SAAT SEPUPUKU MENYURUH AKU MENGGANTIKANNYA MENEMUI PRIA “MISKIN” DARI INTERNET, AKU TAK MENYANGKA KARTU NAMA YANG TERSELIP DI TASNYA AKAN MEMBUAT SELURUH KELUARGA YANG MENGHINAKU PANIK DAN MEMINTAKU PULANG PADAHAL TIGA HARI SEBELUMNYA MEREKA SAJA MENGUSIRKU TANPA MEMBERI SATU RUPIAH PUN

Aku berdiri kaku di depan meja resepsionis, sementara seluruh suara di lantai kantor itu seperti mendadak menjauh.

Bima berhenti tepat di hadapanku.

Setelan gelap yang dikenakannya membuatnya terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda dari laki-laki yang tiga hari lalu turun dari bus kota dengan ransel tua di punggung.

Aku menatap kartu identitas yang tergantung di sakunya.

Bima Ardhana.

Direktur Utama.

Aku mengangkat wajah perlahan.

“Mas…”

Sudut bibirnya terangkat.

“Katanya kalau gagal wawancara, saya harus traktir es teh.”

Aku masih terlalu terkejut untuk tertawa.

“Mas pemilik perusahaan ini?”

“Sebagian.”

“Sebagian?”

“Saya tidak suka menjelaskan pekerjaan lewat aplikasi perkenalan.”

Dia menoleh pada staf HR di sampingku.

“Mbak Sinta, tolong lanjutkan orientasinya. Jangan perlakukan Mbak Nadira berbeda hanya karena dia kenal saya.”

Kemudian Bima kembali menatapku.

“Selamat bekerja.”

Dia berlalu begitu saja.

Aku menatap punggungnya sampai pintu ruang direksi tertutup.

Mbak Sinta tersenyum seperti sudah memahami kebingunganku.

“Pak Bima memang begitu.”

Aku menelan ludah.

“Begitu bagaimana?”

“Kalau tidak ada acara resmi, beliau sering naik transportasi umum. Katanya lebih gampang melihat masalah operasional kalau tidak semua orang tahu siapa dia.”

Aku teringat Keisya yang berdiri di balik pagar dengan wajah jijik.

Ternyata laki-laki yang dianggapnya kurir justru memiliki perusahaan logistik yang cabangnya tersebar di berbagai kota.

Namun keterkejutanku hari itu ternyata belum seberapa.

Saat jam makan siang, Bima mengirim pesan.

Ada barangmu yang tertinggal di tas saya.

Aku langsung membuka laci meja.

Dompet ada.

Kunci kos ada.

Berkas orientasi lengkap.

Barang apa?

Beberapa menit kemudian, Bima turun ke kafetaria membawa kartu kecil berwarna krem.

“Itu bukan punya saya,” kataku.

Kartu itu bertuliskan nama sebuah kantor notaris di Yogyakarta.

Di belakangnya ada tulisan tangan.

Ratna Wulandari
Sertifikat Gudang Piyungan
Hendra Prasetyo
Arsip 2009

Jantungku seperti berhenti satu detik.

“Ratna Wulandari ibu saya.”

Wajah Bima berubah serius.

“Kartu ini saya temukan terselip di kantong kecil ransel saya.”

Aku menggeleng.

“Saya tidak pernah memasukkan apa pun ke tas Mas.”

Kami saling menatap.

Lalu aku teringat saat Bima membantu membawa koperku dari rumah Tante Rina. Ranselnya sempat diletakkan di teras, tepat di dekat tumpukan barang milikku.

Mungkin kartu itu terselip saat kami memindahkan barang.

Atau seseorang sengaja memasukkannya.

Aku membaca nama notaris di bagian depan.

Notaris Sri Mulyani Hartono.

Nama itu terasa samar-samar familiar.

Malamnya, aku mencari nomor kantor tersebut.

Keesokan harinya setelah pulang kerja, aku datang sendirian.

Perempuan berusia sekitar enam puluh tahun menerima aku di ruangannya. Saat melihat nama lengkapku di KTP, wajahnya berubah.

“Kamu anak Ratna?”

Aku mengangguk.

Bu Sri melepas kacamatanya.

“Saya sudah menunggu bertahun-tahun.”

Tenggorokanku mengering.

“Menunggu saya?”

Dia membuka lemari arsip, lalu mengeluarkan map tua.

“Ibumu datang ke sini enam bulan sebelum kecelakaan.”

Dunia seakan miring di bawah kakiku.

Bu Sri menjelaskan bahwa almarhum ibuku memiliki sebidang tanah dan gudang di Piyungan yang dibeli dari warisan kakekku. Setelah menikah, tempat itu sempat dipakai bersama Om Hendra untuk bisnis furnitur.

Namun kepemilikannya tidak pernah berpindah.

“Ibumu merasa ada yang tidak beres dengan laporan usaha,” katanya.

“Apa maksudnya?”

“Dia ingin memisahkan asetnya.”

Bu Sri membuka salinan dokumen.

Nama Ratna Wulandari tercetak jelas.

“Setelah orang tuamu meninggal, secara hukum kamu adalah ahli warisnya.”

Tanganku mulai gemetar.

“Lalu kenapa gudang itu dikuasai Om saya?”

Bu Sri diam beberapa detik.

“Karena beberapa bulan setelah kecelakaan, ada permohonan pengalihan aset dengan tanda tangan wali.”

Aku menatapnya.

“Tante Rina?”

“Dan suaminya.”

Udara dalam ruangan terasa semakin berat.

“Apakah itu legal?”

“Masalahnya bukan hanya soal legal atau tidak.”

Bu Sri menarik dokumen lain.

“Ada tanda tangan ibumu pada surat persetujuan.”

Aku menatap tanggalnya.

Tiga bulan setelah Ibu meninggal.

Tubuhku langsung dingin.

“Itu tidak mungkin.”

“Saya tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak kehilangan orang tuaku, aku merasa kesedihan yang selama ini kupendam berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam.

Bukan lagi kehilangan.

Melainkan pengkhianatan.

Aku meminta salinan dokumen dan pulang dengan kepala penuh suara.

Malam itu Bima menungguku di warung kopi dekat kos.

Aku menceritakan semuanya.

Dia tidak memotong satu kalimat pun.

Setelah selesai, dia hanya bertanya, “Kamu mau melakukan apa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu ingin merebut aset itu?”

Aku memandang gelas teh di depanku.

“Aku ingin tahu kebenarannya.”

Bima mengangguk.

“Kalau begitu jangan buru-buru datang ke rumah mereka.”

Namun ternyata aku tidak perlu datang.

Mereka yang datang kepadaku lebih dulu.

Pukul tujuh pagi keesokan harinya, Tante Rina menelepon.

Itu pertama kalinya sejak aku pindah.

“Nadira, pulanglah sebentar.”

Nada suaranya terdengar berbeda.

Tidak dingin.

Tidak menyuruh.

Hampir seperti memohon.

“Ada apa?”

“Kita bicara di rumah.”

“Aku bekerja.”

“Ambil izin.”

Aku tertawa pendek.

“Tiga hari lalu kalian membiarkan aku pergi tanpa uang sepeser pun. Sekarang aku harus mengambil izin karena Tante menyuruh?”

Tante Rina terdiam.

Lalu suara Om Hendra terdengar mengambil telepon.

“Nadira, jangan kurang ajar.”

Nada itu.

Nada yang selama bertahun-tahun selalu membuatku diam.

Anehnya, pagi itu aku tidak takut.

“Ada apa, Om?”

“Kamu bertemu siapa setelah keluar dari rumah?”

Aku langsung mengerti.

Mereka tahu tentang Bima.

“Kenapa?”

“Jawab saja.”

“Aku bertemu banyak orang.”

Om Hendra menarik napas berat.

“Laki-laki bernama Bima itu sebenarnya siapa?”

Aku tersenyum tipis.

“Katanya cuma orang yang mengurus pengiriman.”

Telepon langsung ditutup.

Satu jam kemudian, Keisya mengirim puluhan pesan.

Mbak, kamu sengaja ya?

Kenapa kamu gak bilang Bima direktur Ardhana?

Kamu ngomong apa tentang keluarga kita?

Mbak jawab!

Tolong pulang.

Ayah marah banget.

Pesan terakhir membuatku berhenti.

Ayah bilang kalau kamu mau, kamar lama kamu bisa dipakai lagi.

Aku menatap layar lama sekali.

Delapan tahun dihina, dan harga sebuah kamar tiba-tiba berubah hanya karena mereka tahu aku mengenal pria kaya.

Namun ternyata bukan hanya itu.

Siang harinya, perusahaan tempat Om Hendra membeli bahan impor menunda kontrak.

Sore harinya, bank meminta audit ulang kredit usaha.

Dan pada malam yang sama, sebuah perusahaan logistik membatalkan kerja sama pengiriman furnitur miliknya.

Aku langsung menelepon Bima.

“Mas melakukan ini?”

“Tidak.”

“Serius?”

“Saya bahkan belum tahu nama perusahaan Om kamu sampai pagi tadi.”

“Lalu kenapa semuanya terjadi bersamaan?”

Bima terdiam.

“Karena mereka mungkin sudah punya masalah sebelumnya.”

Beberapa detik kemudian dia menambahkan, “Orang panik bukan karena satu pintu tertutup. Orang panik ketika dia tahu semua pintu yang selama ini terbuka ternyata dibangun di atas sesuatu yang rapuh.”

Dua hari kemudian Om Hendra datang ke kantorku.

Dia tidak bisa naik ke lantai atas karena tidak punya janji.

Aku menemuinya di lobi.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya tampak tua.

“Nadira.”

Aku berdiri tanpa menawarkan kursi.

“Ada apa?”

“Pulang.”

“Kenapa?”

“Kita keluarga.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Waktu aku tidur di kamar dekat gudang, kita keluarga?”

Wajahnya mengeras.

“Jangan membesar-besarkan.”

“Waktu uang kuliahku dihentikan sementara Keisya pergi ke Bali, kita keluarga?”

“Nadira.”

“Waktu aku pergi dari rumah dengan tabungan tiga juta delapan ratus ribu dan Tante bahkan tidak bertanya aku tinggal di mana, kita keluarga?”

Beberapa orang mulai melirik.

Om Hendra menurunkan suara.

“Kamu sudah ketemu notaris itu, kan?”

Akhirnya.

Aku menatapnya lurus.

“Jadi Om tahu.”

Wajahnya pucat.

“Dengar dulu penjelasan Om.”

“Silakan.”

“Gudang itu memang milik ibumu.”

Aku merasakan sesuatu mencengkeram dada.

“Tapi setelah orang tuamu meninggal, usaha sedang kacau. Ada utang, ada karyawan. Kalau aset itu tidak dipakai, semuanya bisa runtuh.”

“Jadi Om memalsukan tanda tangan orang yang sudah meninggal?”

“Itu demi menyelamatkan usaha keluarga.”

“Usaha keluarga siapa?”

Dia tidak mampu menjawab.

Aku melanjutkan.

“Selama bertahun-tahun Om bilang tidak punya uang untuk kuliahku. Padahal bisnis Om berdiri di atas aset ibuku.”

“Nadira, Om membesarkan kamu.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Kalimat yang selalu kusangka akan menghancurkanku.

Namun ternyata tidak.

Aku justru merasa sangat tenang.

“Kalau membesarkan anak yatim berarti boleh mengambil warisannya, mungkin kita punya definisi keluarga yang berbeda.”

Om Hendra pergi dengan wajah merah.

Malamnya Tante Rina datang ke kos.

Dia menangis sejak pintu kubuka.

“Nadira, Tante salah.”

Aku tidak langsung mempersilahkannya masuk.

“Tante tahu?”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Aku tahu soal dokumen.”

“Sejak kapan?”

“Sejak awal.”

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada apa pun.

Tante Rina memegang lenganku.

“Waktu itu Keisya masih kecil. Bisnis sedang hampir bangkrut. Hendra bilang cuma sementara. Setelah usaha stabil, aset akan dikembalikan.”

“Lalu?”

“Kami… terus menundanya.”

“Delapan belas tahun?”

Tante Rina menangis semakin keras.

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Aku selalu berpikir Tante orang yang paling baik padaku setelah Ibu meninggal.”

“Aku sayang kamu.”

“Kalau Tante sayang, kenapa saat Keisya menghancurkan barangku Tante selalu diam?”

Dia tidak menjawab.

“Kenapa saat aku bekerja malam untuk bayar kuliah, Tante tidak pernah bilang bahwa gudang yang menghasilkan uang untuk keluarga itu sebenarnya milik ibuku?”

Tante Rina menunduk.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Diam juga bisa menjadi bentuk pengkhianatan.

Aku tidak langsung membawa perkara itu ke polisi.

Dengan bantuan pengacara, aku meminta audit dan pengembalian aset.

Om Hendra menolak.

Sampai auditor menemukan fakta yang jauh lebih buruk.

Gudang Piyungan telah dijadikan jaminan untuk tiga pinjaman berbeda menggunakan dokumen yang tidak sah.

Kasusnya tidak mungkin lagi diselesaikan diam-diam.

Ketika penyelidikan dimulai, bisnis Om Hendra runtuh dengan cepat.

Bukan karena Bima.

Bukan karena aku.

Melainkan karena selama bertahun-tahun semuanya berdiri di atas kebohongan.

Keisya datang menemuiku sebulan kemudian.

Tidak ada tas mahal.

Tidak ada ponsel terbaru di tangannya.

Dia duduk di warung soto yang sama tempat aku pertama kali makan bersama Bima.

“Aku benci Mbak.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Tapi aku juga malu.”

Aku menatapnya.

Keisya menahan air mata.

“Aku baru tahu Ayah pakai uang dari aset Tante Ratna selama ini.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Semua yang aku punya ternyata…”

“Bukan salahmu kalau kamu tidak tahu.”

Dia menatapku terkejut.

“Mbak gak marah?”

“Aku marah.”

Aku mengaduk teh.

“Tapi aku tidak mau jadi seperti kalian. Aku tidak mau memakai sakit hati sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.”

Keisya akhirnya menangis.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan mengembalikan kepemilikan gudang dan tanah itu kepadaku.

Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Namun aku tidak menjualnya.

Aku mengubah sebagian bangunan menjadi pusat distribusi kecil dan menyewakannya secara resmi kepada beberapa usaha lokal.

Bima membantu memberi saran, tetapi dia menolak setiap kali aku menawarkan kerja sama khusus.

“Kalau bisnis kita kerja sama,” katanya, “harus karena hitungannya bagus, bukan karena saya suka sama pemiliknya.”

Aku menatapnya.

“Mas suka sama pemiliknya?”

Dia langsung pura-pura sibuk melihat ponsel.

Aku tertawa untuk pertama kalinya tanpa memikirkan masa lalu.

Setahun kemudian, aku berdiri di depan gudang Piyungan yang telah direnovasi.

Di bagian depan terdapat papan kecil.

Ratna Distribution Center.

Nama Ibu akhirnya kembali berada di tempat yang seharusnya.

Tante Rina datang saat peresmian.

Rambutnya tampak lebih banyak beruban.

Kami tidak berpelukan.

Beberapa luka tidak sembuh hanya karena seseorang meminta maaf.

Namun sebelum pergi, dia berkata pelan, “Ibumu pasti bangga.”

Aku menatap papan nama itu.

“Semoga.”

Bima berdiri beberapa meter dariku.

Ransel tuanya kembali berada di punggung.

Aku tertawa.

“Kenapa masih pakai tas itu? Mas bisa beli seribu tas baru.”

Dia membuka ritsleting kecil di bagian depan.

Dari dalamnya dia mengeluarkan kartu nama notaris yang dulu mengubah seluruh hidupku.

“Saya simpan.”

“Kenapa?”

“Karena benda ini mengingatkan saya pada hari ketika saya datang menemui perempuan yang salah, lalu justru bertemu perempuan yang tepat.”

Aku terdiam.

Bima tersenyum.

Dari semua hal yang pernah kurampas oleh keluargaku, ternyata hidup mengembalikan sesuatu yang jauh lebih penting.

Bukan sekadar tanah.

Bukan gudang.

Bukan uang.

Melainkan keberanian untuk tidak lagi menerima perlakuan buruk hanya karena takut kehilangan tempat pulang.

Aku pernah berpikir rumah adalah bangunan yang memberiku kamar.

Ternyata aku salah.

Rumah adalah tempat di mana harga diriku tidak perlu dikorbankan agar aku diizinkan tinggal.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak Ayah dan Ibu meninggal, aku merasa benar-benar sudah pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang