Saya Berpura-pura Mati untuk Menguji Pembantu Pemalu di Rumah Mewah Saya

Saya tersentak bangun, napas saya tersengal—bukan karena pura-pura pingsan, melainkan karena kengerian yang murni. Lina terperanjat mundur, wajahnya pucat pasi, matanya yang basah oleh air mata kini membelalak ketakutan, seolah melihat hantu yang baru saja bangkit dari liang lahat.

“Aku adalah anak dari… Elena,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan dentuman sirene ambulans yang mulai memekakkan telinga di depan gerbang rumah.

Dunia seakan berhenti berputar. Nama itu. Elena.

Lima belas tahun lalu, Elena adalah sekretaris sekaligus wanita yang paling saya percayai—wanita yang, dalam ketidaktahuan saya akan dunia bisnis yang kejam, saya korbankan demi menutupi kecurangan mitra bisnis saya. Saya membiarkannya dipenjara karena penggelapan dana yang tidak pernah ia lakukan, hanya agar saya bisa tetap bersih dan mempertahankan kursi CEO. Ia meninggal di penjara karena sakit setahun kemudian. Saya pikir rahasia itu sudah terkubur di bawah nisan tanpa nama di pemakaman umum.

Lina gemetar hebat. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap saya dengan tatapan yang menghujam, tatapan yang membawa kebencian sekaligus kerinduan yang teramat dalam.

“Ibu meninggal sambil memegang foto Bapak,” suaranya kini dingin, sangat berbeda dengan nada pemalu yang ia gunakan selama dua tahun ini. “Dia tidak pernah membenci Bapak. Bahkan sampai napas terakhirnya, dia percaya bahwa Bapak adalah pria baik yang hanya terjebak dalam keadaan.”

Saya terhuyung mundur, punggung saya menabrak meja kayu jati yang kokoh. “Lina, dengarkan aku… itu semua… ada penjelasannya—”

“Penjelasan?” Lina berdiri tegak. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata saya. Ada api di sana. “Aku datang ke sini bukan untuk melayani, Tuan Rafael. Aku datang untuk melihat apakah pria yang menghancurkan hidup ibuku benar-benar sebahagia itu di atas tumpukan penderitaan orang lain.”

Tiba-tiba, suara petugas medis yang berlari masuk ke ruang tamu memutus ketegangan itu. “Sir! Kami menerima laporan darurat! Tuan?!”

Saya terdiam, mematung. Para petugas medis itu melihat saya berdiri dengan sehat, lalu menatap Lina yang sedang menyeka air matanya dengan kasar. Lina menunduk kembali, topeng pembantu pemalu itu terpasang kembali dengan sempurna dalam hitungan detik.

“Maafkan saya, petugas,” kata Lina dengan suara bergetar yang dibuat-buat, persis seperti biasanya. “Tuan tiba-tiba pingsan, tapi sepertinya dia sudah sadar. Saya… saya sangat ketakutan.”

Para petugas medis itu bingung, menatap saya dengan curiga. Saya hanya bisa mengangguk lemah, membiarkan mereka pergi dengan perasaan tidak enak. Ketika pintu rumah tertutup rapat kembali, suasana di ruang tamu menjadi sangat mencekam.

Lina berjalan menuju pintu keluar, ia tidak lagi membawa nampan, tidak lagi menunduk. Ia berhenti tepat di samping saya.

“Bapak ingin menguji kesetiaanku, bukan?” bisiknya pelan, tepat di telinga saya. “Selamat, Bapak berhasil. Bapak tahu sekarang siapa saya. Tapi apakah Bapak sudah siap untuk ujian selanjutnya?”

“Apa maksudmu?” tanya saya, suara saya hampir tidak terdengar.

Lina merogoh saku celemeknya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dan meletakkannya di atas meja marmer. “Selama dua tahun ini, saya tidak hanya membersihkan rumah Bapak. Saya telah mengumpulkan semua bukti transaksi gelap yang Bapak lakukan selama satu dekade terakhir. Setiap bukti yang dulu Bapak gunakan untuk menjebak Ibu, kini ada di tangan saya. Dan bukan hanya itu…”

Ia menatap saya dengan senyum tipis yang paling mengerikan yang pernah saya lihat.

“Saya tidak bekerja sendiri. Saya telah mengirimkan semua dokumen ini ke pihak berwenang pagi ini, tepat sebelum saya menyiapkan kopi Bapak. Polisi akan datang dalam tiga puluh menit ke depan.”

Darah saya seakan membeku. Saya mencoba meraih lengannya, tetapi ia menghindar dengan gerakan yang anggun dan dingin.

“Tunggu, Lina! Kita bisa bicara! Aku punya uang, aku bisa memberikan apa saja!” teriak saya, keputusasaan mulai menggerogoti logika saya.

Lina berjalan menuju pintu utama, membalikkan badannya untuk terakhir kali. “Bapak mengira kekayaan bisa membeli segalanya, termasuk kesetiaan. Tapi Bapak lupa satu hal: seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan adalah musuh yang paling berbahaya.”

Dia membuka pintu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya di rumah ini, dia melangkah keluar tanpa menoleh kembali.

Saya berdiri sendiri di tengah rumah mewah itu. Keheningan yang menyelimuti rumah ini sekarang terasa seperti cekikan. Saya menatap amplop cokelat di atas meja—akhir dari segalanya. Saya telah membangun kerajaan dari kebohongan, dan sekarang, seorang gadis yang saya anggap tidak berdaya, adalah orang yang menjatuhkan mahkota saya.

Tiba-tiba, deru mesin mobil polisi terdengar memasuki pelataran rumah. Lampu biru dan merah berputar, menyinari dinding ruang tamu saya yang mahal dengan warna-warni peringatan.

Saya terduduk di lantai, di tempat yang sama saat saya berpura-pura mati. Bedanya, kali ini saya benar-benar merasakan kematian saya sendiri—kematian reputasi, kekuasaan, dan masa depan saya.

Dan saat pintu utama didobrak oleh petugas, saya menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Lina tidak pernah mencintai saya. Dia hanya seorang aktris yang jauh lebih hebat daripada saya, yang berhasil mengubah permainan ini menjadi sebuah hukuman yang sempurna.

Apakah menurut Anda tindakan Lina adalah bentuk keadilan yang setimpal, ataukah justru tindakan manipulasi yang sama rusaknya dengan yang dilakukan Rafael?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang