Saat reuni kelas berlangsung, pria yang diam-diam kucintai selama tiga tahun akhirnya datang juga—Enzo.

Malam itu, hujan turun tipis membasahi jalanan Jakarta ketika Aruna berdiri di depan ballroom hotel tempat reuni SMA angkatannya digelar. Lima tahun sudah berlalu sejak kelulusan, tetapi jantungnya masih berdegup sama seperti dulu setiap kali mengingat satu nama.

Raka.

Laki-laki yang diam-diam ia cintai selama tiga tahun di bangku sekolah.

Tidak pernah ada yang tahu. Bahkan sahabat terdekatnya pun hanya mengira Aruna terlalu fokus belajar hingga tak tertarik menjalin hubungan. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih menyakitkan. Ia hanya tidak pernah cukup berani.

Ruangan dipenuhi tawa, musik pelan, dan wajah-wajah yang mulai berubah dewasa. Aruna berusaha menikmati obrolan dengan teman-teman lamanya sampai pintu terbuka.

Semua kepala menoleh.

Raka datang.

Tinggi, rapi, mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku. Senyumnya masih sama, hanya kini lebih tenang. Di sampingnya berjalan seorang perempuan cantik bernama Melissa, mantan ketua klub tari yang dulu sering dijodoh-jodohkan dengannya.

“Pasangan favorit akhirnya datang!” seru seseorang.

Beberapa orang langsung bersorak.

Melissa hanya tertawa kecil.

Raka justru menggeleng.

“Kalian masih suka membuat gosip ya.”

Ia melepaskan jasnya, lalu matanya menyapu ruangan.

Sesaat kemudian, tatapan mereka bertemu.

Aruna buru-buru mengalihkan pandangan.

Ia yakin Raka akan duduk bersama teman-teman basketnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Laki-laki itu berjalan lurus ke arahnya.

“Boleh duduk di sini?”

Aruna mengangguk gugup.

Sejak itu, mereka hampir tidak berbicara lagi.

Anehnya, Raka tetap berada di sampingnya sepanjang acara.

Beberapa kali teman-teman menggoda mereka, tetapi Raka hanya tersenyum tipis.

Menjelang tengah malam, reuni selesai.

Satu per satu orang pulang.

Melissa sudah lebih dulu dijemput keluarganya. Teman-teman Raka mengaku harus mengejar penerbangan pagi sehingga mereka menitipkan Raka kepada Aruna karena hotel tempatnya menginap hanya berjarak beberapa menit.

“Dia kebanyakan minum,” kata salah seorang teman.

Raka memang tampak sempoyongan.

Dengan susah payah Aruna membantu membawanya ke kamar hotel.

Begitu pintu tertutup, Raka langsung menjatuhkan diri ke ranjang.

Aruna berdiri memandangi wajah yang pernah memenuhi hampir seluruh masa remajanya.

Ada dorongan kecil dalam hatinya untuk mengusap rambut lelaki itu.

Untuk sekali saja.

Untuk mengucapkan semua perasaan yang selama ini dipendam.

Namun ia hanya menarik napas panjang.

“Cinta yang datang terlambat tetap tidak boleh memaksa,” gumamnya pelan.

Ia menyelimuti Raka, meletakkan segelas air di samping tempat tidur, lalu meninggalkan kamar.

Keesokan paginya, bel apartemen Aruna berbunyi.

Saat membuka pintu, ia membeku.

Raka berdiri di sana.

“Kamu pergi begitu saja?”

Aruna mengerutkan dahi.

“Kamu kan mabuk.”

“Aku memang minum.”

“Tapi aku nggak sampai hilang kesadaran.”

Aruna terdiam.

Raka tersenyum kecut.

“Aku sengaja pura-pura tidur.”

“Kenapa?”

“Aku ingin tahu… apakah selama ini cuma aku yang salah paham.”

Jantung Aruna berdetak semakin cepat.

“Apa maksudmu?”

Raka tertawa pelan.

“Dulu waktu SMA, aku suka sama kamu.”

Dunia seakan berhenti.

Aruna mengira dirinya salah dengar.

“Kamu bercanda.”

“Aku serius.”

“Tapi semua orang bilang kamu dekat sama Melissa.”

“Itu cuma gosip. Kami bahkan nggak pernah pacaran.”

Aruna memandang wajahnya, mencari tanda-tanda kebohongan.

Tidak ada.

“Kalau memang begitu… kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Raka mengembuskan napas.

“Karena aku pikir kamu membenciku.”

Aruna hampir tertawa.

“Membenci?”

“Kamu selalu menghindar. Kalau aku mendekat, kamu pindah tempat duduk. Aku kirim pesan soal tugas, balasmu seperlunya. Aku kira kamu nggak nyaman denganku.”

Aruna memejamkan mata.

Ternyata selama bertahun-tahun mereka sama-sama salah mengartikan sikap satu sama lain.

“Aku menghindar karena aku suka sama kamu.”

Kini giliran Raka yang membeku.

Mereka saling menatap beberapa detik, lalu tertawa bersamaan.

Lucu.

Begitu banyak waktu hilang hanya karena tidak ada satu pun yang berani jujur.

Sejak hari itu mereka mulai sering bertemu.

Bukan sebagai sepasang kekasih.

Mereka sepakat mengenal satu sama lain dari awal.

Aruna baru tahu bahwa Raka ternyata sangat suka memasak.

Raka baru tahu bahwa Aruna diam-diam menulis novel di waktu senggang.

Semakin dekat, semakin mereka sadar bahwa bayangan tentang satu sama lain selama SMA ternyata berbeda dengan kenyataan.

Raka tidak setenang yang terlihat.

Ia pernah gagal membangun perusahaan rintisan dan kehilangan hampir seluruh tabungannya.

Aruna pun tidak sekuat yang selalu ia tunjukkan.

Ia pernah mengalami masa-masa merasa tidak cukup berharga karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Mereka saling mendukung.

Hubungan itu tumbuh perlahan, tanpa tergesa.

Tiga bulan kemudian, ketika semuanya tampak berjalan sempurna, sebuah kenyataan mengejutkan muncul.

Suatu sore Raka datang dengan wajah muram.

“Aku dapat tawaran kerja.”

“Itu kabar bagus.”

“Di Osaka.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kontraknya minimal empat tahun.

Aruna tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Kamu harus ambil.”

“Kamu yakin?”

“Aku nggak mau jadi alasan seseorang melepaskan mimpinya.”

Malam sebelum keberangkatan, mereka duduk di tepi pantai Ancol.

Tak banyak kata yang terucap.

Raka hanya menggenggam tangan Aruna erat-erat.

“Kalau nanti kita berubah bagaimana?”

Aruna memandang laut yang gelap.

“Kalau memang ditakdirkan bersama, kita akan bertemu lagi sebagai orang yang lebih baik.”

Mereka menjalani hubungan jarak jauh.

Awalnya mudah.

Lalu mulai sulit.

Perbedaan waktu.

Kesibukan.

Rasa lelah.

Panggilan video berubah dari setiap malam menjadi seminggu sekali.

Kemudian dua minggu sekali.

Hingga suatu hari Raka berhenti membalas pesan selama hampir sepuluh hari.

Aruna mencoba menelepon berkali-kali.

Tidak ada jawaban.

Akhirnya sebuah pesan masuk.

“Aku minta maaf.”

Hanya tiga kata.

Tanpa penjelasan.

Malam itu Aruna menangis sampai tertidur.

Ia mengira semuanya telah berakhir.

Enam bulan berlalu.

Aruna mencoba melanjutkan hidup.

Ia menerbitkan novel pertamanya.

Buku itu ternyata laris.

Pada acara peluncuran novel, aula dipenuhi pembaca.

Ketika sesi tanda tangan hampir selesai, seorang pria berdiri di antrean paling belakang dengan topi dan masker.

Saat tiba di hadapannya, pria itu meletakkan sebuah buku yang sudah usang.

Bukan novel baru.

Melainkan buku catatan SMA milik Aruna yang dulu pernah hilang.

Tangannya langsung gemetar.

Ia mengangkat kepala.

Pria itu melepas masker.

Raka.

Wajahnya tampak lebih kurus.

“Aku boleh jelaskan semuanya?”

Air mata Aruna langsung mengalir.

Raka bercerita bahwa beberapa bulan sebelumnya ia mengalami kecelakaan kerja yang cukup serius. Ia menjalani beberapa operasi dan sempat kehilangan kemampuan menggerakkan tangan kanannya. Selama masa pemulihan, ia sengaja memutus komunikasi karena tidak ingin Aruna meninggalkan mimpinya di Indonesia demi merawatnya.

“Aku bodoh.”

“Sangat.”

“Aku pikir mencintai berarti melindungi.”

Aruna menggeleng pelan.

“Mencintai juga berarti memberi kesempatan seseorang memilih.”

Raka mengangguk.

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.

“Bukan untuk langsung menikah.”

Aruna mengangkat alis.

“Tapi untuk janji.”

“Janji?”

“Aku nggak mau lagi ada kesalahpahaman di antara kita. Apa pun yang terjadi nanti, kita hadapi bersama. Tanpa pura-pura kuat. Tanpa diam.”

Aruna tersenyum di tengah air matanya.

Kali ini ia tidak ragu.

Ia mengangguk.

Seluruh ruangan bertepuk tangan ketika Raka memakaikan cincin sederhana ke jari manisnya.

Aruna tiba-tiba teringat dirinya lima tahun lalu, gadis pemalu yang hanya berani mencintai dalam diam.

Seandainya dulu ia memilih mengungkapkan perasaannya, mungkin mereka tidak akan kehilangan begitu banyak waktu.

Namun mungkin juga mereka belum cukup dewasa untuk saling memahami.

Saat itulah ia menyadari bahwa penyesalan terbesar bukanlah mencintai seseorang terlalu lama, melainkan membiarkan rasa takut mengambil semua kesempatan untuk bahagia. Dan kadang-kadang, cinta yang benar memang datang terlambat, bukan karena takdir ingin mempermainkan manusia, melainkan karena dua hati harus belajar menjadi cukup berani sebelum akhirnya menemukan jalan pulang menuju satu sama lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang