menggambar minggu depan, seolah dunia kami masih baik-baik saja.

“Ayah jadi datang ke pertunjukan nanti?” tanyanya sambil memasang sabuk pengaman.

Aku tersenyum tipis.

“Ayah pasti berusaha datang.”

Aku membenci diriku sendiri karena berbohong kepada anakku.

Sesampainya di sekolah, Kayla memelukku erat.

“Ibu kenapa sedih?”

Aku terdiam beberapa detik.

“Kadang orang dewasa punya banyak masalah.”

Kayla menatapku dengan mata polos.

“Kalau begitu, Ibu jangan takut. Aku akan tetap sayang Ibu.”

Kalimat sederhana itu hampir membuatku menangis.

Dua jam kemudian, aku tiba di gedung utama perusahaan farmasi Wijaya Medika di kawasan Sudirman.

Gedung itu begitu megah, tetapi aku selalu menghindari datang ke sana. Selama bertahun-tahun, aku sengaja menyembunyikan identitasku. Aku ingin dicintai sebagai Camille, bukan sebagai pewaris kerajaan bisnis.

Hari itu, semuanya berubah.

Pak Surya berjalan di sampingku menuju ruang rapat lantai tiga puluh dua.

“Adrian sudah datang,” katanya.

“Siapa saja yang bersamanya?”

“Beberapa anggota dewan dan Vanessa.”

Aku mengangguk pelan.

“Biarkan semuanya berjalan sesuai rencana.”

Saat pintu ruang rapat terbuka, puluhan pasang mata langsung menoleh.

Aku melihat Adrian berdiri di dekat layar presentasi. Wajahnya berubah pucat dalam hitungan detik.

“Camille?”

Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

Aku tersenyum kecil.

“Kamu bilang sedang di Bandung.”

Adrian cepat-cepat mendekat.

“Kamu sedang apa di sini?”

“Aku ingin melihat rapat penting yang membuat suamiku harus berbohong.”

Vanessa yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung membuang muka.

Sebelum Adrian sempat menjawab, seorang pria tua memasuki ruangan. Semua orang berdiri menghormatinya.

Itu adalah Budi Santoso, pemegang saham terbesar perusahaan.

“Rapat dimulai,” katanya singkat.

Aku duduk di kursi paling belakang, sementara Adrian kembali ke depan ruangan.

Selama hampir satu jam, ia mempresentasikan rencana akuisisi perusahaan distribusi medis milikku. Dengan percaya diri, ia menjelaskan bagaimana penggabungan aset akan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Lalu tibalah saat yang ia tunggu-tunggu.

“Sebagai perwakilan resmi pemegang saham utama, saya membawa surat kuasa dari Ibu Camille.”

Ia mengeluarkan map yang pernah kutandatangani.

Jantungku berdetak keras, tetapi wajahku tetap tenang.

Pak Surya berdiri.

“Maaf, sebelum surat itu diterima, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan.”

Adrian menoleh tajam.

“Apa maksud Anda?”

Pak Surya menyerahkan beberapa dokumen kepada anggota dewan.

“Saya mewakili Ibu Camille Wijaya untuk menyampaikan bahwa surat kuasa tersebut diperoleh melalui penipuan.”

Ruangan mendadak ricuh.

“Apa?”

“Penipuan?”

Wajah Adrian memucat.

“Itu tidak benar.”

Aku bangkit dari kursiku.

“Benarkah?”

Semua mata kini tertuju kepadaku.

Aku berjalan perlahan menuju meja utama.

“Kamu bilang aku menandatangani dokumen pajak. Ternyata itu surat pengalihan aset.”

Adrian berusaha tersenyum.

“Camille, kita bisa membicarakan ini di rumah.”

“Rumah yang mana? Rumah yang ingin kamu jual?”

Vanessa menunduk dalam diam.

Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman makan malam semalam.

Suara Adrian memenuhi ruangan.

“Setelah promosi itu resmi, aku akan menceraikannya.”

Beberapa anggota dewan saling berpandangan.

Lalu terdengar suara lain.

“Rumah, rekening investasi, dan saham perusahaan miliknya.”

Wajah Adrian berubah total.

“Itu tidak menjelaskan apa pun.”

“Belum selesai.”

Aku memutar rekaman kedua.

Suara Bu Laras terdengar jelas dari telepon Adrian.

“Setelah saham berpindah, kita umumkan perceraian.”

Ruangan yang semula gaduh kini menjadi sunyi.

Budi Santoso memukul meja.

“Adrian, apakah ini benar?”

“Ada kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman?” tanyaku dingin. “Kamu memalsukan niat baik istrimu demi jabatan.”

Vanessa tiba-tiba berdiri.

“Aku tidak tahu soal pemalsuan dokumen.”

Adrian menoleh marah.

“Vanessa, diam.”

Perempuan itu menggigit bibir.

“Aku memang menjalin hubungan dengan Adrian, tetapi dia mengatakan Camille sudah setuju bercerai.”

Aku memandangnya.

“Apakah kamu tahu bahwa dia sudah menikah saat mulai mendekatimu?”

Vanessa tidak menjawab.

Sebelum suasana semakin kacau, pintu ruang rapat terbuka sekali lagi.

Semua orang menoleh.

Seorang perempuan paruh baya masuk dengan kursi roda elektrik.

Aku membeku.

Wajah itu.

Perempuan dalam foto semalam.

Helena.

Di belakangnya berdiri dua perawat dan seorang dokter.

Bu Laras ikut masuk beberapa detik kemudian, wajahnya pucat.

“Apa yang terjadi di sini?” tanyanya panik.

Helena menatap lurus ke arahku.

Matanya dipenuhi air mata.

“Camille.”

Suaranya serak, tetapi hangat.

Untuk sesaat, seluruh dunia seolah berhenti.

Aku mendekatinya perlahan.

“Apa… Ibu benar-benar ibuku?”

Helena mengangguk sambil menangis.

“Aku mencarimu selama bertahun-tahun.”

Bu Laras segera maju.

“Jangan dengarkan dia.”

Namun Helena mengeluarkan sebuah map tua.

“Semua bukti ada di sini.”

Dokumen medis, akta keluarga, dan surat-surat hukum memenuhi meja rapat.

Ternyata kecelakaan dua puluh tahun lalu tidak pernah merenggut nyawa Helena. Ia mengalami cedera berat dan kehilangan sebagian ingatan. Selama bertahun-tahun, Bu Laras mengendalikan akses terhadapnya, perlahan mengambil alih perusahaan dengan memanfaatkan kondisi kakaknya sendiri.

“Aku baru mengingat semuanya beberapa bulan lalu,” kata Helena pelan. “Saat itulah mereka mulai panik.”

Aku menatap Bu Laras.

“Jadi selama ini… semuanya bohong?”

Perempuan yang membesarkanku itu tampak kehilangan kata-kata.

“Aku membesarkanmu.”

“Karena cinta atau karena perusahaan?”

Air mata mengalir di wajahnya.

“Aku takut kehilangan semuanya.”

Budi Santoso berdiri dari kursinya.

“Kalau begitu, semua keputusan terkait saham akan ditunda sampai penyelidikan selesai.”

Adrian melangkah maju.

“Pak, saya tidak terlibat soal Helena.”

Suara Helena langsung memotong.

“Kamu yang membawa dokumen perawatan palsu ke tempatku.”

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

Helena mengangguk.

“Dia beberapa kali datang bersama Laras.”

Adrian terlihat panik.

“Itu fitnah.”

Namun Vanessa mendadak berbicara.

“Aku pernah melihatnya.”

Semua orang terdiam.

“Aku pernah ikut sekali ke sebuah rumah di Puncak. Ada seorang perempuan yang dikurung di sana.”

Adrian menatap Vanessa seolah tidak mengenali perempuan itu lagi.

“Kamu berbohong.”

Vanessa menangis.

“Aku mencintaimu, tapi aku tidak tahu semuanya sejauh ini.”

Hari itu, dalam waktu kurang dari dua jam, karier Adrian runtuh.

Dewan direksi memberhentikannya sementara. Polisi mulai menyelidiki dokumen-dokumen perusahaan. Bu Laras dibawa untuk dimintai keterangan.

Tetapi anehnya, saat semua orang sibuk membicarakan uang dan kekuasaan, pikiranku justru tertuju pada satu hal.

Kayla.

Malam itu, aku pulang bersama Helena.

Perempuan yang selama ini asing bagiku duduk di ruang tamu apartemen Rina sambil memandangi foto-foto masa kecilku.

“Aku kehilangan terlalu banyak waktu,” katanya lirih.

Aku duduk di sampingnya.

“Aku juga.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak tahu harus memanggilnya apa.

Ibu?

Bu Helena?

Orang asing?

Lalu pintu apartemen terbuka.

Rina masuk sambil menggandeng Kayla.

Anakku berlari menghampiriku.

“Ibu!”

Aku memeluknya erat.

Kayla lalu menatap Helena dengan rasa ingin tahu.

“Siapa nenek ini?”

Aku dan Helena saling berpandangan.

Perempuan itu tersenyum, air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku keluarga kalian.”

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian akhirnya selesai. Adrian kehilangan posisinya di perusahaan dan menghadapi tuntutan hukum atas penyalahgunaan dokumen.

Yang paling mengejutkan, Vanessa memutuskan bekerja sama dengan penyidik. Sebelum pergi ke luar negeri, ia mengirim surat kepadaku.

Ia menulis bahwa kesalahan terbesar manusia bukanlah mencintai orang yang salah, melainkan tetap membela orang itu setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Sementara itu, hubungan antara aku dan Helena tumbuh perlahan. Kami tidak bisa mengganti tahun-tahun yang hilang, tetapi kami belajar memulai dari awal.

Suatu sore, saat aku menjemput Kayla dari sekolah, putriku menggenggam tanganku.

“Ibu, keluarga kita sekarang berbeda, ya?”

Aku tersenyum.

“Sedikit berbeda.”

“Lebih kecil?”

Aku memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

“Tidak.”

“Lalu bagaimana?”

Aku menatap Helena yang menunggu di dekat mobil sambil melambaikan tangan.

“Keluarga kita sekarang lebih jujur.”

Kayla mengangguk seolah memahami.

Di perjalanan pulang, ponselku berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

Hanya ada satu foto.

Foto Ayah, Helena, dan aku saat masih bayi.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

“Ayahmu tidak pernah gagal melindungimu. Dia hanya menunggu sampai kamu cukup kuat untuk mengetahui kebenaran.”

Aku memandang foto itu lama, lalu mematikan layar.

Untuk pertama kalinya sejak malam di restoran buffet itu, aku menyadari sesuatu.

Pengkhianatan memang menghancurkan banyak hal, tetapi terkadang, dari reruntuhannya, kebenaran akhirnya menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang