Malam itu Naya tidak tidur.
Salinan kontrak dari Aris Mahardika tergeletak di atas kasur sempit kamar indekosnya, tepat di samping surat peringatan pembayaran sewa yang ditempel pemilik kos sejak tiga hari lalu.
Di layar ponselnya, angka saldo Rp430.000 tampak seperti ejekan.
Sembilan puluh juta rupiah per bulan.
Apartemen gratis.
Biaya hidup ditanggung.

Pekerjaan tetap setelah kontrak berakhir.
Terlalu sempurna untuk sebuah kesepakatan yang meminta seseorang berpura-pura jatuh cinta.
Naya kembali membaca halaman terakhir.
Hubungan ini bersifat profesional. Tidak ada kewajiban fisik. Tidak ada pernikahan hukum. Masing-masing pihak berhak mengakhiri kontrak apabila terjadi pelanggaran terhadap keselamatan, privasi, atau martabat pihak lain.
Setidaknya Aris cukup waras untuk menuliskan batasan.
Pukul 09.53 pagi berikutnya, Naya berdiri lagi di lantai tiga puluh dua Mahardika Land.
Aris sedang membaca laporan ketika Naya masuk.
“Saya setuju.”
Pria itu mengangkat kepala.
“Sudah membaca semuanya?”
“Tiga kali.”
“Dan?”
“Saya mau menambah satu klausul.”
Alis Aris terangkat sedikit.
“Kalau keluarga Anda menghina saya, mempermalukan saya, atau meminta saya melakukan sesuatu di luar kontrak, saya berhak pergi kapan saja tanpa kehilangan pembayaran yang sudah menjadi hak saya.”
Untuk pertama kalinya Naya melihat sudut bibir Aris bergerak seolah hampir tersenyum.
“Disetujui.”
Naya menyilangkan tangan.
“Satu lagi.”
“Kamu bilang satu.”
“Sekarang jadi dua.”
Aris bersandar.
“Silakan.”
“Jangan pernah berbohong kepada saya soal sesuatu yang bisa membahayakan saya.”
Tatapan Aris berubah.
Hanya sepersekian detik, tetapi Naya menangkapnya.
“Ada sesuatu yang seharusnya saya tahu?”
“Semua keluarga kaya punya masalah.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kalau ada sesuatu yang relevan, saya akan memberitahumu.”
Naya menatapnya lama sebelum akhirnya menandatangani kontrak.
Dua jam kemudian mereka berada di sebuah butik perhiasan di Plaza Indonesia.
Naya hampir menjatuhkan kotak beludru ketika melihat label harga cincin yang dipilih staf toko.
“Dua ratus delapan puluh juta?”
Aris bahkan tidak berkedip.
“Itu cuma cincin.”
“Bagi orang normal, ini harga rumah.”
“Kalau kita datang ke rumah kakek dengan cincin murah, dia akan curiga.”
Naya mengambil cincin lain yang jauh lebih sederhana.
“Yang ini.”
Aris memandang batu kecil di tengahnya.
“Kenapa?”
“Karena orang yang benar-benar mengenal saya akan tahu saya tidak mungkin memilih cincin sebesar lampu lalu lintas.”
Aris tertawa pendek.
Itu pertama kalinya Naya mendengarnya tertawa.
Aneh sekali karena suara itu membuat pria yang biasanya kaku tersebut terlihat jauh lebih muda.
Tiga hari berikutnya digunakan untuk mempelajari kehidupan Aris.
Makanan favorit, universitas, kebiasaan, nama mantan pacar, riwayat keluarga, bahkan fakta bahwa Aris tidak minum kopi setelah pukul empat sore karena insomnia.
Sebaliknya, Aris harus menghafal hidup Naya.
Nama ibunya, almarhum ayahnya, tempat tinggalnya saat kecil di Bogor, alasan ia kuliah Manajemen, dan pekerjaan terakhirnya sebagai staf administrasi perusahaan logistik yang bangkrut enam bulan sebelumnya.
“Kenapa kamu belum dapat pekerjaan selama enam bulan?” tanya Aris suatu malam.
Naya menutup laptop.
“Karena hampir semua perusahaan bertanya saya punya koneksi siapa.”
“Itu bukan alasan.”
“Baik. Karena saya terlalu sering mengatakan tidak.”
“Tidak pada apa?”
Naya diam sebentar.
“Bos lama saya pernah meminta saya memalsukan laporan pembayaran vendor. Saya menolak. Dua minggu kemudian saya dikeluarkan sebelum perusahaan bangkrut.”
Aris tidak berkata apa-apa.
Kini Naya mengerti kenapa pria itu memilihnya.
Bukan karena ia terlihat menyedihkan di ruang tunggu.
Aris sedang mencari seseorang yang sulit dibeli.
Pertemuan pertama dengan keluarga Mahardika berlangsung pada Minggu malam di rumah Sutedjo di Menteng.
Bangunan kolonial besar itu dijaga seperti kediaman pejabat.
Begitu Naya turun dari mobil Aris, seorang perempuan elegan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di tangga depan.
Ratih Mahardika.
Ibu Aris.
Tatapannya turun dari kepala sampai kaki Naya.
“Ini tunanganmu?”
“Iya, Bu.”
Ratih tersenyum tipis.
“Kamu bekerja di mana, Naya?”
“Saat ini dengan Aris.”
“Sebelumnya?”
“Perusahaan logistik.”
“Jabatan?”
“Administrasi.”
Ratih kembali tersenyum.
“Menarik.”
Nada suaranya mengatakan sebaliknya.
Di ruang makan, Naya bertemu anggota keluarga lain.
Bram Mahardika, paman Aris yang menjabat komisaris perusahaan.
Putrinya, Claudia, yang baru pulang dari London.
Dan Rendy Cifuentes.
Naya langsung berhenti ketika melihat manajer HRD yang menghinanya itu duduk di sebelah Bram.
Rendy tampak lebih terkejut.
“Pak Aris, saya tidak tahu kalau kandidat kemarin…”
“Sekarang kamu tahu,” jawab Aris datar.
Bram tertawa.
“Dunia memang kecil.”
Saat makan malam dimulai, Sutedjo Mahardika hanya mengamati Naya tanpa banyak bicara.
Usianya memang 87 tahun, tetapi matanya tajam.
“Kenapa kamu suka Aris?” tanyanya tiba-tiba.
Semua orang terdiam.
Naya hampir tersedak.
Pertanyaan itu tidak ada dalam simulasi mereka.
Ia melirik Aris.
Wajah pria itu tetap tenang, tetapi tangan kirinya mengepal di bawah meja.
Naya akhirnya menjawab jujur.
“Sebenarnya, Pak, awalnya saya tidak suka.”
Claudia tertawa kecil.
Ratih menatap tajam.
Namun Sutedjo justru tertarik.
“Kenapa?”
“Karena dia suka memerintah.”
Aris memejamkan mata sebentar.
“Tapi dia juga satu-satunya orang hari itu yang melihat saya sebagai seseorang yang mungkin punya kemampuan, bukan sebagai perempuan basah kuyup dengan pakaian murah.”
Sutedjo diam.
“Kemudian?”
Naya menatap Aris.
“Belum tahu. Saya masih menilai.”
Sutedjo tertawa keras.
“Bagus.”
Bram tidak ikut tertawa.
Setelah makan malam, Naya pergi ke taman belakang untuk mencari udara.
Di sana Rendy menunggunya.
“Hebat juga.”
Naya berhenti.
“Apa?”
“Dari pelamar kerja jadi calon nyonya Mahardika dalam tiga hari.”
Naya hendak pergi, tetapi Rendy menambahkan,
“Berapa Aris bayar kamu?”
Langkah Naya terhenti.
Ia menoleh.
Rendy tersenyum.
“Saya kerja di HRD. Saya tahu kamu tidak pernah punya hubungan dengan dia.”
Jantung Naya mulai berdegup cepat.
“Kalau Anda punya bukti, bicara pada Pak Aris.”
Rendy mendekat.
“Saya cuma memberi peringatan. Keluarga ini bukan tempat untuk orang seperti kamu.”
“Orang seperti saya?”
“Orang yang masih butuh uang.”
Naya tersenyum tipis.
“Lucu. Dari semua orang di rumah ini, Anda justru orang yang paling sering membicarakan uang.”
Wajah Rendy mengeras.
Naya meninggalkannya.
Di dalam mobil, ia langsung menceritakan semuanya kepada Aris.
Anehnya, Aris tidak terlihat terkejut.
“Rendy bekerja untuk Bram,” katanya.
Naya menoleh tajam.
“Anda tahu?”
“Saya curiga.”
“Kenapa dia tetap jadi HRD?”
“Karena orang yang kamu curigai kadang lebih berguna jika tetap berada di depan mata.”
Naya marah.
“Anda memasukkan saya ke tengah permainan ini tanpa menjelaskan apa pun.”
“Naya.”
“Tidak. Klausul kedua. Anda berjanji.”
Aris terdiam.
Akhirnya ia berkata, “Bram ingin menguasai perusahaan. Kalau Kakek menyerahkan 38 persen sahamnya kepada saya, dia kehilangan kesempatan.”
“Jadi saya target.”
“Mungkin.”
Naya tertawa pahit.
“Anda benar-benar buruk dalam membuat orang merasa aman.”
Malam itu, untuk pertama kalinya Aris meminta maaf.
Bukan dengan bunga.
Bukan dengan uang.
Hanya dua kata sederhana.
“Maafkan saya.”
Dua bulan berikutnya berubah menjadi kehidupan yang tidak pernah Naya bayangkan.
Ia menghadiri acara perusahaan bersama Aris, mendampingi kunjungan yayasan, dan perlahan benar-benar bekerja.
Bukan sekadar berpura-pura.
Dalam sebuah proyek rumah susun murah di Bekasi, Naya menemukan anggaran pengadaan bahan bangunan yang tidak masuk akal.
Ada selisih hampir Rp14 miliar.
Ia membawa temuannya kepada Aris.
“Vendor ini menaikkan harga hampir tiga puluh persen.”
Aris membaca laporan.
“Siapa yang menyetujuinya?”
“Bram.”
Masalah tiba-tiba menjadi jauh lebih besar daripada kontrak pertunangan mereka.
Aris meminta tim audit internal memeriksa seluruh proyek lima tahun terakhir secara diam-diam.
Seminggu kemudian, seseorang membobol apartemen Naya.
Tidak ada perhiasan yang hilang.
Tidak ada uang yang diambil.
Hanya laptop kerja dan salinan beberapa dokumen audit.
Naya berdiri gemetar di depan pintu yang rusak ketika Aris tiba.
“Aku sudah bilang ini berbahaya,” katanya.
Naya menatapnya.
“Dan saya sudah bilang jangan berbohong soal bahaya.”
“Saya tidak tahu mereka akan sejauh ini.”
“Sekarang tahu.”
Aris meminta Naya pindah sementara ke penthouse miliknya.
Naya awalnya menolak.
Namun polisi menyarankan hal yang sama.
Hari-hari berikutnya menjadi aneh.
Mereka tinggal di tempat yang sama tetapi tidur di kamar berbeda.
Naya menemukan bahwa Aris memasak mi instan dengan buruk.
Aris menemukan bahwa Naya selalu berbicara sendiri saat menyusun laporan.
Mereka bertengkar soal lampu, suhu AC, musik di mobil, bahkan cara memotong buah.
Namun sesuatu mulai berubah.
Hubungan yang awalnya dibangun dari dokumen perlahan dipenuhi kebiasaan kecil yang tidak tertulis dalam kontrak.
Suatu malam ketika Naya tertidur di sofa sambil memegang laporan audit, ia terbangun dengan selimut menutupi tubuhnya.
Aris duduk di meja makan beberapa meter darinya.
“Kamu yang pasang?”
“AC dingin.”
“Terima kasih.”
Aris hanya mengangguk.
Tidak ada yang berani membicarakan perasaan.
Sampai hari ulang tahun Sutedjo.
Seluruh keluarga berkumpul di hotel milik Mahardika Group.
Di tengah acara, layar besar di belakang panggung mendadak berubah.
Dokumen kontrak pertunangan Naya dan Aris muncul.
Ruangan langsung sunyi.
Kemudian terdengar bisikan.
Ratih berdiri.
“Aris?”
Bram tersenyum puas.
Rendy berada di belakang operator layar.
Naya merasa wajahnya kehilangan darah.
Sutedjo memandang cucunya.
“Jadi semuanya bohong?”
Aris naik ke panggung.
“Saya yang membuat kontrak itu.”
“Berarti perempuan ini kamu bayar?”
“Saya membayarnya untuk menjalankan kesepakatan.”
Sutedjo berdiri dengan wajah kecewa.
Namun sebelum situasi semakin buruk, Naya mengambil mikrofon.
“Pak Sutedjo.”
Aris mencoba menghentikannya.
Naya menggeleng.
“Kontrak itu benar.”
Ruangan gaduh.
“Saya menerima uang karena saya membutuhkannya. Saya menerima apartemen karena saya hampir kehilangan tempat tinggal.”
Ia menatap semua orang.
“Tapi ada satu hal yang tidak tertulis di dokumen itu.”
Naya mengeluarkan flashdisk dari tasnya.
“Selama bekerja bersama Aris, saya menemukan transaksi proyek palsu, perusahaan cangkang, dan pembayaran kepada vendor yang terkait dengan salah satu anggota keluarga ini.”
Wajah Bram berubah.
Naya menyerahkan flashdisk kepada Sutedjo.
“Nilainya lebih dari Rp200 miliar dalam lima tahun.”
Semua mata beralih kepada Bram.
Bram berdiri.
“Fitnah!”
Aris memberi isyarat.
Beberapa auditor independen masuk bersama dua penyidik kepolisian.
Wajah Rendy pucat.
“Rendy sudah memberi kesaksian pagi ini,” kata Aris.
Rendy menunduk.
Bram menatapnya tidak percaya.
Ternyata setelah apartemen Naya dibobol, polisi menemukan rekaman CCTV yang menghubungkan pelaku dengan rekening milik salah satu staf Bram.
Rendy memilih bekerja sama demi mengurangi konsekuensi hukum.
Malam ulang tahun itu berubah menjadi skandal terbesar dalam sejarah keluarga Mahardika.
Tiga minggu kemudian, Bram dicopot dari seluruh jabatan perusahaan.
Penyelidikan pidana dimulai.
Namun masalah Naya dan Aris belum selesai.
Kontrak mereka berakhir pada hari Jumat pukul lima sore.
Naya datang ke ruang kerja Aris dan meletakkan kunci apartemen di meja.
“Ini.”
Aris menatap kunci itu.
“Kamu mau pergi?”
“Kontraknya selesai.”
“Posisi di yayasan tetap milikmu.”
“Saya tahu.”
Aris berdiri.
“Naya.”
“Apa?”
Pria yang selama tiga bulan selalu terlihat mampu mengendalikan segalanya itu tiba-tiba tampak kehilangan kata-kata.
“Ada sesuatu yang belum selesai.”
“Kontrak sudah selesai.”
“Bukan kontraknya.”
Aris mengambil sebuah kotak kecil dari laci.
Naya membeku.
Di dalamnya ada cincin yang jauh lebih sederhana daripada cincin pertama mereka.
Batu kecil.
Desain tipis.
Persis jenis cincin yang pernah dipilih Naya di butik.
“Yang pertama milik perusahaan,” kata Aris. “Ini saya beli sendiri.”
Naya menatapnya.
“Kamu sedang apa?”
“Memperbaiki kesalahan.”
Aris menarik napas.
“Kakek sudah menyerahkan sahamnya kepada yayasan keluarga.”
Naya mengernyit.
“Bukan kepada kamu?”
“Tidak.”
“Lalu semua ini untuk apa?”
Aris tersenyum kecil.
“Ternyata dia tidak pernah berniat menyerahkan saham itu kepada saya.”
Naya semakin bingung.
“Kakek tahu Bram mencuri sejak lama. Dia hanya belum punya bukti. Dia membuat syarat tentang tunangan karena ingin melihat siapa di keluarga ini yang akan bereaksi.”
Naya tercengang.
“Jadi kita semua dimainkan kakekmu?”
“Kurang lebih.”
Dari pintu belakang terdengar suara tua.
“Jangan menyebutnya dimainkan.”
Sutedjo muncul sambil membawa tongkat.
“Sebut saja seleksi keluarga.”
Naya menatap pria tua itu tidak percaya.
Sutedjo tersenyum.
“Saya cuma ingin tahu apakah cucu saya bisa menemukan seseorang yang berani mengatakan tidak kepadanya.”
Kemudian ia keluar lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Ruangan kembali sunyi.
Naya memandang Aris.
“Jadi sekarang?”
Aris mendorong kotak cincin itu ke arahnya.
“Tidak ada gaji.”
Naya tertawa.
“Tidak ada apartemen?”
“Tidak.”
“Tidak ada klausul keluar?”
“Sayangnya tidak.”
Naya menutup kotak itu.
Wajah Aris langsung berubah.
Kemudian Naya memasukkannya ke tas.
“Saya belum bilang iya.”
Aris menatapnya.
“Tapi kamu ambil cincinnya.”
“Anggap saja pinjaman.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aris tertawa begitu keras sampai sekretarisnya di luar ruangan menoleh.
Enam bulan kemudian, Naya berdiri lagi di lobi Mahardika Land.
Bukan sebagai pelamar kerja.
Bukan sebagai tunangan kontrak.
Ia kini memimpin divisi transparansi dan program sosial perusahaan.
Ketika melewati kursi tempat ia pernah duduk basah kuyup sambil menahan penghinaan, ia berhenti sejenak.
Aris berjalan di sampingnya.
“Kenapa?”
Naya memandang kursi itu.
“Saya cuma ingat seseorang pernah bilang saya bukan level mereka.”
Aris tersenyum.
“Dia benar.”
Naya menoleh.
Aris melanjutkan,
“Kamu memang bukan level mereka.”
Ia menggenggam tangan Naya.
“Kamu jauh di atasnya.”
Naya tertawa kecil lalu menarik tangannya.
“Jangan mulai sok romantis.”
“Sudah terlambat.”
Mereka berjalan menuju lift.
Dan di jari Naya, cincin sederhana itu akhirnya terpasang.
Bukan karena kontrak.
Bukan karena uang.
Melainkan karena setelah semua kebohongan, perebutan kekuasaan, dan permainan keluarga selesai, dua orang yang awalnya hanya saling membutuhkan akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.
Kepercayaan.
