“Dan karena kamu sudah merusak sepatuku,” lanjut Samantha dengan senyum iblis di wajahnya, “kamu tidak pantas makan di meja makan. Ambil sisa makanan itu dan makan di lantai! Seperti anjing!”
Salah satu teman sosialitanya tertawa cekikikan. “Aduh, Sam, mertuamu ini benar-benar tidak tahu diri. Kenapa sih kamu masih memelihara orang tua kumuh ini di rumah semegah ini?”

Melihat ibu saya, wanita yang mengorbankan seluruh hidupnya agar saya bisa bernapas dan sukses, kini gemetar ketakutan di lantai, memungut sisa makanan sambil menangis, sesuatu dalam diri saya pecah. Amarah yang belum pernah saya rasakan seumur hidup membakar habis seluruh kesabaran saya.
Dingin. Tenang. Namun mematikan.
Saya melangkah keluar dari bayang-bayang.
Detik-Detik Kehancuran
Brak!
Saya menendang pintu kayu mahoni ruang makan hingga terbuka lebar. Suara benturan itu menggema, seketika menghentikan tawa palsu para sosialita di dalam ruangan. Semua mata tertuju pada saya.
Wajah Samantha memucat seketika saat melihat saya berdiri di sana, memegang kotak kalung berlian yang langsung saya lempar ke lantai hingga isinya berhamburan.
“G-Gabriel? Kamu… kenapa pulang cepat?” suara Samantha bergetar, kesombongannya mendadak menguap, digantikan ketakutan yang nyata.
Saya tidak menjawabnya. Saya mengabaikannya sama sekali. Saya berjalan melewati Samantha seolah dia hanyalah sampah yang tak terlihat. Saya berlutut di lantai yang dingin, tepat di depan ibu saya.
“Ibu…” suara saya bergetar menahan tangis. Saya mengambil tangan tua yang gemetar dan berdarah karena pecahan porselen itu, lalu menciumnya. “Maafkan Gabriel, Bu. Maafkan saya karena membiarkan ular ini masuk ke istana Ibu.”
Ibu Salve menatap saya dengan mata kaburnya yang basah. “Gabriel… jangan bertengkar dengan istrimu, Nak. Ibu yang salah, Ibu tidak sengaja…”
“Tidak, Bu. Ibu tidak salah sedikit pun,” kata saya sambil membantunya berdiri dengan sangat hati-hati, mendudukkannya di kursi utama meja makan—kursi yang seharusnya menjadi miliknya sejak awal.
Saya berbalik menghadap Samantha dan para tamunya. Tatapan mata saya membuat beberapa teman Samantha langsung berdiri dan mundur ketakutan.
“Kalian semua,” suara saya terdengar rendah namun bergaung kuat di ruangan itu. “Keluar dari rumah saya sekarang juga. Dalam tiga hitungan, atau saya akan meminta keamanan menyeret kalian seperti binatang.”
Tanpa perlu hitungan ketiga, para tamu sosialita itu berlarian tunggang-langgang, meninggalkan tas desainer dan kemewahan mereka, menyadari bahwa singa yang paling ditakuti di dunia bisnis negara ini sedang mengamuk.
Meruntuhkan Kesombongan Sang Istri
Kini, hanya tersisa saya, Ibu saya, dan Samantha yang gemetar di sudut ruangan.
“Gabriel, dengerin aku dulu! Aku cuma kesal karena dia tidak becus kerja—”
Plak!
Saya menampar meja makan dengan keras hingga vas bunga di atasnya berguncang. “Dia bukan pekerja di sini, Samantha! Dia pemilik mansion ini! Tiga miliar peso ini saya keluarkan hanya untuk kebahagiaannya! Kamu? Kamu hanyalah benalu yang saya beri kemewahan karena janji palsumu!”
“Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Ayahku adalah politisi besar! Dia bisa menghancurkan bisnismu dalam semalam!” teriak Samantha, mencoba menggunakan kekuasaan ayahnya sebagai tameng terakhir.
Saya tersenyum sinis. “Ayahmu? Senator Robert? Kamu pikir dari mana ayahmu mendapatkan dana kampanye ratusan juta peso selama ini? Dari perusahaan logistik saya, Samantha. Ayahmu berutang budi pada saya. Dan hari ini, utang itu jatuh tempo.”
Saya mengambil ponsel saya dan langsung menghubungi Kepala Tim Hukum serta Direktur Keuangan perusahaan saya.
“Batalkan semua investasi kita di proyek infrastruktur Senator Robert. Tarik semua dana talangan, dan rilis semua bukti suap serta korupsi yang selama ini kita simpan ke publik. Sekarang.”
Samantha jatuh terduduk di lantai. “T-tidak… Gabriel, jangan lakukan itu, aku mohon…”
“Belum selesai, Samantha,” kata saya dingin sambil menatapnya dari atas. “Semua kartu kredit atas namamu sudah diblokir per detik ini. Mobil sport yang kamu kendarai akan ditarik malam ini. Dan besok pagi, pengacaraku akan mengantarkan surat cerai. Kamu akan keluar dari rumah ini tanpa membawa satu peso pun, bahkan tanpa pakaian desainer yang melekat di tubuhmu saat ini.”
Pembalasan Sempurna: Memusnahkan Sebuah Dinasti
Saya adalah pria yang memegang kata-kata saya. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, kehancuran total menimpa keluarga Samantha.
- Pukul 18.00: Berita tentang penarikan dana massal dari kerajaan teknologi saya membuat saham perusahaan konstruksi milik keluarga Samantha anjlok drastis ke titik nol. Mereka dinyatakan bangkrut dalam hitungan jam.
- Pukul 21.00: Bukti-bukti aliran dana ilegal yang melibatkan ayah Samantha bocor ke media nasional. Komisi Pemberantasan Korupsi menggerebek rumah mewah sang senator malam itu juga. Ayahnya diseret ke penjara dengan borgol di tangannya di depan kamera televisi.
- Pukul 06.00 keesokan harinya: Samantha diusir secara paksa oleh petugas keamanan dari mansion saya. Dia hanya diizinkan membawa daster tua noda kecap—daster yang sama yang dia paksakan pada ibu saya hari itu.
Samantha menangis meraung-raung di luar gerbang tinggi mansion, memohon ampun, namun gerbang besi itu tertutup rapat untuknya selamanya. Keluarganya yang sombong kini hancur lebur, nama baik mereka musnah, dan mereka jatuh miskin dalam semalam.
Senyum yang Sebenarnya
Dua hari kemudian, suasana mansion kembali tenang dan damai. Tidak ada lagi pesta sosialita yang bising. Hanya ada kehangatan.
Saya menyewa koki bintang lima khusus untuk memasak makanan favorit Ibu Salve. Saya duduk di sampingnya di meja makan yang megah, menemaninya makan.
Ibu memandang saya, tangannya yang kini sudah diobati dan bersih membelai pipi saya dengan lembut. Sebuah senyuman tulus, senyuman yang penuh kebanggaan dan kedamaian, terpancar dari wajah keriputnya yang cantik.
“Terima kasih, Gabriel. Ibu sangat bahagia,” bisiknya.
Melihat senyuman itu, saya tahu bahwa seluruh miliaran peso yang saya miliki akhirnya menemukan tujuannya yang sebenarnya. Saya telah menghancurkan sebuah keluarga palsu demi melindungi satu-satunya harta paling berharga yang saya miliki di dunia ini: Ibu saya.
