SALESMAN MENERTAWAKAN SEORANG PRIA TUA BERKAUS KUTANG YANG SEDANG MELIHAT MOBIL, TAPI MEREKA LANGSUNG TERDIAM SAAT IA MENGELUARKAN TAS ANYAMAN YANG PENUH DENGAN UANG TUNAI

Udara di dalam Elite Motors terasa sejuk. Showroom mobil mewah yang terkenal itu berkilau di setiap sudut, dipenuhi aroma kulit asli dan parfum mahal.

Seorang pria tua melangkah masuk. Namanya Pak Berting. Ia mengenakan kaus kutang putih yang sudah mulai menguning karena usia, celana pendek yang warnanya telah pudar, serta sandal jepit yang tumitnya sudah aus.

Di tangannya tergenggam sebuah tas anyaman tua yang terbuat dari tikar pandan.

Greg, sales terbaik di perusahaan itu, langsung meliriknya. Tatapannya penuh rasa jijik.

“Satpam!” teriak Greg, tetapi satpam sedang sibuk di luar. “Aduh, ada pengemis lagi.”

Greg menghampiri Pak Berting yang saat itu sedang mengusap perlahan kap sebuah SUV mewah.

“Hei, Pak Tua!” bentaknya dengan nada kasar. “Jangan sentuh itu! Tahu tidak berapa mahal biaya waxing mobil ini? Nanti tergores gara-gara kuku Anda.”

Pak Berting segera menarik tangannya.

“Maaf, Nak. Mobilnya bagus sekali. Saya cuma ingin melihat apakah benar-benar kokoh.”

“Melihat? Jangankan beli mobil, buat makan saja saya rasa Anda susah. Sana keluar! Dilarang nongkrong di sini. Kehadiran Anda merusak suasana showroom,” usir Greg sambil membalikkan badan.

Di sisi lain ruangan, Paolo, seorang sales baru yang belum pernah sekalipun berhasil menjual mobil, menyaksikan kejadian itu. Walaupun Greg sudah memperingatkannya agar tidak membuang waktu melayani orang-orang yang “tidak punya uang”, Paolo tetap menghampiri pria tua tersebut.

“Selamat sore, Pak,” sapa Paolo dengan senyum ramah.

Ia mengambil segelas air putih dan menyerahkannya.

“Silakan diminum dulu. Di luar pasti panas.”

Pak Berting tampak terkejut melihat keramahan pemuda itu.

“Terima kasih, Nak. Sebenarnya saya ingin tahu berapa harga mobil besar ini.”

Greg mendengarnya lalu tertawa terbahak-bahak bersama beberapa sales lain.

“Hahaha! Paolo, sudah kubilang, kamu cuma buang-buang tenaga! Memangnya dia mau beli pakai recehan yang ada di tas anyamannya?”

Paolo mengabaikan ejekan itu.

“Pak, harga mobil ini sekitar 3,5 juta peso. Pembayarannya bisa tunai atau kredit.”

Pak Berting menghela napas. Ia menoleh ke arah Greg yang masih menyeringai, lalu kembali memandang Paolo yang dengan serius menjelaskan spesifikasi mobil.

“Temanmu meremehkanku,” ucap Pak Berting pelan. “Mungkin dia mengira karena aku datang dari desa dan kulitku menghitam karena matahari, aku tidak berhak punya mimpi.”

“Jangan dipikirkan, Pak,” jawab Paolo. “Yang penting Bapak datang ke sini. Bapak selalu kami sambut dengan baik.”

Pak Berting mengangguk pelan.

Dengan tenang, ia meletakkan tas anyaman tuanya di atas meja mengilap milik Paolo.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang