SUAMIKU MENGERINGKAN TAMBAK BANDENG AYAH KARENA PEREMPUAN YANG SELALU IA BELA KEGUGURAN SETELAH MAKAN OLEH-OLEH DARI KAMPUNG, SETAHUN KEMUDIAN IA MEMINTA KIRIMAN LAGI TAPI SAAT AKU MENYODORKAN SURAT CERAI SATU REKAMAN LAMA MENGUNGKAP ALASAN SEBENARNYA AYAH MENOLAK MENJUAL TANAH ITU

Empat hari.

Aku mengulang angka itu sepanjang perjalanan menuju apartemen yang kusewa diam-diam sejak dua minggu lalu.

Empat hari sebelum Saskia keguguran, Ayah sudah merekam sesuatu.

Berarti penghancuran tambak itu tidak pernah benar-benar dimulai dari bandeng asap.

Begitu pintu apartemen terkunci, aku meletakkan tas, mengambil laptop, lalu memasukkan flashdisk peninggalan Ayah.

Hanya ada tiga folder.

Dokumen Tanah.

Mahesa Properti.

Rekaman.

Tanganku gemetar ketika membuka folder terakhir.

Ada satu video bertanggal 14 September, pukul 16.38.

Aku menekan tombol putar.

Gambar pertama memperlihatkan teras belakang rumah Ayah. Kamera tampaknya berasal dari CCTV sederhana yang kupasang dua tahun sebelumnya setelah beberapa kali terjadi pencurian mesin pompa di sekitar tambak.

Ayah sedang berdiri bersama Pak Harun.

Beberapa detik kemudian sebuah mobil hitam berhenti.

Rendra turun.

Aku menahan napas.

Ia datang tanpa memberitahuku.

Rendra berjalan ke teras sambil membawa map.

Suara mereka terdengar cukup jelas.

“Pak, tawaran terakhir saya dua belas miliar.”

Ayah bahkan tidak menyentuh map itu.

“Sudah saya bilang, tanah ini tidak dijual.”

“Dua belas miliar untuk tambak seperti ini sangat tinggi.”

“Kalau begitu cari tambak lain.”

Rendra menarik napas.

“Bapak tahu proyek kami membutuhkan akses langsung ke kanal.”

“Dan kamu tahu proyekmu akan menutup saluran air warga di sebelah timur.”

Aku membeku.

Rendra menurunkan suaranya.

“Semua izin bisa diurus.”

“Bukan izin yang saya pikirkan.”

Ayah menunjuk ke arah tambak.

“Kalau tanah saya jadi akses proyekmu, enam belas tambak kecil di belakang akan kehilangan jalur air. Mereka hidup dari sana.”

Rendra terdiam.

Ayah melanjutkan, “Kamu mungkin melihat tanah. Saya melihat keluarga.”

Dadaku sesak.

Selama setahun aku mengira Rendra menghancurkan tambak karena kemarahan yang kejam dan tidak masuk akal.

Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Rendra membutuhkan tanah itu.

“Pak Surya,” katanya dalam rekaman, “jangan mencampur urusan bisnis dengan perasaan.”

Ayah tertawa pendek.

“Kalimat itu seharusnya saya katakan kepada kamu. Jangan gunakan pernikahanmu dengan anak saya untuk mendapatkan tanah saya.”

Wajah Rendra berubah.

“Apa Bapak menuduh saya?”

“Saya cuma mengingatkan.”

Rendra berdiri.

Sebelum pergi, ia berkata sesuatu yang membuat darahku terasa dingin.

“Kalau suatu hari tanah ini tidak lagi produktif, mungkin Bapak akan berpikir berbeda.”

Video berhenti.

Aku menatap layar hitam.

Kalimat itu terus bergema di kepalaku.

Kalau suatu hari tanah ini tidak lagi produktif.

Empat hari kemudian Saskia keguguran.

Dua hari setelah itu, excavator milik kontraktor Mahesa Properti menghancurkan tanggul Ayah.

Aku langsung membuka folder dokumen.

Di sana ada salinan rencana pengembangan kawasan pesisir milik salah satu anak perusahaan Mahesa Properti.

Aku mengenali proyeknya.

Gresik Bay Residence.

Proyek bernilai hampir dua triliun rupiah yang selama setahun terakhir selalu dikatakan tertunda karena masalah perizinan dan akses lahan.

Pada peta itu, tanah Ayah ditandai merah.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

Akses utama drainase dan utilitas.

Ponselku bergetar.

Rendra.

Aku membiarkannya berdering.

Lalu pesan masuk.

Kirana, kita perlu bicara sebelum kamu membuat keputusan yang akan kamu sesali.

Aku tertawa hambar.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ancamannya tidak membuatku takut.

Keesokan paginya aku menemui Pak Harun.

Ia sudah menungguku di kantornya di Gresik.

“Bapak tahu semuanya?” tanyaku.

“Tidak semuanya.”

Ia mengeluarkan sebuah map.

“Ayah Anda mulai curiga ketika Pak Rendra datang membeli tanah berkali-kali. Setelah penolakan terakhir, Pak Surya meminta saya memeriksa status proyek di sekitar sana.”

“Kenapa Ayah tidak bilang kepadaku?”

Pak Harun menatapku lama.

“Karena beliau takut rumah tangga Anda hancur karena dirinya.”

Air mataku langsung jatuh.

Bahkan ketika Rendra menghancurkan tambaknya, Ayah masih memikirkan pernikahanku.

Pak Harun mendorong map ke arahku.

“Tetapi ada hal lain yang harus Anda ketahui.”

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan laboratorium.

Sampel bandeng asap.

Tanggal pemeriksaan sehari setelah Saskia masuk rumah sakit.

Hasilnya negatif terhadap bakteri berbahaya dan kontaminasi yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Aku menatap Pak Harun.

“Siapa yang memeriksakannya?”

“Ayah Anda.”

“Kenapa hasil ini tidak pernah diberikan kepada Rendra?”

“Sudah.”

Aku merasa seperti baru saja ditampar.

“Apa?”

“Pak Surya mengirim salinannya melalui kurir ke kantor suami Anda.”

Jadi Rendra tahu.

Ia tahu bandeng Ayah tidak terbukti menyebabkan apa pun.

Tetapi ia tetap membiarkan semua orang percaya sebaliknya.

Aku mengambil ponsel dan menelepon seseorang yang sudah lama ingin kuhubungi.

Dokter Maya, dokter kandungan Saskia.

Aku tidak berharap ia memberikan informasi medis karena kerahasiaan pasien.

Namun aku hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Dok, apakah waktu itu dokter pernah menyatakan kepada Rendra bahwa keguguran Saskia disebabkan bandeng asap dari ayah saya?”

Jawabannya datang setelah hening panjang.

“Tidak pernah.”

Aku memejamkan mata.

“Kami bahkan sudah menjelaskan bahwa tidak ada dasar untuk menyimpulkan makanan tertentu sebagai penyebab kegugurannya.”

Semua kepingan akhirnya menyatu.

Rendra tidak salah paham.

Ia memanfaatkan tragedi.

Sore itu aku kembali ke kantor Mahesa Properti.

Bukan sebagai istri Rendra.

Sebagai kepala kepatuhan internal untuk terakhir kalinya.

Aku menyalin semua dokumen pembayaran kontraktor yang terkait penghancuran tambak. Ada invoice yang diberi nama normalisasi saluran proyek.

Nilainya seratus delapan puluh juta rupiah.

Normalisasi.

Begitulah mereka menyebut penghancuran kehidupan seorang lelaki tua.

Saat aku hendak keluar, Saskia berdiri di depan pintu.

Wajahnya pucat.

“Kamu sedang apa?”

“Membereskan pekerjaanku.”

Ia melihat flashdisk di tanganku.

Ekspresinya berubah.

“Kirana.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Aku perlu bicara.”

Kami masuk ke ruang rapat kecil.

Saskia duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.

“Aku tahu kamu membenciku.”

“Aku tidak punya cukup energi untuk membencimu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak pernah bilang kepada Rendra bahwa bandeng ayahmu menyebabkan keguguranku.”

“Aku sudah tahu.”

Ia terkejut.

“Aku juga tidak pernah meminta tambaknya dihancurkan.”

“Aku tahu itu juga.”

Saskia menunduk.

“Tapi aku bersalah karena diam.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Air matanya jatuh.

“Karena beberapa hari sebelum aku keguguran, Rendra pernah bertanya apakah aku bersedia mengatakan kepada orang lain bahwa aku sakit setelah makan bandeng itu.”

Ruangan terasa mendadak terlalu sunyi.

“Kapan?”

“Sehari sebelum aku masuk rumah sakit.”

Jantungku berdegup keras.

“Sehari sebelum?”

Saskia mengangguk.

“Aku marah. Aku bilang dia gila. Malam berikutnya aku benar-benar mengalami perdarahan.”

Ia mengusap wajah.

“Setelah kehilangan bayi, aku kacau. Rendra terus mengatakan mungkin semua itu memang karena makanan dari ayahmu. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan.”

“Bayi siapa itu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Saskia menatapku.

Lalu wajahnya berubah.

“Bukan anak Rendra.”

Aku membeku.

“Itu anak almarhum suamiku.”

Suaminya meninggal hampir delapan bulan sebelumnya.

Aku menghitung cepat.

Saskia memahami pikiranku.

“Aku menyimpan embrio kami dari program bayi tabung. Setelah dia meninggal, aku memutuskan melanjutkan transfer embrio. Rendra membantuku selama proses itu karena dia sahabat suamiku.”

Selama setahun aku mencurigai hubungan mereka.

Ternyata pengkhianatan Rendra bukan perselingkuhan.

Itu sesuatu yang lebih dingin.

Ia menggunakan seorang perempuan yang sedang berduka sebagai alasan untuk menghancurkan orang lain.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.

Rendra berdiri di sana.

Tatapannya berpindah dari Saskia kepadaku.

“Keluar, Saskia.”

Saskia berdiri.

“Tidak.”

Rendra menatap tajam.

“Ini urusan keluarga.”

Saskia menggeleng.

“Pak Surya juga keluarga Kirana. Tapi dulu kamu menghancurkan hidupnya dan aku diam.”

Rendra tertawa kecil.

“Kalian sekarang mau menjadikanku penjahat?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Tidak perlu. Kamu sudah melakukannya sendiri.”

Aku memutar bagian rekaman ketika ia berkata bahwa tanah Ayah mungkin akan dijual jika tidak lagi produktif.

Wajah Rendra kehilangan warna.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Dari lelaki yang kamu anggap terlalu tua untuk melawan.”

“Kirana, dengarkan aku. Proyek itu menyangkut ribuan pekerja dan investasi besar. Ayahmu menahan satu bidang tanah hanya karena sentimental.”

“Dia melindungi enam belas keluarga.”

“Kita bisa memberi mereka kompensasi.”

“Tidak semua hal bisa kamu beli.”

Rendra memukul meja.

“Aku membangun perusahaan ini dari nol!”

“Dan karena itu kamu merasa berhak menghancurkan apa yang dibangun orang lain dari nol?”

Ia terdiam.

Aku mengeluarkan map gugatan cerai.

Kali ini kulemparkan tepat di depannya.

“Aku tidak menceraikanmu karena Saskia.”

Aku menatap matanya.

“Aku menceraikanmu karena selama tujuh tahun aku hidup dengan laki-laki yang mengira cinta, kesetiaan, tanah, harga diri, bahkan kesedihan orang lain punya harga.”

Wajah Rendra menegang.

“Kalau kamu membawa dokumen perusahaan keluar, kamu juga bisa kena.”

“Aku tidak membawanya keluar untuk keuntungan pribadi.”

Aku tersenyum tipis.

“Tim audit independen dan komisaris sudah menerima salinannya pagi tadi.”

Rendra berdiri mendadak.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di matanya.

Tiga bulan kemudian, penyelidikan internal Mahesa Properti menemukan penggunaan dana perusahaan tanpa prosedur yang sah, manipulasi invoice, dan pengerahan kontraktor untuk pekerjaan di luar wilayah proyek.

Rendra dicopot sementara dari posisi direktur utama.

Kasus penghancuran tambak masuk proses hukum.

Gugatan ceraiku juga berjalan.

Tetapi kejutan terbesar justru datang dari surat terakhir Ayah.

Pak Harun membacakannya setelah masa berkabung lewat.

Ayah ternyata sudah memindahkan kepemilikan tanah tambak ke sebuah koperasi yang anggotanya adalah para petambak kecil di sekitar Ujungpangkah.

Aku mendapat satu bagian kepemilikan.

Lima belas bagian lainnya diberikan kepada keluarga-keluarga yang selama puluhan tahun berbagi saluran air dengannya.

Dalam suratnya Ayah menulis bahwa tanah akan mudah direbut selama hanya dimiliki satu orang, tetapi jauh lebih sulit dihancurkan ketika banyak keluarga merasa wajib menjaganya.

Enam bulan kemudian kami mulai memperbaiki tambak.

Tidak sebesar dulu.

Tidak semulus dulu.

Namun air kembali masuk melalui pintu yang baru.

Benih bandeng kembali dilepaskan.

Di tempat bangunan pengasapan lama, aku mendirikan bangunan kecil.

Pada hari panen pertama, aku duduk di kursi bambu yang dulu dipakai Ayah.

Saskia datang membawa bunga.

Kami tidak menjadi sahabat.

Beberapa luka tidak harus berubah menjadi kedekatan untuk bisa dimaafkan.

Ia hanya berdiri di sampingku memandang para pekerja mengangkat jaring.

“Ayahmu pasti senang,” katanya.

Aku tersenyum.

“Dia pasti ngomel karena ukuran ikannya belum besar.”

Kami tertawa kecil.

Saat matahari mulai turun, Pak Harun datang membawa sebuah kotak yang ditemukan ketika rumah lama Ayah dibersihkan.

Isinya sebuah buku catatan.

Pada halaman terakhir ada tulisan tangan Ayah.

Aku mengenal hurufnya yang miring dan tidak pernah rapi.

Kirana, kalau kamu membaca ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.

Ayah tidak mempertahankan tambak ini karena tanahnya.

Ayah mempertahankannya karena manusia sering baru tahu apa yang paling berharga setelah seseorang yang lebih kuat mencoba mengambilnya.

Jangan jadi seperti Ayah yang terlalu lama diam.

Kalau sesuatu salah, katakan salah.

Kalau seseorang menyakitimu, jangan menyebutnya cinta hanya karena kamu sudah lama mengenalnya.

Dan kalau suatu hari tambak ini hidup lagi, jangan kirim bandeng pertama kepada orang kaya.

Kasih ke tetangga.

Mereka yang membantu Ayah memperbaiki tanggul waktu kamu masih kecil.

Aku tertawa sambil menangis.

Sore itu bandeng pertama dibagi kepada enam belas keluarga.

Tidak ada yang dikirim ke Surabaya.

Beberapa minggu kemudian sebuah pesan dari nomor yang sudah lama kublokir masuk melalui nomor baru.

Rendra.

Kirana, aku dengar tambaknya sudah panen. Aku cuma ingin bilang aku rindu bandeng asap buatan Pak Surya.

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Aku tidak marah.

Tidak menangis.

Aku hanya berjalan ke belakang rumah, tempat asap dari tungku baru naik perlahan ke langit Gresik.

Di sana, belasan bandeng sedang diasapi dengan resep Ayah.

Aromanya sama seperti masa kecilku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aroma itu tidak mengingatkanku pada kehancuran.

Ia mengingatkanku pada rumah.

Dan akhirnya aku memahami alasan Ayah mempertahankan tanah itu sampai akhir hidupnya.

Bukan karena ia tidak tahu kapan harus melepaskan.

Justru karena ia tahu ada sesuatu yang tidak boleh diserahkan hanya untuk membuat orang lain berhenti mengancam.

Tanah bisa dibeli.

Tambak bisa dihancurkan.

Pernikahan bisa berakhir.

Tetapi harga diri hanya benar-benar hilang ketika kita sendiri menyerahkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang