SAAT PEMAKAMAN KEMBARKU, SUAMIKU DATANG BERSAMA SELINGKUHANNYA DAN BERKATA

Tristan tertawa—sebuah tawa dingin yang tak memiliki empati sedikit pun. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Veronica, lalu melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum mahal yang memuakkan dari tubuhnya.

“Pemakaman? Elara, jangan konyol,” ucapnya lantang agar semua orang di kapel bisa mendengar. “Tuhan mengambil mereka bukan karena kecelakaan. Tuhan mengambil mereka karena Dia tahu ibu macam apa kamu! Kamu ibu yang lalai, yang lebih mencintai karier daripada darah daging sendiri. Kematian mereka adalah hukuman atas egomu yang busuk.”

Suasana mendadak hening total. Hanya deru napas tertahan dari para pelayat yang memenuhi ruangan. Veronica di belakangnya menyembunyikan tawa di balik punggung tangannya. Wajahku terasa panas, namun di balik rasa sakit yang merobek dada, ada sesuatu yang dingin mulai menjalar di pikiranku. Sesuatu yang telah aku rencanakan selama tiga malam tanpa tidur.

Aku tidak menangis. Aku justru tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Tristan mundur selangkah, tampak bingung.

“Terima kasih, Tristan,” bisikku pelan. “Terima kasih sudah datang tepat waktu.”

Permainan Catur yang Berbalik

Belum sempat Tristan membalas, suara sirine polisi meraung-raung di luar kapel, memecah kesunyian pemakaman. Beberapa petugas berseragam masuk dengan langkah tegas, dipimpin oleh seorang detektif yang kukenal baik.

Wajah Tristan pucat pasi. “Apa ini? Elara, apa yang kamu lakukan?”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan melewati mereka, membelai peti mati kecil kedua anakku satu kali terakhir, lalu berbalik menatap Tristan yang kini tampak seperti binatang terpojok.

“Tristan,” kataku dengan tenang, “kamu benar. Tuhan tahu ibu macam apa aku. Tapi, Dia juga tahu ayah macam apa kamu. Dan yang paling penting, Dia tahu siapa yang membelikan jus jeruk itu di supermarket, siapa yang mencampurkan bubuk arsenik ke dalamnya, dan siapa yang merekam kejadian itu dari kamera pengintai rumah kita.”

Wajah Veronica berubah menjadi putih seperti kertas. Dia mencoba melarikan diri, namun seorang petugas sudah lebih dulu menahan lengannya.

Detektif itu melangkah maju, memegang sebuah tablet. “Tristan Adiwangsa, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana terhadap Lukas dan Liam Adiwangsa. Dan Anda, Veronica Wijaya, ditahan atas tuduhan persekongkolan.”

Kebenaran yang Menghancurkan

Dunia mereka hancur saat itu juga. Di hadapan semua orang, polisi memutar rekaman dari kamera tersembunyi yang diam-diam kupasang di dapur—bukan untuk memata-matai anak-anak, melainkan karena aku sudah mencurigai gelagat aneh Tristan sejak ia mulai sering menerima telepon dari nomor yang disembunyikan.

Dalam rekaman itu, terlihat dengan jelas bagaimana Tristan menyodorkan gelas jus kepada anak-anak kami, lalu tersenyum licik ke arah kamera—seolah dia tahu aku akan melihatnya. Dia bahkan sempat bergumam, “Setelah mereka pergi, harta itu akan menjadi milikku, dan kita bisa memulai hidup baru, Veronica.”

Tristan berteriak marah, mencoba memberontak, namun petugas memborgol tangannya dengan kasar. Saat dia diseret keluar, dia menatapku dengan kebencian yang mendalam. “Aku membencimu! Aku membenci kehidupan ini!” teriaknya.

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. “Kamu tidak membenciku, Tristan. Kamu hanya membenci fakta bahwa kamu tidak pernah bisa mengendalikanku.”

Akhir yang Tak Terduga

Namun, bagian yang paling mengejutkan bukanlah penangkapan itu.

Setelah polisi membawa mereka pergi, kapel kembali hening. Aku mendekati detektif yang bertugas, menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal.

“Apa ini, Elara?” tanya detektif itu bingung.

“Itu adalah bukti bahwa perusahaan tempat Tristan bekerja selama ini adalah sarang pencucian uang. Dia tidak hanya membunuh anak-anakku untuk warisan, dia melakukannya karena dia terdesak oleh hutang judi yang besar kepada sindikat berbahaya. Dia sudah tidak punya jalan keluar.”

Detektif itu mengerutkan kening. “Tapi, Elara… kenapa kamu tahu semua ini sejak awal?”

Aku menarik napas panjang, menatap foto Lukas dan Liam yang tersenyum di depan peti.

“Karena aku bukan hanya seorang ibu yang berduka,” jawabku dingin. “Aku adalah orang yang memastikan mereka masuk ke dalam perangkap itu. Aku tahu Tristan merencanakan sesuatu. Aku membiarkan dia melakukan langkah pertamanya, agar aku bisa memastikan dia tidak akan pernah bisa menyakiti siapa pun lagi.”

Aku terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Aku membiarkan mereka meminum racun itu, karena aku tahu Tristan pasti akan memberikan dosis yang mematikan. Aku tidak punya pilihan lain untuk menghentikan monster itu selamanya dari hidupku dan anak-anakku. Aku menggunakan mereka sebagai umpan, dan aku akan hidup dengan dosa itu selamanya.”

Detektif itu mematung. Kebenaran yang sebenarnya jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan. Aku bukan korban yang malang; aku adalah arsitek dari kehancuran Tristan, bahkan jika harganya adalah nyawa anak-anakku sendiri.

Tristan memang iblis, tapi dia lupa bahwa di rumah itu, ada iblis yang jauh lebih cerdas dan sabar yang sedang menunggu waktu untuk menghancurkannya. Saat peti diturunkan ke liang lahat, aku tahu satu hal: Tristan akan membusuk di penjara selamanya, dan aku—aku akan hidup di balik topeng kesedihan yang sempurna, menjadi satu-satunya orang yang tahu bahwa keadilan terkadang memerlukan tumbal yang paling berharga.

Dunia menganggapku sebagai ibu yang kehilangan segalanya. Kenyataannya, aku memenangkan permainan ini, meski hatiku telah mati bersamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang